|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 24 Oktober 2003 | ||
|
Creator, Creations & Creativity: God's as the Final Creator |
|||
|
Nats: Kej 1:1 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
Symphony no. 9 yang digubah oleh Beethoven ingin memberikan pesan kepada kita bahwa melalui seluruh alam semesta ini kita dapat melihat begitu besarnya kekayaan dan kretivitas yang dimiliki oleh Tuhan, dan ketika Beethoven dapat mengerti akan hal ini, dia mencoba untuk menjadi derivated creator (pencipta turunan) dengan mengembangkan kreativitasnya lewat lagu. Melalui alam, Beethoven mengakui bagaimana Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat luar biasa, dan dengan pengertian ini dia baru bisa menggubah lagu yang demikian indahnya. Jika pada hari ini kita dapat menikmati begitu banyak lagu pujian yang indah dan agung, itu merupakan hasil daripada daya kreativitas yang hanya diberikan oleh Tuhan kepada manusia saja. Tetapi musik yang demikian indah bukanlah hasil kreativitas yang mudah didapatkan. Di sepanjang sejarah, manusia tidak pernah selesai untuk berbicara mengenai kreativitas bahkan kreativitas ikut terlibat didalam perjalanan dan perkembangan akan sejarah dunia karena manusia dan kreativitas adalah merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan. Secara natur, manusia akan selalu berusaha untuk mengembangkan kreativitas. Maka kalau kita lihat pada hari ini begitu banyak slogan-slogan yang mendorong manusia untuk mengembangkan kreativitas semaksimal mungkin, tetapi sayangnya manusia tidak pernah mengetahui bagaimana untuk mengembangkan kreativitas yang dia miliki sehingga menghasilkan karya yang baik. Perkembangan akan kreativitas dapat pula dipacu dengan kondisi dunia kita yang semakin lama membawa manusia untuk masuk kedalam hidup yang penuh dengan persaingan. Maka sebelum kita mengembangkan kreativitas, kita harus mengerti terlebih dahulu tentang kreativitas itu sendiri. Suatu kreativitas dapat bernilai positif maupun bernilai negatif. Pernahkah kita mendengarkan sebuah lagu yang kemudian lagu tersebut dapat membawa kita untuk semakin mencintai Tuhan, membawa kita untuk bergumul denganNya, ingin semakin taat untuk hidup suci. Kemudian pernahkah ketika kita mendengarkan sebuah lagu yang dapat memacu kita untuk berani bertindak kekerasan, lebih mengembangkan nafsu binatang, dan akhirnya menuju kepada moralitas yang begitu hancur. Inilah kreativitas. Maka hal yang paling penting untuk kita pikirkan adalah jika terdapat sebuah usaha kreativitas, apakah hasilnya akan membangun kita atau malah merusak hidup kita. Kita dapat menilai seberapa tinggi hasil kreativitas tersebut dengan melihat bagaimana formatnya, motivasinya, isinya, dan metodenya. Dan ini berlaku mulai dari musik, lukisan, arsitektur, fashion, dan semua aspek kehidupan kita. Beberapa bulan yang lalu kita dihebohkan oleh karena pro dan kontra terhadap penampilan seorang penyanyi dangdut yang bernama Inul. Lalu kita pasti juga pernah mendengar dari berbagai kalangan yang melontarkan pendapat yang intinya ingin mengatakan bahwa penampilan dari artis tersebut sangat indah dan luar biasa. Banyak orang mengatakan bahwa Inul ternyata sangat kreatif dalam menari. Betulkah itu adalah kreatif ?. Kreatif macam apa itu ?. Beranikah kita pada hari ini mengatakan bahwa goyangan Inul adalah kreatif yang sangat negatif ?. maka pada hari ini mata kita menjadi terbuka bahwa hasil daripada kreativitas ternyata bisa sangat bernuansa jahat dan merusak sekali, tetapi ironisnya dunia mengatakan it’s ok !. Lalu yang menjadi pentanyaan, bagaimanakah masa depan kekristenan khususnya orang-orang kristen yang hidup ditengah-tengah lingkungan seperti ini ?, bagaimanakah hal tersebut akan mempengaruhi konsep kita mengenai kreativitas. Kondisi dunia yang semakin bertambah plural dan dinamis ternyata menambah kesulitan kita untuk menjalankan mandat budaya karena kita telah kehilangan standar yang paling dasar untuk melihat dan menilai segala sesuatu. Dosa telah membuat segala sesuatu yang berada pada diri kita menjadi rusak total, dan tanpa kelahiran dan penciptaan baru, maka semua yang kita dapat hasilkan hanyalah kerusakan yang akan semakin menghancurkan orang lain dan dunia. Sehingga pergumulan mengenai kreativitas yang sejati hanya bisa dilakukan oleh anak-anak Tuhan saja dan tidak mungkin dapat dilakukan oleh dunia karena akan selalu terjadi peperangan didalam batin mereka antara kedagingan mereka yang selalu menginginkan dosa dan kesadaran akan dosa itu sendiri. Didalam hati, orang dunia tahu bahwa goyangan Inul adalah suatu kreativitas yang sangat negatif tetapi kedagingan mereka membuat mereka sangat suka dengan goyangan tersebut, kedagingan membuat mereka suka dengan dosa !. Siapakah manusia didunia ini yang tidak mengetahui bahwa free sex itu adalah perbuatan yang sangat berdosa, yang lebih rendah daripada binatang. Tetapi kenyataanya berapa orang didunia yang mampu menolak ketika diajak untuk bermain free sex ?. Hanya Tuhan yang dapat memberikan kepada kita kekuatan untuk dapat menolaknya. Hanya Tuhan yang mampu melepaskan kita dari cengkraman dosa dan kedagingan. Pertarungan seperti ini hanya akan dihadapi oleh manusia saja karena Allah memang hanya memberikan aspek kreativitas kepada manusia saja, dan Allah memberikan anugerah tersebut melalui prinsip akal budi dan bijaksana. Sehingga betapapun indahnya sebuah ikan, dia tidak akan pernah dapat mewarnai dirinya sendiri karena Tuhan memang tidak memberikan akal budi dan bijaksana kepada ikan. Tanpa akal budi dan bijaksana, tidak akan pernah ada kreativitas. Sebaliknya manusia dapat memilih wana-warni baju yang berganti-ganti sesuai dengan selera dan kreativitas yang dimilikinya. Maka kita seharusnya kembali kepada Allah sebagai sumber dari segala kreativitas jika kita ingin menggumulkan tentang apa dan bagaimana kreativitas yang sejati. 1. Kreativitas harus dikembalikan kepada Tuhan sebagai sumber kreativitas. Manusia pada zaman sekarang sangat membenci bahkan sangat memusuhi kalimat yang terdapat di Kej 1:1 karena kalimat tersebut membuat manusia tidak dapat bermain-main dengan dosa. Manusia dipaksa untuk terlepas dari posisi final/ultimat karena manusia memang bukan berada di tempat tersebut, melainkan Allah. Kalimat inilah yang juga pada akhirnya memaksa manusia untuk menciptakan teori evolusi. Hukum Mendel mengatakan bahwa sebuah spesies sampai kapanpun tidak akan pernah dapat berkembang menjadi spesies yang lain. Perubahan spesies hanya dimungkinkan dengan cara menggabungkan 2 spesies yang berbeda tetapi harus berada di genus yang sama. Dan hingga saat inipun kebenaran akan hukum Mendel ini tetap berjalan dan tidak dapat disangkal karena memang telah dibuktikan secara ilmiah. Justru sebaliknya, hingga saat ini teori evolusi belum pernah sekalipun dapat dibuktikan secara ilmiah sehingga teori evolusi bukanlah teori yang benar dan sah. Kalau kita tetap ingin memaksakan hukum genetika, tetap tidak dapat membuktikan teori evolusi karena gen daripada manusia bukan mirip dengan kera/simpanse tetapi mirip dengan babi. Walaupun teori evolusi adalah teori yang salah tetapi teori tersebut sangat populer dan diterima dimanapun karena ketika Sir Julian Huxley dan Sir Herbert Spencer mempopulerkan teori tersebut hingga berkembang menjadi filsafat evolusionisme[1], dia mempunyai motivasi yang sangat jahat, yaitu menolak keberadaan Tuhan. Inilah kreativitas manusia yang terlampau kreatif bahkan melawan sumber kreativitas. Maka jika pada hari ini kita bisa begitu banyak melakukan berbagai macam kreativitas, kita harus sadar bahwa ternyata bukan kita yang kreatif tetapi Allah yang kreatif. Sebelum kita bisa mengembangkan apapun dengan kreativitas kita, Allah adalah sumber kreativitas. Inilah alasan kenapa kita harus kembali kepada Allah terlebih dahulu dalam berkreativitas. Kalau kita telah menyadari bagian yang terpenting ini, segala hasil kreativitas kita tidak akan menjadi sembarangan karena Allah sebagai sumber kreativitas tidak pernah menghasilkan karya yang sembarangan. Ketika Allah selesai menciptakan segala sesuatu, Allah hanya berkata “sungguh amat baik“. Ketika kita belajar sedikit mengenai astronomi dan biologi, kita akan mengetahui betapa luar biasanya hikmat Tuhan dalam menciptakan alam semesta ini. Dan para ahli apapun pasti mengakui bahwa segala detail tubuh manusia diciptakan dengan teknologi yang terlalu tinggi hingga tidak dapat dimengerti bahkan oleh manusia itu sendiri, apalagi ditiru. Dengan produk ciptaan seperti demikian, siapa yang sanggup mengatakan bahwa ini adalah produk dari evolusi ?, kiranya Tuhan ampuni orang tersebut. Kita harus selalu siap untuk dipakai oleh Tuhan didalam kreativitas sehingga kita tidak boleh mengembangkan kreativitas tersebut berdasarkan diri kita sendiri. Kita boleh kreatif tetapi kreativitas tersebut tidak boleh lepas dari Tuhan. 2. Allah seharusnya menjadi sumber inspirasi kreativitas kita. Hasil daripada kreativitas kita senantiasa merupakan hasil dari pengamatan dan pengalaman kita. Tanpa adanya pengamatan dan pengalaman, manusia tidak dapat berkreativitas. Inilah yang membedakan kita dengan Allah. Tanpa pengamatan dan pengalaman, Allah dapat menciptakan segala sesuatu dengan hasil yang sangat sempurna. Maka Allah seharusnya senantiasa menjadi sumber inspirasi kita dalam berkreativitas. Banyak seniman bahkan seorang atheis-pun sering kali mencari inspirasi dengan melihat gunung, pohon, pantai, matahari yang akan terbenam, tetapi mereka lupa bahwa semua itu adalah hasil daripada kreativitas Tuhan. Sungguh aneh !. inilah yang disadari oleh Beethoven sehingga dia dapat menghasilkan karya yang begitu agung melampaui semua seniman pada zaman sekarang. Jika kita mempunyai perasaan seperti ini, semua hasil karya kita akan jauh lebih mendalam dan berkesan daripada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Jika orang-orang dunia lebih menghargai bahkan ikut menciptakan karya kreativitas setan, marilah pada hari ini kita kembali memandang segala sesuatu dengan kacamata Tuhan sehingga semua hasil karya kita akan membuat orang lain berkata “sungguh amat baik”. 3. Allah akan menjadi penilai (evaluator) daripada kreativitas kita. Jika kita telah belajar bahwa Allah adalah sumber dari segala kreativitas, maka Allah akan senantiasa menuntut pertanggung jawaban atas setiap hasil kreativitas yang telah kita kembangkan. Jika kita telah belajar bahwa kreativitas yang kita miliki adalah hasil turunan daripada kreativitas Allah, maka hasil kreativitas kita seharusnya tidak boleh melawan kreativitas Allah, tetapi harus selaras dan harmonis denganNya. Jika Tuhan telah memberikan kreativitas kepada kita, hal tersebut tidak hanya menjadi keunggulan bagi manusia dibandingkan ciptaanNya yang lain, tetapi juga sekaligus menjadikan bahaya besar bagi kita untuk jatuh kedalam dosa karena kita menggunakan keunggulan tersebut untuk melawan Allah. Maka jika kita menghasilkan sebuah karya kreativitas di segala bidang, kita perlu bertanya kepada Tuhan apakah karya tersebut berkenan bagi Dia. Selain itu kita juga perlu berdoa bagi sekolah-sekolah yang semakin lama mengajarkan kepada anak-anak untuk mengembangkan kreativitasnya dengan liar, amin.
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) [1] Filasafat evolusionisme adalah kepercayaan yang mengajarkan bahwa seluruh sejarah manusia akan terus berkembang mulai dari nothing sampai menjadi everything. Dan semua proses tersebut semata-mata terjadi hanya karena faktor kebetulan saja ! termasuk juga momen terciptanya bumi ini (band. Kej 1:1).
|
|||