|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 28 Mei 2004 | ||
|
Leisure?: Leisure & Pressure |
|||
|
Nats: Mazmur 42: 6 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
|||
|
Sekalipun kita adalah orang yang percaya, mungkin di saat tertentu dalam kehidupan ini kita mulai merasa jenuh, terjepit, dan capek. Dan yang lebih parah, orang dunia menganggap itu sebagai suatu hal yang sangat wajar dan manusiawi. Itulah orang berdosa yang hidup di dalam dosa sehingga yang dia mengerti cuma dosa melulu. Kenyataannya seperti itu tapi banyak orang yang tidak mau mengakuinya. Mereka lebih memilih untuk menutupi realitas dan menganggap semuanya manusiawi. Lalu bagaimanakah sikap kita seharusnya? Ketika kita kembali memandang dan berharap kepada Tuhan, maka itu seharusnya membuat cara kita melihat dunia berbeda total dari orang dunia. Berbeda total bukan berarti tidak realistis tetapi justru itulah yang paling realistis karena orang dunia suka menutupi realitas dengan kepalsuan. Ada beberapa latar belakang kenapa seseorang dapat mengalami presure, antara lain: Pertama, karena keadaan fisik dunia ini yang memang terus bertambah buruk. Pada hari ini saja kita telah menjadi korban dari cuaca yang tiba-tiba berubah dari panas menjadi hujan. Dan perubahan ini bukannya tanpa sebab tetapi sebenarnya disebabkan oleh manusia sendiri yang kira-kira mulai 30 tahun yang lalu hingga sekarang terus merusak tatanan bumi ini sehingga iklim menjadi kacau. Sawah-sawah yang seharusnya dapat digunakan akhirnya tidak dapat ditanami. Di satu pihak pemerintah harus mengimpor beras untuk mencukupi kebutuhan, tetapi di pihak lain penjual beras tidak setuju dengan rencana pemerintah supaya harga beras mereka bisa naik, tidak peduli jumlahnya mencukupi kebutuhan atau tidak. Inilah manusia yang sangat jahat dan serakah, demi keuntungan mereka tega membunuh orang lain. Kemudian di negara-negara 4 musim, perbedaan suhu udara semakin jauh. Baik musim dingin maupun panas sangat menyiksa hidup mereka karena suhunya begitu ekstrim. Kedua, karena relasi manusia juga semakin rusak. Dunia yang semakin modern dengan segala kecanggihan transportasi dan komunikasi bukannya membuat hubungan manusia semakin baik tetapi malah semakin individualis. Era globalisasi tetap tidak membuat masyarakat kota lebih komunikatif daripada masyarakat desa. Setiap hubungan yang ada selalu disertai dengan rasa curiga hingga kalau ada orang yang sungguh-sungguh baik, tetap dicurigai karena dianggap aneh dan tidak masuk akal. Betapa kasihan orang dunia, seumur hidup mereka selalu mempermainkan dan dipermainkan oleh orang lain. Tetapi apakah orang Kristen juga mempunyai image seperti itu? Orang Kristen yang sungguh-sungguh adalah manusia yang langka karena kita memiliki hati dan kebaikan yang tulus dari hati. Orang Kristen seharusnya tidak suka mempermainkan orang lain, tidak berbuat baik demi mendapatkan sesuatu, tidak ada akal licik. Ketiga, karena tantangan hidup yang semakin tinggi. Semakin kita hidup bersih dan suci, maka tantangan yang harus kita hadapi semakin besar. Begitu pula kalau kita masuk ke kota yang semakin canggih, maka tantangan hidup juga semakin berat. Kenapa bisa begini? Pertama, karena dunia berjalan di atas struktur persaingan yang sangat tidak sehat. Ada sebuah perusahaan yang demi mendapatkan penghasilan besar tega membayar orang untuk mencelakai perusahaan lain supaya proses produksinya berhenti. Cara seperti ini adalah ciri khas dari setan tetapi herannya yang melakukan tindakan seperti itu adalah orang Kristen sendiri. Jangan sampai kita dikutuk oleh Tuhan karena kita berusaha menghabisi kehidupan orang lain. Jangan pernah kita berpikir kalau kita bakalan lolos dari murka Tuhan dengan tindakan jahat seperti itu. Kemudian yang kedua, pekerjaan kita setiap hari juga bertambah berat. Setiap hari kita harus bersiap diri untuk bersaing dengan teknologi baru, kemampuan yang lebih tinggi, dan dengan mesin-mesin canggih. Dan kalau kita tidak mampu memenangkan persaingan, maka kita akan dibuang karena kita dianggap sudah tidak berkualitas lagi. Maka ketika kita mengalami stres, apa yang harus kita lakukan? Untuk mengatasi stres di kantor, orang-orang dunia memilih untuk pergi ke tempat hiburan yang memacu jantung. Secara tidak sadar, stres yang mereka dapatkan jauh lebih berat daripada di kantor sehingga ketika mereka bekerja kembali, stres yang tadinya berat terasa ringan. Untuk menghilangkan tekanan yang besar, mereka mencari tekanan yang jauh lebih besar sehingga yang tadinya besar terasa kecil. Secara tidak langsung mereka menyiksa diri mereka sendiri dengan terus-menerus mencari ketegangan sehingga tidak ada damai sejahtera dalam hidup. Yang benar adalah ketika kita telah mengalami stres seharusnya itu adalah waktunya kita untuk mundur sejenak dan kembali berharap kepada Allah. Tuhan tidak ingin kita mati di dalam ketegangan tetapi Tuhan memberikan sabat sebagai leisure. Dunia memang terus berusaha membuat manusia gila, ini adalah fakta riil. Cuma masalahnya, kita sebagai anak Tuhan tidak boleh ikut menjadi gila. Kemudian, kalau tadi kita melihat penyebab pressure secara global, maka sekarang kita akan melihat dalam aspek-aspek pribadi diri kita sendiri. Hal pertama yang paling menyulitkan dan mencekik kita adalah sifat materialis. Sejak kecil baik di sekolah, di rumah, di manapun dan oleh siapapun kita dididik untuk bersifat materialis. Hingga hari inipun tidak ada pekerjaan yang tidak membuat pekerjanya bersifat materialis, bahkan seorang pendeta sekalipun. Banyak pendeta yang ternyata pekerjaan utamanya adalah perampok rohani! Dan pendeta seperti ini biasanya khotbahnya amburadul karena yang ada di kepalanya cuma persembahan dan perpuluhan. Begitu pula dengan orang tua yang terus menanamkan pikiran kepada anaknya untuk rajin belajar agar waktu dewasa bisa cari banyak uang. Kenapa materialis bisa begitu mencengkram? Karena mereka semua memiliki konsep bahwa ketika mereka memiliki materi yang semakin banyak, maka mereka akan semakin bahagia. Padahal sebenarnya justru materi itu yang akan kembali menjepit manusia sampai hancur karena faktanya, tidak ada manusia yang bisa merasa puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Hal yang kedua adalah, manusia hidup di dunia semakin lama semakin merasakan kesepian. Walaupun di dunia ada banyak hiburan dan keramaian tetapi semuanya itu tetap tidak bisa mengisi kekosongan yang ada di dalam hati manusia. Semua hiburan itu malah membuat manusia menjadi lebih kesepian sehingga tidak heran kalau akhirnya semakin banyak orang yang mengatasinya dengan mengkonsumsi obat tidur. Hal yang ketiga adalah sifat utilitarian, yaitu sifat manusia yang hanya mementingkan aspek manfaat dari setiap orang. Jadi mereka kalau berhubungan dengan sesamanya pasti selalu berusaha memanfaatkan orang lain sedangkan dirinya sendiri sama sekali tidak mau berkorban. Dan kalaupun ada orang baik yang ingin berteman dengan dirinya selalu dicurigai karena takut dimanfaatkan oleh orang tersebut. Kita anak-anak Tuhan justru harus sebaliknya, pernahkah kita memikirkan seberapa banyak yang dapat kita berikan bagi orang lain? Tuhan menghendaki kita agar tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi harus mau hidup berbagi dengan orang lain karena pada waktu itulah kita mendapatkan kebahagiaan. Inilah kondisi dunia dan diri kita yang dapat membuat hidup kita sendiri menjadi tertekan terus-menerus. Maka tidak heran betapa sulitnya kita mencari damai sejahtera, kelegaan, dan kesegaran di dalam hidup ini. Selain itu masih ada tekanan-tekanan yang dunia berikan kepada kita, antara lain: Pertama, dunia selalu menjadikan kita sebagai korban. Manusia secara tidak sadar telah memutar-balikkan dunia ini dengan menempatkan alam di posisi puncak dan menggeser Tuhan di bawah manusia. Jadi Tuhan yang sedemikian baiknya disingkirkan oleh manusia dan mereka lebih memilih untuk kembali kepada alam, bukan kepada Tuhan. Akibatnya sekarang dunia mempermainkan kita karena yang menjadi tuan bukan lagi manusia tetapi justru dunia yang mengatur manusia. Masih lebih baik menjadi budaknya Tuhan daripada menjadi budaknya dunia karena segala sesuatu yang ada di dunia bersifat mati dan sementara, sedangkan Tuhan adalah Tuhan yang kekal, yang menguasai segala sesuatu. “Berharaplah kepada Tuhan karena Dia adalah penolongku dan Allahku”, Mzm 42:6. Kedua, natur manusia yang memang penuh dengan kelemahan. Kita sebagai manusia harus berani jujur mengakui bahwa diri kita penuh dengan kekurangan, karena kalau tidak maka kita akan selalu menjadi korban penipuan orang lain dan diri kita sendiri. Banyak manusia sekarang yang suka menutupi kejelekan dan kekurangan dirinya dengan hidup berpura-pura. Itu sebabnya sekarang juga banyak orang yang suka dipuji dan dihargai walaupun dirinya sendiri tahu kalau tidak layak dipuji dan dihargai seperti itu. Mereka menutupi semua itu dengan kosmetik, perhiasan, baju seksi, dll. Kalaupun kita berkata jujur kepada orang seperti ini, pasti dia akan marah padahal kita melakukan itu agar dia sadar dan bisa menerima realitas yang sejati. Terimalah, bahkan bersyukurlah kalau memang wajah kita tidak terlalu tampan atau cantik. Jangan hidup di dalam kepalsuan dan pura-pura karena kejujuran akan membuat hidup ini terasa ringan. Selanjutnya, tekanan juga dapat berasal dari sesama kita yang berusaha untuk menerkam kita bagaikan serigala yang ingin memangsa (homo homini lupus). Dan prinsip inilah yang juga dipakai untuk membentuk etika-etika pada zaman sekarang sehingga banyak orang yang sudah tidak menghargai etika. Semua etika mulai dari etika bisnis, etika ekonomi, etika politik, dll sudah tidak dapat dijalankan lagi. Dan yang membuat tambah parah adalah hubungan sesama manusia yang sudah tidak ada ketulusan lagi. Setiap hubungan selalu ditunggangi oleh berbagai macam intrik dan maksud. Semoga Firman Tuhan pada hari ini kembali menyadarkan kita untuk memiliki hati yang tulus kepada orang lain. Salah satu hal yang cukup baik untuk menguji ketulusan kita adalah dengan bergaul dengan bayi-bayi kecil karena walaupun mereka tidak dapat berbicara, tetapi mereka memiliki kepekaan yang sangat besar terhadap ketulusan hati seseorang. Ketika kita tersenyum kepada bayi kecil, dia akan mengetahui apakah kita tersenyum dengan tulus atau tidak. Bahkan mereka akan merasa takut dan tidak mau dipeluk oleh orang yang sifatnya tidak pernah tulus. Penyebab yang lainnya adalah, dunia kita adalah dunia yang terkutuk. Pekerjaan pada zaman sekarang jauh lebih sengsara daripada zaman dahulu karena tanah di mana kita bekerja telah dikutuk, dosa manusia membuat dunia menjadi semakin rusak. Pada zaman dahulu ketika kita bekerja tidak semak dan duri yang akan melukai kita, tetapi pada zaman sekarang semak dan duri begitu banyak sehingga kita bukan sekedar bekerja biasa tetapi juga harus menghadapi tantangan yang keras, penderitaan yang panjang. Selain itu dunia juga tidak pernah seimbang, banyak pihak yang terus-menerus bertikai dan tidak pernah selesai. Kita membela pihak yang manapun pasti pihak yang lain akan menyerang kita sehingga akhirnya hidup kita seperti di atas papan yang terapung di tengah lautan, tidak pernah stabil. Lebih celaka lagi kalau ternyata kita tidak memiliki pegangan apapun, maka kita pasti akan jatuh. Itu sebabnya jangan pernah berusaha menegak diri di dunia ini tetapi peganglah tangan Tuhan sehingga kita bisa menjalani hidup di dunia ini dengan tenang. Kita percaya bahwa Tuhan juga memegang tangan kita sehingga itulah satu-satunya kekuatan kita untuk berdiri di dunia yang terus bergolak. Jika di suatu waktu kita menerima banyak tekanan, maka di waktu yang lain kita juga perlu melakukan refreshing. Tuhan tahu kita perlu istirahat, tidur, bermain musik, dll sehingga untuk itulah Dia memberikan sabat kepada kita. Tuhan memberikan sabat kepada kita bukan untuk bersikap hedonisme tetapi sabat harus dijalani dengan cara yang benar. Satu hal yang penting dari sabat adalah bagaimana pada waktu itu kita bisa kembali menyeimbangkan hidup kita yang sebelumnya tertekan. Jadi sabat bukan melulu tidur dan bersantai, tetapi hanya dengan ganti pekerjaan yang lebih ringan saja itu sudah merupakan pelepasan bagi stres kita. Kita tidak perlu membuang-buang waktu ataupun merusak diri sendiri dengan liar, tetapi yang terutama adalah tekanan kita menjadi berkurang dan tidak sampai mengalami fatigue. Walaupun manusia memiliki daya lentur yang sangat luar biasa tetapi tetap ada batasnya sehingga bila kita ditekan melampaui batasan itu maka kita akan sama seperti besi yang patah karena ditekan melebihi batas kelenturannya. Dan yang lebih celaka, kita tidak mungkin bisa mengembalikan kondisi tubuh kita yang telah patah kembali seperti semula. Contoh fatigue yang mungkin paling banyak kita temukan adalah serangan stroke ataupun tiba-tiba menjadi gila. Hal yang kedua adalah, manusia punya posisi sebagai little god. Ketika Tuhan menciptakan kita, Dia memberikan posisi kepada kita sebagai tuhan kecil di tengah-tengah alam semesta ini untuk menguasainya, memeliharanya, dan mengusahakannya. Kalau kita sadar akan posisi diri kita, maka kita akan tahu bahwa dunia ini milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita sehingga, segala sesuatu yang ada di dalamnya ada di bawah kekuasaan kita, bukan sebaliknya. Jadi bukan uang yang menguasai kita, tetapi kitalah yang menguasai uang. Bukan hari sabat yang menguasai kita, tetapi kitalah yang menguasai hari sabat. Kesadaran seperti ini akan membuat banyak tekanan dapat kita hindari karena kita tahu kita tidak bisa diperbudak oleh hal-hal yang bersifat materi. Amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)
|
|||