Ringkasan Khotbah : 16 Juli 2004

Home

The Sovereignty of God & Predestination :

The Concept of Predestination

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Pada hari ini kita akan memulai tema kedaulatan Allah dan predestinasi dengan membicarakan konsep dasar mengenai predestinasi itu sendiri. Apabila kita membaca perikop Alkitab pada hari ini, kita akan kesulitan untuk menghubungkannya dengan predestinasi. Tetapi kalau kita membandingkannya dengan terjemahan NIV, maka kata “ditentukan dari semula” dalam bahasa Inggris sebenarnya cuma terdiri dari satu kata, yaitu: “predestined”. Dari sini kita mengerti bahwa doktrin predestinasi bukannya tidak ada di Alkitab tetapi mereka yang beranggapan demikianlah yang tidak pernah membaca Alkitab bahasa Inggris. Untuk mengerti predestinasi secara tepat, kita tidak bisa hanya menggunakan logika manusia saja tetapi harus kembali kepada Firman Tuhan. Banyak orang yang berpikiran salah mengenai predestinasi, yaitu: Allah dianggap tidak adil, Allah memilih secara sembarangan, Allah jahat, dll. Kenapa ini terjadi? Karena kita tidak mencari pengertian predestinasi dari Firman Tuhan. Kalau Alkitab telah mengatakan bahwa “Allah telah menentukan sejak semula” atau “kita telah ditentukan sejak semula”, apa artinya kalimat-kalimat tersebut? Apa yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita?

Yang pertama adalah, hal tersebut terjadi di dalam kekekalan. Artinya, Allah memilih dan menentukan seseorang bukan terjadi di dalam sejarah atau setelah orang itu ada di dunia, tetapi sejak kekekalan. Dan kekekalan itu sendiri harus dimengerti sebagai melampaui ruang dan waktu, bukan sebelum ruang dan waktu. Kalau kita meletakkan kekekalan sebelum penciptaan ruang dan waktu, maka itu artinya di belakang penciptaan ruang dan waktu sudah ada waktu. Kalau kita mengerti hal ini, kita tidak akan bingung dengan pertanyaan apakah Allah memilih kita sebelum kita jatuh ke dalam dosa ataukah sesudahnya. Allah memilih kita di luar waktu, dan di luar waktu tidak ada kata “sebelum” dan “sesudah”.

Walaupun Alkitab mengtakan bahwa Allah memilih dan menentukan di dalam kekekalan, tetapi tidak demikian dengan ketiga tindakan-Nya yang lain, yaitu: memanggil, membenarkan, dan memuliakan. Jangan mencampurkan antara dipilih dengan dipanggil. Kalau di suatu waktu kita bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat kita, pada waktu itu kita telah dipanggil, bukan dipilih. Jadi meskipun kekekalan terpisah dari kesementaraan tetapi jangan dipecahkan seakan-akan tidak ada hubungannya sama sekali. Ketika Allah memanggil kita, itu artinya kekekalan berhubungan dengan kesementaraan, Allah yang kekal masuk ke dalam waktu untuk memanggil kita.

Yang kedua, Alkitab mengatakan ketika Allah memilih manusia, pemilihan itu dilakukan di dalam kedaulatan-Nya. Seluruh perikop yang kita baca pada hari ini juga menggambarkan hal yang sama, yaitu di dalam kuasa dan kehendak-Nya. Tentunya Allah yang berdaulat jangan dipikirkan bahwa Allah itu diktator karena seorang diktator tidak akan memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih. Manakah yang betul, apakah free wil (kehendak bebas) ataukah free choice (pilihan bebas)? Minggu depan kita akan membahas pertanyaan tersebut secara lebih mendalam sehingga kita tidak salah mengerti dan salah memakai sebuah istilah.

Allah yang berdaulat harus dimengerti sebagai Allah yang memiliki kehendak dan kuasa yang cukup untuk menjalankan wilayah kekuasaan-Nya. Oleh sebab itu, di dalam beberapa aspek Allah berdaulat atas kita sedangkan dalam aspek-aspek yang lain tidak. Mirip seperti negara kita, walaupun pemerintah Indonesia berdaulat atas bangsanya tetapi itu bukan berarti kita hidup dan bertindak seperti robot. Apakah setiap langkah kaki kita dibatasi oleh pemerintah? Kita bebas untuk tidur kapanpun. Bahkan, kita juga bebas untuk tidak tidur. Tetapi walaupun kita memiliki kebebasan, pemerintah yang berdaulat juga memiliki hak untuk menangkap kita apabila kita melanggar peraturan-peraturan negara. Inilah kedaulatan. Allah mengijinkan kita untuk bebas bergerak, bebas berpikir, bebas melakukan apa saja. Tetapi, kalau kita melawan aturan-aturan-Nya maka kita tetap harus berurusan dengan kedaulatan-Nya. Jangan menganggap adanya kebebasan menghilangkan kedaulatan ataupun sebaliknya. Ini adalah pikiran yang salah. Yang benar adalah, kedaulatan hanya membatasi kebebasan. Kenapa dibatasi? Supaya tidak menyalah-gunakan kebebasan tersebut.

Ada juga pertanyaan-pertanyaan yang sangat bodoh. Seseorang bertanya, “Apakah Allah tahu kalau Adam dan Hawa bakal jatuh ke dalam dosa?”. Pertanyaan adalah bodoh sekali karena semua orang juga tahu jawabannya. Tetapi yang lebih penting sebenarnya adalah pertanyaan selanjutnya, “Kalau Allah tahu, kenapa Allah tidak mencegah mereka?”. Kalau kita bertanya seperti itu, maka kita sudah  berani menuduh Allah padahal kita yang salah. Kita adalah orang yang jahat karena kita melemparkan tanggung jawab kepada Allah. Allah bisa memukul kita sebelum kita bersalah! Tetapi, kita tidak mungkin dapat hidup kalau Allah melakukan tindakan seperti itu, apalagi mau bebas. Kalau tampaknya Allah tidak memukul kita itu bukan berarti Allah membiarkan kita, tetapi Allah akan menuntut pertanggung-jawaban dari setiap tindakan kebebasan kita. Kenapa begitu? Karena Allah sudah memberikan kepada kita otak, akal budi, dan kebijaksanaan untuk memilih, untuk memutuskan. Selain itu, kita juga mengetahui bahwa setiap pilihan, setiap keputusan, pasti ada konsekwensinya.

Yang ketiga, kita harus dipilih dan ditentukan oleh Allah karena memang kita berada di pihak yang pasif. Kunci yang paling penting, manusia harus sadar bahwa dia tidak bisa meyelamatkan dirinya sendiri. Bahkan setiap perbuatan baikpun tetap tidak bisa menyelamatkan kita. Pernahkah kita mendengar sebuah kalimat, “Kita berbuat baik supaya kita bisa diselamatkan”?. Secara logika manusia saja kalimat itu sudah salah karena kalau kita berbuat baik supaya masuk sorga, maka kita sudah melanggar hukum dunia tentang somum bonum dan juga kebenaran Alkitab. Perbuatan baik yang dilakukan supaya masuk sorga itu sama halnya dengan bisnis atau memancing, memakai ikan teri untuk mendapatkan ikan paus. Setiap kebaikan yang tidak dimotivasi oleh kebaikan itu sendiri dan hasil akhirnya juga tidak dikembalikan kepada kebaikan itu sendiri, maka sebenarnya itu adalah kejahatan. Contoh yang sederhana, pada zaman sekarang banyak cowok yang suka berbuat baik kepada cewek hanya untuk mendapatkan tubuhya. Kelihatannya baik dan romantis tetapi ada maunya. Apakah kita juga berani bisnis seperti ini dengan Tuhan?

Manusia hanya bisa diselamatkan karena anugerah Tuhan kepada manusia tersebut. Kenapa Allah mau memberikan anugerah kepada kita? Kisah Para Rasul 4:28 memberitahu kita bahwa itu dilakukan Allah hanya demi kasih, begitu pula di dalam Efesus1:5. Allah tahu kita tidak sanggup menolong diri kita sendiri. Dari sini kita seharusnya menyadari bahwa doktrin predestinasi bukan masalah Allah yang kejam tetapi justru itulah satu-satunya solusi bagi manusia berdosa, yaitu: anugerah. Kalau Allah tidak pernah memilih dan menentukan kita dari semula, maka celakalah kita karena keselamatan diri kita berada di tangan kita sendiri. Selain Yesus Kristus, tidak ada satu orangpun di dunia ini yang bisa menyelesaikan dosa-dosa kita. Maka, pujilah Dia bila sekarang saudara tahu betapa baiknya Dia! Amin.

 

Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)