Ringkasan Khotbah : 21 Mei 2004

Home

Leisure?: The True Leisure

Nats: Kejadian 2: 13

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Hari ini kita akan masuk ke dalam tema yang baru, yaitu mengenai leisure yang sering kali oleh banyak orang disalah-kaitkan dengan kenikmatan hidup (pleasure) maupun dengan jalan-jalan ke Paris, Hawaii, Bali, dll. Maka, leisure yang benar itu yang bagaimana? Apa artinya leisure di dalam kebenaran Firman Tuhan? Lalu pengertian yang benar itu akan memberikan implikasi apa pada hidup kita? Untuk menjawab semua pertanyaan ini kita bisa melihat ayat Firman Tuhan pada Kej. 2:1-3 yang menceritakan bagaimana Allah ber­istirahat, memberkati, dan menguduskan hari ke-7. Dan mungkin itulah pengertian leisure pertama kalinya.

Menurut Westminster Shorter Cathecism tujuan utama hidup manusia adalah untuk me­muliakan Allah (to glorify) dan menikmati-Nya (to enjoy) seumur hidup kita. Hidup seperti ini tidak mungkin bisa dimiliki oleh orang dunia karena hanya anak-anak Tuhan yang sejati baru mengerti makna kedua kata tersebut. Tapi kenyataannya orang Kristen-pun belum tentu mengerti maknanya karena jarang ada orang Kristen yang mau belajar baik-baik. Melalui perikop yang kita baca hari ini kita akan melihat bagaimana hari Sabat dipandang sebagai leisure.

Sejak zaman Tuhan Yesus sampai sekarang hari Sabat selalu diartikan sebagai hari khusus untuk nganggur penuh. Bahkan banyak kali percakapan yang cukup sengit antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi adalah mengenai hari Sabat. Kedua belah pihak memiliki pemahaman yang sangat berbeda total sehingga walaupun mereka membicarakan kata yang sama, yaitu “hari Sabat” tetapi pembicaraan itu tidak pernah ketemu. Sekarang masalahnya adalah, konsep apa yang dimiliki oleh Tuhan Yesus dan konsep apa pula yang dimiliki oleh para orang Farisi? Betul berbeda, tetapi di mana bedanya?

Orang Farisi memiliki pemikiran yang bersifat dualistik. Artinya, mereka menganggap bahwa hari Minggu sampai dengan hari Jumat adalah hari untuk hal-hal yang bersifat dunia, materi, pekerjaan, dll. Sedangkan hari Sabtu adalah mutlak untuk Tuhan maupun segala kegiatan yang berhubungan dengan Tuhan. Cuma kesulitannya adalah tidak mung­kin pada hari itu sama sekali tidak ada hal yang dikerjakan sehingga mereka mulai mem­buat peraturan untuk membatasi banyak hal mulai dari beban maksimal yang boleh di­angkat, jarak perjalanan yang boleh ditempuh, dll. Itulah pandangan mereka yang sangat sempit mengenai hari Sabat, yaitu hanya sebatas aspek beribadah.

Sedangkan Tuhan Yesus memandang hari Sabat sebagai leisure, yaitu waktu yang diberikan oleh Tuhan untuk kita menikmati Dia selama-lamanya. Hari Sabat juga bukanlah akhir dari segala sesuatu tetapi Tuhan telah memberkati dan menguduskan hari itu agar kita kembali disegarkan. Sehingga, hal yang paling penting dalam hari Sabat adalah: semua aktivitas kita pada hari itu merupakan kembalinya kita kepada Allah yang mau bekerja di dalam diri kita, dan juga menjadi evaluasi diri bagaimana Allah sudah bekerja pada sejarah.

Oleh sebab itu adalah suatu kesalahan kalau kita membawa makna leisure di bawah konteks nganggur. Leisure juga tidak boleh dianggap sebagai hedonistik pleasure karena leisure yang sesungguhnya bukan waktu kita untuk berfoya-foya. Leisure yang benar memiliki beberapa poin penting.

Pertama, Alkitab mengatakan bahwa manusia hidup di dunia ini pasti memerlukan Sabat. Tuhan dari semula tidak ingin kalau manusia itu selama 7 hari kerja terus-menerus tiada hentinya.  Kalau Tuhan memberikan komposisi 6:1 itu bukannya Tuhan ingin me­ngang­gur atau sekedar iseng tetapi ada sesuatu di balik itu karena Sabat bukan hanya untuk Tuhan sendiri tetapi juga perintahkan kepada semua manusia. Apa itu? Jelas bahwa secara fakta riil manusia hidup perlu Sabat karena walaupun tidak mati karena bekerja tanpa berhenti, maka tubuhnya akan cepat rusak, penuh dengan penyakit dan segala macam.

Tetapi kalau kita mengatakan istirahat, istirahat itu bukan nganggur melainkan waktu untuk menikmati Tuhan, menikmati 6 hari sebelumnya apa yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Sabat akan kembali menguatkan hubungan kita dengan Tuhan karena pada hari itu kita memiliki kesempatan untuk mengingat dan merenungkan betapa baiknya Dia kepada kita. Itulah leisure yang sejati. Janganlah kita sama seperti orang dunia yang hanya mau tahu apa yang dirinya sudah kerjakan tetapi tidak pernah mau tahu apa yang Tuhan sudah kerjakan. Mereka berpikir bahwa semua hasil yang mereka dapatkan berasal dari diri mereka sendiri, bukan berkat dari Tuhan. Itu sebabnya kalau hari Minggu mereka juga susah ke gereja tetapi lebih suka ke diskotik, dan itulah leisure bagi mereka. Konsep yang tepat akan membuat hari Minggu kita menjadi lebih indah dari apa yang bisa dipikirkan oleh dunia.

Sabat juga membuat kita terus-menerus dididik bagaimana hubungan antara dunia kekristenan di dalam cara hidup kita di dunia ini dengan dunia kekekalan, yaitu Tuhan yang bertindak di dalam sejarah. Hidup yang tidak dihubungkan kepada Sorga adalah hidup yang sangat gersang dan monoton. Tetapi bagi orang Kristen sendiri, banyak kali hidup yang sedemikian baiknya susah untuk dimiliki karena dunia sudah terlanjur mengunci kita untuk hanya mementingkan urusan dunia karena dunia memang tidak tahu kalau Tuhan itu baik. Itulah, seringkali manusia bisa sangat keterlaluan padahal Tuhan senantiasa memberikan jaminan akan kehidupan, bisa makan, air yang cukup, gravitasi, udara untuk bernafas, mulai dari anugerah umum sampai anugerah pribadi untuk setiap anak-anak Tuhan.

Kedua, leisure juga merupakan waktu kita untuk refresh. Refresh itu bukan hanya sekedar waktu mandi supaya segar tetapi waktu untuk menyegarkan seluruh totalitas kehidupan kita yang telah mengalami kelelahan. Selama 6 hari kita boleh bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh sama seperti mesin yang menyala terus, tetapi pada suatu waktu kita memerlukan refresh sehingga kita tidak rusak seperti mesin yang terbakar karena terlalu panas. Pada waktu itu, kita tidak bengong ataupun nganggur tetapi kita melakukan aktivitas yang sifatnya kebalikan, sehingga kalau sebelumnya semua aktivitas membuat kepala kita panas, maka waktu refresh kita melakukan aktivitas yang mendinginkan kepala kita.

Masalah mendinginkan kepala juga tidak mudah karena kalau kita hanya sebatas ganti pekerjaan dengan yang lain, pekerjaan baru itu nanti pasti juga akan kembali memanaskan kepala kita. Maka, janganlah melihat pekerjaan dari sudut pandang dunia tetapi bagaimana Tuhan membukakan itu kepada kita. Ada perbedaan besar ketika kita belajar dan bekerja tanpa Tuhan dengan bersama Tuhan. Ketika kita menjalani semua itu tanpa Tuhan, banyak hal yang bisa memicu kita untuk mengalami kejenuhan yang sangat tinggi, bahkan bisa membuat kita putus asa hingga bunuh diri karena kita hanya berputar-putar seorang diri di dunia ini. Tetapi ketika kita berjalan bersama Tuhan, datang ke dalam rumah-Nya, Firman-Nya akan menyegarkan kita kembali sehingga kita mendapatkan wawasan dan pemikiran yang baru untuk menyambut minggu yang baru.

Ketiga, Sabat adalah waktu kita untuk recharge. Masuk ke dalam Sabat akan mem­berikan kita tenaga baru untuk menghadapi dunia ini dan segala tantangannya. Itu sebabnya kita perlu tidur. Tidur itu bukan mati, tetapi akitvitas yang yang mengarah ke dalam. Sewaktu tidur, sel-sel tubuh kita yang rusak akan diperbaiki/diganti, semua tenaga kita yang habis terbakar akan diisi lagi dengan tenaga baru. Jadi janganlah kita mengikuti berbagai macam kegiatan yang katanya leisure tetapi akhirnya malah membuat kita tambah capek, seperti pergi keliling Eropa. Sepulang dari  Eropa bukannya tambah segar malah tambah loyo, apalagi kalau kelilingnya ikut tour.

Keempat, Sabat juga merupakan hari untuk improve atau memperkembangkan semua hal. Tadi telah diingatkan bahwa Sabat bukan akhir dari segalanya tetapi kita akan masuk kembali ke dalam hari pertama yang baru sehingga hari minggu seharusnya menjadi proses bagi kita untuk bertumbuh menjadi semakin baik. Di dunia ini hanya ada 2 macam proses, yaitu: maju atau mundur. Sejarah akan selalu maju sehingga kalau kita tidak bertumbuh, maka kita sebenarnya sedang mengalami kemunduran. Dan di Alkitabpun Tuhan bukan saja menginginkan kita maju, tetapi maju sehingga kita mencapai suatu keunggulan yang jauh melampaui dunia ini. Jadi kita bisa menyebut leisure sebagai belajar. Belajar yang memiliki arah dan makna akan sangat menyenangkan dan bisa dinikmati, jangan belajar seperti cara dunia yang melelahkan karena tidak tahu arah dan makna belajar. Itu sebabnya orang dunia kalau belajar tambah bodoh. Waktu yang ada ditambah dengan cara belajar yang tepat akan membuat putaran hidup kita semakin maju dan meningkat.

Dan yang kelima adalah Sabat juga merupakan waktu untuk merekonstruksi diri. Teologi Reformed mempercayai bahwa apa yang disebut sebagai reformed harus selalu direformasi, dibangun ulang, ditata ulang, terus diperbaiki. Sama dengan dunia ini yang diciptakan sehingga di dalamnya ada proses yang tidak mengandung kesempurnaan. Walaupun Allah memang menciptakan manusia dengan sangat baik tetapi Allah tidak menciptakannya secara sempurna baik seperti diri-Nya. Kualitas inilah yang membedakan antara kita dengan Allah, meskipun sama baiknya. Di dalam kekekalan harus mengandung kesempurnaan, sedangkan manusia tidak sempurna.

Ketika kita menjadi anak Tuhan, kita akan sekaligus menjadi orang yang benar dan belum benar. Kita adalah seorang yang benar karena Tuhan yang mengatakan bahwa kita dibenarkan oleh anugerah-Nya. Tetapi sekaligus kita adalah orang yang belum benar karena kita masih hidup di dunia dan selama itu kita pasti masih dapat melakukan kesalahan. Inilah yang di dalam teologi Reformed disebut sebagai teologi Perjanjian Baru atau teologi already and not yet.

Jadi hari Sabat berguna bagi kita untuk merekonstruksi bagian-bagian yang ada di dalam diri kita yang masih belum baik dan belum sempurna. Dan untuk melakukan itu kita perlu kembali kepada Tuhan, beribadah kepada Dia. Firman-Nya yang paling sempurna akan menata ulang seluruh pemikiran kita yang salah. Kapan ini bisa dikerjakan? Pada waktu leisure. Leisure yang tepat akan tetap membuat diri kita menghasilkan sesuatu yang semakin membuat kita segar, baik, dan semakin sempurna. Amin.

 

 

Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)