|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 26 Maret 2004 | ||
|
Empiricism: The True Experience |
|||
|
Nats: Flp. 3: 7-11 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
|||
|
Baik sadar atau tidak, kita seringkali masuk ke dalam 2 ekstrim yang saling berlawanan mengenai bagaimana memandang pengalaman, yaitu antara orang yang selalu mengingkarinya dengan orang yang selalu mengagungkannya. Orang-orang positive thinking memiliki pemahaman bahwa semua yang terjadi dan semua keberadaan tergantung dari pikiran kita. Tokoh-tokoh seperti Norman Vincent Peale, Anthony Robbins, Napoleon Hill mengajarkan agar kita semua hendaknya selalu berpikir positif untuk menciptakan realita yang positif pula. Akhirnya, mereka berusaha mengingkari fakta yang ada dan diganti dengan menciptakan pikiran sendiri. Padahal kalau kita terus-menerus melakukan hal seperti itu, kita akan menjadi terbiasa menipu diri sendiri. Tetapi sebaliknya, ada orang-orang yang selalu mengagungkan pengalaman diri sendiri. Jadi kebenaran mereka tergantung dari apa yang telah mereka. Pengalaman yang begitu sampit dijadikan titik tolak untuk menilai segala sesuatu sehingga pengetahuan merekapun akhirnya hanyalah sebatas pengalaman mereka. Padahal, berapa banyak setiap manusia bisa memiliki pengalaman? Ada cerita mengenai 2 bayi ayam yang masih di dalam telur sedang berbincang-bincang. Mereka berdua menyetujui bahwa dunia itu ternyata gelap, sempit, dan bau. Tetapi beberapa saat kemudian, salah satu bayi ayam tersebut menetas dan dia menyadari hal baru bahwa ternyata dunia itu terang, luas, dan tidak bau. Dia begitu bersemangat memberitahu temannya tetapi yang dibilangi bukannya percaya malah menganggap temannya sudah gila. Inilah cerita yang menggambarkan empirisisme. Pengalaman-pengalaman baru akan selalu membuat kepercayaan manusia selalu berubah tergantung apa yang dialaminya setiap hari. Bagian ayat yang kita baca pada hari ini merupakan bukti nyata dari perubahan besar yang terjadi pada konsep empirisisme Paulus, yaitu: dia kembali kepada pengalaman dan kebenaran yang sejati. Dan dari peristiwa ini kita dapat belajar bahwa pertobatan seseorang adalah sebuah pengalaman pertama yang paling signifikan dan yang paling sejati. Tanpa adanya pengalaman pertobatan, tidak mungkin kita bisa memiliki pengalaman yang sejati, yaitu pengalaman bersama dengan Tuhan. Jadi titik putar balik kita dari pengalaman yang berdosa menuju kepada pengalaman yang sejati bukanlah waktu kita jadi kristen, tetapi lebih daripada itu, yaitu: ketika kita mengalami kelahiran baru. Pada waktu kita belum lahir baru, semua pengalaman kita simpan erat-erat hingga menjadi sampah dan sampah itulah kebenaran kita. Inilah yang juga dialami oleh Paulus sebelum bertobat. Kenapa Paulus mengatakan semua yang dibanggakan olehnya sebelum bertobat adalah sampah? Kenapa pengalamannya yang begitu banyak dianggap sampah? Karena semuanya itu justru membuat menjadi keras kepala berjuang demi ketidak benaran dan akhirnya dia semakin jauh dari kebenaran Tuhan. Sama dengan kalau pertama kali kita bermain judi, lebih baik kalah sekarang daripada menang. Jikalau pertama kali main langsung kalah, pengalaman pahit tersebut akan membangun sebuah kesimpulan bahwa berjudi bisa membuat kita bangkrut. Tetapi kalau setan membuat kita menang, pengalaman “enak” tersebut juga akan menancap di kepala kita sehingga ketika kita mengalami kekalahan di kemudian hari, kita anggap pengalaman itu yang salah. Inilah yang membuat banyak orang menjadi bangkrut sungguhan di meja judi. Satu pengalaman yang “enak” disimpan habis, tetapi pengalaman pahit yang berulang kali justru diabaikan. Kita perlu sadar bahwa kita tidak bisa dikatakan bertobat apabila kita hanya menggunakan otak dan pikiran kita, tetapi harus melalui sebuah pengalaman yang benar-benar terjadi bahwa kita mengakui segala dosa kita di hadapan Tuhan dan membuka hati kita bagi Yesus Kristus. Kalau kita mengalami seperti ini, maka pengenalan kita akan Kristus akan menjadi kekuatan untuk kita bisa merubah seluruh hidup kita. Itu sebabnya Paulus mengatakan, ketika dia mengenal Kristus, itulah pengalaman yang paling mulia dari semua pengalamannya. Pernahkah kita benar-benar mengakui dosa-dosa kita? Pernahkah kita benar-benar kembali kepada Kristus? Kemudian, Paulus juga mengucapkan kata “Aku mengenal Kristus” sebanyak dua kali. Pada zaman Paulus hidup, kata “Mengenal” dapat digambarkan sebagai hubungan intim, Artinya, ketika kita mengenal seseorang, itu bukan berarti kita hanya mengenal dia secara rasio saja tetapi merupakan perpaduan antara rasio dengan pengalaman nyata. Maka ketika Paulus mengaku bahwa dia mengenal Kristus, dia bukan hanya mengenal secara teori tetapi juga termasuk pengalaman pribadi bersama dengan-Nya. Pengertian (understand) dan pengalaman (experience) yang tepat akan menghasilkan pengenalan (know) yang tepat pula. Pengalaman yang tidak didukung oleh pengertian yang tepat akan membuat interpretasi pengalaman itu menjadi keliru dan akhirnya pengenalan kita juga akan keliru. Sebaliknya, kalau kita kita cuma mengerti tetapi tidak pernah mengalami maka pengenalan kita akan sangat dangkal. Apakah yang diinginkan oleh Paulus? Dia ingin mengerti kebenaran yang sejati, dan kebenaran yang sejati bukan dibangun oleh diri kita sendiri tetapi dibangun berdasarkan iman. Dan kebenaran yang berdasarkan iman akan membentuk pengalaman iman. Jadi pengalaman sejati yang pertama adalah pengalaman iman. Iman yang beres merupakan titik tolak sehingga kita mengetahui kebenaran Tuhan dan masuk ke dalam pengalaman yang sejati. Tetapi oleh dunia, konsep ini justru dunia dibalik. Orang-orang dunia menuntut agar kita mengalami dahulu, setelah itu baru percaya. Padahal, kalau kita tidak percaya, bagaimanapun orang lain menjelaskan kepada kita, kita tetap tidak akan mengerti. Kalau kita tidak percaya bahwa si A adalah orang baik, bagaimanapun dia berbuat baik kepada kita, kita tetap tidak akan mengerti kebaikannya. Kita terus menganggap dia adalah orang yang licik, penipu, dsb. Orang yang bersikap seperti ini biasanya disebut prejudis. Yang tepat adalah iman mendahului pengertian. Bahkan di Alkitabpun telah ditulis, “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat.” (Ams 1:7). Orang yang tidak pernah tunduk di hadapan Tuhan, dia tidak akan pernah mengerti apa-apa. Berapa banyak orang Yahudi yang mendengarkan khotbah Yesus? Tetapi kenapa orang yang tidak bertobat juga begitu banyak? Padahal Yesus tidak pernah berbicara basa-basi. Itu sebabnya iman sangat mempengaruhi bagaimana kita melihat sebuah pengalaman. Kalau kita berani memakai pengalaman untuk menunjang iman kita, maka iman tersebut pasti bukanlah iman yang sejati. Kita tahu film yang menceritakan tentang Tuhan Yesus disalib tidak pernah sukses, tetapi apakah kita memiliki iman seperti Mel Gibson yang walaupun dia tahu hal itu namun dia tetap mengerjakan film The Passion of Christ, bahkan dengan uangnya sendiri. Berapa banyak sih teman-temannya yang percaya kalau film seperti itu bakalan sukses? Pada saat seperti inilah iman kita ditantang oleh dunia. Ketika dunia bilang “Tidak mungkin,” beranikah kita berteriak sebaliknya? Beranikah kita mendobrak semua mitos dunia yang selalu mengunci pikiran kita? Yang kedua, pengalaman yang sejati adalah pengalaman Firman. Paulus mengatakan bahwa untuk membangun sebuah pengalaman iman tidak bisa dengan kebenaran diri sendiri melainkan harus kembali kepada kebenaran Firman Tuhan. kalau pengalaman kita tidak dipandang berdasarkan Firman, maka pengalaman itu bukanlah pengalaman yang baik karena yang bisa memberikan pengalaman bukan hanya Tuhan tetapi juga iblis. Firman Tuhan berfungsi sebagai kunci bagi setiap pengalaman kita sehingga kita tidak salah merespon dan dapat melihat apa yang diinginkan oleh Bapa kita. Dari mana kita bisa tahu keinginan Bapa kita kalau kita tidak bergumul dengan Firman-Nya setiap hari? Apakah kita masih mengingat peristiwa Toronto Blessing? Begitu banyak orang yang tertawa, berjatuhan, dll, selama berhari-hari seperti kerasukan setan. Dan mereka yang sadar mempercayai bahwa semua itu adalah manifestasi Roh Kudus. Inilah orang bodoh dan tidak mau belajar Alkitab tetapi sok pintar. Celakanya lagi, semua orang percaya kepada apa yang diucapkannya. Alkitab secara jelas membedakan antara istilah “merasuki” dengan “dipimpin.” Apa yang dilakukan oleh Roh Kudus adalah memimpin sehingga orang yang dipimpin-Nya masih memiliki kesadaran penuh. Siapa yang mau dipimpin setan? Itu sebabnya setan selalu merasuki orang. Dan itulah yang terjadi pada waktu itu. Kesadaran semua orang menjadi hilang dan bertingkah laku yang sangat aneh dan menakutkan. Pengalaman sudah tidak dipandang berdasarkan Firman Tuhan. Mereka begitu keras kepala menganggap itulah Roh Kudus yang benar dan mereka tidak peduli dengan apa yang ada di Alkitab. Marilah kita membaca dan mempelajari Alkitab secara baik, teratur, dan tepat. Setelah kita membaca Alkitab beberapa kali dari awal hingga akhir, itu adalah pengalaman yang sungguh-sungguh berharga karena pada waktu itu kita pasti bertambah bijaksana dalam melihat dan berpikir segala sesuatu. Yang ketiga, pengalaman sejati adalah pengalaman sehari-hari kita bersama dengan Tuhan. Setelah Paulus bertobat, dia menginginkan agar dirinya bisa mengenal Tuhan. Kata “Mengenal” disini menggunakan present tense. Artinya, Paulus ingin hidup bergaul dengan Tuhan setiap hari dan di dalam setiap aspek kehidupannya. Mungkin setiap hari kita berdoa pada waktu sebelum makan, sesudah bangun tidur. Tetapi ketika kita belajar, bekerja, merencanakan dan memutuskan sesuatu, apakah pada waktu itu kita sudah melibatkan Tuhan? Janganlah kita ingat kepada Tuhan hanya kalau kita sedang menginginkan-Nya tetapi di lain waktu kita menyembunyikan Dia. Yang penting bukanlah doa berapa kali sehari, tetapi apakah hidup kita sudah terbiasa bergaul dengan Dia. Ketika kita berdoa, apakah kita melibatkan hidup kita di dalam doa itu atau hanya basa-basi? Keempat, pengalaman yang sejati adalah pengalaman kerajaan. Pengalaman kerajaan adalah pengalaman ketika kita terlibat di dalam aktivitas kerajaan Allah. Allah menganugerahkan kemampuan kepada kita sehingga kita bisa dipakai-Nya untuk membangun dan memperluas kerajaan-Nya. Kalau kita pernah terlibat di dalam penyelenggaraan KKR setahun yang lalu, pada waktu itu kita benar-benar merasakan sebuah pengalaman yang betul-betul luar biasa, yaitu kita bisa melihat bagaimana Tuhan memimpin di dalam setiap langkah dan keputusan yang diambil. Kemudian kalau kita melihat karya lukisan Michaelangelo di kubah The Sistine Chapel. Walaupun lukisan tersebut kurang Alkitabiah tetapi semua orang tetap mengaguminya. Kenapa? Kerena disitulah titik awal perubahan drastis pemikiran manusia menjadi humanis. Tahukah kita kalau Michaelangelo melukis gambar itu sambil marah-marah? Dia membenci Roma Katolik karena dia disuruh melukis di bagian yang paling sulit dan bayarannya dianggap tidak cukup. Itulah sifat humanisme Michaelangelo. Dia tidak sadar kalau Tuhan ingin memakai dia untuk menghias gereja-Nya. Maka bisakah kita membayangkan betapa lebih indahnya lukisan itu kalau dia mengerjakannya dengan hati yang cinta kepada Tuhan? Tetapi sayang, Michaelangelo tidak siap hati untuk mengabdikan seluruh hidupnya bagi Tuhan. Dia marah-marah hanya karena iri dan kurang digaji. Dia tidak melihat betapa besar dan agungnya pekerjaan Tuhan yang diserahkan kepada dia. Bagaimana dengan kita? Ketika Tuhan ingin memakai kita untuk membangun kerajaan-Nya, apakah kita berani menerimanya? Apakah kita berani mengabdikan hidup kita bagi Dia? Hati yang siap berkorban dan penuh dengan cinta kasih akan menghasilkan suatu karya yang mampu melampaui zaman. Hasil pekerjaan kita akan senantiasa diingat dan dikagumi oleh semua orang di sepanjang sejarah. Maukah kita memiliki pengalaman seperti ini? Betapa indahnya hidup kita kalau kita bisa memiliki pengalaman yang sejati, yaitu pengalaman bersama dengan Tuhan. Amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)
|
|||