Ringkasan Khotbah : 05 Maret 2004

Home

Calvin on Christian Freedom 2

Nats: 1 Tim 4: 4-5

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Setelah minggu lalu kita membicarakan christian freedom di dalam hubungannya dengan gereja, negara, dan keselamatan kita, di situ kita baru menyadari bahwa ternyata christian freedom memiliki aspek-aspek yang sangat luas. Kita juga telah belajar bahwa ternyata gereja dan pemerintah yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah untuk menghambat kebebasan kita tetapi justru untuk memelihara dan menjamin kebebasan tersebut dari penyalahgunaan. Jadi, untuk menjalankan kebebasan bukan berarti harus meniadakan otoritas dan ordo. Begitu pula sebaliknya, untuk menjalankan otoritas dan ordo bukan berarti harus meniadakan kebebasan.

Kemudian, keyakinan akan jaminan keselamatan juga merupakan hal yang sangat penting agar kita bisa menjalankan christian freedom karena tanpa adanya keyakinan tersebut, seumur hidup kita hanya akan “menjaga gawang sendiri” sehingga tidak bisa menjalankan mandat budaya yang Tuhan berikan kepada kita. Keyakinan akan kepastian keselamatan tidak akan membuat kita pusing dengan keselamatan diri kita sendiri tetapi juga membuat kita berani memberitakan injil kepada dunia. Terlebih lagi, christian freedom membuat kita dapat melayani Tuhan dengan hati yang bersukacita karena kita tahu walaupun semua yang kita kerjakan tidak mungkin memenuhi standar-Nya tetapi Dia tetap menghargai pekerjaan kita seperti orang tua terhadap anak-anaknya.

Maka pada minggu ini kita akan belajar mengenai hal yang ketiga, yaitu christian freedom yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari. Hal ini meliputi hal-hal yang umum, tidak berprinsip, seperti pakaian, hiburan, rumah, dll. Di dalam bukunya, John Calvin membagi hal tersebut menjadi dua, yaitu: hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan kita dan yang berhubungan dengan kenikmatan kita. Contoh yang sederhana adalah soal makanan. Makanan yang terkadang kita santap, bukan hanya menjadi masalah kebutuhan fisik kita tetapi juga masalah selera kita. Jadi di sini ada perbedaan antara “what I need” dengan “what I want”.

Sebelum mempelajari lebih jauh mengenai pandangan John Calvin, kita akan melihat beberapa pandangan yang keliru mengenai kebebasan dalam hal ini. Pertama, terdapat pandangan yang mengatakan bahwa kita hanya boleh menggunakan sesuatu barang yang kita butuhkan. Jadi yang dipakai sebagai standar di sini adalah sejauh mana kita membutuhkan. Sebagai contoh: kalau engkau bisa hidup tanpa TV, maka jangan membeli TV. Adalah suatu kesalahan kalau engkau membeli TV.

Tetapi berlawanan dengan pandangan kedua yang mengatakan bahwa kita boleh memakai segala macam barang dengan standar sejauh mana hati nurani kita mengijinkan. Tidak peduli engkau butuh atau tidak, yang penting tidak ada rasa bersalah di dalam hatimu, maka gunakanlah. John Calvin sangat tidak setuju dengan kedua pandangan di atas karena di satu pihak, ikatan yang ada melebihi apa yang ada di Alkitab. Dan di lain pihak, Alkitab juga tidak pernah mengatakan kalau hati nurani boleh dipakai sebagai titik acuan yang terutama. Jadi yang satu terlalu keras dan yang lainnya terlalu lunak. Lalu bagaimanakah yang seimbang?

Bagi John Calvin, kita tidak terikat dengan kewajiban agama apapun di hadapan Tuhan untuk memakai atau untuk tidak memakai semua barang tersebut. Inilah kebebasan kita! Hal seperti ini perlu untuk kita pahami dengan seimbang sehingga kita tidak mudah terjatuh ke dalam takhyul-takhyul seperti yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu seperti lagu asereje, pokemon, dll. Kalau kita mudah mempercayai takhyul-takhyul seperti ini, maka hati nurani kita tidak akan pernah bisa beristirahat karena selalu berada di dalam ketakutan. Dan ketakutan seperti ini semakin lama akan semakin mencekik kebebasan dan hidup kita.

Tetapi apakah benar-benar tidak ada suatu pedoman bagi kita? John Calvin memberikan beberapa hal yang perlu kita ingat. Pertama, barang yang kita gunakan tersebut harus sesuai dengan tujuannya. Kita harus ingat bahwa suatu benda diciptakan, pasti ada maksud dan tujuan di balik penciptaan tersebut. Begitu pula dengan Allah, kalau memang makanan diciptakan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, kenapa Allah harus menciptakannya dengan berbagai macam aroma dan rasa? Kalau memang pakaian hanya untuk menutup tubuh, kenapa Allah mengijinkan ada berbagai macam bahan, model, dan warna? Allah mau agar kita tidak saja membutuhkan semua itu tetapi juga menikmatinya. Hal yang sama juga dituliskan di dalam Westminster Shorter Cathecism, bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya. Jadi, Tuhan menginginkan kita untuk memakai semua hasil ciptaan-Nya dan menikmatinya agar kita bisa mengucap syukur kepada-Nya. Terlebih lagi, semuanya itu pasti akan memuliakan nama-Nya! Bayangkan kalau setiap hari kita makan ayam terus, lama-kelamaan pasti bosan. Allah tidak mau hanya sekedar terima kasih, tetapi Allah mau agar kita mengucap syukur dengan penuh sukacita! Itu sebabnya Allah memberikan makanan beraneka ragam.

Hal yang kedua, kita juga harus bisa menahan diri. Apakah hal ini bertentangan dengan yang pertama? Tidak, justru kita harus melihat hal kedua ini dalam konteks yang lalu, yaitu agar kita tidak berlebihan ataupun menyalah-gunakan kebebasan tersebut.  Tuhan tahu bahwa kita selalu cenderung untuk berlebihan dan dan John Calvin menyadari hal ini sehingga dia menginginkan agar kita bisa menahan diri. Kalau kita sudah memakai sesuatu barang secara berlebihan, maka kita telah melanggar tujuan dan maksud penciptaan barang tersebut, apalagi memuliakan Tuhan. Makanan yang lezat, harum, dan enak, memang adalah hal yang sangat baik. Tetapi kalau kita mengkonsumsinya dengan rakus dan berlebihan, apakah hal demikian bisa memuliakan Tuhan? Rumah yang besar memang indah dan enak. Tetapi kalau kita terobsesi dalam mengejarnya sampai lupa segalanya, apakah hal demikian bisa memuliakan Tuhan?

Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan, antara lain: jangan sampai iri hati, jangan terlalu membanggakan, dan jangan sampai boros dan berfoya-foya. Iri hati akan membuat kita tidak bisa mengucap syukur ketika kita mendapatkannya tetapi malah terfokus dan terobsesi pada barang tersebut. Sifat terlalu membanggakan juga akan membuat diri kita dan orang lain melupakan Tuhan yang memberikan berkat. Sedangkan sifat boros dan berfoya-foya akan menghilangkan makna barang-barang tersebut serta dapat merusak karakter dan hidup kita. Tetapi sekali lagi, apakah dengan menahan diri apakah kebebasan kita akan hilang? Sama sekali tidak. Kebebasan berarti bebas melakukan apa saja termasuk bebas untuk menahan diri.

Hal yang ketiga, jangan sampai bersusah hati hanya karena kita tidak memiliki barang-barang tersebut. Memang alangkah baiknya kalau kita bisa memilikinya, bahkan kita bisa bersyukur kepada Tuhan atas berkat tersebut. Tetapi, waktu kita belum bisa memilikinya, jangan bersusah hati. John Calvin mengungkapkan bahwa ketika seseorang sangat bersusah hati ketika dia belum memiliki suatu barang, sangat mungkin ketika dia tidak akan bersiap hati untuk kehilangan barang tersebut ketika telah mendapatkannya. Jadi seseorang yang malu memakai baju sederhana, maka orang seperti itu pasti akan bersikap sombong ketika memakai baju mewah. Maka, hendaklah kita bisa merasa puas atas apa yang sudah kita miliki pada saat ini sehingga ketika ada berkat melimpah, kita tidak salah tingkah. Kita tetap perlu ingat bahwa barang di sini adalah barang-barang yang umum dan tidak berprinsip, jangan malah keberadaan barang tersebut menentukan hidup kita.

Keempat, sebaliknya ketika kita mendapatkan barang tersebut, jangan sampai lupa diri. Kalau kita sampai memiliki barang-barang yang baik tersebut, jangan lupa bahwa semua itu adalah berkat dari Tuhan. Kita tahu bahwa kita merdeka untuk menggunakannya, tetapi di lain pihak kita juga merdeka untuk tidak menggunakannya. Kalau kita sudah demikian terikat oleh barang tersebut, itu berarti kita juga telah kehilangan kemerdekaan kita.

Masalah terakhir adalah hal-hal yang berhubungan dengan orang-orang yang tidak setuju kepada kita atau kemerdekaan kita telah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Perihal batu sandungan ini oleh John Calvin dibagi menjadi 2, yaitu: pertama, kalau apa yang kita lakukan adalah salah dan menyebabkan orang lain tersandung, maka itu adalah kesalahan kita. Contoh kasus seperti ini adalah ketika kita menggunakan suatu barang secara berlebihan dan sembarangan. Tetapi yang kedua, kalau kita telah menggunakan barang tersebut dengan benar tetapi tetap menjadi batu sandungan bagi orang lain karena dia memiliki pikiran yang jahat, maka itu adalah kesalahan orang tersebut. Jadi pada dasarnya memang orang seperti ini mencari-cari masalah dengan kita. Contoh yang paling alkitabiah dari kasus ini adalah orang Farisi. Di lain pihak kita berhadapan dengan orang-orang yang lemah imannya, dan menurut Rm 14:1 kita harus menerima mereka tanpa memperdebatkan pendapatnya. Tetapi di lain pihak kita berhadapan dengan orang yang munafik, dan bagi orang seperti ini Tuhan Yesus benar-benar membenci mereka.

Lalu bagaimanakah kita bisa membedakan antara orang yang lemah imannya dengan orang yang munafik? Kita bisa belajar dari Kis 16:2-3 dan Gal 2:3-5. Melalui dua bagian ayat tersebut, Paulus memiliki prinsip hati yang sama walaupun terdapat dua perbuatan yang berbeda. Jadi ketika berhadapan dengan orang kuat, dia akan bersikap seperti orang kuat. Ketika berhadapan dengan orang lemah, dia akan bersikap seperti orang lemah. Akibatnya, ketika Timotius minta disunat, Paulus bersedia. Sebaliknya ketika Titus meminta, Paulus menolaknya karena kalau sampai orang yang memiliki pikiran salah melihat hal demikian, maka orang tersebut akan menganggap bahwa kekuatan injil harus ditambah dengan sunat. Demikianlah sikap kita seharusnya. Di depan orang yang lemah imannya, kita bisa untuk tidak bermain Playstation yang mungkin bagi orang lain bisa menjadi batu sandungan. Tetapi di depan orang munafik yang sok rohani, kita tidak perlu mempedulikannya. Dan sekali lagi, untuk bisa melakukan seperti ini, kita harus benar-benar merdeka baik untuk menggunakan barang-barang tersebut maupun untuk tidak menggunakanya sehingga tidak ada keterikatan. amin.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)