|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 14 November 2003 | ||
|
Creator, Creation & Creativity: Man as Derivative Creator |
|||
|
Nats: Kej 1:27, 1Kor 3:10-23 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
Kejatuhan Adam dan Hawa didalam sejarah merupakan salah satu bukti yang paling nyata bagaimana manusia menyalah-gunakan kreativitasnya. Kemampuan yang telah ditanamkan oleh Tuhan didalam diri mereka ternyata dipergunakan sampai melampaui batas bahkan digunakan untuk melawan Tuhan. Disinilah awal dari manusia yang kehilangan esensi kreativitas dan jika kita melihat perjalanan sejarah sampai dengan saat ini, konsep dan hasil daripada kreativitas ternyata semakin mengerikan. Aspek akal budi merupakan absolute necessity (keharusan mutlak) bagi manusia untuk bisa menjadi manusia. Kenapa?. Pertama, karena manusia dicipta segambar dan serupa dengan Allah. Ketika kita ingin mengetahui siapakah diri kita, kita harus kembali kepada pribadi yang menciptakan kita. Manusia tidak akan pernah dapat mengerti apapun tentang manusia tanpa bertanya kepada Tuhan. Dan Tuhan telah menjawab kita dengan tegas dan jelas melalui Kej 1:27. Dari sini manusia dapat disebut sebagai The crown of creations (mahkota ciptaan). Gambar dan rupa Allah yang terdapat didalam diri kita memberikan beberapa sifat-sifat turunan yang dimiliki oleh Allah, misalnya : kebijaksanaan, kebenaran, kemuliaan, kesucian, dan keadilan. Semua ini tidak ada didalam binatang. Seekor anjing tidak akan pernah menuntut kebenaran kepada majikannya. Maka semua sifat-sifat turunan tersebut terkumpul menjadi satu dalam mind (akal budi). Bahasa Indonesia memiliki kelemahan didalam membedakan antara mind dan thought. Mind (akal budi) bukanlah pikiran biasa ataupun perilaku kita, tetapi menunjuk kepada pemikiran yang sangat dasar. Kedua, karena Allah memerintahkan kepada manusia untuk menguasai alam semesta ini (Kej 1:28). Tanpa adanya kapasitas akal budi, manusia tidak akan pernah dapat menggenapi perintah Allah tersebut. Mampukah seekor harimau sekalipun menguasai dunia ini ?, tidak mungkin. Karena Tuhan memang tidak memberikan akal budi kepada binatang. Ketiga, untuk mempermuliakan Allah dengan menggunakan segala yang ada (Yes 43:7). Maka yang mampu mempermuliakan nama Allah hanyalah manusia, dan hal inilah yang juga menjadi tujuan akhir dari kehidupan manusia. Ketika manusia keluar dari panggilan utama ini, apapun yang dia lakukan dan perbuat akan tetap membuat hidupnya tidak berarti. Betapa kasihan orang-orang dunia karena mereka tidak tahu untuk apa hidup sehingga hanya berputar-putar sambil membuang-buang waktu menunggu iblis menjemput. Tuhan telah menggambarkan kehidupan semacam ini didalam Alkitab, yaitu : mengenai perjalanan umat Israel keluar dari tanah Mesir. Pada saat itu Tuhan memberikan makna hidup, arah, dan panggilan yang jelas kepada mereka. Kemudian Tuhan juga memberkati dan memberikan segala sesuatu kemungkinan untuk menyatakan bahwa merekalah umat Allah yang sejati. Firaun yang sangat berkuasa dan rakyat yang sangat banyak akhirnya harus tunduk dibawah orang Israel yang jumlahnya sangat sedikit. Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa mereka memerlukan waktu 38 tahun untuk sampai di tanah Kanaan ?. Perjalanan tersebut seharusnya selesai tidak lebih dari 1,5 bulan asalkan menggunakan jalur yang lurus, tetapi kenapa Tuhan mengijinkan mereka berputar-putar dipadang pasir hingga menjadi pengembara asing ?. Berapa tingkat generasi yang habis di padang pasir ?. Dari sini Tuhan ingin mengajarkan kepada kita, inilah orang-orang yang berani melawan Tuhan. Maka orang seperti ini hanya berputar-putar tanpa tujuan sampai mati dan kemudian dibuang oleh Tuhan. Dan kehidupan semacam ini masih terus berjalan hingga hari ini. Maka tidak heran jika orang-orang tua senantiasa paling membanggakan kesusahan dan penderitaan yang pernah mereka alami, bukannya kebahagiaan. Inilah orang yang tidak tahu tujuan hidupnya !. Mereka tidak dapat menghubungkan antara hidup dengan Tuhan sebagai Sang pemberi hidup. Ketika kita dapat menghubungkannya, apa yang kita ceritakan kepada keturunan kita bukanlah kesusahan dan penderitaan, melainkan suka cita kita ketika Tuhan memanggil kita, ketika Tuhan memakai kita, ataupun ketika Tuhan menolong kita. Mungkin orang dunia mampu berkreativitas dalam segala hal dan bidang, tetapi apapun yang mereka hasilkan tidak berarti apa-apa. Ketika manusia dapat menggunakan seluruh hidupnya untuk memuliakan nama Tuhan, itulah arti hidup yang sejati. Pada waktu itulah manusia baru bisa menggunakan daya kreativitasnya dengan maksimal dan dengan benar. Kreativitas yang sejati harus selalu bersifat membangun, dan bernilai suci, indah serta mulia. Bagaimana caranya ?. Letakkan Kristus sebagai dasar dari segala kreativitas kita kemudian arahkanlah juga kepadaNya karena kelak kita akan bertanggung jawab atas segala yang telah kita hasilkan kepada Dia yang telah memberikan kemampuan kepada kita. Tuhan akan menguji kita dan apa yang telah kita kerjakan selama ini. Tuhan akan memurnikan apa yang berharga, dan akan menghanguskan apa yang tidak berharga. Lebih jauh lagi, Tuhan memanggil kita untuk menjadi penguasa atas dunia ini bukan untuk dikuasai oleh dunia, sehingga kita harus dapat memandang kreativitas dunia dengan kreativitas kita. Inilah natur seorang manusia. Tetapi apa yang terjadi pada orang dunia justru terbalik. Orang-orang dunia selalu diinjak dan didikte oleh dunia. Artinya, kreativitas mereka senantiasa ditentukan oleh prinsip-prinsip dan nafsu dunia. Inilah naturnya mesin atau binatang. Mereka tidak lagi mengerjakan apa yang Tuhan kehendaki tetapi mereka mengerjakan apa yang dunia kehendaki. Apakah orang dunia sadar akan hal ini ?. Mungkin, tetapi iblis telah mencengkram dan memperbudak mereka sehingga mereka tidak dapat melepaskan diri mereka sendiri. Janganlah kita kehilangan posisi kita antara Tuhan, diri kita, dan dunia ini. Anak-anak Tuhan memang akan selalu menjadi minoritas di dunia ini. Tetapi itulah yang menjadi tantangan bagi kita agar jangan sampai terhilang dari tangan Bapa. Kenapa kita harus berada pada posisi yang begitu rendah padahal Tuhan telah memberikan posisi yang begitu tinggi ?. Kenapa kita melecehkan posisi kita dihadapan Tuhan ?. Kenapa kita harus mengikuti apa yang menjadi mayoritas jikalau pada akhirnya yang mayoritas tersebut berjalan menuju kehancuran ?. Kemudian, ketika Tuhan menciptakan kita, Tuhan juga memberikan suatu kapasitas kreativitas kepada kita. Sejak awal penciptaan, Allah memberikan daya kreativitas kepada Adam dan Hawa untuk mengusahakan/mengembangkan dan memelihara taman Eden. Firman Tuhan ini memberikan suatu prinsip yang jelas kepada kita, yaitu : Pertama, daya cipta dan kreativitas yang yang kita miliki tidak boleh kita abaikan tetapi harus dipergunakan dan dikembangkan. Kedua, daya kreativitas tersebut tidak boleh kita gunakan untuk merusak tetapi untuk membangun dan mengembangkan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Untuk itu kita perlu belajar dari Tuhan karena kita adalah ciptaan yang tertinggi dialam semesta ini sehingga tidak ada teladan yang sesuai selain Tuhan sendiri. Pandanglah kepada Tuhan maka engkau akan mengerti bagaimana caranya menggunakan kreativitas yang engkau miliki dengan benar. Jika kita berkreativitas tanpa memandang kepada Tuhan, apa jadinya ?. Jika kita bekerja di sebuah perusahaan kemudian kita mengerjakan segala sesuatu tanpa persetujuan manajer kita, apa jadinya perusahaan tersebut ?. Hanya ada distorsi, kekerasan, dan kehancuran. Ini adalah satu kebenaran yang mutlak tetapi bahkan seorang manusiapun tidak dapat melihat kebenaran ini. Jangan berpikir apa yang engkau lakukan sepanjang hidupmu, Tuhan tidak mengetahuinya. Justru engkau yang tidak mengetahui bahwa Tuhan mengetahui apa yang engkau lakukan. Jangan lupa bahwa Tuhan yang mengasihi kita juga bisa murka kepada dosa-dosa kita !. Seberapa hebatnya engkau hingga engkau merasa dosa-dosamu tidak diketahui oleh Tuhan ?. Maka kita seharusnya menggunakan kreativitas tersebut dengan benar, sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan. Kreativitas kita berasal dari Tuhan bukan berasal dari diri kita sendiri sehingga kita seharusnya semakin membutuhkan Tuhan untuk menggunakan apa yang kita miliki. Lalu, kita juga harus senantiasa siap untuk untuk bertanggung jawab atas segala kreativitas kita kepada Tuhan. Sehingga kita tidak boleh menggunakan kreativitas tersebut hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi tetapi kerjakanlah segala sesuatu untuk kemuliaan nama Tuhan saja, amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) |
|||