|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 03 November 2003 | ||
|
Creator, Creations & Creativity: The Characteristic of Creation |
|||
|
Nats: Kej 1: 31 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
Untuk mempelajari tentang karakteristik akan creation akan sangat baik sekali jika kita melihat Alkitab khususnya Kitab Kejadian pasal 1 karena didalamnya tertulis dengan jelas bagaimana Tuhan menggunakan daya kreatifNya dan bagaimana pula hasilNya. Semuanya itu berakhir dengan ayat yang kita baca pada hari ini, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam”. Ketika Allah menciptakan dunia ini bagian per bagian, Allah selalu mengevaluasi hasilnya dan Dia memberikan komentar bahwa semuanya itu baik (1:10,12,18,21,25). Dan setelah Allah menyelesaikan semuanya sehingga kelihatan secara totalitas, Dia tidak saja berkata bahwa itu baik tetapi sungguh amat baik. Inilah hasil kreatifitas. Ketika Allah menggunakan kapasitas kreatifitasNya, ada beberapa aspek yang dapat kita pelajari, yaitu : Pertama, Kreatifitas Allah diwujudkan didalam kreasinya. Ketika Allah menciptakan sesuatu, hasil ciptaanNya adalah merupakan bukti bagi kreatifitasNya. Jikalau hasil kreatifitas tersebut buruk berarti penciptanya pasti mempunyai daya kreatifitas yang rendah, begitu juga sebaliknya. Setiap hasil kreatifitas akan selalu mencerminkan seberapa besar bakatnya sebagai pencipta. Kedua, setiap hasil kreatifitas selalu perlu dievaluasi. Demikian juga Allah. Dan ini membuktikan bahwa Allah tidak pernah menghasilkan sesuatu dengan sembarangan. Allah bahkan bekerja dengan sangat teliti karena Dia mau semuanya menjadi baik. Sifat Allah tersebut hendaknya menjadi teladan bagi kita. Bagaimana mencipta yang baik, bagaimana mengevaluasinya sehingga menjadi hasil yang baik. Ketiga, apa yang menjadi ukuran bagi evaluasi tersebut. Ketika Allah berkomentar baik adanya, standar siapakah yang dipakai oleh Allah sehingga Dia dapat mengatakan kalimat tersebut ?. Jawabannya adalah kembali kepada kebajikan Allah sendiri. Totalitas dari semua atribut yang dimiliki oleh Allah, itulah yang menjadi titik evaluasi. Sehingga ketika kita melihat sebuah hasil kreatifitas, Kita tidak dapat menilainya baik jika tidak ada unsur kebenaran, moralitas, harmonis, keadilan, keseimbangan, kesucian, dll. Dan semua unsur itu ada didalam hasil ciptaan Allah karena memang merupakan atributNya. Ketika Allah selesai dengan hasil yang sangat baik, Setan mulai mengganggu hingga akhirnya Adam dan Hawa menghasilkan perbuatan yang tidak baik, dengan kata lain : dosa. Segala sesuatu yang baik dari Allah dirusak oleh dosa Adam dan Hawa. Akibatnya alam semesta menjadi rusak dan dunia ini mengalami disintegrasi, destruksi, menuju kematian. Karakteristik manusia telah bergeser sangat jauh dari aslinya. Allah telah menganugerahkan sebuah kapasitas kreativitas hanya kepada manusia, tetapi celakanya manusia malah menggunakannya dengan bagitu ahli untuk melawan Allah. Allah bisa menciptakan manusia seperti robot sehingga manusia tidak mungkin dapat berbuat dosa. Allah juga bisa menciptakan manusia seperti binatang sehingga hidup hanya berdasarkan insting dan tidak mungkin berdosa juga. Tetapi Allah yang begitu baik kepada kita justru tidak menciptakan kita seperti demikian. Jika kita membaca terus kitab Kejadian, kita akan mengetahui manusia mulai memakai kreativitasnya untuk merusak banyak hal, pertama : relasi sosial. Kain yang merasa iri hati dengan saudaranya menggunakan kreativitasnya untuk membunuh Habel tanpa diketahui oleh orang lain. Kain tahu jika dia membunuh sembarangan, orang lain akan mengetahui perbuatannya. Inilah kreativitas. Berbeda dengan binatang. Untuk memangsa makanannya, binatang tidak perlu mencari tempat bersembunyi karena mereka memang tidak pernah berniat untuk membunuh. Mereka membunuh karena memang itulah makanannya sehingga didalam diri mereka tidak ada unsur kebencian. Maka hendaknya kita dapat menggunakan kreativitas kita untuk tidak merusak relasi sosial. Betapa banyaknya orang pada zaman sekarang menggunakan pikirannya untuk menciptakan perseteruan dimana-mana, penuh dengan intrik, kelicikan, dan akal busuk. Kedua : moral. Gambaran yang paling jelas akan hal ini adalah kasus bagaimana Daud membujuk Batsyeba sekaligus membunuh suaminya. Ketiga, alam semesta. Sadar ataupun tidak sadar, seumur hidupnya manusia selalu berusaha dengan sangat kreatif untuk memperalat alam ini kemudian menghancurkannya. Inilah yang dikerjakan oleh orang-orang dunia. Maka sudah menjadi kewajiban bagi kita sebagai anak-anak Tuhan untuk berusaha mengembalikan karakteristik dari kreativitas manusia kepada Tuhan. Dan untuk itu kita perlu belajar melihat akan kreativitas Tuhan dan juga karakteristik dari ciptaanNya. Beberapa aspek yang dapat kita lihat, yaitu : Pertama, kita harus mengerti bahwa dunia ini diciptakan untuk menyatakan wahyu umum Allah. Sehingga ketika manusia melihat alam semesta ini, seharusnya mereka sadar bahwa Allah pasti ada !. Walaupun dunia yang kita lihat pada hari ini semakin berjalan menuju kehancuran tetapi kita masih tetap dapat melihat betapa agung ciptaanNya. Walaupun manusia telah mengalami kerusakkan total tetapi ketika kita mau kembali kepada Tuhan, kita akan dapat melihatnya. Sehingga orang Kristen dan orang dunia ketika melihat ciptaanNya, pasti terdapat perbedaan pandangan dan penilaian. Kedua, semua ciptaan Tuhan dapat harmonis dengan ciptaanNya yang lain. Walaupun struktur dari alam semesta ini sama tetapi detail dari setiap bagian tidak ada yang sama. Dan semua keragaman tersebut begitu harmonis dan serasi. Jika kita meneliti beberapa buah daun dari pohon yang sama, daun-daun tersebut pasti mempunyai struktur yang sama, tidak mungkin ada daun jambu didalam pohon mangga. Tetapi detail dari semua daun pasti berbeda. Semua daun mungkin dapat memiliki warna ataupun ukuran yang berbeda-beda. Itulah keindahan ciptaan Tuhan. Terdapat keunikan didalam keseragaman. Tetapi dunia pluralis justru kebalikannya. Orang dunia suka menggunakan model yang sama tetapi struktur masing-masing berbeda. Sehingga apakah kreativitas semua manusia harus memiliki keseragaman ?. jawabannya adalah ya dan tidak. Dilihat dari strukturnya harus sama tetapi boleh memiliki bentuk yang berbeda. Inilah kunci yang paling penting untuk membangun dan mengembangkan kreativitas kita. Tanpa adanya prinsip yang sama, kreativitas kita akan menjadi liar, tidak ada batas sama sekali, dan tidak ada kejelasan. kita akan merasa bingung jikalau semua jenis daun bercampur menjadi satu didalam sebuah pohon. Pohon apakah itu ?, daun apakah yang berada dipohon tersebut ?. Begitu juga dengan kreativitas. Walaupun hasil kreativitas dapat berbeda-beda tetapi sifat-sifat dan atribut dari Tuhan harus tetap terpancar didalam karya kita. Ketiga, didalam setiap ciptaan harus terdapat derajat. Setiap kita menciptakan sesuatu, semuanya itu harus mempunyai posisi yang jelas. Ketika Allah menciptakan dunia ini, Dia mulai dengan derajat yang paling rendah mulai dari benda-benda mati, tumbuhan, hewan, sampai manusia. Setelah kita mengerti akan hal ini, seharusnya kita juga tidak mempermainkan kreativitas kita. Sekali lagi kreativitas Tuhan didalam hal ini menjadi tuntunan bagi kita. Sehingga jika kita masuk kedalam kreativitas yang salah maka seluruh ide-ide dari pikiran kita hanya akan menghasilkan sesuatu yang rusak. Setiap ciptaan harus dikembalikan kedalam posisi yang tepat sehingga ketika kita memanfaatkan kreativitas tersebut, kita dapat memperlakukan setiap obyek kreativitas kita dengan tepat. Dan perlakuan yang tepat akan menghasilkan suatu kreativitas yang tepat pula. Pada saat ini banyak film kartun yang telah menggeser posisi Tuhan, manusia, dan binatang. Binatang diperlakukan seperti manusia dan manusia diperlakukan seperti binatang. Yang paling parah, Tuhan diperlakukan seperti binatang. Betapa gilanya !. Kreativitas tidak boleh dan tidak akan pernah boleh digunakan untuk menginjak-injak derajat. Apakah dunia mengerti akan semua hal ini ? Tidak, mereka tidak akan pernah mengerti akan hikmat seperti ini karena mereka tidak dapat melihat bagaimana Tuhan berkreativitas dan bagaimana menggunakannya untuk menjadi teladan bagi kita. Orang dunia telah kehilangan identitas diri mereka sehingga mengaduk-aduk dunia ini. Sejak kapankah kita mendidik seseorang akan hikmat ini ?, sedini mungkin. Jika kita sebagai orang tua dan guru menanamkan konsep yang salah maka kita sedang mengarahkan mereka kepada kebejatan. Obyek dari kreativitas tidak pernah salah tetapi subyek yang salah. Jika ada anak yang menggambar kuda lalu diwarnai dengan warna kuning, apakah yang bersalah adalah kudanya ?. Tidak, tetapi anak tersebut. Apakah anak tersebut kreatif ?. Ya, tetapi ada 2 macam kreatifitas yang telah kita pelajari, yaitu yang merusak atau yang membangun. Setelah kita disadarkan akan hal ini, maka sebelum kita melakukan kreativitas, lihatlah kepada Allah dan bagaimana karakteristik dari kreativitasNya. Dan setelah kita mengetahui bagaimana Allah menghasilkan sesuatu, baru kita bisa menjadi pencipta yang tepat. Lebih jauh lagi, apa yang kita hasilkan akan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Kiranya apa yang kita hasilkan seumur hidup bukanlah dosa tetapi justru berkat bagi orang lain, amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) |
|||