Ringkasan Khotbah : 11 Juni 2004

Home

Leisure? : Leisure & Pleasure

Nats: Filipi 4: 4-9

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Bagian Firman Tuhan yang kita baca pada hari ini ditulis oleh Paulus bukan pada waktu dia bersedang santai tetapi justru sedang di dalam penjara dan dianiaya. Namun, di saat seperti itu Paulus masih sempat memikirkan pelayanannya di luar khususnya orang-orang Kristen yang sedang menghadapi penganiayaan. Itu sebabnya kalau kita membaca Kitab Filipi, kita akan menemukan banyak tulisan Paulus yang bersifat paradoks. Paulus mengharapkan agar suratnya dapat menguatkan jemaat di Filipi, tetapi ketika mereka hidup di dalam tekanan mereka sering bertanya, sebenarnya untuk apa hidup? Hidup itu mau apa? Kenapa harus hidup seperti ini? Maka keadaan inilah yang membuat Paulus banyak sharing tentang keadaannya. Dan itu sedikit menghibur mereka karena mereka tahu bahwa orang yang mereka anggap sangat dekat dengan Tuhan ternyata juga mengalami hal sama seperti mereka.

Bersamaan dengan itu, orang-orang Kristen yang berada di luar merasa senang karena Paulus dipenjara karena dengan itu mereka bisa merebut ketenaran Paulus untuk mengabarkan Injil. Jadi di dalam hati mereka terdapat jiwa persaingan sehingga akhirnya mereka semakin menjepit Paulus. Tetapi, Paulus tetap merasakan suka cita karena walaupun ada orang yang membenci dirinya, mereka masih mengabarkan Injil. Melalui cerita seperti ini Paulus ingin mengajak orang-orang yang teraniaya untuk melihat suatu masalah dengan sudut pandang yang berbeda. Apabila orang lain mengalami seperti dia, mungkin orang tersebut akan marah dan jengkel karena sudah dipenjara, masih dibuat susah lagi. Tetapi Paulus bukan melihat dari kepentingannya sendiri sehingga ketika dia disingkirkan oleh sesamanya, bagi dia itu bukan masalah. Yang penting pekerjaan Tuhan sedang dijalankan. Kalau kita bisa berpikir seperti Paulus, maka sebenarnya kita berada di dalam leisure yang tepat. Seringkali kita bisa masuk ke dalam pressure yang tidak seharusnya karena kita sendiri yang salah melihat.

Pada beberapa minggu yang lalu kita telah melihat beberapa problematika dunia. Kita tahu bahwa semakin lama dunia kita semakin menyusahkan dan sama sekali tidak bersahabat. Kemudian, dari manusianya sendiri juga semakin lama semakin humanis dan utilitiarianistik sehingga segala macam bentuk hubungan antar manusia menjadi rusak. Kalau kemarin kita banyak membicarakan tekanan-tekanan yang harus dialami, maka pada hari ini kita akan berbicara mengenai apa yang dunia pikirkan mengenai hal-hal seperti itu.

Sejak awal, manusia selalu memiliki jiwa seorang pemberontak dan suka melawan. Jiwa pemberontakan yang pertama adalah garfield System. Inti dari sistem ini sebenarnya adalah semangat hedonisme dimana manusia sangat tidak suka dengan segala sesuatu yang menjepit dan melelahkan. Itu sebabnya boneka Garfield digambarkan sebagai seekor kucing gendut yang sangat malas. Melalui Garfield orang-orang dunia ditekankan agar malas, tidak usah bekerja, yang penting libur, libur, dan libur. Kalau kerjanya banyak, libur sedikit memang terasa enak sekali. Tetapi coba bayangkan kalau kita diberi libur penuh sepanjang tahun. Yang pasti kita akan cepat mati dan langsung masuk neraka karena kita tidak pernah mengerjakan kehendak Bapa (Mat 7:21). Hal yang sama juga dipaparkan oleh Robert T. Kiyosaki. Baginya, pekerjaan yang sangat baik adalah semacam Multi Level Marketing, enterprenuership sehingga kita bisa cepat kaya dan pensiun dini. Kalau kita punya pikiran yang masih normal seharusnya ketika membaca bukunya kita bisa melihat dengan jelas bahwa pemikiran Kiyosaki sangat rusak, tetapi berapa banyak orang yang sangat suka dengan dia? Apakah ini artinya semakin banyak orang goblok di sekitar kita? Tidak mau kerja tapi mau hidup enak.

Setelah kita mengerti latar belakang pemikiran mereka, maka sekarang kita akan melihat apa yang sebenarnya mereka pikiran tentang pleasure itu sendiri. Yang pertama adalah, dunia kita adalah dunia yang kabur, yang selalu melarikan diri. Kenapa begitu? Karena mereka betul-betul capek terhadap segala sesuatu. Ketika mereka mencoba untuk melangkah maju ternyata selalu berakhir dengan kekecewaan, sakit hati, stres, dan itu terjadi berulang kali dalam hidup mereka. Mereka tidak tahu bagaimana hidup yang benar sehingga segala sesuatu mereka kerjakan dengan prinsip coba-coba (trial and error) dan itu sungguh membuat hidup mereka berat. Begitu beratnya hingga pada suatu titik, mereka akan melarikan diri dengan pergi ke diskotik, narkotik, nonton film horor, dan kegiatan-kegiatan yang memacu adrenalin mereka.

Kemudian, dunia kita adalah dunia yang pengecut. Kita begitu bersemangat ketika mengerjakan sesuatu tetapi ketika harus mempertanggung jawabkannya, kita menjadi pengecut dan melarikan diri dengan melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, mengorbankan orang lain. Di mana-mana selalu berteriak-teriak menuntut hak tetapi kalau disuruh tanggung jawab semua langsung sembunyi tangan. Yang benar adalah, siapa yang berani berbuat dia harus berani bertanggung jawab. Kalau bukan manusia tidak bisa menuntut maka Tuhanlah yang akan menuntut dia. Kita sebagai orang-orang Kristen seharusnya gembira ketika kita boleh mengenal konsep Tuhan yang adil karena itulah penghiburan kita ketika berjalan di dunia ini. Orang-orang yang jahat tidak pernah suka mendengar konsep Tuhan yang adil karena dia tahu bahwa Tuhan akan semuanya dengan tepat sesuai dengan tempatnya.

Yang kedua adalah, dunia kita adalah dunia yang jahat dan rusak. Informasi-informasi duniawi dan ditambah lagi dengan kedagingan kita, semuanya itu dapat mendorong kita untuk berpikir dan bertindak secara duniawi. Bila kita tidak terbiasa untuk menyangkal diri kita sendiri, maka kita akan terjatuh ke dalam sikap-sikap yang berdosa. Mungkin pertama kali kita akan berbohong sedikit, menipu sedikit, tetapi pada suatu waktu kita pasti akan ditarik oleh setan untuk berani melakukan dosa besar. Dia akan merayu kita dengan segala macam “kenikmatan” supaya kita tidak terlepas dari tangannya sampai mati. Inilah gambaran dari pleasure dunia. Pertama kali kita akan diberi dengan gratis tetapi setelah kita terikat, setan justru mencekik kita sampai mati. Apakah kita mau menyelesaikan kelelahan kita dengan cara seperti ini?

Pada hari ini kita akan masuk ke dalam sebuah konsep yang sangat penting, yaitu mengenai rest. Ketika Tuhan memperlihatkan kepada kita di antara 7 hari yang ada, ternyata 6 hari Dia pergunakan untuk bekerja dan pada hari yang ke-7 Dia berhenti serat menguduskan hari itu. Inilah rest yang sejati, yaitu bagaimana kita melihat hidup yang sejati di hadapan Tuhan.

Yang pertama, rest sebagai suatu thanksgiving. Ketika Alkitab melihat kita yang sedang capek, tegang, dan stres, Tuhan menginginkan agar kita berhenti sejenak untuk kembali memikirkan ayat Alkitab yang kita baca pada hari ini. Berhentilah sejenak dan bersyukurlah kepada Tuhan atas semua yang sudah kita terima! Di antara sekian banyak yang pengangguran, pernahkah kita berterima kasih kalau kita masih bisa bekerja? Banyak orang yang punya kemampuan seperti kita, tetapi kenapa Tuhan memilih kita untuk masuk di suatu perusahaan? Bisakah kita menghubungkan antara kesibukan kita dengan kehendak Tuhan? Apabila kita tidak bisa menghubungkan keduanya, maka seumur hidup kita bekerja akan mengalami stres. Sebaliknya kalau kita bisa melihat setiap pekerjaan sebagai rencana Tuhan bagi kita, maka kita akan dapat bekerja dengan sukacita.

Yang kedua adalah, rest sebagai suatu relaksasi. Ketika Tuhan menghendaki kita untuk berhenti sejenak, pada saat itulah kita dapat merasakan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal manusia (Flp 4:7). Keadaan dunia ini memang tidak akan berubah menjadi lebih baik bagi manusia, tetapi ketika kita bicara tentang leisure yang sejati itu berarti kita sedang bicara tentang damai sejahtera Tuhan yang melampaui segala keadaan. Sama dengan Paulus ketika menulis ayat tersebut, keadaan tidak berubah, dia tetap berada di dalam penjara dan dianiaya, tetapi dia tetap sukacita karena itulah sukacita yang berasal dari Tuhan! Sukacita seperti inilah yang tidak akan pernah mungkin dimiliki oleh orang-orang dunia, walaupun mereka menginginkannya. Mereka bisa berusaha mencari di dalam diskotik, tempat pelacuran, segala macam narkoba, tetapi mereka tetap tidak bisa menemukan damai sejahtera yang sejati.

Yang ketiga adalah, rest sebagai suatu joy (sukacita). Paulus berkali-kali mengatakan kepada kita untuk bersukacita di dalam Tuhan. Artinya, sukacita itu bukan dibuat-buat atau sengaja dicari tetapi keluar dari hati yang benar-benar senang. Kenapa senang? Seorang pencuri yang lolos dari kejaran polisi pasti merasa senang, tetapi apakah senang seperti itu yang dimaksudkan? Bukan, kita benar-benar merasa senang karena kita tahu bahwa kita bersama dengan Tuhan. Kita tahu bahwa kita sedang berjalan mengikuti Dia. Dunia boleh tambah gila, tetapi cuma satu hal yang perlu kita tahu, yaitu kita sedang menjalankan kehendak Tuhan. Itu sebabnya kita bisa tetap bersuka cita! Sebaliknya kalau kita hanya bersandar pada diri kita sendiri, maka kita akan selalu khawatir akan segala sesuatu. Cobalah bersandar kepada Tuhan, berjalanlah di bawah pimpinan-Nya! Amin.

 

Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)