|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 23 April 2004 | ||
|
Signifikansi Pengajaran Gereja: Peran Pengajaran dalam Gereja |
|||
|
Nats: Ams. 2: 1-5 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
|||
|
Ketika kita ingin berbicara tentang signifikansi pengajaran gereja, maka lingkup awal yang terbaik adalah para pemuda karena kita adalah orang-orang yang seharusnya memiliki pikiran yang sangat tajam. Kita memerlukan ketajaman pikiran untuk berani menerobos apa yang tidak mungkin diterobos oleh orang-orang dunia. Lingkup kedua adalah para majelis yang sangat berperan di dalam organisasi gereja. Di sini kesulitan untuk mengajar lebih sulit lagi karena banyak di antara mereka telah memiliki pengertian yang salah sejak lama dan itulah yang sangat menyulitkan kita untuk mendidik mereka ke arah yang benar. Tetapi di lain pihak semua anak Tuhan harus kembali setia kepada Firman Tuhan sehingga mau tidak mau kita harus siap hati untuk menghancurkan segala pikiran kita yang salah. Lalu siapakah yang berperan untuk mendidik gereja? Seharusnya yang bertanggung jawab adalah hamba Tuhan, tetapi kalau kita melihat belakangan ini ternyata justru banyak hamba Tuhan yang semakin tidak mau bertanggung jawab. Hamba Tuhan yang seperti ini tidak mengerti panggilan Tuhan terhadap dirinya dan hakekat gereja sebagai tempat untuk mendidik bukan sebagai tempat hiburan. Dan orang seperti ini juga didukung oleh banyaknya pemuda-pemudi yang menganggap bahwa pengajaran di gereja adalah suatu format yang tidak cocok dan tidak diperlukan lagi, memusingkan dan merepotkan. Inilah citra pemuda-pemudi zaman sekarang. Tetapi masalah ini bukanlah hal yang baru tetapi telah muncul sejak 10 abad yang lalu dimana terdapat 2 pihak yang saling berlawanan, yaitu pihak clergy dan layman. Pihak clergy mempercayai bahwa seorang imam memiliki posisi yang khusus di dalam gereja sehingga hanya mereka yang boleh membaca Alkitab. Jadi memasuki abad ke-10, semua orang tidak diijinkan untuk membaca Alkitab. Dalam keadaan seperti itu muncullah seorang tokoh pertama yang berani menerjemahkan Alkitab ke bahasa Inggris, yaitu William Tyndale yang akhirnya dia dihukum mati oleh pihak gereja. 150 tahun kemudian ada seorang tokoh refomator yang berani menerjemahkan Alkitab tetapi tidak mati, yaitu Martin Luther. Dia merasakan bahwa sangat tidak baik kalau gereja melepaskan tugasnya untuk mendidik jemaat sehingga dia berjuang menerjemahkan Alkitab dan semua orang akhirnya bisa membaca Alkitab dan belajar. Begitu pula dengan John Calvin yang sangat memperhatikan prinsip pendidikan iman Kristen kepada jemaat. Walaupun Calvin adalah lulusan di bidang hukum tetapi dia dapat mengerti Firman Tuhan jauh lebih tinggi, terintegrasi, dan akurat dibandingkan dengan orang-orang lulusan teologi. Kenapa bisa begitu? Karena belajar di dalam iman Kristen. Belajar di dalam iman Kristen merupakan proses belajar yang terbaik dan tertinggi karena hanya di dalam iman Kristen terdapat inti dari segala pengetahuan. Induk dari semua ilmu adalah filsafat, sedangkan semua filsafat bersumber dari teologi, dan semua teologi bersumber dari Alkitab (Wahyu Tuhan). Jadi Wahyu Tuhan yang dimengerti oleh manusia lalu dituangkan menjadi teologi dan teologi tersebut harus menguji semua filsafat, bukan sebaliknya. Setelah itu baru filsafat masuk ke dalam semua bidang ilmu. Inilah sistem belajar yang benar, yaitu dari atas ke bawah. Tapi dunia modern justru membaliknya sehingga apa yang menjadi fenomena di dunia ini digunakan oleh manusia untuk “menggambarkan” Tuhan. pemahaman mereka sangat sempit dan terbatas sekali karena kepala mereka tidak pernah keluar dari sekedar fenomena. Yang lebih celaka disekolahpun kita juga dididik dengan cara seperti ini. Di sinilah peran anak-anak Tuhan untuk melakukan terobosan sehingga sekolah dan guru tahu bagaimana caranya belajar dan mengajar. Gereja merupakan tempat manifestasi kerajaan Allah di dunia dan disitulah terdapat kebenaran yang sejati, yaitu kebenaran Allah. Kita hanya bisa mencari kebenaran Allah dalam gereja dan itulah yang diucapkan berulang kali di dalam kitab Amsal karena memang seperti itulah sikap belajar yang benar. Paulus sebelum bertobat, juga memiliki otak yang sangat cerdas dan jenius. Tetapi sebelum dia bertemu dengan Tuhan, dia tetap tidak mengerti kebenaran karena dia memiliki sudut pandang yang berbeda dengan Tuhan. Dia pikir tiap hari melakukan hal yang benar sambil tidak tahu bahwa sebenarnya dia justru semakin berdosa. Setelah tunduk di bawah Firman barulah Paulus semakin mengerti kebenaran yang sesungguhnya. Tuhan menginginkan setiap warga kerajaan-Nya taat terhadap kehendak-Nya dan karena itu kalau kita berani mengaku sebagai anggota kerajaan-Nya, maka kita wajib berusaha untuk menjalankan semua peraturan-Nya. Kita boleh mengaku anak Tuhan tetapi kalau tidak ada ketaatan terhadap Bapa, kita tetap bukan anak Tuhan! Tuhan menuntut kepada setiap anak-Nya untuk semakin dewasa di dalam pikiran dan tingkah lakunya seperti yang Tuhan inginkan. Inilah belajar yang benar. Belajar yang benar adalah bagaimana proses belajar tersebut membuat saya semakin mengerti dan dipersiapkan untuk menjalankan hidup sesuai dengan keinginan Tuhan. Menjadi seorang murid berarti menjadi seorang yang didisiplinkan, dan makna dari disiplin bukanlah hukuman dan pukulan, tetapi kembalinya kita kepada kebenaran kemudian dididik dalam kebenaran dan tidak boleh keluar dari kebenaran itu. Jika pada saat ini banyak gereja yang tidak menjalankan perannya sebagai wadah untuk mendidik, maka ada beberapa kemungkinan. Pertama, gereja menjadi fasilitator dunia, apa yang diinginkan dan dicari oleh orang-orang dunia akan sediakan di dalam gereja. Jadi yang terjadi bukanlah dunia mengikuti gereja tetapi malah sebaliknya sehingga gereja bukan lagi kerajaan Tuhan melainkan kerajaan dunia. Nama bangunan boleh gereja tetapi hakekatnya bukanlah gereja karena gereja memiliki tugas membangun, bukan merusak orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang yang berada di dalamnya pun tidak ada yang bergantung kepada Tuhan karena semuanya bersifat humanis, saling menyerang dan menjatuhkan demi mendapatkan posisi tertinggi. Apakah ini yang disebut pelayanan? Terkadang apa yang terjadi di dalam gereja ternyata justru malah lebih menakutkan daripada di perusahaan. Bagaimana mungkin gereja seperti ini mau mendidik jemaat? Bakal seperti apa jemaatnya. Jemaat bukannya tahu bagaimana prinsip berbisnis yang benar tetapi malah pakai cara dunia lalu buka dagangan sehabis kebaktian. Ini anak setan atau anak Tuhan? Jadilah anak Tuhan yang beriman atau jadilah anak setan sekalian, jangan setengah-setengah. Kedua, gereja berubah menjadi temannya setan karena semua orang sudah tidak mau tunduk lagi kepada Tuhan tetapi mengijinkan setan masuk ke dalam. Itu sebabnya kalau kita melihat beberapa gereja, terkadang kebaktiannya sangat bersifat mistik tetapi mereka menutupinya dengan alasan pekerjaan Roh Kudus, padahal roh setan. Gereja seperti ini sangat menakutkan karena ini adalah penipuan dan mungkin sebagian besar dari jemaat tidak sadar kalau ditipu karena pendetanya tidak pernah mengajarkan doktrin Roh Kudus sehingga jemaat tidak bisa membedakan keduanya. Apalagi kalau ternyata pendetanya adalah anak buahnya setan, inilah yang disebut di Alkitab sebagai serigala berbulu domba. Mereka pandai sekali membuat mukjizat, bernubuat, dan mengusir setan. Jangan bilang tidak ada karena Yesus telah memperingati kita. Mereka sangat ahli menyamar jadi domba karena kalau tidak, Yesus tidak perlu memperingati kita karena toh pasti ketahuan karena tipuannya kelihatan jelas. Gereja seharusnya menjadi tempat sekolahnya kerajaan Allah dan di situ terdapat anak-anak Allah yang belajar bagaimana hidup sebagai anak Allah dan menjalankan kehendak-Nya sehingga mereka memiliki pikiran yang kristis dan tidak mudah ditipu oleh zaman. Jika pada hari ini kita masih menganggap diri kita sebagai anak Tuhan, kita perlu mengevaluasi diri kita sendiri apakah akal budi kita semakin serupa dengan dunia ini ataukah berubah sehingga kita bisa melihat mana yang baik dan berkenan bagi Allah. Kalau pikiran kita cukup tajam, kita pasti bisa melihat perbedaan dari hal-hal yang kelihatannya sama. Gereja memiliki berbagai macam sarana untuk mendidik baik melalui katekisasi, liturgi, pengakuan iman, dll. Semua sarana itu telah dipikirkan selama ratusan tahun oleh tokoh-tokoh gereja sehingga setiap hal di dalamnya memiliki signifikansi yang sangat penting yang tidak boleh di ubah-ubah ataupun ditiadakan. Amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)
|
|||