|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 17 Oktober 2003 | ||
|
Paul's Concept of Community |
|||
|
Nats: Kej 1:26-28, Ef 2:1-22, 4:11-16 Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo |
|||
|
Pertanyaan yang cukup penting bagi kita sebagai seorang Kristen adalah setelah Kristus menyelamatkan kita, mengapakah kita harus bersekutu ?, khususnya didalam sebuah komunitas Kristen. Mengapakah setiap minggu kita harus pergi ke gereja ?, apakah kegiatan tersebut hanya merupakan sebuah kebiasaan belaka ?. Beberapa orang mulai khawatir bahwa suatu hari kelak gereja-gereja akan menjadi kosong dan orang-orang tidak lagi pergi ke gereja. Kenapa ?, karena pada saat itu teknologi telah demikian maju sehingga ketika orang-orang ingin mengikuti kebaktian ataupun persekutuan, mereka tidak perlu datang ke gereja karena mereka dapat mengikuti semua kegiatan itu dengan menggunakan internet dan kecanggihan teknologi yang lainnya sehingga persekutuan tidak lagi dibatasi oleh ruang tetapi bahkan kita dapat bersekutu dengan orang-orang diseluruh belahan bumi ! Mungkin kita menganggap kekhawatiran ini cukup masuk akal karena di Negara-negara maju, orang-orang telah melakukan konferensi atau rapat dengan cara seperti ini sehingga mereka tidak perlu hadir dan berkumpul bersama disebuah ruangan rapat. Setiap orang dapat melihat dan berdiskusi dengan partnernya melalui layar monitor. Jika ini terjadi pada kekristenan, gereja-gereja akan menjadi kosong karena apa yang selama ini mereka butuhkan hanya bisa didapatkan didalam gereja, tetapi dengan internet mereka bisa mendapatkannya diluar gereja sehingga ngapain ke gereja?. Maka dari sini kita baru sadar betapa pentingnya untuk menggumulkan pertanyaan-pertanyaan diatas, sebenarnya mengapa dan untuk apa kita membangun serta terlibat didalam sebuah komunitas Kristen ?. Apakah yang Firman Tuhan katakan mengenai komunitas kristen ?. Jika kita melihat pada surat-surat yang ditulis oleh rasul Paulus, kita dapat menemukan ternyata Paulus sangat concern (perhatian) terhadap masalah gereja (komunitas). Didalam perjalanan hidupnya Paulus menggunakan cukup banyak waktu untuk menjelaskan dan memaparkan mengenai ekklesiologi (doktrin gereja). Maka pada hari ini kita akan mencoba untuk melihat apakah yang ditekankan oleh Paulus ketika berbicara mengenai komunitas. Yang perlu kita ketahui adalah ketika Paulus berbicara mengenai komunitas, dirinya dan pemikirannya sangat terikat kepada zaman perjanjian lama. Didalam Kej 1:26-28 Allah mengatakan kepada kita bahwa ternyata manusia adalah satu-satunya ciptaanNya yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi di sepanjang sejarah gereja, begitu banyak orang yang bertanya apakah artinya diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Banyak orang pula yang mengatakan bahwa artinya adalah manusia mempunyai kapasitas-kapasitas yang dimiliki oleh Allah tetapi dalam tingkat tertentu dan tidak diberikan kepada ciptaanNya yang lain. Bukti yang paling nyata akan hal ini adalah adanya akal budi pada manusia. Tetapi Karl Barth mempunyai interpretasi yang agak berbeda terhadap beberapa ayat tersebut. Pertama, manusia dikatakan segambar dan serupa dengan Allah bukan dinyatakan pada aspek akal budi dan daya cipta, melainkan pada aspek persekutuan. Bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan untuk bersekutu (Kej 1:27). Dan aspek ini jelas diturunkan dari sifat Allah yang juga bersekutu dengan pribadi-pribadiNya yang lain. Maka tidak heran pada ayat yang ke-26, terdapat kata “kita” yang berarti Allah Bapa sedang bersekutu dengan pribadiNya yang lain. Jadi Allah yang bersekutu adalah Allah yang juga menciptakan manusia untuk bersekutu. Inilah segambar dan serupa dengan Allah. Setelah kita mengerti Firman Allah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa ketika manusia hidup didalam dunia dan menolak untuk bersekutu serta hidup didalam sebuah komunitas, maka sebenarnya manusia tersebut sedang menolak untuk menjadi seorang manusia yang seperti apa adanya, menolak naturnya, tidak menggunakan akal budinya, dan hidup seperti binatang. Kedua, setelah manusia diciptakan untuk bersekutu sama dengan Allah yang bersekutu, melalui ayat 28, Allah ingin mengatakan bahwa persekutuan tersebut tidak boleh hanya berhenti didalam persekutuan itu sendiri. Tujuan akhir daripada sebuah persekutuan bukanlah persekutuan itu sendiri, tetapi terdapat tujuan lain yang telah ditetapkan atau direncanakan oleh Allah untuk digenapkan melalui persekutuan tersebut. Dari sini kita dapat melihat bahwa Allah selalu penuh dengan konsep didalam karya ciptaanNya. Ketika Allah menciptakan manusia, Allah mempunyai tujuan. Supaya manusia dapat memenuhi tujuan tersebut, Allah menciptakanmanusia untuk bersekutu sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk menggenapkan rencana Allah yang dimiiliki olehNya ketika Dia menciptakan manusia tersebut. Adam tidak mungkin dapat menggenapkan rencana Allah dengan cara sendirian. Adam (manusia) perlu bersekutu untuk menguasai dan mengelola seluruh isi bumi ini (Kej 1:26,28). Tetapi jika kita melihat pada kenyataan yang berada di sepanjang sejarah, kapanpun dan dimanapun setiap terdapat persekutuan pasti terdapat pula perseteruan dan perpecahan. Kenapa bisa seperti ini ?. Adalah karena gambar dan rupa Allah yang berada pada diri setiap manusia telah mengalami kerusakkan total sehingga persekutuan yang dibangun oleh manusia pasti mengalami kerusakan pula. Gambar dan rupa Allah yang berada pada diri kita memang tidak pernah hilang melainkan rusak total sehingga meskipun mampu membentuk persekutuan, yang terbangun adalah suatu persekutuan yang menuju kepada perseteruan dan perpecahan. Maka, kalau kita melihat pada perjanjian lama, Allah memberikan perjanjian yang baru bagi umat-umat pilihanNya melalui Abraham beserta dengan keturunannya. Melalui kovenan tersebut manusia dimungkinkan untuk kembali mempunyai persekutuan yang indah dengan Allah dan juga dengan sesama. itulah persekutuan dan komunitas yang dipulihkan. ketika Paulus berbicara mengenai komunitas, persekutuan, dan gereja (Ef 2), dia menggunakan satu kata, yaitu : ekklesia. Yang menarik, kata ekklesia tersebut diambil dari perjanjian lama yang digunakan untuk menyebut umat Allah atau umat israel. Sehingga diri sini kita dapat mengetahui bahwa perjanjian lama berhubungan erat dengan perjanjian baru. Paulus menggunakan kata ekklesia untuk menunjuk kepada sebuah persekutuan yang sejati, yaitu orang-orang percaya. Gambar dan rupa Allah yang ada pada diri mereka telah dipulihkan melalui karya keselamatan Kristus sehingga mereka menjadi layak disebut sebagai umat israel, umat pilihan Allah. Dari sini kita juga dapat bagaimana Paulus menghubungkan antara sotereologi (doktrin keselamatan) dengan ekklesiologi (doktrin gereja). Salib Kristus tidak sekedar menyelamatkan kita, menebus dosa kita, menyucikan kita, tetapi juga menghapuskan perseteruan sehingga manusia dapat kembali membangun gereja atau persekutuan yang sejati (Ef 2:14,16). Persekutuan semakin bertambah penting khususnya bagi orang kristen. Bahkan jikalau terdapat orang yang mampu menghafalkan seluruh isi Alkitab, memahami seluruh doktrin, menguasai apologetika dengan baik, mengerti bahasa ibrani dan yunani, dan kehebatan-kehebatan yang lain tetapi orang tersebut hidup sendirian, maka semua kehebatan dan pengertian tersebut menjadi percuma dan tidak berguna. Ketika manusia menolak untuk bersekutu, manusia tersebut bukan saja menolak naturnya tetapi juga menolak tujuan Allah yang telah ditetapkan bagi dia, menolak panggilannya didalam bergereja, yaitu : mandat budaya dan mandat injil (Kej 1:28). Sejarah akan bangsa Indonesia memberikan sebuah pelajaran bagi kita. Pada waktu bangsa asing menjajah negeri kita, banyak sekali orang Indonesia yang berjuang dan berperang dengan cara sendiri-sendiri sehingga tidak peduli seberapa tangguhnya mereka berjuang, pada akhirnya mereka gugur satu per satu. Demikian juga ketika kita mejalani hidup di dunia ini. Tanpa adanya persekutuan, kita pasti akan sering mengalami kegagalan untuk terus menjadi garam dan terang di tempat kerja, di sekolah, di rumah, dan dimanapun juga. Kita akan sulit untuk mempertahankan iman kristen kita tanpa adanya persekutuan dan kehidupan bergereja karena tidak ada dukungan doa dan pertumbuhan bersama sehingga pada waktu itu kita sedang berjalan dan berjuang sendirian. Didalam Ef 4:11-16 Paulus ingin mengatakan bahwa Allah memberikan para rasul, nabi, gembala, dan para pengajar untuk gerejaNya sehingga setiap orang dapat bertumbuh. Dan pertumbuhan hanya dapat dialami oleh masing-masing orang jika telah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah menjadi bagiannya serta bersekutu bersama-sama dengan anggota tubuh yang lain sehingga Kristus menjadi kepala gereja dan setiap orang kristen menjadi anggota tubuh dan semuanya itu saling terintegrasi dengan baik. Tanpa persekutuan yang baik, tujuan yang Allah tentukan bagi kita tidak akan mungkin dapat digenapkan. Bentuk daripada persekutuan yang sejati adalah ketika semua anggota tubuh daripada gereja Kristus ikut terlibat didalam pekerjaanNya, yaitu : pelayanan. Sering kali kita akan melihat begitu banyak orang yang akhirnya dapat menjadi akrab ketika mereka terlibat bersama-sama didalam urusan yang sama. Demikian juga di dalam pelayanan gereja. Ketika kita bersama-sama terlibat didalam pekerjaan Tuhan, hal tersebut akan membuat kita menjadi semakin dekat dengan anggota tubuh Kristus yang lainnya. Inilah perbedaan antara persekutuan kristen dan persekutuan dunia. Jika persekutuan dunia selalu berakhir pada persekutuan itu sendiri, persekutuan kristen justru terbentuk demi untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Tuhan bagi setiap kita. Jika persekutuan dunia selalu membuat manusia semakin hancur, persekutuan kristen justru membuat kita untuk semakin segambar dan serupa dengan Tuhan. Jika suka cita yang diberikan oleh persekutuan dunia adalah palsu, persekutuan kristen justru memberikan kepada kita suka cita yang kekal. Ternyata apa yang berasal dari dunia tidak pernah sama dan tidak akan pernah sama dengan apa yang berasal dari Tuhan, bahkan sangat berlawanan. Jikalau pada hari ini kita sadar bahwa persekutuan yang sejati hanya berasal dari Allah, maka akhir daripada persekutuan tersebut seharusnya kembali hanya untuk tujuan Allah. Soli deo gloria !
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) |
|||