|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 23 Juli 2004 | ||
|
The Sovereignty of God & Predestination : Free Will or Free Choice |
|||
|
Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
|
|||
|
Apabila pada minggu lalu kita sudah belajar mengenai istilah “predestinasi” dan konsepnya, maka pada hari ini kita akan membahas problematika yang kedua, yaitu: mengenai kehendak bebas (free will[1]), tindakan manusia dan pertanggung-jawabannya. Bagi kebanyakan orang, free will dianggap identik dengan freedom, yaitu: konsep bahwa kehendak atau kemauan manusia bersifat bebas. Kebebasan adalah Aku bisa melakukan segala sesuatu yang Aku mau dan kemauan itu bersifat bebas, tidak tergantung, tidak terikat. Pemikiran seperti inilah yang akan kita kaji pada hari ini, betulkah seperti demikian? Apakah itu adalah natur dari kehendak? Kalau kita belajar Firman Tuhan dengan baik-baik, agaknya kita harus bertobat karena sebenarnya apa yang disebut sebagai kehendak itu ternyata tidak pernah bebas atau berdiri sendiri. Apa yang selama ini kita anggap kebebasan ternyata bukanlah kebebasan murni karena setiap kebebasan selalu dikendalikan oleh keinginan. Dan setiap keinginan selalu dikendalikan oleh suatu penentu atau pertimbangan-pertimbangan. Roma 6:11-12 memberitahu kita bahwa ketika seseorang belum bertobat, maka manusia tersebut akan hidup untuk selalu memenuhi keinginan dosa. Tetapi sebaliknya ketika kita sudah menjadi anak-anak Tuhan, maka kita akan hidup untuk memenuhi keinginan Tuhan. Jadi setiap keinginan atau kehendak seseorang akan selalu tunduk dan tergantung kepada siapa yang menjadi tuannya. Mengenai posisi kehendak itu sendiri, setiap mahkluk yang berpribadi pasti memiliki tiga natur yang mendasar, yaitu: pikiran, perasaan, dan kehendak. Demikian pula dengan Tuhan, Kristus adalah satu-satunya manusia yang paling sempurna dan kita diciptakan berdasarkan gambar dan rupa-Nya. Sayangnya, manusia jatuh ke dalam dosa dan itu membuat manusia selalu mencocokkan dan mencenderungkan kehendak kita dengan kehendak iblis, tuan kita. Dosa telah membelenggu dan memperbudak ketiga unsur tersebut sehingga manusia tidak memiliki kebebasan lagi. Immanuel Kant sudah pernah mengatakan bahwa ketika manusia menginginkan apa yang dia kehendaki harus terjadi, sesungguhnya itu bukanlah kebebasan tetapi justru sedang membelenggu kebebasan. Kebebasan itu telah ditaklukkan oleh keinginan dan keinginan tersebut telah diperbudak sedemikian rupa sehingga tidak bisa dilepaskan dan digeser. Diperlukan suatu kuasa yang sangat besar untuk melepaskan kita dari belenggu setan, yaitu: dengan menyangkal diri (Mat 16:24). Menyangkal diri adalah keberanian dan kemampuan kita untuk mengatakan “tidak” kepada diri kita sendiri, kepada keinginan kita sendiri. Kenapa perintah ini begitu penting? Karena sebagian besar dari masalah yang kita hadapi disebabkan karena kita tidak bisa menyangkal diri kita sendiri. Sama dengan seorang bocah yang menginginkan semangkok bakso. Keinginan itu telah mengikat dia sehingga walaupun ada makanan lain yang disediakan, keinginannya itu sendiri sudah tidak bisa dirubah. Ini bukan kebebasan tetapi jelas inilah yang diinginkan oleh manusia. Lantas bagaimanakah sebenarnya kebebasan yang sejati? The true freedom is obedience. Kemudian, sebuah kehendak juga tidak pernah berdiri sendiri karena kehendak juga dibentuk oleh pikiran ataupun oleh perasaan. Kenapa kita menginginkan sesuatu? Karena kita merasa begini atau karena kita pikir begitu. Yang jelas, setiap keinginan manusia tidak mungkin muncul tanpa ada alasannya. Contohnya, ketika kita merasa lapar, itu membuat kita ingin makan. Tetapi adanya tugas penting membuat kita berpikir lain sehingga kita ingin menunda makan dan menyelesaikan tugas penting itu terlebih dahulu. Maka, kata “free will” sebenarnya sudah salah secara hurufiah karena apa yang disebut sebagai will tidak pernah free. Kemudian, darimanakah perasaan itu? Perasaan bukan berasal dari organ hati kita tetapi dari otak kita, pikiran kita. Otak kitalah yang menghasilkan perasaan sedih ataupun senang. Jadi otak kita memiliki dua fungsi, yaitu: untuk berpikir secara rasional dan berpikir secara emosional. Pascal pernah mengatakan bahwa rasio memiliki rasionya sendiri dan emosi memiliki rasio yang berbeda yang tidak dapat dimengerti oleh rasio yang pertama. Lalu sebenarnya siapakah yang mengontrol otak dan cara berpikir kita? Menurut Alkitab adalah akal budi (mind). Calvin mengatakan bahwa dosa membuat akal budi manusia menjadi rusak sehingga itu akhirnya membuat seluruh pikiran (thought) dan emosi kita menjadi rusak. Buktinya, semua pikiran dan ajaran yang rusak terasa jauh lebih masuk akal bagi kita daripada pikiran dan ajaran yang mulia. Perasaan kita jauh lebih cocok dengan musik-musik yang rusak daripada musik-musik yang agung. Bahkan cinta yang kotor terasa lebih cocok dengan hati kita daripada cinta yang suci. Kerusakan akal budi membuat begitu mudahnya mendidik seseorang untuk menjadi anaknya setan. Inilah yang disebut sebagai total depravity, kerusakan total di dalam tatanan yang paling mendasar pada pikiran manusia. Kalau kita mengerti ini, maka kita akan memahami kenapa Paulus mengatakan bahwa ketika kita sudah di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru (2Kor 5:17). Dahulu kita begitu rusaknya sehingga kita tidak bisa diperbaiki tetapi harus dicipta ulang! Maka kalau kenyataannya seperti itu, kenapa yang kelihatan tidak seperti demikian? Kenapa banyak orang masih merasakan adanya free will? Sebenarnya apa yang selama ini kita anggap sebagai free will adalah free choice. Perhatikan kalimat berikut, “Bolehkah saya memilih untuk ke kiri atau ke kanan?”. Pada kalimat tersebut, sebenarnya yang dipermasalahkan bukan kehendak atau keinginan si subjek tetapi adanya pilihan atau tidak. Adalah dua hal yang berbeda antara pilihan yang ada dengan kemauan untuk memilih. Bisakah ada banyak pilihan yang tersedia tetapi kita tidak bisa memilih kecuali satu? Ini bisa terjadi kalau kemauan kita sudah terkunci kepada yang satu itu. Contoh yang paling gampang adalah cerita tentang bocah dan bakso tadi. Ada banyak menu makanan yang bisa dipilih tetapi kemauannya telah terkunci dan itu membuat tidak ada lagi pilihan bagi dirinya. Ketika dia bersikeras memilih bakso, pilihan itu sendiri tidak hilang tetapi yang hilang adalah kemauannya. Jadi pilihan yang banyak belum tentu membuat kemauannya juga banyak. Ada pilihan bagi setiap manusia untuk menerima atau menolak Yesus, tetapi iblis membuat kehendak untuk menerima tidak pernah ada. Sama halnya dengan predestinasi. Adanya predestinasi tidak membuat pilihan kita menjadi hilang tetapi justru melepaskan kehendak kita dari cengkraman iblis sehingga kita bisa memilih dengan benar. Tanpa adanya predestinasi, kita tidak akan pernah mungkin memiliki kehendak untuk menerima Yesus Kristus. Kita akan begitu bebasnya memilih karena kita disadarkan betapa baiknya Dia dan betapa jahatnya iblis. Apakah semua ini? Inilah anugerah. Hanya campur tangan Tuhan yang bisa melepaskan kita karena siapa yang sudah diikat oleh iblis tidak mungkin tidak mengikuti kehendaknya, baik dengan rela hati ataupun dengan terpaksa. Contoh yang paling sederhana adalah iklan rokok. Siapa yang tidak tahu di setiap iklan rokok ada peringatan tentang bahaya merokok? Tulisan itu pasti bukan omong kosong karena pesannya berlawanan dengan iklannya, tetapi kenapa ketika orang yang membaca peringatan itu tetap merokok? Kenapa orang-orang yang katanya lulusan doktor tetap merokok? Bagaimanapun logisnya tulisan itu tetap tidak cocok dengan logika mereka karena memang seperti itulah logika setan. Dan logika setan jelas berbeda bahkan berlawanan dengan logika Tuhan. Seharusnya kita bersyukur karena predestinasi membuat kita bisa memilih untuk taat kepada Tuhan, predestinasi membuat kita bisa merasakan sedih dan takut ketika kita berbuat dosa. Bahkan, predestinasi menginsyafkan kita akan dosa, kebenaran, dan penghakiman yang dulu tidak pernah kita pedulikan. Ingatlah selalu bahwa selalu ada pilihan bagi kita, tetapi kehendak untuk memilih pilihan yang tepat belum tentu ada. Amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) [1] Konsep The Freedom of The Will pertama kali dicetuskan oleh seorang teolog humanis yang disebut Erasmus. Menurut dirinya, manusia bebas menentukan dirinya sendiri termasuk untuk memilih Yesus atau tidak. Untuk melawan pemikiran ini, Martin Luther menuliskan sebuah buku yang berjudul The Bondage of The Will.
|
|||