Ringkasan Khotbah : 30 Januari 2004

Home

Empiricism: The Source of Knowledge

Nats: Rom 1:17, 10:1-3, Mat 7:21-23

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Pada akhir perang dunia ke-2 yang berawal dari Inggris muncullah epistemologi empiricism yang dalam perjalanannya ternyata sangat mempengaruhi hingga ke seluruh dunia. Epistemologi empiricism adalah bagaimana pengetahuan atau kebenaran didapatkan/dibangun melalui pengalaman. Jadi ketika seseorang diberitahu oleh orang lain tentang sebuah kebenaran, dia tidak akan mau percaya hingga dia mengalaminya sendiri. Dan ketika dia mengalami sesuatu yang berlawanan dengan Alkitab, orang tersebut akan lebih percaya pengalamannya daripada Firman Tuhan. Orang seperti itu selalu memutlakkan pengalamannya sebagai satu-satunya kebenaran. Problem yang paling utama disini adalah masalah sumber pengetahuan.

Rasul Paulus rupanya cukup mengenal masyarakat Roma. Dia tahu bahwa masyarakat Roma bukanlah orang pengangguran melainkan mereka adalah orang-orang yang sangat giat “melayani” Tuhan. Tetapi kenapa  Paulus berdoa agar sekiranya mereka diselamatkan ? karena mereka telah bekerja dengan semangat tinggi tetapi digunakan dengan pengertian yang salah. Betapa kasihan orang seperti ini. Mereka pikir mereka mengetahui padahal mereka tidak tahu bahwa mereka sedang tidak mengetahui. Jadi bagaimana caranya kita mengetahui kalau kita mengetahui ? inilah yang disebut epistemologi.

Satu alasan kenapa orang-orang yang didoakan oleh Paulus belum diselamatkan adalah karena mereka telah kehilangan akan kebenaran Allah. Kenapa harus mengenal kebenaran Allah terlebih dahulu ? karena Allah adalah sumber kebenaran sejati. Mereka telah kehilangan sumber kebenaran yang sejati tetapi mereka tetap perlu kebenaran, itu sebabnya mereka membangun kebenaran sendiri. Dengan kalimat lain, mereka sudah tidak tunduk kepada Allah dan tidak takluk kepada kebenaranNya. Dalam dosa seperti ini hanya ada 2 kemungkinan : pertama, mereka mungkin bertobat karena berita injil yang mempunyai kekuatan untuk menghancurkan segala konsep pikiran mereka yang salah. Kedua, mereka tetap tidak mau bertobat bahkan hingga didepan pengadilan Allah mereka tetap sok tahu dan sok pintar merasa diri pantas masuk surga. Mereka mungkin adalah orang-orang kristen karena siapa lagi yang bisa mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan selain orang kristen ? tetapi Tuhan tetap tidak mengenal mereka bahkan mengusirnya. Kenapa mereka diusir padahal mereka adalah orang-orang yang beriman dan juga memiliki banyak pengalaman ? karena iman mereka ternyata tidak sesuai dengan keinginan Tuhan sehingga justru pengalaman-pengalaman tersebut berakibat mematikan bagi mereka.. Mereka begitu merasa yakin akan masuk surga karena begitu banyaknya pengalaman yang sudah mereka dapatkan sepanjang hidup mereka mulai dari melakukan mujizat, bernubuat, sampai mengusir setan dengan memakai nama Yesus. Tetapi tetap semua pengalaman itu tetap membawa mereka ke neraka.

Lalu bagaimanakah melihat dan mengukur sebuah pengalaman ? Pengalaman itu memang benar pernah terjadi tetapi pengalaman tersebut bernilai benar atau salah ? Sekian banyak orang yang mendengar satu pengalaman saja bisa mengambil makna yang berbeda-beda. Maka disinilah kita baru tahu betapa pentingnya kita untuk kembali kepada sumber kebenaran sejati karena sumber itulah yang akan kita gunakan untuk menginterpretasikan setiap pengalaman demi pengalaman. Surat Roma yang kita baca hari ini memberitahu kita bahwa orang yang sejati dan kebenaran yang sejati selalu hidup mulai dari iman menuju kepada iman dan melalui iman. Semua orang didunia juga mengerti betapa pentingnya sebuah iman untuk belajar segala sesuatu tetapi masalahnya adalah iman seperti apa yang mereka miliki ?

Sebelum kita menggunakan rasio kita untuk menyerap apa yang diajarkan oleh guru disekolah, kita terlebih dahulu menggunakan iman kita. Sebelum kita diajar oleh seorang guru kita terlebih dahulu beriman bahwa guru tersebut pasti mampu mengajari kita. Bayangkan kalau kita tidak percaya kepada semua guru, kita pasti tidak akan mungkin bisa belajar apapun karena sudah tidak percaya kepada siapapun dan apapun. Hal yang demikian juga terjadi pada Paulus. Ketika belum bertobat Paulus adalah seorang yang mempunyai otak yang sangat cerdas dan jenius tetapi sekaligus amat sangat bodoh. Walaupun dulu dia memiliki “pengetahuan” yang begitu banyaknya sehingga dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh filsuf yang paling besar sekalipun tetapi ketika dia mendengar tentang injil dari Tuhan Yesus, dia tetap tidak bisa mengerti. Kenapa ? hanya karena Paulus tidak percaya kepada Tuhan Yesus sehingga dia menganggap semua ajaran Tuhan Yesus adalah salah.  Sampai suatu saat ketika dia sudah bertobat baru mengaku kepada Timotius bahwa sebelum bertobat, segala tindakannya dilakukan tanpa pengetahuan dan diluar iman (1Tim 1:13). Aneh bukan ? dia tahu kalau dirinya sangat pintar tetapi kenapa bisa mengeluarkan pengakuan seperti itu ? Sebenarnya, pada waktu itulah Paulus dapat menghubungkan antara iman dan pengetahuan. Pengetahuan yang sejati harus dibangun dengan dasar iman yang benar. Jadi pengetahuan yang tidak dibangun berdasarkan iman yang benar bukanlah sebuah pengetahuan tetapi sampah.

Orang pada zaman sekarang begitu takut kalau dirinya merasa tidak tahu. Tetapi ironisnya mereka tidak tahu apa yang mereka ingin tahu sehingga segala macam informasi diserap. Internet yang katanya adalah dunia informasi tanpa batas bisa memberikan segala macam informasi, lantas apakah kita akan menyerap semuanya ? tidak mungkin bisa. Walaupun mungkin, akhirnya kita pasti menjadi gila karena semuanya itu adalah sampah. Informasi yang berantakan, saling berkontradiksi, dan semua kekacauan masuk ke dalam otak kita. apakah ini yang disebut orang hebat ? orang seperti itu tidak pernah tahu darimana dia tahu kalau dia sudah mengetahui. Ketika orang tersebut mengaku tahu, apakah itu berarti dia sudah benar-benar tahu ? inilah pergumulan yang akan kita coba untuk pelajari. Ketika Francis A. Schaeffer mempersoalkan How do i know that i know, maka pertanyaan yang paling penting adalah kenapa harus tahu dan bagamana bisa tahu.

Kita harus tahu karena apa yang kita tahu belum tentu benar-benar kita ketahui. Kalau kita sudah tahu maka kita tidak perlu bertanya. Tetapi kenyataannya banyak manusia yang merasa kalau dirinya sudah tahu sehingga mereka tidak bertanya kepada siapapun. Jadi orang yang tidak pernah belajar/bertanya pasti semakin merasa kalau dirinya pintar karena dia sudah tahu semuanya. Padahal sebenarnya dia tidak tahu apa-apa dan itu mengakibatkan diotaknya sama sekali tidak ada pertanyaan. Justru orang yang semakin mencari tahu bakal menemukan banyak sekali ketidak tahuan. Kenapa kita belajar ? karena kita tahu kalau diri kita belum tahu. Lantas setelah kita belajar, kita menjadi tahu. Tetapi pengetahuan itu akan selalu memancing banyak pertanyaan baru yang akhirnya membuat kita tahu kalau kita ternyata banyak tidak tahu. Oleh sebab itu kita belajar terus. Menjawab satu ketidak tahuan mengakibatkan muncul banyak ketidak tahuan baru.

Maka ketika orang sadar bahwa ternyata untuk menjadi benar-benar tahu ternyata sulitnya luar biasa, mereka akhirnya menjadi skeptik. Mereka merasa pusing antara bagaimana mengetahui, mengetahui, belum mengetahui sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak mau tahu apapun. Maka tidak heran jika hari ini kita bertanya tentang kebenaran, orang-orang postmodern selalu memberikan respon yang skeptik, “saya sendiri juga tidak tahu”, dll. Mereka berpikir kalau diri mereka tidak tahu maka orang lain juga tidak mungkin tahu sehingga ketika kita mengaku tahu, mereka tidak percaya. Mereka menyederhanakan segala persoalan bagaikan katak dalam tempurung. Mereka anggap pengetahuan yang mereka miliki sudah cukup sehingga tidak perlu cari tahu lagi. Benarkan demikian ?

Pertama, Kalau kita selalu merasa pengetahuan yang kita miliki sudah cukup, maka pemikiran tersebut akan mengakibatkan kita sering menjadi korban penipuan. Seseorang bisa menjadi korban penipuan hanya karena orang tersebut kurang informasi atau pengetahuan sehingga dia mudah dibohongi oleh orang lain. Misalnya kalau kita mengerti bidang peralatan elektronik, seorang tukang servis tidak akan mudah untuk membohongi kita ketika kita ingin memperbaiki sebuah radio. Maka dari contoh yang sangat sederhana ini kita bisa membayangkan berapa besar dan banyaknya kerugian yang menimpa kita kalau kita selalu malas untuk mencari tahu.

Kedua, sebuah pengetahuan tidak pernah independen atau berdiri sendiri melainkan saling berhubungan. Jadi kalau kita merasa sudah cukup tahu dengan apa yang ada diotak kita, maka sebenarnya kita sudah memutus pengetahuan kita sampai sebatas itu. Ketika ada hal baru, kita tidak bisa menghubungkan pengetahuan kita dengan hal tersebut. Dengan kalimat lain, pengetahuan kita menjadi fragmental atau terpecah-pecah. Kemudian, pengetahuan yang kita dapatkan pertama kali akan selalu menjadi dasar bagi bangunan pengetahuan seumur hidup kita. Jadi kalau semasa kecil kita diajarkan pengetahuan yang salah, seluruh pengetahuan kita pada hari ini kemungkinannya adalah pengetahuan yang salah. Dan parahnya, untuk memperbaiki seluruh pemikiran kita bukanlah hal yang mudah. Ketika kita bertekad untuk kembali kepada sumber kebenaran yaitu Tuhan, kita harus rela menghancurkan semua pemikiran lama kita dan perjuangan itu mungkin harus disertai dengan air mata.

Dari beberapa hal ini kita baru sadar betapa pentingnya untuk kembali kepada Sumber pengetahuan yang sejati. Setiap pengetahuan yang kita miliki/pelajari perlu untuk diuji oleh Tuhan sebagai sumber pengetahuan karena kita sebagai manusia tidak layak dan tidak mempunyai kapasitas untuk menguji sebuah pengetahuan. Siapakah diri kita sehingga bisa sok pintar mau menguji pengetahuan ? apalagi kalau hasil pengujian kita berbeda dengan hasil pengujian orang lain, lalu siapakah yang paling benar ? jawaban yang paling tepat adalah kita harus kembali kepada iman yang sejati, takut kepada Tuhan.

 Sumber pengetahuan tidak mungkin bisa lepas dari iman kita. Setiap orang bisa memperdebatkan Alkitab karena mereka tidak percaya kalau Alkitab adalah Firman Tuhan. Maka kalau kita berdebat dengan orang yang seperti ini, perdebatan itu tidak akan pernah selesai karena memang pada dasarnya orang tersebut tidak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan. Kalau orang tersebut percaya Alkitab adalah Firman Tuhan, apapun yang kita jelaskan dia pasti mengerti. Inilah alasan kenapa kita harus berhati-hati dalam memilih sekolah bagi anak-anak kita. Kalau sekolah itu sudah tidak percaya Kej 1:1, sekolah seperti itu pasti merasa wajar untuk mengajarkan “teori” evolusi. Kalau ada sekolah yang dibangun berdasarkan Alkitab yang difirmankan oleh Sang Sumber Kebenaran, maka kebenaran sejati itu pasti menjadi nafas dari setiap mata pelajaran dan semua proses pendidikan. Tetapi kalau kita kembali kepada kenyataan, ternyata banyak sekali manusia dan sekolah yang walaupun katanya kristen tetapi “tidak suka” dengan Firman Tuhan. Berapa banyak sekolah yang dibangun dengan motivasi keuntungan besar ? Lalu apakah iman dari sekolah ini bakal beres ? tidak. Inilah pentingnya sumber pengetahuan yang sejati.

Selanjutnya, sumber pengetahuan yang sejati haruslah jelas karena yang disebut sebagai sumber pastilah Cuma ada satu. Jadi kalau kita memiliki sumber pengetahuan selain iman kepada Tuhan, pengetahuan kita akan menjadi kacau balau. Itu pula sebabnya kenapa begitu penting untuk mempunyai pengetahuan yang terintegrasi. Ketika kita berhasil mencari kebenaran yang esa, maka setiap aspek dan bidang pengertian kita akan utuh dan tidak saling berbenturan. Mana ada dua kebenaran yang keluar dari satu sumber bisa bertentangan ? Justru kalau sumbernya ada dua kemungkinan yang paling sering adalah saling berbenturan. Dan kebenaran yang saling berbenturan akan mengakibatkan kita menjadi gila atau berkepribadian ganda. Maka kalau dunia sangat benci kepada sumber kebenaran yang esa, kekristenan justru menuntut kita untuk kembali mencari kebenaran yang esa tersebut. Sumber kebenaran yang esa dan sejati akan membuat seluruh hidup kita menjadi teratur dan mempunyai pengertian yang kokoh dan tepat.

  

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)