|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 6 Februari 2004 | ||
|
Empiricism: The Word & The Interpretation of Experience |
|||
|
Nats: Kej 3: 9-11 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
|||
|
Didalam perjalanan setiap manusia sering terjadi kontradiksi antara perasaan untuk tidak mau tahu tetapi juga harus tahu. Manusia tidak mau tahu akan berbagai macam hal yang dianggapnya memusingkan tetapi di lain pihak setiap manusia harus tahu apa yang dia perlu tahu. Begitu banyak manusia yang selalu meminta bahkan menuntut suatu kejujuran dari orang lain tetapi sebenarnya hati mereka tidak menginginkan kejujuran melainkan lebih memilih untuk menerima suatu kebohongan. Ketika manusia sudah jatuh kedalam sifat sok tahu sebenarnya dia sedang menganggap bahwa dirinyalah sumber pengetahuan. Padahal pada waktu itu terjadi, hal itu sudah menunjukkan bahwa dia salah karena dia tidak tahu kalau dirinya bukan sumber pengetahuan. Tetapi mungkin juga hal itu dilakukan karena terpaksa karena dia merasa tidak bisa/rela meletakkan predikat “sumber pengetahuan” kepada orang lain termasuk kepada Tuhan. Manusia perlu tahu karena dia belum tahu, tetapi justru karena dia tidak tahu malah berani menetapkan kebenaran sendiri. Inilah kesulitan yang selalu menjepit manusia didalam permasalahan epistemologi sehingga ada ungkapan “filsafat selalu mempertanyakan setiap jawaban, sedangkan teologi selalu menjawab setiap pertanyaan.” Manusia memiliki begitu banyak pertanyaan penting didalam hidupnya tetapi tidak pernah ada jawabannya. Manusia butuh The Source of Knowledge tetapi tidak suka dengan kebenaran dan pengetahuan. Rencana Allah terhadap manusia ketika diciptakan adalah Creation sampai Consummation. Manusia diciptakan oleh Tuhan untuk melalui proses yang akan membuat manusia tersebut menjadi semakin baik hingga mencapai kesempurnaan. Inilah dignity manusia. Dengan adanya proses, manusia bisa menjadi lebih baik sehingga bisa mempertanggung jawabkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Inilah titik Consummation. Maka jika kita kembali kepada Allah, kita baru bisa menjadi manusia yang tepat dan dapat menjalankan apa yang harus dijalankan dengan tepat pula. Tetapi sayangnya kebanyakan manusia tidak suka dengan adanya proses dan lebih menginginkan untuk menjadi Allah. Manusia sudah tidak dapat membedakan lagi antara anak Allah secara esensial dengan secara ekstensial[1]. Manusia sudah jatuh kedalam dosa dan membutuhkan penebusan. Titik Fall harus diselesaikan dengan peristiwa Redemption. Manusia secara hati nurani tahu kalau dirinya adalah manusia yang berdosa, tetapi sepanjang hidupnya selalu berusaha keras untuk menutupi fakta kejatuhan tersebut. Bahkan Tuhan yang begitu sengsara dan bersusah payah mencari-cari manusia, manusia selalu melarikan diri dari tanganNya. Jadi kerusakan pertama yang terjadi pada pengetahuan manusia bukanlah manusia tidak kenal Allah melainkan manusia melarikan diri dari Allah. Manusia berani memisahkan dirinya dengan Tuhan. Ketika Adam dan Hawa tahu bahwa Tuhan datang ke taman Eden, mereka cepat-cepat bersembunyi. Ini adalah satu fakta yang menancap didalam sejarah hingga hari ini, yaitu: ketika kita berdosa, kita tidak pernah bisa jujur dan berani untuk datang dan berhadapan dengan pengetahuan sejati. Sama dengan anak kecil yang baru saja mencuri permen yang disimpan oleh ibunya. Anak kecil tersebut sangat takut untuk bertatap muka dengan ibunya karena dia merasa kalau mamanya sudah tahu tentang perbuatannya. Anak tersebut sangat takut untuk berhadapan dengan pengetahuan yang benar dan yang sejati dibandingkan dengan pengalamannya yang salah dan berdosa. Itu sebabnya kalau sudah berdosa kita lebih suka untuk bersembunyi, demikian juga Adam dan Hawa. Sekarang masalahnya adalah mengkinkah Tuhan tidak tahu dosa-dosa kita ? seorang ibu mungkin saja tidak tahu kelakuan anaknya, bagaimana dengan Tuhan ? Pada waktu Adam menyadari fakta ini, Adam menjadi semakin takut karena dia tetap tidak bisa menghindar dari murka Allah walapun sudah berusaha sedemikan kuat untuk menghindar. Ketika Tuhan bertanya “dimanakah engkau?”, Tuhan bukannya tidak tahu Adam bersembunyi dimana tetapi Tuhan mempertanyakan posisi Adam dihadapanNya. Kenapa keluar pertanyaan tersebut ? karena posisi Adam sekarang bukan di depanNya lagi tetapi sudah membelakangi. Adam sudah menjadi musuh Tuhan ketika berdosa. Terlebih lagi, Adam masih tega mengkambing hitamkan Hawa dihadapan Tuhan. Adam berani menyalahkan Tuhan dengan cara menuduh Hawa yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai wanita yang mencelakakan, bukan sebagai penolong yang sepadan. Itulah manusia yang sudah termakan oleh pengalamannya sendiri. Ketika Tuhan memberikan Hawa demi kebaikan Adam, pengalaman Adam bersama dengan Hawa ternyata membuat Adam bisa berpikir jelek tentang Hawa dan Tuhan. Adam menilai Hawa bukan apa maksudnya Tuhan menciptakan Hawa tetapi berdasarkan pengalamannya sendiri. Sampai disini kita bisa melihat betapa fatalnya jika pengalaman dilihat bukan berdasarkan sumber kebenaran sejati. Tapi kenapa manusia selalu mengunci setiap pengalamannya sendiri ? Ketika kita jatuh kedalam dosa, apa pengaruhnya terhadap interpretasi kita terhadap pengalaman ? Pertama, dosa menyebabkan timbulnya semangat perseteruan. Dosa menyebabkan semua tatanan dan kehidupan yang pada mulanya begitu harmonis dan teratur menjadi hancur, termasuk relasi Tuhan dengan manusia. Oleh sebab itu pada hari ini seringkali orang menjadi takut untuk berhadapan dengan seseorang yang mempunyai ketajaman pikiran dan ketelitian karena semua kesalahannya akan nampak. Jadi kalau seseorang memiliki banyak cacat dan kesalahan, biasanya orang seperti ini mempunyai sifat mudah tersinggung karena setiap pembicaraan orang bisa membuat hatinya tersinggung walaupun tidak ada maksud untuk itu. Sama dengan cerita tentang anak kecil diatas, sebuah permen bisa mengakibatkan rusaknya hubungan antara sang anak dengan ibunya hanya karena anak tersebut tidak mau berdamai dengan ibunya. Demikianlah juga manusia dengan Tuhan, menghindari anugerah Kristus hanya mengakibatkan manusia terus-menerus berseteru dengan Allah. Dan perseteruan ini juga mengakibatkan manusia berseteru dengan sesamanya serta dengan alam. Segala manusia di segala zaman boleh berjuang demi perdamaian tetapi semuanya itu sama sekali tidak ada artinya jika kita tidak berdamai dengan Allah. Kedua, manusia sangat tertarik dengan pengalaman-pengalaman pribadi. Ketika kita membaca kitab Mazmur 90 khususnya ayat 10, mungkin kita akan mengalami kebingungan atau terkejut. Disitu dikatakan umur manusia hanyalah 70-80 tahun saja, tetapi yang membuat kita bingung adalah apa yang menjadi kebanggaan manusia, yaitu: kesukaran dan penderitaan. Ayat ini memang mengherankan tetapi itulah kenyataannya, lihatlah orang-orang tua yang sedang berbicara dengan pemuda-pemudi. Mereka selalu menceritakan bagaimana susahnya kehidupan mereka dulu ketika masih muda dan bagaimana enaknya zaman sekarang. Mereka meceritakan bagaimana susahnya mencari uang, perjuangan hidup sehari-hari, berkeluarga, dll. Kenapa hal-hal seperti itu dibanggakan ? itulah manusia yang naturnya sudah terikat dalam dosa. Mereka lebih membanggakan pengalaman dan dosa mereka daripada hubungan mereka dengan Allah. Apakah Tuhan menciptakan manusia untuk menderita ? apakah Tuhan menciptakan manusia untuk berdosa ? tidak ! Tuhan mempunyai tujuan yang sangat sempurna tetapi manusia rupanya mempunyai rencana bagi dirinya sendiri. Jika kita mendengar cerita pengalaman setiap orang yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan, ada satu kesimpulan yang bisa kita ambil, yaitu:dunia telah memiliki natur berdosa. Manusia sudah tidak memiliki lagi pengalaman yang indah dan positif bersama dengan Sang Allah pencipta. Ketika kita berkomitmen untuk mengikuti pimpinan Tuhan, pasti banyak sekali tantangan dan hambatan yang akan menekan dan menyulitkan kita. Tetapi itulah harga dari sebuah ketaatan kepada Tuhan. Itulah kenapa untuk mengikuti Tuhan kita harus berjalan dengan iman, terkadang ada tuntunan Tuhan yang tidak bisa di terima oleh pikiran manusia tetapi hanya dengan beriman kepada Dia yang berkuasa atas segala sesuatu termasuk atas musuh-musuh kita, baru kita bisa hidup dengan benar. Hidup yang sejati adalah hidup yang penuh dengan iman, bersandar mutlak kepada pimpinan Tuhan. Ketiga, natur berdosa menyebabkan manusia suka memakai topeng untuk menutupi fakta tentang diri dan dosanya. Ada beberapa orang yang setiap kalinya selalu memakai kosmetik ataupun perhiasan yang berlebihan untuk menutupi kenyataan dirinya sehingga semua orang tidak mengetahuinya. Hal seperti ini mayoritas terjadi ketika seseorang memasuki masa-masa berpacaran. Setiap pasangan berusaha keras menutupi fakta yang ada dan menampilkan semua yang palsu. Seharusnya kita tidak perlu takut untuk mempunyai segala kelebihan dan kekurangan kita. Yang paling penting adalah bagaimana Tuhan melihat kita. Apalah gunanya kalau kita cantik, berkulit putih, kaya, tetapi Tuhan membenci kita ? apalagi semua topeng buatan manusia tidak bisa menutupi dosa-dosa kita di hadapan Tuhan. Beranikah kita mengaku dihadapanNya bahwa kita adalah manusia yang sudah berdosa ? Hal yang lain, jika kita selalu menipu diri sendiri maka siapapun tidak akan bisa menasehati dan mendidik kita. Keempat, kecenderungan untuk bertopeng membuat manusia akhirnya menjadi seorang penipu. Pada bagian awal telah disebutkan bahwa manusia sangat senang ditipu asalkan tipuan itu menyenangkan hatinya dan menguntungkan dirinya. Begitu pula dengan latihan-latihan kepemimpinan dan motivasi yang pada hari ini banyak sekali pengikutnya. Pelatihan tersebut mengajarkan agar manusia mengingkari semua kekurangannya dan membangun suatu kebiasaan, sifat, dan karakter yang palsu dengan tujuan agar lebih termotivasi untuk mencapai kesuksesan. Ini adalah satu cara yang sangat efektif untuk merusak kepribadian seseorang. Kelima, manusia menjadi mudah sekali tersinggung (prejudice). Sebagai perumpamaan: jika lengan kita terdapat banyak luka, maka kita akan cepat marah ataupun menangis ketika seseorang menyentuh lengan kita. Sebaliknya kalau tidak ada luka, maka tidak akan ada masalah. Demikian juga dengan hati manusia. Jika kita memiliki banyak dosa dan kejahatan yang tersembunyi, hal tersebut akan membuat kita mudah sakit hati. Dan sakit hati yang terjadi berulang kali akibatnya akan membuat kita menjadi orang yang sangat tertutup. Ketika Tuhan memanggil Adam, pada saat ini Tuhan juga memanggil kita “dimanakah kita ?”. Jika kita meresponi panggilan Tuhan, selamatlah kita. Tetapi jika kita tidak mempedulikan panggilan itu, maka celakalah kita didalam kekekalan. Berdirilah di tempat dan di posisi yang tepat sesuai dengan panggilan Tuhan. Dunia seharusnya berada di bawah kita sehingga kita bisa melihat dengan jelas segala dosa dan keberadaannya, bukannya malah tenggelam di bawah dunia, apalagi merasa nyaman dengan segala kenikmatan dunia. Janganlah mengarahkan setiap pengalaman berdasarkan panggilan dunia tetapi ujilah dengan Firman Tuhan kemudian tariklah kembali demi kemuliaan Tuhan. amin.
Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) [1]Kata “anak” didalam kata “anak kuda” memiliki arti secara esensial karena anak kuda pastilah kuda. Berbeda dengan kata “anak dokter”. Disini kita membicarakan anak secara ekstensial karena anak dokter bukanlah dokter tetapi orang tuanya yang dokter.
|
|||