|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 2 April 2004 | ||
|
Calvin's View on the Sabbath Commandment |
|||
|
Nats: Kel. 2:16-17, Bil. 15:32-36, Yer 17:21-22, Yeh 20:1-13, iKor 16:2, Gal 4:10-11, Kol 2:16-17 Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo |
|||
|
Fakta keberadaan hari Sabat sungguh unik. Kita bisa mencari penjelasan bagi pembagian waktu secara harian, bulanan, dan tahunan berdasarkan ilmu alam, yaitu melalui peralihan terang dan gelap, penampakan bulan, dan perputaran bumi mengitari matahari. Tetapi bagaimana kita dapat menjelaskan pembagian waktu secara mingguan? Hanya jika kita kembali kepada Firman Tuhan. Tanpa penjelasan Alkitab, kita tidak akan pernah mengerti kenapa siklus mingguan bisa berlaku secara universal. Ketika John Calvin berbicara mengenai hari sabat, dia memang tidak mengaitkannya dengan christian freedom. Tetapi kita bisa melihat bahwa keyakinannya akan christian freedom ternyata juga mempengaruhi pandangannya mengenai hari sabat. John Calvin memandang hari sabat dengan jauh lebih positif dan “bebas,” bahkan jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh atau dengan iman kepercayaan Reformed lainnya Menurut John Calvin, di dalam Perjanjian Lama Allah menganggap hari sabat sebagai hal yang amat sangat serius sehingga semua orang tidak boleh melewati hari itu dengan sembarangan. Hari ini kita tidak terbiasa untuk menganggap betapa seriusnya pelanggaran hari sabat. Kita tidak akan kesulitan untuk menganggap pencurian, pembunuhan, berbohong, sebagai dosa serius di mata Allah. Tetapi kalau ada orang yang melanggar hari sabat, kita sulit untuk memberikan tingkat keseriusan yang sama. Tetapi di dalam Perjanjian Lama, di antara sepuluh perintah Allah, pelanggaran perintah keempat adalah yang paling banyak diperingatkan dan dikecam. Keseriusan Tuhan dalam hal hari sabat dapat kita lihat dari beberapa ayat Alkitab seperti Bil. 15:32-36, Yeh. 20:10-13, dan Yer. 17:21. Di dalam ayat-ayat ini, pelanggaran hari sabat disebutkan secara khusus. Mengapa Allah menganggap hari sabat begitu penting hingga menjadi salah satu alasan pembuangan Israel ke Babel dan Asyur? Karena hari itu merupakan hari dimana bangsa Israel mengingat bahwa Allah telah menguduskan bangsa itu (Kel. 31:13). Tuhan memberikan hari sabat kepada bangsa Israel agar mereka mengingat apa saja yang pernah Allah lakukan untuk mereka. Perihal mengingat ini penting karena melupakan apa yang Tuhan lakukan adalah salah satu penyebab penting dari semua pelanggaran yang lain. Dengan memelihara hari sabat, mereka akan senantiasa mengingat semua itu dan ingatan itu akan menolong mereka waspada untuk tidak melanggar aturan-aturan yang lain. Tetapi Calvin juga melihat bahwa Perjanjian Baru memiliki penekanan yang berbeda. Perjanjian Baru memandang hari Sabat sebagai salah satu bayangan yang wujud aslinya menunjuk kepada Kristus (Kol. 2:16). Kalimat yang diucapkan oleh Paulus ini memiliki makna yang sangat besar. Ini berarti hari Sabat tidak lagi mengikat orang Kristen Perjanjian Baru seperti hari Sabat mengikat orang Yahudi Perjanjian Lama. Hari ini kita tidak lagi mensakralkan hari Sabat. Kita tidak lagi memandang hari minggu sama seperti orang Yahudi memandang hari sabtu. Calvin bahkan berkata bahwa ia tidak mempermasalahkan jika ada gereja yang menetapkan ibadahnya di hari lain. Tetapi bagi Calvin, semua ini tidak berarti membuat hari Sabat kehilangan semua makna pentingnya bagi orang Kristen. Ketika ditanya apakah kebebasan itu membuat kita tidak perlu lagi menetapkan satu hari untuk berbakti, Calvin menjawab bahwa meskipun Firman Tuhan dalam Perjanjian Baru memberikan kita kebebasan, tetapi Tuhan juga menghendaki kita agar kita tetap beribadah secara rutin setiap minggunya. Inilah keseimbangan antara kebebasan dan arti penting hari sabat. Menentukan satu hari di dalam satu minggu tetap penting karena alasan kedisiplinan dan keteraturan. Tanpa adanya satu hari yang kita sepakati untuk beribadah, maka ibadah kita akan kacau balau. Bayangkan betapa kacaunya gereja yang jadwal kebaktiannya setiap minggu selalu berubah-ubah! Itu sebabnya sejak zaman gereja mula-mula, telah ditentukan satu hari untuk beribadah bersama-sama. Bukan karena mitos ataupun hukum Allah di dalam Perjanjian Lama, tetapi demi ketertiban, keteraturan, dan kedisiplinan bersama-sama. Tetapi, bukankah seharusnya kita datang kepada Tuhan setiap hari? Bagi pertanyaan seperti ini Calvin mengamini bahwa memang yang paling baik adalah jika setiap hari kita dapat mengingat Tuhan setiap hari. Tetapi Calvin menegaskan bahwa kita juga perlu menyadari kelemahan kita dan orang lain. Apabila kita mau bebicara jujur, siapakah di antara kita yang setiap hari dapat mengkhususkan waktu yang cukup panjang seperti kebaktian bersama di hari minggu? Kelemahan inilah yang kemudian membuat kita perlu “mengkhususkan” suatu waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri, memuji Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, memberikan persembahan, serta bersekutu dengan sesama kita. Ada 3 hal yang perlu kita ingat berkenaan dengan kita menguduskan satu hari dalam satu minggu. Pertama, kita perlu berhenti bekerja agar Tuhan dapat bekerja di dalam kita. Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat meminta Tuhan bekerja tanpa kita harus menyediakan waktu secara khusus dengan tidak mengurusi urusan kita sendiri. Sebuah contoh: kita sering merasa bahwa kita dapat beribadah sambil sekaligus mengurus urusan kita setelah ibadah selesai, seperti kita dapat membuka toko atau berekreasi sepulang dari gereja. Pertanyaannya adalah, seberapa jauh kita dapat menjaga pikiran kita tetap terfokus di dalam ibadah jika setelahnya kita tahu kita akan melakukan berbagai hal yang kita nanti-nantikan. Bukankah banyak jemaat gelisah ketika ibadah tidak kunjung selesai karena itu berarti gangguan terhadap apa yang mereka rencanakan setelah ibadah? Bukankah banyak jemaat yang “terpaksa” meninggalkan ibadah sebelum ibadah itu selesai karena ada urusan mendesak lain yang harus diselesaikan? Salah satu alasan mengapa Calvin berbicara begitu positif tentang kemerdekaan Kristen, termasuk yang berkenaan dengan hari sabat, adalah karena ia begitu menyadari kelemahan-kelemahan manusia seperti ini. Calvin sadar bahwa orang Kristen adalah orang yang merdeka. Tetapi ia juga sadar bahwa orang Kristen seringkali tanpa sadar membelenggu kemerdekaan mereka sendiri. Kesadaran seperti inilah yang sering tidak kita miliki sehingga setelah kita memakai kebebasan dengan tidak bertanggung-jawab, kita menjadi ketakutan dan jatuh pada ekstrim yang lain. Kita menjadi ketakutan untuk memakai kebebasan sama sekali. Dan hal ini pun yang sering kita alami berkenaan dengan hari Sabat. Kedua, kita perlu mengkhususkan hari minggu demi ketertiban gereja dan kesehatan rohani kita sendiri. Hari minggu seharusnya menjadi hari khusus di mana kita belajar dan merenungkan Firman Tuhan. Hari sabat juga harus kita khususkan untuk mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan untuk kita. Setiap hari mungkin kita telah mengucap syukur atas makanan dan berkat-berkat yang lain, tetapi pada hari sabat seharusnya kita bisa merenungkan secara khusus apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam dan melalui kita selama 6 hari sebelumnya. Apa yang sudah diberikan-Nya dan apa pula yang sudah kita berikan kepada-Nya? Di hari minggu kita juga bisa mengevaluasi hidup kita yang tidak pernah sempat kita lakukan selama 6 hari sebelumnya. Melupakan semua ini akan membuat rohani kita kering kerontang. Dan yang ketiga, pada hari sabat kita juga perlu memberikan waktu istirahat kepada orang-orang yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Menurut Calvin, sudah sepatutnya kita juga memberikan istirahat kepada orang-orang yang bekerja kepada kita. Selama 6 hari kita mau mereka bekerja sungguh-sungguh untuk kita, maka pada hari sabat kita harus memberikan kesempatan mereka untuk beristirahat, beribadah, dan berkumpul bersama keluarganya. Kita perlu memberi mereka kesempatan untuk menarik nafas, karena sesungguhnya itulah arti harafiah dari sabat. Kalau kita memelihara hari sabat dengan baik dan seimbang, maka kita akan melihat bagaimana Tuhan memelihara kita dalam 6 hari yang lain. Tidak berati ini yang menjadi motivasi kita. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa barangsiapa yang terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah, maka segala sesuatu akan ditambahkan kepadanya. Biarlah kita boleh mengingat bahwa hari Sabat diberikan untuk kebaikan kita. Kita tidak mensakralkan hari itu tetapi kita juga tidak seharusnya melupakan arti pentingnya. Biarlah keseriusan Perjanjian Lama akan Perintah Sabat mengingatkan kita bahwa melupakan segala yang Allah lakukan adalah awal dari semua pelanggaran kita yang lain. Amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)
|
|||