Ringkasan Khotbah : 12 Desember 2003

Home

Christmas & Dizzy

Nats: 2 Taw 26, Yak 1:17

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowijojo

Jika kita membuka kamus bahasa Inggris-Indonesia, kita akan menemukan kata dizzy diterjemahkan berarti pusing, bingung. Tetapi kata pusing disini bukan berarti sakit kepala melainkan perasaan berputar-putar. Didalam kamus Oxford terdapat beberapa contoh penggunaan kata dizzy : “Ketika kita minum bir, lama-lama kepala kita pasti merasa pusing”, “jika kita melihat ke bawah pada waktu kita berada di tempat yang sangat tinggi, kita akan merasa pusing”. Kedua kalimat diatas merupakan contoh penggunaan kata dizzy. Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa dizzy berarti kita kehilangan orientasi atau pegangan. Dan pada malam ini kita akan membahas mengenai spiritual dizzy.

Tanda-tanda daripada spiritual dizzy lebih sulit untuk dikenali dan berdampak lebih berbahaya bagi kita daripada physical dizzy karena apa yang membuat kita pusing secara rohani adalah seringkali malah hal-hal yang mulia. Berkat-berkat Tuhan yang diberikan kepada kita dapat membuat kita dizzy. Ada seseorang yang berkata “ketinggian selalu mempunyai cara untuk menggoyahkan kita”. Ungkapan tersebut bukan saja benar dalam hal jasmani tetapi juga dalam hal rohani. Kenapa hal-hal yang baik dan mulia justru bisa membuat kita kehilangan orientasi ?

Pertama, seringkali kita akan merasa dizzy ketika kita telah mendapatkan hal-hal yang mulia tetapi kemudian kita kehilangan hal-hal yang mulia tersebut. Pada beberapa waktu yang lalu, salah satu jemaat dan saya pergi untuk menjenguk saudara iparnya di ICU. Ketika saya bertemu dengan saudara iparnya, dia menunjukkan sebuah foto yang bergambar 2 anaknya yang masih berumur 3 tahun dan 3 bulan. Dalam perjalanan pulang, salah satu jemaat tersebut menceritakan bagaimana susahnya suami dari wanita yang sedang sakit tersebut hingga hampir pingsan karena membayangkan akan masa depan keluarganya. Dari kita dapat melihat suatu hal yang sangat baik, bukan ? Tuhan memberikan anugerah begitu banyak mulai dari suami yang baik, anak-anak yang lucu, dsb, tetapi dari sini kita juga dapat melihat bahwa hal-hal yang sedemikian mulia ternyata dapat membuat kita sedemikian terikat. Hal-hal yang begitu baik dapat membuat kita menjadi tergantung/melekat sehingga ketika hal-hal baik itu diambil dari tangan kita, pada waktu itu kita benar-benar merasakan dizzy, kita tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan, siang menjadi malam dan malam menjadi siang, semuanya akan menjadi kacau.

Kedua, ketika kita mengejar dan memburu hal-hal yang baik dan mulia, waktu itu secara tidak sadar dunia kita menjadi tidak seimbang. Kita tidak tahu lagi proporsi yang tepat didalam mengejar berkat Tuhan. Dan salah satu contoh yang paling baik akan hal ini adalah ketika Hawa memakan buah pengetahuan tentang baik dan jahat. Ketika ada orang yang bertanya kepada kita, kenapa Hawa mau memakan buah itu, jawaban kita sering kali adalah karena Hawa ingin menjadi seperti Allah. Jawaban ini kurang benar karena kalau kita melihat Alkitab, bukan itu yang ditekankan. Disini saya bukannya mengatakan kalau Hawa tidak ada keinginan untuk menjadi seperti Allah. Keinginan itu mungkin ada atau mungkin juga tidak ada, kita tidak dapat mengetahuinya. Tetapi satu hal yang pasti dicatat oleh Alkitab adalah Hawa merasa buah tersebut dapat memberikan pengertian (Kej 3:6). Iblis begitu pandai merayu manusia. Pertama kali iblis tidak berkata langsung kalau Hawa memakan buah tersebut akan menjadi seperti Allah tetapi dia berkata kalau matamu akan terbuka, setelah itu baru menjadi Allah, apanya yang seperti Allah ? Hawa akan tahu tentang baik dan jahat. Disini kita dapat melihat bahwa iblis sedang menekankan bahwa mata Hawa akan terbuka, bukan menjadi Allah. Dari sinilah kita baru mengerti apa artinya memberi pengertian. Apakah pengertian itu tidak baik ?, bukankah mengetahui tentang hal yang baik dan jahat merupakan hal yang baik ? Disini kita dapat melihat dengan jelas bagaimana hal-hal yang sangat baik, ketika Hawa mengejar hal itu, justru hal-hal itulah yang membuat dia hancur dan diusir dari taman Eden.

Hal yang sama juga terjadi pada diri kita. Mungkin jika ada orang yang bertanya pada kita apakah kamu menginginkan uang 1 juta dollar, apakah kamu menginginkan sebuah rumah besar yang berisi 20 kamar tidur, mungkin kita menjawab tidak ingin karena toh uang atau rumah segitu adalah hal yang keterlaluan mustahil bagi kita. Tetapi jika kita ditanya apakah kamu tidak malu dilihat orang kalau isterimu tidak punya baju mahal ?, apakah kamu tidak mau melayani Tuhan lebih banyak lagi ? Mungkin sebagian besar dari kita akan langsung menjawab setuju. Ada sebuah buku yang berjudul A Frog That Never Change To Be A Prince yang menceritakan seseorang hamba Tuhan yang terobsesi dengan pelayanannya hingga melupakan segalanya sampai keluarganya menjadi hancur bahkan dia sendiri hampir bunuh diri. Hal-hal yang indah dan mulia seperti bekerja bagi Tuhan, hal seperti itupun seringkali dapat membuat kita dizzy jika kita salah dalam mengejarnya. Apa yang seharusnya menjadi berkat malah berubah menjadi beban yang menyusahkan.

Ketiga, kita merasakan dizzy bukan saja ketika kita kehilangan atau mengejar berkat-berkat yang mulia tetapi bahkan ketika Tuhan sudah memberikannya kepada kita dengan tulus dan berdasarkan inisiatifNya, kita tetap bisa merasakan dizzy. Hal inilah yang terjadi pada Raja Uzia. Ketika berumur 16 tahun, Uzia telah menjadi raja Yehuda dan mempunyai reputasi yang sangat baik. Ketika saya membaca ayat ini, saya teringat sebuah film yang berjudul The Last Emperor karena kedua cerita ini memiliki kemiripan tetapi juga sangat berlawanan. Film itu menceritakan tentang sebuah kaisar muda yang masih sangat kekanak-kanakan dan manja, sangat berbeda dengan Raja Uzia. Kita telah mengetahui bahwa Raja Uzia dididik oleh seorang imam yang bernama Zakaria, tetapi siapakah Zakaria ini ? kalau kita mempelajari Alkitab, kita tidak akan menemukan orang ini karena dia bukan orang yang terkenal, bahkan namanya hanya tercatat sebanyak satu kali, yaitu di 2 Taw 26:5[1]. Jika dia patuh kepada ajaran Yesaya atau Yeremia, itu adalah suatu hal yang biasa. Tetapi kalau kita lihat kehidupannya, ternyata dia begitu rendah hati karena dia mau belajar dari seorang imam yang sama sekali tidak terkenal.

Tetapi setelah itu kalau kita melihat ayat 16, setelah Raja Uzia menjadi kuat, dia berubah menjadi tinggi hati. Kalimat “setelah ia menjadi kuat” itu berarti sebelumnya dia tidak tinggi hati tetapi setelah dia kuat baru tinggi hati. Padahal darimanakah kekuatannya ? ayat 15 jelas memberitahu kepada kita bahwa kekuatan tersebut adalah berkat dan pimpinan dari Allah. Tetapi setelah dia diberkati dan dipimpin oleh Allah, dia menjadi tinggi hati dan melawan perintah Allah (ayat 18). Disini kita dapat melihat betapa kontrasnya kehidupan Raja Uzia sebelum dan sesudah Allah memberikan kekuatan baginya. Jika tadi kita melihat seorang raja yang mau belajar dari seorang yang sama sekali tidak terkenal tetapi sekarang ketika ada seorang imam kepala bersama-sama dengan 80 imam lainnya memberitahu kepadanya, dia menjadi marah. Padahal pada saat itu, Allah belum mengambil semua berkat dari tangan Uzia, tetapi Uzia menjadi dizzy karenanya. Dia tidak tahu lagi dimana posisinya, apa yang diperbolehkan, siapa yang harus didengarkan. Dan karena itu dia harus menanggung hukuman Tuhan, yaitu penyakit kusta. Dan pada ayat 20 kita dapat melihat kembali kekontrasan dari perilaku Uzia. Jika dia sebelumnya takut kepada Tuhan, setelah dia berbuat dosa dia juga takut kepada Tuhan. Tetapi takut disini berbeda dengan takut sebelum dia jatuh kedalam dosa (ayat 5). Pada ayat 20 dia takut karena dia paksa untuk takut kepada Tuhan. Jika Tuhan ingin memaksa kita untuk takut kepadaNya, betapa mudahnya bagi Dia. Sehingga kalau pada hari ini Tuhan masih memberikan kepada kita kesempatan untuk takut dengan kesadaran dan kerelaan, baik-baiklah meresponi kebaikan Tuhan. Jika engkau sampai dengan hari ini tidak pernah takut kepadaNya, jangan sampai suatu hari engkau dipaksa untuk takut karena bagi Dia adalah sangat mudah untuk menakuti engkau.

Yang lebih mengerikan lagi, Uzia harus mati karena penyakit kusta yang diberikan kepadanya. Dan setelah itu, dia hanya dikuburkan didekat pekuburan raja-raja terdahulu, bukan dikota Daud[2]. Kalau kita melihat kehidupan raja Yotam, dia adalah seorang raja yang baik tetapi kalau kita bandingkan dengan ayahnya (Uzia), kita akan mengetahui kalau ayahnya ternyata lebih hebat dari anaknya. Bahkan kalau kita bandingkan dengan raja Ahazia (ayahnya Uzia), kita tetap akan melihat kalau Uzia masih lebih hebat dari ayahnya. Uzia mempunyai prestasi yang paling besar dan dapat mencapai kesuksesan dengan cepat, tetapi ketika dia wafat, dia tetap tidak dikuburkan kota Daud. Dia memang pernah berdiri di ketinggian yang paling tinggi dari ayahnya dan anaknya, tetapi ketika dia diberi kesempatan berdiri ditempat yang tinggi, dia menjadi goyah dan lupa. Biarlah ini menjadi peringatan bagi kita semua. Ketika Tuhan memberikan banyak berkat kepada kita tetapi kita tidak berhati-hati terhadap berkat itu, berkat itu justru dapat berubah menjadi kecelakaan bagi diri kita.

Kita harus selalu ingat bahwa segala sesuatu yang baik dan yang sempurna berasal dari Tuhan.  Dan ketika kita camkan pikiran tersebut di kepala kita, pada waktu kita mendapatkan sesuatu yang baik, kita tidak terikat kepada hal-hal itu tetapi terikat kepada Tuhan yang memberikanNya sehingga senantiasa kita selalu bergantung hanya kepada Tuhan, bukan kepada apa yang ada ditangan kita. Demikian juga ketika kita mengejar hal-hal yang mulia, usaha demikian adalah baik, tetapi jangan pernah lupa bahwa segala hal yang baik berasal dari Tuhan sehingga ketika kita tidak mendapatkannya, itu berarti belum saatnya, bukan hari kiamat bagi kita. Saya bukannya berkata agar kita semua tidak usah berusaha dan mengejar hal yang baik, itu adalah omong kosong. Tetapi berusahalah dengan senantiasa ingat bahwa itu adalah anugerah dari Tuhan, bukan hasil usaha kita. Dan lebih jauh lagi, bukan saja kita harus ingat kalau hal yang baik berasal dari Tuhan, tetapi juga hal yang baik tersebut adalah milik Tuhan, bukan milik kita.

Johannes Calvin pernah mengatakan didalam bukunya mengenai doa. Mengapa kita harus berdoa kalau Allah sudah tahu apa yang kita perlukan/inginkan ? buktinya Allah terkadang sudah memberikan kepada kita sebelum kita meminta kepadaNya ? Johannes Calvin memberikan 6 alasan dan salah satunya adalah agar kita menjadi orang yang tahu terima kasih. Kalau engkau tidak berdoa atas sesuatu lantas engkau menerimanya, apakah mungkin engkau mengucap syukur kepada Dia yang memberikan ? Kalaupun engkau mengucap syukur, seberapa besarkah rasa syukurmu dibandingkan dengan ketika engkau terus-menerus memohon dan bergumul sedemikian lama kemudian baru engkau mendapatkannya ? Ketika engkau bersusah payah dengan pergumulanmu, engkau akan berterima kasih kepada Tuhan karena kesusahanmu menjadi suka cita. Kalau kita tidak pernah merasa susah kemudian menerima berkat, bagaimana bisa merasa suka cita ? Lebih jauh lagi, kita tidak hanya bersuka cita dan berterima kasih tetapi kita juga akan selalu ingat siapa yang menjawab doa kita. Kalau engkau tidak pernah berdoa kemudian engkau mendapatkan berkat, engkau tidak akan ingat kepada siapapun karena memang engkau tidak pernah meminta kepada siapapun.

Jangan pernah lupa cinta Tuhan. Ketika Tuhan membawa kita ke tempat yang tinggi, ingatlah Dia yang membawa kita sehingga ketika kita melihat kebawah, kita tidak menjadi sombong dan akhirnya jatuh seperti Uzia. Tahun 2003 akan segera berakhir. Marilah kita mencoba merefleksi diri kita sendiri. Pertama, selama setahun ini, pernahkah Tuhan mengambil sesuatu yang indah dan berharga dari tanganmu ? apakah reaksimu ? Kedua, hal-hal baik apakah yang pada saat ini engkau masih mengejarnya ? apakah engkau mengejarnya seperti orang yang telah kehilangan arah hidupmu ? apakah karena hal-hal tersebut hari-harimu menjadi berantakan ? dan yang ketiga, adakah hal-hal yang mulia yang telah Tuhan berikan kepadamu dan ingatlah bagaimana sikapmu ketika engkau menerimanya. Apakah engkau tahu darimana datangnya semua suka citamu ? amin.

 

 (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)