|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 12 Maret 2004 | ||
|
Eden & Kesepadanan |
|||
|
Nats: Kej 1:9, 2:5, 8-17 Pengkhotbah : Pdt. Rudie Gunawan |
|||
|
Eden adalah tempat di mana kita akan bekerja sampai lelah dan kemudian mati dalam keadaan suka bekerja. Unsur tanah di dalam penciptaan merupakan hal yang cukup dominan karena hampir semua penciptaan berasal dari tanah mulai dari tumbuhan, binatang, bahkan manusia juga memakai unsur tersebut. Setelah manusia diciptakan, dia dikembalikan ke tanah untuk mengusahakan tanah. Dan hasil dari tanah tersebut akan dimanfaatkan oleh manusia kembali. Jadi tanah mengusahkan tanah untuk kebutuhan tanah. Kenapa dikatakan kita mati kelelahan di Eden? Karena disitulah kita akan merasakan betapa nikmatnya pekerjaan yang tidak pernah selesai. Disitulah kita menerima janji Tuhan bahwa kita senantiasa bisa bekerja, mengembangkan pekerjaan, dan menikmati hasilnya. Pada akhirnya, setiap manusia juga pasti akan kembali ke tanah. Inilah manusia. Hal ini menyadarkan kita bahwa tanah ternyata bukanlah tempat bagi manusia untuk menyembah. Manusia tidak boleh mencengkram habis dunia ini sehingga tidak rela ketika harus meninggalkannya. Ajaran yang mengajarkan demikian adalah aliran dinamisme dan animisme. Contoh yang paling jelas adalah agama-agama yang menyembah dewa bumi. Sebaliknya, manusia juga tidak boleh terburu-buru cari mati seakan-akan dunia ini adalah tempat yang penuh dengan penderitaan dan penyakit. Tentu kita masih ingat tentang kasus Sibuea, seorang hamba Tuhan yang ditangkap polisi gara-gara menyebarkan isu Tuhan Yesus akan datang. Inilah ajaran Dispensasi, ajaran yang mengajarkan agar manusia membenci dunia dan berusaha untuk mencari-cari waktu kedatangan Tuhan Yesus sehingga bisa cepat-cepat meninggalkan dunia ini. Yang dipelajari adalah doktrin akhir zaman melulu. Kita tidak perlu menunggu kedatangan Tuhan Yesus karena sebenarnya Dia sudah datang dan kita sudah diselamatkan. Tuhan Yesus sudah menjadi milik kita dan kita sudah menjadi milik Tuhan Yesus! Kita juga tidak perlu menunggu sorga karena sorga terletak di bumi. Kita bisa mengetahui ini dari doa yang Dia ajarkan sendiri kepada kita, “jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga” (Mat. 6:10). Jadi jelas bahwa seharusnya sorga yang dibawa ke bumi, bukan bumi dibawa ke sorga. Agama-agama di dunia selalu berusaha memindahkan bumi ke sorga. Makanya tidak heran kalau ada orang meninggal selalu anggota keluarganya membakar rumah-rumahan, mobil-mobilan, dsb. Mereka anggap kehidupan di sorga sama dengan di bumi, itu sebabnya diperlukan barang-barang tersebut. Tetapi Tuhan Yesus justru mengatakan yang sebaliknya. Tuhan menginginkan agar setiap manusia bisa menikmati keberadaannya di bumi sehingga mereka bisa memancarkan suatu kehidupan sorgawi. Dari Kej. 1:1 kita bisa mengetahui bahwa manusia tidak diperbolehkan menyembah langit, bumi, maupun apa yang berada di antara keduanya. Satu ayat tersebut dengan sangat jelas sekali menunjukkan bahwa manusia harus menyembah Tuhan. Bahkan ada satu pendapat yang mengatakan bahwa ayat tersebut adalah sebuah alat apologetik yang dipakai oleh Musa untuk menghadapi segala kepercayaan berhala yang meracuni pikiran bangsanya selama 400 tahun di Mesir. Selanjutnya, kita juga tidak mempercayai bahwa manusia muncul dari tanah, tetapi manusia diambil dari tanah kemudian diberikan nafas Ilahi. Setelah itu Tuhan memerintahkan manusia untuk mengusahakan (cultivate) tanah, bukan menjadi penguasa tanah. Mental seorang pengusaha adalah bagaimana memikirkan yang terbaik yang bisa dia kerjakan terhadap apa yang ada di depan matanya. Mental seorang pengusaha begitu rajin bekerja. Sangat berlawanan dengan mental seorang penguasa. Mental seorang penguasa adalah bagaimana menggunakan segala cara untuk menguasai dan mengatur sesuatu atau seseorang. Seorang penguasa tidak pernah mengerjakan sendiri apa yang dia kuasai tetapi dia selalu menyuruh orang lain untuk mengerjakannya dan dia sendiri bermalas-malasan. Banyak sekali oang yang memandang bahwa taman Eden berada di sorga, termasuk Saksi Jehovah dan aliran Dispensasi. Padahal Alkitab dengan cukup jelas menggambarkan bahwa Eden berada di bumi. Ketika Alkitab menjelaskan bahwa di Eden terdapat sungai, berapa panjangnya sebuah sungai? Tentu tidak ada batasnya hingga hulu bertemu hilir. Jadi yang dimaksud dengan taman Eden adalah tidak lebih dari sebuah taman biasa di suatu tempat di bumi. Bedanya dengan taman-taman yang lain adalah taman Eden merupakan taman pertama di dunia dan di situlah manusia pertama kali diciptakan. Jadi ketika manusia diusir dari Eden (Kej. 3:23), itu bukan berarti mereka dijatuhkan dari sorga ke bumi, tetapi mirip dengan kita diusir dari rumah. Mereka yang percaya bahwa manusia dijatuhkan dari sorga adalah orang-orang yang terlalu sering nonton film mandarin yang bercerita tentang kehidupan dewa-dewi di sorga. Taman Eden juga bukanlah tempat relaksasi bagi manusia. Agama Islam mempercayai bahwa setelah seseorang meninggal jihad, maka dia akan ditemani oleh banyak malaikat yang cantik-cantik di sorga. Betapa bodohnya pikiran seperti ini, justru di taman itulah Adam bekerja, meneliti, dan memberikan nama kepada setiap jenis binatang. Bahkan Adam begitu repotnya mengerjakan semua itu hingga dia memerlukan pertolongan yang sepadan dengannya. Jadi kata “sepadan” jangan terburu-buru dihubungkan dengan urusan jodoh, tetapi masih di dalam konteks Adam memerlukan komunitas untuk mengerjakan semua pekerjaan itu. Baru setelah itu diciptakannya manusia lain yang sekaligus menjadi jodohnya Adam. Ketika Allah mengatakan bahwa Adam tidak baik sendirian, apakah ini berarti Allah melakukan eksperimen kepada Adam? Tidak. Kata “tidak baik” tersebut bukan ada setelah Adam sangat repot, tetapi perkataan itu telah ada sebelumnya. Jadi pada awalnya, manusia memang tidak baik sendirian. Tetapi sebaliknya, manusia bukanlah manusia yang eksperimental karena pada saat itu Adam sedang menyelidiki makna yang berada di dalam dirinya. Manusia dipanggil bukan untuk memberikan nilai tetapi untuk melihat dan menghargai nilai itu. Belakangan ini cukup banyak kasus pernikahan yang hancur dan pasangan yang ribut bahkan hingga cerai karena sebenarnya ketika mereka berpacaran mereka tidak menemukan nilai yang ada pada pasangannya. Setiap orang selalu menjelek-jelekan pasangannya seakan-akan dirinya begitu mahal dan pasangannya begitu murah. Kita bisa bertemu dengan pasangan kita bukan karena sekedar adanya cinta, tetapi juga adanya nilai yang kita temukan di dalam dirinya dan dia juga menemukan nilai yang berada di dalam diri kita, dan setiap pasangan saling menghormati nilai tersebut. Perihal tulang dan daging itu berarti kita berbicara materi dasar yang sama dan serancang bangun, bukannya pada penampilan luarnya. Dan hal seperti ini bukan saja dibicarakan di dalam masalah jodoh tetapi juga di dalam masalah komunitas. Untuk melihat demikian dalamnya memang cukup sulit karena manusia sudah dipecah-pecah oleh budaya, bahasa, dll, tetapi kita harus tetap berjuang keras untuk melihat hingga mencapai nilai dan makna yang terdapat pada setiap orang. Jadi jangan memberikan penilaian kepada seseorang hanya berdasarkan penampilannya saja tetapi lihatlah apa yang ada di dalam dirinya. Setelah pria dan wanita menikah, dikatakan mereka akan menjadi satu daging. Keputusan menikah adalah bukti bahwa kedua-duanya rela melepaskan segala ikatan, baik itu keegoisan sampai orangtua yang selama ini hidup bersama dengan kita. Inilah tanda kedewasaan kita karena kita berani melangkah untuk hidup bersama dengan orang lain yang memiliki keluarga, asal-usul, cara hidup yang berbeda dengan kita. Maka kalau kita tidak melihat ke dalam tulang dan dagingnya, banyak perbedaan yang bisa membuat kita bertengkar setiap hari. Hal yang terakhir berbicara mengenai hal ketelanjangan. Kita perlu membaca Kej. 2:25 dengan sangat teliti sehingga kita bisa mendapatkan maknanya secara tepat. Seringkali orang yang membaca ayat tersebut hanya terfokus pada kata “telanjang” saja dan kemudian mereka membayangkan keadaan di Eden secara sepihak. Artinya, orang seperti ini suka sekali menonton orang telanjang tetapi dia sendiri tidak suka kalau ada orang yang melihat dirinya telanjang. Dan kita juga tidak boleh melihat telanjang hanya dari segi telanjang badan, tetapi juga bisa berarti berterus terang, jujur, terbuka. Di dalam masa pacaran, setiap orang harus bersikap saling terbuka pada pasangannya mengenai masa lalunya, keluarganya, profesinya, dll, sehingga akhirnya keduanya saling mengenal baik kelebihannya maupun kekurangannya. Inilah ketelanjangan kedua belah pihak. amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)
|
|||