Ringkasan Khotbah : 17 Februari 2006

Home

Church and State

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Melalui Mat 22:21 Tuhan ingin memberikan gambaran kepada kita bagaimana di tengah-tengah dunia kita dapat melihat dua kekuasaan yang berjalan secara bersama-sama dan bagaimana sikap kita diantara keduanya. Walaupun kita bertanggung jawab kepada Negara namun kita juga perlu mengetahui bagaimana pemerintahan Allah dapat tetap dinyatakan di dalam dunia. Melalui siapakah pemerintahan-Nya dapat dinyatakan? Melalui umat Tuhan yang taat kepada-Nya. Pengertian ini sangat penting sekali karena banyak sekali di antara kita yang berpikir secara salah ketika akan masuk ke dalam suatu gereja. Dan pikiran yang salah itu akan membuat harapan kita kepada gereja juga akan salah dan pada akhirnya juga akan merusak seluruh gereja tersebut. Bagaimana kegiatan gereja dijalankan sangat bergantung kepada orang-orang yang berada didalamnya dan konsep apa saja yang dimiliki oleh mereka.

 

Gereja yang sejati adalah manifestasi kerajaan Allah di tengah dunia dan oleh sebab itu gereja merupakan tempat bagi seluruh umat Kristen berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak milik Allah. Seluruh alam semesta termasuk manusia adalah Allah yang menciptakannya sehingga Dialah sang pemilik dan yang berhak atas semuanya, terlebih lagi atas jemaat-Nya yang telah dibeli dengan darah Anak-Nya. Setiap kita harus taat kepada pemerintahan-Nya dan wajib mengembalikan setiap hal yang diminta oleh-Nya. Hal ini sangat kontras dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Banyak sekali orang ketika memilih sebuah gereja, mereka memilih sesuai dengan keinginan hati mereka. Sebetulnya apa hak mereka untuk berpikir demikian? Sebetulnya siapakah yang mengatur dan siapakah yang diatur? Demikian pula dengan pemerintahan dunia, Tuhan mengajarkan agar kita tidak menolak salah satu pemerintahan tetapi memberikan apa yang menjadi hak dari setiap pemerintahan. Konsep yang benar adalah, menjadi warga kerajaan dunia yang baik akan menjadikan kita warga kerajaan Sorga yang baik tetapi, menjadi warga kerajaan Sorga jauh lebih tinggi nilainya daripada sekedar menjadi warga kerajaan dunia.

 

Setelah kita memikirkan tentang manifestasi pemerintahan Allah, ternyata didalamnya terdapat beberapa aspek yang tidak akan mungkin dapat dinyatakan oleh pemerintahan dunia, yaitu:

 

I. Pemerintahan Allah dapat memberikan gambaran kepada kita tentang pemerintahan Teosentris yang paling sejati. Yang dimaksud pemerintahan Teosentris adalah sebuah bentuk pemerintahan yang mewakili sifat Ilahi yang seharusnya muncul di tengah dunia. Ada beberapa sifat mendasar yang memisahkan secara mutlak antara pemerintahan Allah dengan pemerintahan iblis. Yang pertama adalah sifat kebenaran. Karena iblis adalah bapaknya penipu, maka di dalam pemerintahannya pasti terdapat banyak sekali unsur penipuan. Sebaliknya gereja sebagai praktik dari pemerintahan Allah di dunia seharusnya berani menyatakan kebenaran dengan jujur dan sungguh-sungguh. Orang yang benar-benar mempercayai-Ku adalah orang yang mau mendengarkan dan taat kepada Firman-Ku (Yoh. 8:31). Mungkin kita masih sering jatuh-bangun dalam melakukannya tetapi setidaknya terdapat satu jiwa ketaatan untuk sungguh-sungguh menjalankannya. Dan kita sebagai orang Kristen seharusnya juga senantiasa hidup di dalam dan menyatakan kebenaran di manapun kita berada. Kalau bukan kita, siapakah yang akan menyatakannya?

 

Sifat yang kedua adalah ketulusan. Lawan kata dari tulus adalah licik. Apabila kita berhadapan dengan seorang yang licik hatinya, maka setiap perkataannya akan sulit sekali untuk dipegang, walaupun tidak berbohong. Ketulusan sangat berkaitan dengan kebenaran/kejujuran karena orang yang dapat berbuat sesuatu dengan tulus hati hanyalah orang yang memiliki kejujuran di dalam hatinya. Orang yang melakukan kebohongan karena mereka berpikir kebohongan itu akan menyelamatkan diri mereka dari masalah. Ini sama sekali tidak masuk akal. Orang yang biasa berbohong pasti memiliki kehidupan yang gelisah karena mereka selalu takut ketahuan, padahal belum tentu. Dan bahkan mereka akan merasa lebih gelisah lagi apabila kebohongan mereka ternyata benar-benar ketahuan. Mungkin orang lain tidak akan tahu dalam waktu dekat, tetapi sekali ketahuan, semua orang di sepanjang sejarah akan mengingat kekotoran yang pernah kita lakukan. Demikian pula dengan gereja. Gereja Tuhan seharusnya melakukan segala sesuatu dengan kebersihan dan ketulusan sehingga tidak mempermalukan nama Tuhan dan bahkan berani menyatakan kebenaran dengan lebih berkuasa.

 

Dan sifat yang ketiga adalah kesucian. Kriteria tertinggi dari konsep nilai atau aksiologi manusia adalah moral, dan semua kriteria moral dibangun dengan berlandaskan satu konsep yang tertinggi, yaitu: kesucian. Itu sebabnya di dalam berbagai agama, kesucian merupakan hal yang dikejar-kejar oleh manusia dengan berbagai praktik seperti tidak menikah, dll. Mungkin konsep di dalamnya kurang tepat tetapi itu merupakan salah satu manifestasi manusia dari sebuah pencarian akan kesucian. Kita sadar bahwa setiap manusia tidak mungkin dapat menjadi suci secara sempurna karena adanya dosa. Sejak manusia dilahirkan perilakunya telah bercenderung untuk berbuat dosa. Lalu dengan demikian apakah tidak ada satupun orang yang sah untuk berada di dalam pemerintahan Allah? Ya dan tidak. Ya, karena setiap manusia memang telah jatuh ke dalam dosa. Tetapi tidak, karena kita telah ditebus oleh Kristus. Tidak, karena penebusan Kristus memberikan kepada kita potensi untuk hidup suci.

 

II. Pemerintahan Allah memberikan gambaran kepada kita tentang sifat Altruistik. Pemerintahan dunia selalu menggunakan otoritas untuk atau demi otoritas itu sendiri. Sebaliknya, Tuhan mengajarkan kepada kita agar barangsiapa yang menerima otoritas harus memiliki sifat melayani, memberi, atau altruistik. Pemerintahan dunia yang baik harus membawa seluruh masyarakat takut kepada Tuhan, bukan takut kepada manusia. Pemerintahan yang seperti inilah yang disebut kebapaan. Sama seperti seorang ayah yang berkuasa di dalam sebuah keluarga, dialah Alkitab mengajarkan seorang ayah harus mendidik anaknya dengan rotan supaya anaknya tahu batasan antara hak dan kewajibannya. Namun di lain pihak, seorang ayah juga tidak boleh menyakiti hati anaknya. Maka untuk melakukan keduanya, kita sebagai (calon) orang tua membutuhkan kebijaksanaan yang amat besar. Demikian pula dengan pemerintahan yang baik, ketika seorang penguasa mempergunakan otoritasnya, dia tidak bermaksud untuk menganiaya melainkan demi kebaikan rakyatnya. Pendidikan yang terindah adalah adanya keseimbangan antara pendidikan dan hukuman, kedisiplinan dan cinta kasih. Prinsip yang baik inipun dapat kita terapkan di dalam dunia pekerjaan. Inilah salah satu hal yang hanya dimiliki oleh Kekristenan, siapa yang menjadi kepala dia harus merendahkan dirinya lebih rendah dan berjiwa melayani.

 

III. Pemerintahan Allah bersifat Positif. Artinya, pemerintahan gereja seharusnya senantiasa melihat kepentingan untuk mencapai suatu kemajuan dan sifatnya membangun. Walaupun belakangan ini menajemen dunia berusaha melihat konsep ini namun mereka tidak dapat melihat secara seimbang antara realitas yang bersifat negatif dan bagaimana membangun aspek positif. Jadi ketika mereka ingin membangun aspek positif, mereka akan berusaha keras untuk meniadakan realitas negatif karena bagi mereka membicarakan realitas negatif adalah suatu hal yang sangat negatif. Akhirnya mereka menipu diri mereka sendiri. Di dalam iman Kekristenan, untuk membangun aspek positif justru dimulai dengan membicarakan aspek negatif. Dosa adalah suatu hal negatif yang benar-benar nyata tetapi dari situlah kita baru dapat membicarakan pertobatan, pertumbuhan, dan apa yang kita sebut sebagai progressive sanctification. Inilah yang disebut menjadi positif dan inilah hal terbaik yang dapat gereja berikan bagi setiap manusia.

 

IV. Pemerintahaan Allah bersifat Rohani. Baik secara sadar maupun tidak, aspek rohani ternyata sangat mempengaruhi seluruh kehidupan manusia. Manusia ataupun pemerintahan yang memiliki kerohanian yang sejati pasti memiliki sifat-sifat yang telah dijelaskan di bagian awal, yaitu: kebenaran, ketulusan, kesucian dan bersifat positif. Sedangkan kerohanian yang buruk hanya memiliki sifat-sifat kepalsuan, keegoisan, kekotoran dan kebejatan. Dan inilah yang membuat masalah kerohanian menjadi semakin genting, yaitu: kecanduan masyarakat akan hal-hal supranatural. Sama seperti seorang yang kelaparan, mereka menerima segala hal supranatural yang ditawarkan oleh dunia dan iblis. Mereka tidak peduli yang manakah kerohanian yang betul-betul indah. Tugas gereja adalah memberikan kerohanian yang sejati kepada pemerintahan, kepada masyarakat, kepada dunia. Kita harus sadar dan waspada bahwa gereja Tuhan dan iblis sedang berperang semakin sengit untuk memperebutkan jiwa manusia. Dan untuk memenangkan peperangan seperti ini, kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri tetapi memerlukan pertolongan Tuhan. Kehendak-Nya harus memimpin kita. Di depan boleh terdapat harapan baik, tetapi kalau bukan kehendak Tuhan, itu bukanlah jalan kita. Sebaliknya walaupun kurang harapan, tetapi kalau itu adalah kehendak-Nya, maka itulah jalan kita. Amin.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)