|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 31 Oktober 2003 | ||
|
Creator, Creations & Creativity: The Creativity in Reformation Day |
|||
|
Nats: Rm 1: 16-17 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
Pada hari ini masyarakat Kristen sedang memperingati hari reformasi, yaitu Martin Luther yang dipimpin oleh Tuhan dengan kreativitas yang begitu tajam untuk berjuang mengembalikan gereja kepada ajaran yang benar tetapi pada saat yang sama, terdapat kreatifitas lain yang begitu kontras, yaitu orang-orang dunia yang sedang merayakan heloween dengan menunjukkan wajah setan dan bertingkah laku seperti setan. Maka pertanyaan yang paling penting untuk kita pergumulkan pada saat ini adalah: what is creativity ?. Hari reformasi dan hari heloween adalah sama-sama hasil daripada sebuah kreativitas, tetapi kenapa sifatnya bisa begitu berlawanan ?. Suatu kali didalam perjalanan Martin Luther, sebuah petir menyambar seorang teman yang berada disebelahnya. Maka waktu itu dia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apa itu iman ?. dan ketika Martin Luther sedang berpikir mengenai imannya kepada Tuhan, salah seorang arsitek daripada St. Peter basilica, yaitu Johannes Tetzel menggunakan kreativitasnya untuk merusak gereja Tuhan dan jemaatNya. Pada waktu itu pihak Roma Khatolik sedang membangun St. Peter basilica dan ditengah proses pembangunannya, gereja kehabisan dana. Di sinilah Johannes Tetzel memberikan sebuah ide untuk menutupi kekurangan tersebut. Dia mengatakan jika pihak Roma Khatolik terus menerus menekan orang-orang yang berkuasa, pada akhirnya mereka bisa memberontak terhadap gereja. Inilah momen dimana gereja Roma khatolik diajaj bermain-main dengan uang dan dosa. Mereka mulai menjual kepada rakyat kecil sebuah surat yang disahkan oleh kepausan bahwa surat tersebut mempunyai kekuatan untuk mempercepat proses purgatori[1]. Dan akhirnya beban pembangunan St. Peter basilica dapat diselesaikan dan sampai dengan hari ini kita masih dapat melihat gereja tersebut di vatikan, Roma. Ketika ini sedang terjadi, Martin Luther semakin memikirkan tentang keselamatan. Bagaimana caranya seorang berdosa bisa menerima anugerah keselamatan ?. Betulkah hanya dengan mengeluarkan uang maka setiap orang dapat diselamatkan ?. Melalui ayat 16 Martin Luther menemukan jawaban bahwa keselamatan manusia ternyata bukan tergantung pada surat indulgensia atau apapun juga. Dan melalui ayat 17[2] dia mengetahui bagaimana iman berperan didalam hidup seseorang. Inilah yang mengakibatkan reformasi mempunyai pemikiran yang begitu tajam, yaitu manusia hidup hanya bergantung kepada Alkitab, iman, dan anugerah (sola scriptura, sola fide, sola gracia). Barang siapa percaya kepada injil maka ia akan terselamatkan dan memperoleh hidup. Sehingga hidup hanya berasal dari iman dan kembali kepada iman. Dan manusia tidak akan mungkin dapat mengerti dan menggabungkan 2 hal ini tanpa adanya anugerah. Sehingga akhirnya anugerah mutlak dibutuhkan supaya kita dapat diselamatkan didalam hidup ini. Setelah kita mendapatkan anugerah ini, kita baru bisa mengerti apa itu hidup dan untuk apa hidup, yaitu hanya bagi Tuhan saja. Soli deo Gloria ! Berhari-hari Martin Luther merenung didalam kamarnya, di kota Wittenberg Lutherstadt. Kemudian pada tanggal 31 Oktober 1517 Martin Luther akhirnya memaku 95 thesis di pintu gerbang gereja induk milik pemerintah kota tersebut. Tindakan tersebut menghebohkan semua orang dan dia berkali-kali berusaha dijebak untuk dibunuh. Salah satunya adalah ketika Ursinus membuat pengakuan iman Heidelberg, akibatnya kota Heidelberg di bom oleh para tentara katholik yang berada di Munich. Beberapa aspek yang dapat kita pelajari dari peristiwa besar ini, antara lain : Pertama, Tuhan memakai Martin Luther untuk mendobrak dari status quo di zamannya. Kalau kita melihat pada zaman sekarang hampir tidak ada orang yang berani dipakai oleh Tuhan untuk mendobrak zaman. Berapa banyak orang yang mampu melihat segala sesuatu yang telah tertata rapi dan kemudian berani menghancurkannya untuk dikembalikan kepada jalan yang benar. Untuk melakukan semua ini dibutuhkan kreativitas yang tinggi karena tanpa daya kreativitas, manusia akan cenderang untuk hanya mengikuti apa yang sudah menjadi kebiasaan zaman. Hidup mereka bagaikan pasir yang siap dihempaskan dan mengikuti arah arus sungai. Tetapi hal ini tidak terjadi pada diri Martin Luther. Ditengah-tengah masyarakat yang mapan dan tidak peduli dengan segala sesuatu, Tuhan memakai dirinya untuk mendobraknya sehingga mau tidak mau hal ini membuat banyak orang mulai berpikir tentang harga dari kematian Yesus Kristus dikayu salib. Jikalau setiap hari jumat kita dibina didalam gereja dengan khotbah-khotbah semacam ini, kiranya Tuhan memberikan mata yang begitu tajam dan kekuatan kepada kita untuk siap dan berani untuk melihat zaman ini bahkan mampu melampaui zaman ini. Pada saat semua orang diseluruh dunia tidak melihat apa yang terjadi, seharusnya orang Kristen mampu melihatnya, menghadapinya, bahkan melawannya. Didalam dunia ini hanya ada 4 macam orang : pertama, orang yang benar-benar tidak pernah sadar apa yang sebenarnya terjadi di zaman ini, kemana zaman ini berjalan. Kedua, orang yang sadar apa yang terjadi tetapi tidak mempunyai keberanian untuk berdiri diatas kebenaran bahkan menyatakan kebenaran tersebut. Ketiga, orang yang sadar apa yang terjadi tetapi tidak tahu harus berbuat apa walaupun mempunyai keberanian. Keempat, orang yang sadar apa yang terjadi apa yang terjadi pada zaman ini dan mempunyai keberanian untuk tetap setia kepada kebenaran bahkan rela berkorban demi menyatakan kebenaran tersebut. Setan memang tidak akan pernah tinggal diam kepada orang yang keempat tersebut. Mungkin disaat kita berjuang untuk setia kepada kebenaran Tuhan, begitu banyak orang yang mengolok-olok kita dan bahkan mengatakan mustahil, tidak mungkin. Dan pada saat itulah keberanian dan kesetiaan kita diuji. Dunia mengatakan bahwa hal tersebut adalah mustahil karena dunia memang selalu berusaha mengunci kita agar tidak melakukan terobosan untuk kembali kepada kebenaran. Kedua, Martin Luther tidak hanya mengetahui bahwa gereja Tuhan telah melakukan kesalahan, tetapi juga dia mengetahui kapan, dimana, dan apa yang harus dilakukannya untuk mengembalikannya kepada kebenaran yang sejati. Martin Luther mengetahui jikalau 95 thesis tersebut dipakukan di pintu gerejanya sendiri, pasti tidak akan dilihat oleh banyak orang. Itulah kenapa Martin Luther memakukan di pintu gereja kota milik pemerintah. Gereja besar tersebut banyak dipakai oleh pemerintah, bangsawan, dan orang-orang kaya lainnya. Kreativitas Martin Luther mengakibatkan kejutan bagi seluruh kota wittenberg, seluruh Jerman, hingga ke vatikan dan seluruh dunia karena apa yang dilakukan oleh Martin Luther bagaikan sebuah cahaya yang sangat menyilaukan di tengah kegelapan. Dia merencanakan hal tersebut dengan penuh kepandaian dan ketajaman pikiran serta mengetahui bagaimana menjalankannya. Semuanya dia lakukan dengan momen dan kreativitas yang tepat sehingga apa yang dia kerjakan tidak pernah sia-sia. Bahkan supaya dapat menangani masalah yang begitu besar, Roma khatolik akhirnya sampai mengadakan konsili Trente yang intinya membawa kembali jemaat untuk melihat pada kebenaran. Banyak orang menganggap apa yang dilakukan oleh Martin Luther adalah salah satu impact dari Renaissance pada abad ke-13. Tetapi hal tersebut tidak benar karena pada saat itu hampir seluruh dunia terkena pengaruh daripada humanisme, tetapi kenapa tidak ada yang maju selain Martin Luther. Bahkan ketika pemerintah dan Roma khatolik terus mengejar dan memburu Martin Luther, semua orang tidak ada yang peduli. Hanya beberapa orang yang masih berani menolong Martin Luther ketika dia mengalami kesusahan, termasuk isterinya[3] dan temannya (Philip Melanchton). Pernah suatu kali, untuk menyadarkan kembali semangat dan iman Martin Luther, isterinya memakai pakaian berkabung. Dan ketika Martin Luther menjumpai isterinya, dia terkejut dan bertanya siapakah yang meninggal dunia. Lantas isterinya menjawab bahwa Tuhan telah meninggal dunia. Maka Martin Luther lebih terkejut lagi dan berkata bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Kemudian isterinya bertanya kepadanya, jikalau Tuhan tidak mungkin mati, mengapa engkau begitu susah dan lupa akan imanmu terhadapNya ?. Disinilah Martin Luther mulai menggubah sebuah lagu yang begitu indah dan penuh dengan makna serta kekuatan, yaitu : A Mighty Fortress is Our God. Ketiga, setelah itu semua terjadi, Martin Luther tidak berhenti sampai disitu. Ketika Martin Luther menyadari akan sola scriptura, sola fide, dan sola gracia, dia menjadi mengerti bahwa kreativitas yang sejati tidak berhenti tetapi harus disertai dengan follow up. Maka langkah selanjutnya Martin Luther mulai menterjemahkan Alkitab dari bahasa latin vulgata menjadi bahasa jerman. Dan kalau kita lihat, Tuhan ternyata bekerja secara total karena bersamaan pada masa itu diciptakannya mesin cetak pertama Heidelberg. Kreativitas Martin Luther sekali lagi mengejutkan dunia karena setelah dia selesai mengerjakannya, Alkitab tersebut langsung dicetak dan disebarkan[4]. Berkat jasa Martin Luther, pada hari ini kita semua diperbolehkan memiliki Alkitab sendiri. Inilah kreativitas sejati. Tuhan tidak ingin kita berhenti bahkan hanya menggantungkan diri kepada zaman. Ketika Tuhan menganugerahkan kita daya kreativitas, Tuhan menginginkan kreativitas tersebut dikembangkan didalam prinsip-prinsip Tuhan. Dan prinsip yang pertama adalah kembali kepada kebenaran yang sejati, yaitu : Tuhan. Jangan mengembangkan kreativitas demi diri kita sendiri. Prinsip kedua adalah hendaknya hasil kreativitas kita dapat menjadi berkat yang positif bagi banyak orang. Inilah yang terdapat pada diri Martin Luther dan seharusnya terdapat pula pada semua orang Kristen. Ketika kita melihat diri kita sendiri ataupun orang lain, kita mungkin menemukan banyak kelemahan dan kekurangan, tetapi bukan itu pointnya. Sehingga janganlah melihat diri kita dan orang lain dengan sudut pandang manusiawi tetapi lihatlah seperti Tuhan yang melihat. Tuhan bisa memakai kita untuk menerobos zaman ini tetapi pertannyaannya adalah beranikah kita dipakai ?, amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) [1] Khatolik percaya ketika manusia mati, mereka tidak langsung menuju surga dan neraka tetapi masuk kedalam api penyucian (purgatori) untuk dibersihkan dari dosa-dosanya. Semakin banyak dosanya, maka proses penyucian tersebut semakin lama. Setelah itu baru masuk surga. [2] Ayat 17 ini merupakan kutipan dari kitab Habakuk pasal 2 yang kemudian dikutip kembali oleh Paulus didalam Surat Galatia. [3] Salah satu ajaran khatolik yang dianggap salah oleh Martin Luther adalah para hamba Tuhan tidak diperbolehkan menikah sehingga akhirnya dia menikah dengan Katarina Van Bora. [4] Sudah hampir 11 abad katholik tidak mengijinkan semua orang memegang apalagi membaca Alkitab. Martin Luther pertama kali diijinkan membaca Alkitab adalah ketika dia mengambil gelar S3 (doktoral). Dan ini berlaku bagi semua orang pada zaman itu. |
|||