|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 21 November 2003 | ||
|
Creator, Creation & Creativity: What & How |
|||
|
Nats: Kel 31: 1-6 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
Pada beberapa minggu ini kita telah belajar bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang dicipta menurut peta teladan Allah (imago dei). Konsep ini tidak akan mungkin dapat dimengerti oleh siapapun dia yang tidak diberikan anugerah oleh Allah. Kalimat “dicipta menurut gambar dan rupa Allah” bukanlah kalimat yang sederhana untuk di mengerti, tetapi didalam kalimat tersebut terdapat banyak sekali impact yang membuat manusia mau tidak mau harus kembali kepada Allah. Perjalanan sejarah yang sangat panjang sudah cukup menjadi bukti bahwa selama ini manusia tidak mampu mengerti kalimat tersebut. ketika Allah mengatakan bahwa kita adalah gambar dan rupaNya, kita seharusnya menjadi sadar siapa diri kita dan apa natur kita sebagai manusia. Dalam perjalanan hidupnya, Martin Luther pernah mengajarkan bahwa ketika manusia yang diwakili oleh Adam dan Hawa ketika jatuh kedalam dosa, maka natur mereka sebagai gambar dan rupa Allah telah hilang. Tetapi sudut pandang Johannes Calvin melihat bahwa natur tersebut bukan hilang melainkan hancur total. Jika natur tersebut benar-benar hilang maka manusia tidak akan dapat kembali kepada Allah dan ini berarti manusia tidak dapat lagi disebut sebagai manusia. padahal sampai dengan hari ini, semua manusia baik itu orang kristen maupun orang atheis sekalipun, mereka masih dapat berlogika, berkreativitas, berbahasa, dan kemampuan-kemampuan lain yang tidak pernah dimiliki oleh binatang. Apakah orang berdosa tidak bisa berkreativitas? Bisa, tetapi mereka hanya menghasilkan karya-karya rusak. Apakah orang berdosa tidak bisa berlogika? Bisa, tetapi logika mereka sudah tidak masuk logika. Apakah orang berdosa tidak bisa berpikir? Bisa, tetapi pikiran mereka hanya berisi kebejatan. Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada anak-anak Tuhan sejati. Roh Kudus telah memperbaharui kita sehingga hasil kreativitas kita seharusnya kembali kepada Sang Pencipta yang sejati. Gambar dan rupa Allah telah dipulihkan, puji Tuhan!. Setelah kita mengalami pertobatan yang sejati, kita baru bisa berbicara mengenai apa itu kreativitas dan bagaimana berkreativitas yang sejati. Pertama, kreativitas adalah menciptakan sesuatu berdasarkan apa yang diinginkan oleh Sang Pencipta asli. Beberapa minggu yang lalu kita telah belajar bahwa Tuhanlah Sang Pencipta yang asli. Dia telah menciptakan sebuah ciptaan yang dapat menciptakan, yaitu manusia. Sehingga manusia disebut sebagai pencipta turunan dan apapun yang diciptakan sepanjang hidupnya harus mengikuti segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah. Kemudian, hasil akhir dari semua kreativitas tersebut harus dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebuah kreativitas tidak pernah bersifat independent/berdiri sendiri tetapi setiap kreativitas akan selalu kembali kepada dasar yang paling mendasar. Maka pada saat ini kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, kepada siapakah kita mengembalikan setiap karya kreativitas kita? Dan untuk pertanyaan tersebut hanya terdapat 2 pilihan jawaban, yaitu: Tuhan atau setan. Filasafat Behaviourism yang diciptakan oleh B.F. Skinner dan Ivan Pavlov mengajarkan kepada dunia bahwa semua mahkluk hidup (termasuk manusia) dapat dibentuk dari struktur kebiasaannya. Dengan kalimat lain mereka ingin mengatakan bahwa manusia adalah tidak lebih dari seekor binatang. Sampai dengan saat ini filsafat tersebut banyak sekali dipraktekkan oleh dunia psikologi untuk menyembuhkan orang sakit. Seorang psikiater dapat merubah kebiasaan para pasiennya tanpa merubah sifat aslinya. Jika sebelumnya kita selalu ingin muntah bila mencium bau sampah, psikiater dapat melatih sehingga kita dapat makan sekalipun ditengah-tengah tempat pembuangan sampah. Tampak luar memang kita telah berubah, tetapi natur kita tidak pernah bergeser. Dunia psikologi hanya mengerti gejala tetapi mereka tidak pernah mengerti esensi hidup seseorang. Psikologi tidak pernah mengerti apa itu dosa. Ketika dunia psikologi seperti itu, muncul seorang teolog reformed yang masuk kedalam dunia psikologi, yaitu : J.E. Adams. Dia mengajarkan sebuah teori yang disebut Nautetic Counseling. Artinya, seseorang yang sakit tidak bisa disembuhkan dari luar ke dalam tetapi harus dari dalam ke luar. Maka dia mengawali teorinya dengan mengeluarkan statement bahwa manusia adalah manusia yang berdosa, sehingga seluruh jiwanya menjadi rusak. Maka untuk menyembuhkan kerusakan jiwa tersebut, masalah dosa harus diselesaikan terlebih dahulu, yaitu dengan bertobat. Setiap manusia yang tidak pernah mau bertobat, seluruh hidupnya tidak akan pernah menjadi beres. Ketika Allah ingin memakai Bezaleel, Allah terlebih dahulu memenuhi dia dengan roh. Inilah kunci pertama dari kreativitas. Ketika hati, pikiran, dan diri kita dimurnikan oleh roh Allah, maka kita baru bisa menghasilkan kreativitas yang sejati. Tanpa pemulihan akal budi, justru kita hanya akan merusak seluruh rancangan Allah. Jadi, kreativitas adalah kembalinya paradigma kreataivitas yang sejati didalam diri manusia. Kenapa kita harus berkreativitas? Setiap orang memang harus berkreativitas, tetapi apa motivasi kita dalam berkreativitas? pertanyaan seperti ini perlu untuk kita pahami karena tanpa motivasi yang benar, mustahil dapat menghasilkan kreativitas yang benar. Tidak pernah ada kreativitas dapat dihasilkan tanpa motivasi. Dan motivasi yang sejati adalah keinginan untuk mengerjakan apa yang telah direncanakan oleh Allah. Kalau kita mau jujur, pada hari banyak sekali orang kristen termasuk diri kita yang takut untuk memakai kreativitas kristen, daya pikir kristen, paradigma kristen karena semua atribut tersebut akan membuat kreativitas kita tidak laku bahkan kita tidak diterima oleh dunia. Kenapa bisa begini? Kenapa kita harus takut untuk tidak laku di dunia? Dimana posisi orang kristen dibandingkan dengan dunia ini? Bukan kita yang harus mengikuti dunia ini tetapi dunia yang harus mengikuti kita. Selama bertahun-tahun gerakan reformed berjuang untuk mempertahankan iman dan dignity kekristenan, di lain pihak begitu banyak gereja pada masa kini yang diinjak-injak oleh dunia. Gerakan reformed hanya mau tahu bahwa Tuhan tidak pernah membutuhkan manusia tetapi manusialah yang membutuhkan Tuhan. Meskipun engkau sangat jenius, tampan/cantik, kaya, engkau tetap perlu gereja, engkau tetap perlu Tuhan! Kedua, kreativitas adalah melakukan suatu realisasi dari sebuah imajinasi. Salah satu elemen yang penting untuk melakukan kreativitas adalah imajinasi. Tidak pernah ada orang yang bisa berkreativitas tanpa imajinasi. Maka pertanyaan selanjutnya adalah ketika kita membayangkan sesuatu, sebenarnya apa yang sedang kita bayangkan? Tuhan telah memberikan kepada manusia suatu kapasitas untuk dapat membayangkan sesuatu yang sempurna didalam kekekalan. Dari sini Plato baru bisa mencoba untuk merelasikan dalam kejatuhannya antara yang diatas dengan yang dibawah. Dia berpikir ketika melihat yang diatas begitu sempurna dan keindahan, tetapi ketika melihat bawah hanya ada kebejatan dan kerusakan. Akhirnya Plato membelah 2 aspek antara ide yang berada diatas dan bentuk yang berada di bawah. Ide selalu sempurna sedangkan bentuk selalu sebaliknya. Pikiran yang demikian adalah pikiran yang salah. Kita harus bisa berpikir secara paradoksikal. Walaupun kejatuhan didalam dosa telah merusak imajinasi kita, tetapi ketika kita bertobat imajinasi kita seharusnya juga ikut berubah. Imajinasi yang sejati adalah berdasarkan dari gambar dan rupa Allah.Ketika Tuhan ingin membuat Tabut Perjanjian dan Kemah Sembahyang, Tuhan hanya memberikan gambaran. Sehingga Bezaleel dan Aholiab perlu merealisasikan gambaran tersebut dengan menggunakan imajinasinya. Pada hari ini imajinasi kita banyak sekali diisi dengan konsep-konsep yang rusak, misalnya : kekerasan, pornografi, dll. Semua konsep itu akan membuat hasil kreativitas kita menjadi semakin rusak. Untuk itu, kita perlu melatih imajinasi kita dengan terus-menerus belajar dari Firman Tuhan sampai Firman tersebut menguasai pikiran kita. Roh Tuhan memang memberikan potensi dasar bagi kita, tetapi imajinasi tidak otomatis terbentuk. Bezaleel dan Aholiab memang diijinkan oleh Allah untuk mempergunakan imajinasi untuk membentuk tabut perjanjian dan kemah sembahyang, tetapi imajinasi mereka harus taat dibawah Firman Tuhan. Banyak sekali orang yang ingin berkreatif tetapi mereka hanya mau belajar dari alam dan binatang. Mereka tidak pernah mau belajar dari Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Ketika kita mau kembali kepada Tuhan, kita akan menghasilkan kreativitas yang kualitasnya tidak pernah bisa dicapai oleh orang-orang dunia. Anak-anak Tuhan yang sejati, seluruh aspek hidupnya (termasuk kreativitasnya) akan dikuasai oleh prinsip kebenaran Tuhan dan takut kepada Tuhan sehingga ketika mereka membuat sesuatu, mereka akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Tuhan. Ketiga, kreativitas kita menuntut ketrampilan dengan kesungguhan yang serius. Ketika Bezaleel dan Aholiab dipakai oleh Tuhan, disini Alkitab ingin mengatakan kepada kita bahwa tidak semua orang dipilih oleh Allah. Setiap kita harus menggunakan kreativitas yang kita miliki didalam bidang yang telah ditentukan oleh Tuhan. Ketika Tuhan memimpin kita didalam suatu bidang, Tuhan akan memberikan keahlian dan talenta kepada kita. Pada hari ini, semua orang ingin masuk kedalam semua bidang tanpa bertanya apa maunya Tuhan dan hal seperti ini akan mengakibatkan segala sesuatu menjadi tidak beres karena pada waktu itu kita tidak berjalan menurut ketrampilan yang telah Tuhan berikan kepada kita. Kenapa Tuhan tidak menugaskan Musa untuk membuat tabut suci dan membangun kemah sembahyang? Karena memang Tuhan tidak memberikan keahlian tersebut kepada Musa. Walaupun Musa adalah pemimpin, tetapi Tuhan tidak memberikan keahlian untuk membangun kepada Musa. Baik Musa, Harun, Bezaleel, Aholiab memiliki keahlian yang berbeda satu sama lainnya sehingga segala sesuatu yang mereka ciptakan akan berhasil dengan maksimal. Maka kalau Tuhan menganugerahkan kepada kita sebuah ketrampilan didalam bidang tertentu, persembahkanlah ketrampilan tersebut untuk kemuliaan Tuhan, jangan dibuat main-main apalagi digunakan untuk berbuat dosa. Kita tidak perlu iri dengan orang lain. Mungkin ada orang yang pandai memimpin tetapi tidak pandai menyanyi. Mungkin ada orang yang pandai melukis tetapi tidak pandai khotbah. Tidak semua orang dianugerahkan kapasitas yang sama. Inilah anugerah. Yang penting bukanlah beban atau keinginan, tetapi betulkah Tuhan menempatkan kita dibidang tersebut. Jangan pernah merasa lebih bijaksana dari Tuhan. Apakah engkau masih tidak percaya bahwa rencana Tuhan adalah rencana yang terbaik bagi dirimu ? Kreativitas harus meliputi beberapa aspek, yaitu : keindahan, ketepatan, harmonis, dinamis, dan kemuliaan/keagungan. Jika kita mengerti ke-5 aspek ini, maka pengertian itu akan merubah diri kita dimanapun kita berada. Hasil-hasil karya kita akan selalu menjadi yang terbaik. Terbaik bagi Allah dan terbaik bagi dunia. Lebih jauh lagi, karya-karya tersebut akan memuliakan nama Allah. amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) |
|||