Ringkasan Khotbah : 13 Februari 2004

Home

Empiricism: Experience & Recognition

Nats: Hab 1: 2-3, 3: 17-18

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Salah satu filsuf yang mengajarkan tentang empiricism adalah David Hume. David Hume bukan hanya memikirkan konsep tentang empiricism tetapi dia juga beriman terhadap pemikirannya tersebut sehingga dia hidup dengan kepercayaan tersebut. Selanjutnya filsafat ini tersebar dan diterima oleh seluruh dunia, itulah sebabnya semakin lama manusia semakin bersikap skeptik (masa bodoh) dengan segala hal yang terjadi.

Setiap peristiwa yang terjadi di dunia, khususnya di Indonesia semakin membawa masyarakat untuk masuk ke dalam semangat skeptik. Keputusan pengadilan beberapa minggu yang lalu terhadap salah satu politikus adalah salah satu contoh yang sederhana. Keadilan yang seharusnya ditegakkan oleh lembaga pengadilan ternyata malah dipermainkan. Dan ironisnya, yang mempermainkan keadilan adalah justru lembaga pengadilan tertinggi di Indonesia. Ketika masyarakat diperlihatkan akan kenyataan seperti ini, mungkin beberapa orang menggunakan kekerasan untuk memperjuangkan keadilan yang sudah hilang, tetapi mayoritas orang lebih memilih untuk bersikap skeptik. Mereka bersikap masa bodoh karena bagi mereka sudah tidak ada lagi yang bisa di harapkan. Sudah tidak ada gunanya lagi walaupun sampai berteriak-teriak di tengah jalan, protes, dll. Semua orang berpikir bahwa tidak mungkin ada keadilan, kejujuran, dan kebenaran objektif.

Ketika mereka berpikir seperti itu, maka kesadaran pengertian (recognition) didasarkan pada pengalaman pribadi masing-masing. Kebenaran yang sejati sudah tidak ada lagi sehingga percuma jika pada hari ini kita berjuang untuk memprotes keputusan Makamah Agung. Apa yang dinilai benar oleh rakyat belum tentu dinilai benar pula oleh para hakim. Kebenaran sudah bukan tunggal tetapi banyak versi. Setiap orang berhak untuk memiliki kebenaran sendiri dan tidak perlu ikut campur dengan kebenaran orang lain. Jika engkau pernah berdoa minta sesuatu kepada Tuhan kemudian Tuhan tidak memberi, maka engkau boleh menyebut bahwa Tuhan itu jahat. Sebaliknya kalau ada orang lain yang doanya terkabulkan, dia boleh menyebut bahwa Tuhan itu baik. Lalu sebenarnya Tuhan itu baik atau jahat ? terserah pengalamanmu bagaimana. Inilah empiricism, experience yang menentukan recognition.

Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa juga karena pengalaman. Mereka tidak cukup diberitahu oleh Allah, mereka lebih memilih untuk mengalami sendiri. Di dalam wilayah yang lebih luas lagi, setiap budaya ataupun setiap negara boleh memiliki kesadaran pengertian yang berbeda-beda. Apa yang dianggap baik dan jahat bisa berbeda-beda, bahkan hingga berlawanan. Dan parahnya, filsafat ini juga meracuni dunia teologi sehingga pada hari ini banyak orang kristen yang lebih percaya pengalamannya daripada kepada Firman Tuhan. Selain itu muncullah teologi baru yang di bangun dengan cara mencampurkan teologi murni dengan situasi dan kondisi di dalam sebuah lingkungan. Mereka menganggap bahwa semua teologi tidak ada yang benar sehingga perlu terus-menerus di proses. Masalahnya adalah, siapa yang berhak memproses teologi? Dengan dasar apakah dia menghakimi teologi? Jadi bukan teologi yang membentuk pengalaman tetapi pengalaman yang membentuk teologi.

Nabi Habakuk hidup di masa yang sangat sulit dan di tengah-tengah lingkungan yang sangat rusak dan lalim (mirip dengan Indonesia pada zaman sekarang). Karen dia ingin hidup suci dan benar di hadapan Tuhan tetapi begitu banyak gangguan dan tantangan, maka dia melakukan protes terhadap Tuhan. Habakuk memang sangat jujur kepada Tuhan atas penderitaannya, tetapi dia salah karena melakukan protes. Itu sebabnya Tuhan marah dan membentaknya. Hal yang sama mungkin saja juga terjadi pada diri kita. Sewaktu kondisi dan keadaan yang begitu nyaman, kita membangun kebenaran dan pengenalan akan Tuhan berdasarkan pengalaman manis tersebut. Kita tidak mau memandang kepada kebenaran Tuhan bahwa Dia bisa mengijinkan hal buruk terjadi kepada kita. Jika pikiran kita seperti ini, suatu saat semua kesadaran (recognition) kita akan hancur hanya karena pengalaman pahit yang harus kita terima.

Banyak orang yang dinasehati untuk tidak mencuri karena itu adalah dosa. Tetapi berapa banyak pula yang tidak menerima nasehat itu karena mereka memiliki teman yang adalah pencuri tetapi tidak pernah tertangkap. Pengalaman temannya tersebut dijadikan sebuah kesadaran pengertian yang mengakibatkan banyak orang nekat untuk menjadi pencuri. Mereka percaya bahwa para pencuri sangat mudah untuk lolos dari hukum. Hingga suatu saat orang tersebut tertangkap basah dan dihajar oleh massa, baru dia menyesal karena tidak taat kepada nasehat. Habakuk pikir kalau menjadi anaknya Tuhan pasti tidak akan melihat kelaliman dan kekotoran. Itu sebabnya waktu hal tersebut menjadi kenyataan, dia langsung kaget dan melakukan protes.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)