Ringkasan Khotbah : 24 Februari 2006

Home

Influence of Dialectical Positivism

Max Horkheimer: Discourse on Logic

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Apabila kita mempelajari tentang logika, maka di dalamnya kita juga akan mempelajari tentang dialektika. Dialektika itupun memiliki beberapa cabang dan salah satunya adalah dialektika positivisme yang dipelopori oleh Frankfurt School atau arus filsafat yang berasal dari Frankfurt. Walaupun tidak banyak orang yang pernah mendengar nama Max Horkheimer, namun banyak pula yang dipengaruhi oleh pemikirannya karena apa yang disampaikan olehnya menjadi dasar pemikiran yang cukup kokoh sehingga dapat mempengaruhi filsuf-filsuf besar, seperti: Theodor  Adorno dan Jurgen Habermas yang hidup di dalam aspek filsafat umum. Setelah kita mengenal Max Horkheimer selanjutnya kita akan melihat bagaimana konsep pemikirannya diterapkan di dunia yang dilihatnya sebagai dunia yang berproses serta di dalam konsep relativisme. Dan terakhir kita akan melihat keseluruhan pemikiran dialektika postivisme dari sudut pandang Kekristenan dan bagaimana Kekristenan sendiri memberikan pemikiran yang lebih baik.

 

Melalui Ams. 3:5-7, Tuhan memberikan tiga pengajaran dasar yang sangat penting bagi kita. Yang pertama adalah bagaimana kita meletakkan dasar iman kita secara tepat. Hal ini sangat penting karena iman kita akan mempengaruhi seluruh pemikiran dan tingkah laku kita sehari-hari. Itu sebabnya di titik awal Alkitab berkata, ke dalam siapakah kita akan mempercayakan seluruh kehidupan ini? Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri (Ams. 3:5) berdasarkan kalimat aslinya berarti kita seharusnya mempercayakan seluruh kehidupan kita dengan segenap hati dan akal budi ke dalam Tuhan, bukan sekedar kepada Tuhan. Kedua hal ini harus dapat dibedakan dengan jelas karena ada orang yang mulutnya mengatakan percaya kepada Tuhan Yesus tetapi dia sebenarnya mempercayakan dirinya ke dalam dirinya sendiri, kepada pengertiannya sendiri.

 

Yang kedua adalah bagaimana di dalam setiap langkah kehidupan kita mengakui keberadaan dan pimpinan Tuhan (Ams. 3:6). Walaupun kita yang notabene berada di dalam gereja yang pengajarannya cukup sehat, ternyata masih sangat sulit bagi setiap kita untuk dengan sungguh-sungguh melihat dan mengikuti pimpinan Tuhan di dalam praktik kehidupan sehari-hari. Kenapa begitu sulit? Karena seringkali kita berpikir secara ekstrim, yang pertama, kita memikirkan kehendak Tuhan hanya secara mistik, seperti mimpi khusus, petunjuk langsung dari Tuhan, dll. Dan ekstrim yang lain kita memikirkan kehendak Tuhan hanya secara rasional dan logika murni. Kalau kehendak Tuhan memang dapat dimengerti melalui kedua ekstrim ini, maka sesungguhnya tidak perlu seorang Kristen untuk mendapatkan kehendak Tuhan! Kedua ekstrim ini diwakili oleh dua arus besar di dalam Kekristenan, yang pertama diwakili oleh gerakan neo-pentakosta dan yang kedua diwakili oleh gerakan modernisme atau liberalisme. Kedua gerakan ini membawa misi besar bagi jemaat Tuhan meskipun misi tersebut bukan berasal dari kebenaran Firman Tuhan melainkan berasal dari dunia.

 

Dan yang ketiga adalah kita tidak menilai diri kita sendiri terlalu pandai dan bijaksana. Kalau kita menganggap diri kita sendiri terlalu pandai dan bijaksana maka tidak ada seorangpun yang dapat menasehati dan merubah kita, termasuk Tuhan. Seorang Kristen yang sejati dengan rela bersikap rendah hati sehingga seluruh hidupnya dapat dirubah dan dibentuk oleh Dia, dengan taat kepada Firman-Nya. Dan orang-orang seperti inilah yang jauh lebih berkenan dihadapan Tuhan daripada orang-orang yang merasa dirinya sudah cukup pandai dan bijaksana. Ketiga konsep inilah yang juga menjadi dasar penting ketika kita ingin mempelajari dan menilai segala macam filsafat.

 

Dialektika berbeda dengan dualisme karena dualisme membicarakan dua pikiran yang saling berlawanan dan tidak dapat dipadukan, sedangkan dialektika berbicara tentang dua pikiran yang saling berlawanan namun dapat saling direlasikan dan diproseskan. Hegel mengemukakan dialektika dapat dimengerti seperti tesis, antitesis dan sintesis. Misalnya terdapat sebuah pemikiran A (tesis) maka pasti terdapat pemikiran kontra A (antitesis). Untuk menyelesaikan kedua pemikiran tersebut maka dibuatlah pemikiran baru di antara keduanya, sebut saja pemikiran B (sintesis). Selanjutnya, dengan adanya pemikiran B (tesis) pasti terdapat pula pemikiran kontra B (antitesis) yang akan menghasilkan pemikiran baru lagi (sintesis) dan seterusnya. Melalui gambaran ini kita dapat melihat bahwa pemikiran dialektika selalu bersifat bergerak terus-menerus atau berproses. Kalau kita melihat ke dalam sejarah, perkembangan akan pemikiran dialektika dapat dibagi menjadi beberapa bagian.

 

Yang pertama adalah Dialektika Metafisis. Pemikiran ini pertama kali diungkapkan di dalam cerita mengenai Socrates dan Eutyphiro yang ditulis oleh Plato. Ide mengenai dialektika muncul pertama kali karena sejak awal manusia memiliki pengertian bahwa baik di dalam dunia fisik maupun metafisika terdapat dua kekuatan besar yang saling berlawanan. Orang timur menggambarkan kondisi demikian seperti yin dan yang, di mana-mana pasti terdapat baik dan jahat, putih dan hitam, dst. Kekristenan menolak ide seperti ini karena walaupun kita mengakui terdapat dua kekuatan besar yang saling berlawanan tetapi keduanya tidak setara atau sama besar. Dunia inipun tidak dimulai dengan dua kekuatan melainkan satu kekuatan.

 

Yang kedua adalah pemikiran yang dicetuskan oleh Hegel, yaitu: Dialektika Idealis. Hegel mengatakan bahwa setiap manusia pasti berdiri dengan berdasarkan satu konsep yang dipegangnya sebagai tesis dasar. Namun Hegel juga menemukan bahwa ketika tiap manusia memegang sebuah tesis ternyata kebanyakan dari sesamanya cenderung untuk melawan tesis tersebut dan mereka membuat antitesis-nya. Contohnya, ketika seseorang mengatakan A adalah benar maka orang lain selalu cenderung untuk melawan dan mengatakan kontra A adalah benar. Walaupun ini adalah jiwa berdosa namun bagi Hegel justru di sinilah kepentingannya karena ketika semua orang setuju A adalah benar maka Hegel mengatakan dunia ini akan berhenti dan menjadi statis. Jadi menurut Hegel proses itu dapat terus berjalan karena adanya A dan kontra A yang nantinya akan menimbulkan B dan kemudian kontra B dan seterusnya. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian, setuju akan satu hal, ide atau kebenaran tidak membuat kita semua menjadi berhenti berproses.

 

Yang ketiga adalah pemikiran yang dikembangkan oleh Karl Marx, yaitu: Dialektika Materialisme. Bagi Marx apa yang dikemukakan oleh Hegel terlalu idealis, pada waktu itu perdebatan antar teori, agama dan doktrin khususnya di dalam Kekristenan sangat menjengkelkan bagi Marx dan Engels karena realitas sehari-hari hanya memperlihatkan kesusahan. Dia berpikir buat apa tesis, antitesis dan segala macam ide yang akhirnya tidak membuat kehidupan menjadi lebih baik. Dari sinilah kemudian Marx menarik dialektik dari idealisme menuju kepada materialisme dan sempat sukses besar selama beberapa masa, bahkan menjadi bahan perdebatan yang paling sengit di akhir abad ke-20, yaitu antara kapitalisme dan sosialisme. Marx melihat di dalam realitas ternyata kaum kapitalis yang memiliki modal banyak selalu menginjak-injak kaum bertenaga dengan uang/modal yang dimilikinya. Bagi banyak orang dialektika materialisme pernah dielu-elukan menjadi jalan keluar untuk menuju kehidupan yang lebih baik, yaitu: bagaimana memproses antara kekuatan uang dan tenaga secara dialektis untuk mencari suatu keseimbangan sehingga membawa proses tersebut berkembang terus-menerus mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan. Teori Marx begitu hebat namun praktek di dalam sejarah ternyata hancur semuanya.

 

Yang keempat adalah pemikiran yang dikembangkan oleh Lewontin dan Levin, yaitu: Dialektika Biologis. Melalui pemikiran ini mereka mengatakan bahwa di dalam perjalanan proses dunia material ini terdapat satu permasalahan besar, yaitu: antara kepentingan total dan kepentingan parsial. Salah satu contohnya adalah permasalahan otonomi daerah, perdebatan antara kepentingan Negara dan kepentingan daerah. Kalau kepentingan parsial lebih diutamakan maka kelak Indonesia akan terpecah-belah, sebaliknya kalau kepentingan total lebih diutamakan seringkali yang parsial menjadi terabaikan. Dengan pemikiran dialektis biologis kedua kepentingan tersebut diharapkan dapat diproses secara dialektis demi mencapai kesejahteraan bagi masyarakat.

 

Dan yang kelima adalah pemikiran yang dikembangkan oleh Max Horkheimer, yaitu: dialektika positivisme. Pada saat ini pemikiran Max Horkheimer dianggap manusia menjadi solusi yang terbaik untuk membangun suatu masyarakat atau komunitas yang baik. Max Horkheimer adalah seorang Jerman berdarah Yahudi yang hidup di masa akhir perang dunia I hingga menuju perang dunia II. Sebagai seorang berdarah yahudi yang hidup di masa pemerintahan Nazi tentu dia mengalami tekanan hidup sehingga dia mulai berpikir tentang manusia, masyarakat dan apa yang terjadi di dunia pada saat itu. Melalui dialektika positivisme Horkheimer mengatakan bahwa kegagalan dialektika materialisme disebabkan karena tanpa sadar pemikiran tersebut mengembangkan konsep subyektivisme yang mengakibatkan tiap kelompok bertengkar, misalnya antara jerman dan yahudi. Horkheimer tidak menginginkan konsep dialektis dibangun berdasarkan konsep praktika atau situasional tetapi berdasarkan kebenaran obyektif, yaitu: rasionalitas. Jadi bagi Horkheimer kesuksesan sebuah masyarakat dapat dicapai dengan terus berusaha menarik realitas yang terjadi kembali ke dalam ide atau konsep yang bersifat obyektif. Proses inilah yang disebut dialektika dan dengan pemikiran inilah setiap manusia tidak akan bertengkar lagi namun memiliki semangat yang positif. Kalau begitu, dimanakah letak titik kelemahan fatal pemikiran Max Horkheimer ini?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)