Ringkasan Khotbah : 27 Februari 2004

Home

Calvin on Christian Freedom 1

Nats:

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Semasa hidupnya, John Calvin mengatakan jika kita sebagai orang Kristen tetapi tidak mengerti akan christian freedom, maka hidup kita akan senantiasa berada di dalam ketakutan. Bagi dia, christian freedom juga sangat mempengaruhi pemahaman kita mengenai justification by faith. Pada hari ini kita memang sudah mengerti mengenai “dibenarkan hanya oleh iman”, tetapi kalau kita tidak mengerti hal tersebut dengan baik, maka seumur hidup kita akan terfokus hanya kepada bagaimana untuk hidup benar sehingga hilanglah christian freedom di dalam kehidupan kita. Di dalam buku Institute of Christian Religion, John Calvin juga menuliskan bahwa antara kebebasan, gereja, dan pemerintahan memiliki hubungan yang cukup erat sehingga pada edisi awal dia meletakkan ketiga tema tersebut ke dalam satu bab.

  Ketika Karl barth meneliti pikiran-pikiran John Calvin, dia menemukan bahwa di dalam pembahasannya mengenai christian freedom, kita akan menemukan etika Calvin yang mencakup kehidupan pribadi kita, kehidupan di dalam gereja, dan kehidupan sosial. Di sinilah keunikan Calvin, kita tahu bahwa yang namanya etika adalah semacam aturan, batasan-batasan, norma-norma, dsb, tetapi Calvin justru memberikan judul kepada etika-etika tersebut sebagai christian freedom (kebebasan Kristen). Jadi di dalam hal ini John Calvin memiliki kemiripan dengan Martin Luther di mana kebebasan Kristen bukanlah suatu konsep yang sangat liar dan abstrak. Ada etika-etika, tetapi justru di dalam pelaksanaan etika-etika tersebut akan menghasilkan kebebasan Kristen.

Tetapi di lain pihak, John Calvin mampu melampaui apa yang telah diajarkan oleh Martin Luther, yaitu di dalam pengajarannya mengenai christian freedom yang seharusnya juga dinyatakan di dalam kehidupan gereja dan di dalam pemerintahan serta bernegara. Di dalam buku-bukunya, Martin Luther sangat jarang berbicara mengenai gereja apalagi pemerintahan sehingga inilah yang menyebabkan teologi reformed menjadi begitu unik karena memiliki panggilan di dalam bidang mandat budaya. Kenapa Martin Luther jarang berbicara mengenai hal ini? Karena aspek yang dianggap paling penting olehnya adalah “keimamatan semua orang percaya,” (priesthood of believers). Itu sebabnya Martin Luther kurang berani untuk terjun ke dunia sekuler karena dengan adanya aspek tersebut maka otomatis semua orang percaya dianggap seorang imam, dan setiap imam memiliki hak dan kebebasan yang setara sehingga tidak boleh saling membatasi satu dengan yang lainnya. Martin Luther sadar kalau dia terjun ke dunia sekuler bersama dengan aspek tersebut, maka akan menyebabkan terjadinya revolusi dan pemberontakan. Inilah yang dilampaui oleh John Calvin.

Ketika John Calvin menulis tentang gereja, dia membagi tulisannya menjadi dua, antara lain: pertama, dia mengkritik bahwa struktur gereja Roma Katolik telah melakukan tindakan yang sangat membatasi kebebasan, khususnya kebebasan di dalam berhubungan dengan Tuhan. Mungkin pada hari ini kita sama sekali tidak merasakan akan masalah ini sehingga kita kurang menghargainya, tetapi kalau kita melihat pada zaman imam Harun, dua anaknya mati di depan hadirat Allah karena mereka salah memberikan ukupan. Dari peristiwa ini kita baru tahu betapa menakutkan ketika kita harus datang di hadirat Allah pada zaman itu. Betapa sulitnya untuk datang ke hadirat Allah dengan suatu keberanian dan dengan sikap yang terbuka.

Bahkan struktur daripada Surat Roma, Paulus memberikan statement bahwa tidak ada jalan keselamatan lain selain injil Yesus Kristus dikarenakan murka Allah (Rm 1-4). Tetapi mulai pasal yang ke-5, Paulus berbicara mengenai kehidupan kristen yang pertama, yaitu: perdamaian dengan Allah. Jadi anugerah dari Yesus Kristus telah membuat manusia dapat beroda, mengucap syukur, bahkan apapun secara langsung kepada Allah. Pengorbanan Yesus Kristus menjadikan adanya kebebasan kita dalam berhubungan dengan Allah. Maka mulai hari ini, marilah kita belajar untuk menghargai christian freedom karena itu adalah hak yang sangat istimewa bagi kita.

Kemudian, Tuhan yang menganugerahkan kebebasan kristen bagi setiap kita adalah juga Tuhan yang memberikan seperangkat organisasi gereja yang akan memimpin setiap orang percaya. Jadi Tuhan telah memberikan talenta yang unik kepada orang-orang tertentu yang akan dipimpin-Nya untuk menggembalakan jemaat-Nya. Dan bagi Tuhan, hal ini adalah demi kebebasan kristen. Inilah perbedaan antara John Calvin dengan Martin Luther. Bagi John Calvin, ordo harus tetap ada di dalam keimamatan orang-orang percaya. Dan hal inilah yang juga membuat gerakan Reformed akhirnya berani untuk terjun ke dalam masyarakat dan tidak mengakibatkan revolusi.

Mungkin hal di atas terlihat bertentangan, tetapi tidak. Tadi kita telah belajar bahwa Tuhan telah memberikan kepada kita suatu kebebasan, tetapi agar kita tidak menyalahgunakan kebebasan tersebut, Tuhan memberikan gereja agar kebebasan kita dapat terjaga dan terpelihara dengan baik dan tepat guna. Jadi dengan adanya gembala, justru kebebasan kita akan berkembang menjadi semakin baik. Martin Luther tidak memberikan pengajaran ini karena pada waktu itu, dia begitu ingin lepas dari tekanan Roma Katolik yang sangat besar sehingga dia lebih mengutamakan aspek kebebasan daripada gereja. Padahal, kebebasan dan gereja adalah sama-sama berasal dari Tuhan. Maka kekurangan ini disempurnakan oleh John Calvin dengan cara mereformasi gereja yang tidak benar.

Terdapat sebuah ilustrasi yang akan membantu pemahaman di atas. Ketika seorang anak lelaki memenangkan hadiah Tahapan BCA, hatinya begitu bahagia. Inilah gambaran mengenai kebebasan. Tetapi yang mengejutkan, kemenangan tersebut membuat dia dengan ayahnya harus bertarung di meja pengadilan. Berkat yang begitu besar malah membuat sekeluarga menjadi hancur. Inilah gambaran daripada kebebasan yang tidak dijaga dan dipelihara secara tepat akhirnya malah membuat diri kita menjadi rusak. Kebebasan memang suatu hal yang sangat indah, menyenangkan, baik, dan berharga, tetapi tanpa adanya gereja dan gembala, semua itu bisa menjadi senjata makan tuan bagi kita.

Kedua, hal yang sama juga terjadi di bidang negara. Di dalam bukunya, John Calvin tidak memberikan suatu pendapat yang jelas mengenai bentuk pemerintahan yang ideal walaupun dia adalah seorang yang cukup pandai di bidang hukum. Baginya, setiap bentuk pemerintahan dan negara memiliki keunikannya masing-masing dan Tuhan pasti dapat menggunakan semua keunikan tersebut tergantung dari situasi dan kondisi yang ada. Jadi yang paling penting adalah bukan bentuknya tetapi bagaimana kehendak Allah dijalankan.

Kalau demikian kita dapat memahami bahwa ternyata Allah yang memberikan kebebasan kepada kita adalah Allah yang juga memberikan orang-orang tertentu yang akan duduk di pemerintahan untuk memastikan kebebasan kita. Contoh yang paling sederhana: kalau semua orang diminta untuk menilai kinerja polisi di Indonesia, mungkin semuanya akan memberikan nilai yang terendah. Tetapi sebaliknya, kalau semua polisi ditiadakan, maukah kita? pasti semua orang tidak setuju. Ini membuktikan separah-parahnya kinerja polisi, masih lebih baik ada polisi daripada tidak ada. Jadi, dengan adanya pemerintahan yang paling jahat sekali pun, itu bukan berarti Allah tidak berkuasa tetapi memang itulah ketetapan Allah bagi kita agar kita bisa menjalankan kebebasan kita. Siapa bilang dengan tanpa adanya pemerintahan dan otoritas maka kebebasan kita baru bisa berjalan maksimal? Justru tidak akan berjalan sama sekali!

Inilah christian freedom yang sejati. Kebebasan yang baik tidak pernah bisa dilepaskan dari kehendak Allah dan bagaimana kita menyerahkan diri kita untuk memenuhi kehendak-Nya. Dan bagi orang yang mempelajari christian freedom hanya untuk mendapatkan fasilitas agar dia bisa berbuat seenaknya, maka tidak ada gunanya semua pelajaran yang ia dapatkan. Christian freedom hanya dibutuhkan bagi orang-orang percaya yang ingin mengetahui bagaimana dirinya bisa berhubungan secara pribadi dan terbuka kepada Allah walaupun ada gereja dan pemerintah yang “kelihatannya” membatasi kebebasan. Yang sebenarnya adalah, justru gereja dan pemerintah berada untuk menjamin kebebasan kita dan agar kita sendiri tidak menyalah gunakannya.

Terdapat 3 hal yang penting mengenai christian freedom, yaitu: kebebasan dari hukum, kebebasan untuk menjadi anak Allah, dan kebebasan yang berhubungan dengan keputusan sehari-hari. Kebebasan dari hukum berarti kita telah dilepaskan dari kutuk hukum Taurat sehingga kita bisa dengan lebih rela hati menjalankan hukum tersebut. Jadi bagi John Calvin, justru kalau kita sudah dilepaskan dari kutukan hukum Taurat dan menjadi anak-anak Allah, maka kita baru bisa melakukan hukum tersebut dengan senang hati dan dengan segala kebebasan kita. Apa ini artinya? Ini berarti hukum tidak menghalangi kebebasan melainkan mereka dapat berjalan bersama-sama. Adanya kebebasan bukan berarti tiadanya hukum dan adanya hukum bukan berarti tiadanya kebebasan. Dari sini kita baru mengerti kenapa ada kesukaan ketika melakukan hukum-Nya. amin.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)