|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 4 Juni 2004 | ||
|
Baptisan & Kepenuhan Roh Kudus |
|||
|
Nats: Yohanes 21: 15-17, Kolose 1: 24 Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo |
|||
|
Beberapa hari yang lalu kita telah merayakan hari Pentakosta (turunnya Roh Kudus) setelah sepuluh hari sebelumnya kita merayakan hari kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Bagi Kekristenan, kedua perayaan tersebut saling berhubungan erat sehingga sebelum kita belajar mengenai Roh Kudus, kita harus mengerti dahulu apa kaitannya kedua peristiwa tersebut. Apa artinya Tuhan Yesus naik ke sorga? Apa dampaknya bagi kita? Ada 2 hal penting yang tidak dapat dipisahkan ketika kita percaya bahwa Yesus naik ke sorga, yaitu: yang pertama, kita mengetahui bahwa pada hari ini ada satu manusia yang hidup di dalam sorga, yaitu: Yesus Kristus. Artinya, “manusia di sorga” itu telah menjadi suatu fakta yang riil, bukan lagi sekedar mimpi ataupun kemungkinan. Apa yang tadinya tidak masuk akal bagi manusia telah dijadikan masuk akal oleh Yesus. Alkitab menuliskan kepada kita bahwa ketika Yesus datang ke dunia, Dia menggunakan tubuh manusia yang sama seperti tubuh manusia yang berdosa. Kita mengakui bahwa Yesus adalah sepenuhnya manusia seperti kita, bukan seperti manusia yang belum jatuh ke dalam dosa. Kita juga mengetahui bahwa tubuh manusia sebelum jatuh ke dalam dosa berbeda dengan setelah jatuh ke dalam dosa (walaupun kita tidak tahu apa bedanya secara biologis dan kimiawi). Contohnya: kita tahu bahwa sebelum manusia jatuh ke dalam dosa seharusnya proses persalinan tidak terasa sakit (walaupun kita tidak tahu apa yang menyebabkan tidak sakit). Maka ketika Kristus turun ke bumi, kita seharusnya dapat merasakan betapa besarnya perjuangan Yesus untuk melawan dosa dengan tubuh yang rentan seperti ini. Sesaat sebelum Yesus naik ke sorga, pada momen itulah Yesus baru menggunakan tubuh kemuliaan-Nya yang seperti tubuh manusia sebelum jatuh ke dalam dosa, bukan menjadi roh. Sehingga malaikat tidak mengatakan kalau Kristus akan datang sama seperti dulu Dia datang, tetapi yang benar adalah, Kristus yang nanti datang akan sama dengan Kristus yang kamu lihat sekarang (ketika naik ke sorga). Hal terindah yang dapat kita ambil adalah, kalau dulu Dia seperti kita maka kelak kita akan seperti Dia, dan itu adalah suatu kepastian bagi kita. Puji Tuhan. Inilah iman Kristen yang dibangun atas dasar kepastian. Hal yang kedua adalah, ketika Kristus naik ke sorga berarti secara tubuh atau secara fisik, Dia sudah tidak bersama dengan kita lagi. Kenyataan ini sangat mempengaruhi kita, yaitu ketika Dia telah meninggalkan kita, siapakah yang akan melanjutkan pekerjaan-Nya? Kita. Jadi di sini ada 2 macam pekerjaan, pekerjaan yang pertama adalah pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh Kristus, yaitu: penebusan. Tetapi ketika Kristus telah menggenapkan tugas-Nya, itu membuat pekerjaan yang kedua terbuka untuk kita. Kita tidak mungkin bisa memulai pekerjaan kedua kalau Kristus tidak menyelesaikan pekerjaan-Nya terlebih dahulu. Sebelum Kristus mati dan bangkit, tidak ada berita Injil yang diberitakan. Ketika kita membaca Kolose 1:24, Paulus sepertinya berani sekali mengatakan bahwa ada yang kurang di dalam pekerjaan dan penderitaan Kristus. Apa maksudnya? Maksudnya bukanlah pekerjaan Kristus tidak sempurna tetapi yang dimaksudkan adalah Kristus tidak menyelesaikan semua pekerjaan. Di dalam pekerjaan besar itu memang ada bagian yang harus dikerjakan oleh anak-anak Tuhan. Itu sebabnya Kristus tidak mengabarkan Injil kepada jemaat di berbagai kota, Kristus tidak dianiaya di kota-kota tersebut. Orang yang melakukan dan menjalani semua itu adalah Paulus. Dari sinilah Paulus berani mengatakan kalau dia telah menggenapkan apa yang kurang di dalam daging. Begitu pula dengan para hamba Tuhan yang ada di berbagai gereja di seluruh dunia, mereka bekerja memberitakan Injil Yesus Kristus memenuhi apa yang tidak dilakukan oleh para rasul. Dari pengertian di atas kita baru bisa mulai mengerti apa yang tertulis di dalam Injil Yohanes 21:15-17. Walaupun kelihatannya sederhana ternyata cukup banyak juga teolog yang hingga hari ini masih memperdebatkan ayat tersebut. Bahkan beberapa teolog liberal berani mengatakan bahwa bagian tersebut bukan ditulis oleh Yohanes karena bagi mereka sebenarnya sebenarnya Injil Yohanes sudah berakhir pada pasal yang ke-20 (lih. Yoh 20:30-31). Lalu apakah pasal yang ke-21 ditulis oleh orang lain? Atau apakah Yohanes suka bertele-tele? Tidak. Kalau kita membandingkannya dengan injil-injil yang lain, kita tahu bahwa sebenarnya Injil Yohanes tidak boleh berakhir di pasal ke-20. Pasal ke-21 ingin menunjukkan kalau Tuhan ingin memastikan bahwa pekerjaan-Nya belum selesai ketika Dia naik ke sorga. Tuhan menghendaki agar kita meneruskan pekerjaan besar itu. Kalau kita melihat Injil yang lain[1] juga diakhiri dengan mandat agung, yaitu: Tuhan mengutus kita untuk mengerjakan bagian kita dan Dia akan menyertai kita sepanjang zaman. Apa yang menjadi perbedaan adalah Injil Yohanes lebih memfokuskan bagaimana Tuhan memastikan pekerjaan yang harus kita lakukan dengan cara membangunkan kembali, menopang, menghibur, dan menguatkan hamba-Nya yang terjatuh. Mana yang lebih kita suka? Kebanyakan orang lebih suka mengejar jaminan kepastian masuk sorga daripada mengerjakan pekerjaan yang Tuhan berikan kepadanya. Kenapa bisa merasa susah? Mungkin karena kita merasa diri kita tidak layak untuk meneruskan pekerjaan Tuhan. Bagaikan seorang pelukis terkenal yang meminta kita untuk melanjutkan lukisannya, layakkah kita? Mungkin lebih baik lukisan dijual dalam keadaan belum selesai daripada kita yang menyelesaikannya. Jangankan dengan Tuhan Yesus, seberapa hebatnya diri kita dibandingkan dengan Paulus, Petrus, John Calvin, Stephen Tong? Kita akui kalau pekerjaan itu memang cukup sulit dan berat. Tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di sini karena bagaimanapun Tuhan mempercayakan pekerjaan itu kepada kita. Oleh sebab itu Tuhanlah yang akan memastikan pekerjaan itu selesai, yaitu dengan penyertaan dan pertolongan-Nya. Di sinilah kita baru mulai melihat peran Roh Kudus. Peristiwa pencurahan Roh Kudus adalah bentuk yang paling konkrit, nyata, dan yang paling penting dari cara Tuhan untuk memastikan pekerjaan-Nya selesai. Oleh karena bantuan Roh Kudus, pekerjaan Tuhan bisa diselesaikan bahkan oleh orang-orang yang lemah dan yang tidak sempurna. Jadi jangan pernah memisahkan antara kenaikan Tuhan Yesus dengan turunnya Roh Kudus. Apabila baptisan Roh Kudus adalah alat Tuhan untuk memastikan pekerjaan-Nya di dalam kita, maka kepenuhan Roh Kudus adalah cara Tuhan untuk memastikan pekerjaan-Nya melalui kita. Di dalam bukunya, John Stott menuliskan 4 unsur yang terkandung di dalam baptisan, yaitu: siapa yang membaptis, siapa yang dibaptis, dengan apa dibaptis, dan untuk apa dibaptis. Jadi segala macam baptisan yang pernah terjadi dan yang akan terjadi harus meliputi ke-4 unsur tersebut. Bagaimana dengan baptisan yang kita terima? Sama saja. Pendeta yang membaptis, kita yang dibaptis, dibaptis dengan air, dan dibaptis dengan tujuan sebagai simbol pernyataan iman kita bahwa kita tidak sama dengan yang dulu tetapi kita sekarang adalah milik Kristus. Sedangkan mengenai baptisan Roh Kudus, banyak orang yang keliru berpikir. Mereka percaya bahwa oknum yang membaptiskan adalah Roh Kudus. Orang-orang pentakosta juga mempercayai bahwa yang dibaptis hanya orang-orang tertentu. Ini salah. Yang benar adalah, Tuhan Yesuslah yang membaptis dan Dia membaptis semua orang percaya dengan menggunakan Roh Kudus dengan tujuan supaya mereka menyatu dengan seluruh tubuh Kristus. Sehingga, mereka di dalam Kristus dan Kristus di dalam mereka, apa yang menjadi bagian Kristus juga menjadi bagian kita. Jadi jangan memisahkan antara pekerjaan Tuhan dengan baptisan dan kepenuhan Roh Kudus. Maka sekarang kita mengerti, apabila ada orang Kristen yang suka minta dipenuhi Roh Kudus tapi dia tidak peduli dengan pekerjaan Tuhan, lalu untuk apa dia minta dipenuhi Roh Kudus? Kalau dia tidak menganggap pekerjaan Tuhan sebagai hal yang penting, buat apa dipenuhi Roh Kudus? Bagaikan seorang penjahat yang minta dipenuhi hikmat, untuk apa? Supaya kalau melakukan kejahatan tidak pernah tertangkap? Roh Kudus memenuhi seseorang bukan supaya orang yang tidak punya teman tidak kesepian. Tetapi ekstrim lainnya, banyak di antara kita yang rindu dan selalu melakukan pekerjaan Tuhan tetapi tidak pernah minta dipenuhi Roh Kudus. Kita sadar bahwa diri kita tidak sanggup dan tidak layak melakukan pekerjaan itu, tetapi mengapa kita hampir tidak pernah minta supaya dipenuhi Roh Kudus? Orang yang tidak sadar kelemahan minta terus, tetapi kita yang sadar dan tahu kalau perlu malah tidak pernah minta. Kita mengakui bahwa kita sedikit sekali menemukan kata “Roh Kudus” baik itu di dalam buku-buku seperti Institute of The Christian Religion (John Calvin), Systematic Theology (Louis Berkhof), maupun di dalam lagu-lagu pujian kita. Kita perlu menyeimbangkan pengertian kita mengenai baptisan dan kepenuhan Roh Kudus sehingga kita dapat berjalan dan mengerjakan pekerjaan Tuhan dengan lebih baik. Walaupun di satu pihak kepenuhan Roh Kudus adalah suatu sikap yang pasif, tetapi di lain pihak kepenuhan Roh Kudus adalah sebuah perintah bagi kita (“Hendaklah kamu dipenuhi Roh Kudus ....”). Kita memang tidak bisa memaksa Roh Kudus karena itu adalah hak mutlak insiatif-Nya, tetapi ketika kita mengerti untuk apa dipenuhi Roh Kudus maka kita sedang berada di dalam posisi yang benar untuk dipenuhi Roh Kudus. Setelah kita mengerti untuk apa dipenuhi Roh Kudus, kiranya pengertian itu bisa membuat kita semakin rindu dan berdoa agar Roh Kudus memenuhi kita. Dan setelah itu diharapkan kita sungguh berhati-hati untuk tidak mendukakan Roh Kudus dengan menyakiti saudara seiman kita yang juga telah dibaptis oleh-Nya. Amin. [1] Walaupun Injil Lukas tidak diakhiri dengan mandat agung tetapi Lukas adalah orang yang menulis kitab Kisah Para Rasul.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)
|
|||