Ringkasan Khotbah : 10 Oktober 2003

Home

Human Interaction & Its Influences: Peers Influences

Nats: 1 Raj 12: 6-13

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Setiap orang tidak akan pernah dapat menghindari hubungan dengan teman sebayanya karena kita semua mempunyai posisi khusus sebagai seorang anak didalam sekolah, dan hal inilah yang menjadikan pergumulan akan peers menjadi penting. Tetapi kenapa begitu penting? Pertama, ketika kita mulai masuk kedalam dunia sekolah, kita pasti akan merasakan lingkungan, budaya, dan suasana yang berbeda, dan hal ini membuat kita merasa perlu untuk mempunyai teman yang seumur dengan kita. Ketika seorang anak menginjak remaja, pengaruh daripada peers menjadi sangat besar dan sangat merusak sehingga kalau kita meneliti, banyak sekali remaja yang merasa malas bahkan tidak pernah lagi ke gereja walaupun waktu kecil mereka sangat rajin mengikuti kebaktian. Tetapi masa kristis seperti ini tidak hanya di monopoli oleh para remaja tetapi juga anak-anak. Mereka dapat merasakan sebuah kebersamaan khusus hanya karena faktor usia yang sama. Kesamaan tersebut membuat ikatan peers menjadi sangat kuat karena masing-masing anak merasakan tidak ada yang lebih tinggi dan yang lebih rendah. Ketika dirumah, setiap anak selalu bertemu dengan orang-orang yang lebih tua dan yang lebih muda. Maka ketika di sekolah, dia mendapatkan banyak sekali teman yang seusia dengan dirinya.

Kedua, karena faktor seusia, mereka merasa mempunyai cara berpikir yang sama pula. Hal ini mengakibatkan mereka merasa orang tua tidak dapat mengerti pikiran mereka. Maka secara tidak langsung mulailah terbentuk suatu lingkungan yang tertutup dan cara berpikir yang berbeda dengan orang lain. Perkembangan dari suasana ini menjadikan mereka tidak dapat bergaul dengan kakak kelas dan adik kelas. Perasaan seperti ini semakin menambah ikatan daripada pengaruh peers terhadap anak kita karena dia berpikir tidak ada orang lain yang dapat mengerti dirinya selain temannya.

Ketiga, semua anak merasa bahwa mereka adalah senasib dan sepenanggungan. Ketika anak-anak merasa bahwa tidak ada orang yang dapat mengerti akan dirinya, maka ketika seseorang mendapatkan masalah, semua temannya akan merasakan kesedihan yang sama. Mereka selalu menganggap diri mereka adalah korban dari orang tuanya yang tidak bisa mengerti dirinya. Dan semangat seperti ini semakin lama akan semakin kuat diantara mereka hingga memuncak ketika anak kita menginjak masa remaja. Ketika remaja, mereka akan berpikir bahwa seharusnya mereka telah cukup dewasa dan dapat mandiri, tetapi apa yang mereka pikirkan dan kerjakan tetap tidak dimengerti oleh orang tua sehingga anak kita menjadi semakin bergantung kepada  teman sebaya mereka.

Jika kita melihat apa yang menjadi tindakan Rehabeam dari sudut pandang Tuhan, memang semua terjadi atas kedaulatan Allah, tetapi jika kita melihat tindakannya dari sudut pandang sejarah, Rehabeam telah bertindak dengan sangat ceroboh dalam mengambil sebuah keputusan. Kesalahan didalam mengambil keputusan tersebut disebabkan oleh kesalahan didalam membangun hubungan antar pribadi antara para tua-tua dan dengan teman-teman sebayanya. Ketika kita akan berhubungan, usia seharusnya menjadi salah satu kriteria didalam membangun hubungan tersebut sehingga kita bisa mempunyai relasi yang benar karena relasi yang benar tersebut akan sangat membentuk karakter kita. Ketika kita memilih dengan siapa kita berhubungan, itu berarti kita sedang mempertaruhkan hidup kita kepada teman kita. Dan inilah yang menjadi gambaran daripada kehidupan sosial Rehabeam.

Kemudian, peers juga akan membentuk suatu budaya yang unik dengan segala value systemnya. Kita akan mempunyai budaya dan kebiasaan yang bersifat positif jika kita berhubungan dengan peers yang positif, begitu juga sebaliknya. Celakanya, peers yang negatif akan terus-menerus memutar kita hingga suatu saat kita akan merasa tidak nyaman dan tidak cocok jika berada diluar lingkungan peers tersebut. Jadi ketika kita dibawa keluar daripada pergaulan yang positif, cengkraman daripada peers negatif akan membuat kita tidak dapat kembali kepada pergaulan yang positif, dan jika kita dipaksa untuk masuk kembali, kita akan merasa sangat tersiksa karena peers negatif tersebut terlanjur membentuk ulang diri kita.

Lebih jauh lagi, peers yang negatif akan menjadikan kita keras hati dan tidak dapat menerima keberadaan orang lain. Dunia modern semakin mendukung akan format peers seperti ini karena dunia kita semakin lama semakin global, dan ketika dunia semakin global, manusia semakin merasa takut dan kehilangan identitas dirinya sehingga peers menjadi satu-satunya kekuatan dan harapan untuk hidup. Maka tidak heran jika dunia semakin modern, manusia bukan semakin sosial tetapi malah semakin berkelompok-kelompok karena disitulah seseorang akan mendapatkan arti hidupnya, identitasnya, kariernya, dan kenyamanannya. Peers itu sendiri bukanlah sesuatu yang berbahaya bagi kita, tetapi jika peers itu membuat kita menjadi eksklusif, itulah yang berbahaya karena kita tidak bisa menerima dan bersifat terbuka kepada orang lain. Peers boleh memiliki suatu keunikan tetapi keunikan tersebut tidak boleh menjebak kita untuk menjadi paranoid dan menganggap orang lain sebagai musuh.

Kita semua pasti setuju bahwa Raja Salomo adalah satu-satunya raja yang paling bijaksana didalam sepanjang sejarah. Maka jika raja seperti ini memiki penasehat, maka para penasehat itu pun pasti memiliki kebijaksanaan yang sangat tinggi sehingga layak menjadi penasehat Raja Salomo. Maka ketika mereka memberikan nasehat yang begitu baik kepada Rehabeam, seharusnya dia bisa mengerti dengan tepat. Tetapi kenyataanya Rehabeam justru menolak nasehat tersebut dan menerima nasehat daripada teman-teman sebayanya yang sangat tidak bijaksana dan sangat sombong. Kenapa bisa begini ?. hanya ada satu jawaban, yaitu karena cengkraman daripada peers. Hanya karena peers, seseorang dapat menjadi lupa segalanya dan mejadi bodoh. Rehabeam bukanlah orang bodoh karena dia adalah putera dari Raja salomo, tetapi dia menjadi sangat bodoh karena dibelenggu oleh pengaruh daripada peers. Pada hari itu Rehabeam memang menjadi raja penguasa, tetapi kuasa daripada peers jauh melampaui kekuasaan raja. Dari pengalaman ini kita dapat belajar seberapa jauh seorang teman dapat merusak hidup kita. Dan ternyata betul, tidak lama kemudian kerajaan yang dipimpin Rehabeam menjadi hancur karena rakyat begitu benci terhadap kesombongan Rehabeam.

Kesalahan daripada keputusan-keputusan yang kita ambil setiap harinya memang sangat dipengaruhi oleh siapa saja teman-teman sebaya kita karena merekalah yang membentuk kehidupan kita, tetapi sebenarnya hal tersebut bukan kesalahan mutlak daripada teman-teman sebaya kita tetapi juga kesalahan kita sendiri karena yang memilih dan memutuskan untuk berteman dengan orang-orang tersebut adalah diri kita sendiri. Dari sini kita dapat berpikir alangkah indahnya jika kita hidup bersama-sama dengan peers yang positf. Budaya daripada peers tersebut akan membentuk kita menjadi positif pula. Alangkah indahnya jika pada waktu itu Rehabeam mejadikan para tua-tua sebagai peers. Rehabeam akan senantiasa dipengaruhi oleh kebijaksanaan daripada para tua-tua tersebut sehingga dia akan menjadi raja yang sangat bijaksana pula. Maka yang menjadi pertanyaan, sampai seberapa besarnya pengaruh daripada peers yang negatif dapat merusak kita ?.

1.    Peers yang negatif akan menghancurkan sifat rohani kita. Penasehat daripada Raja Salomo memberikan nasehat kepada Rehabeam untuk belajar menyadari posisinya dan panggilannya sebagai seorang raja yang berada didalam pimpinan Tuhan, inilah kehidupan rohani yang baik. Jika kita ingin melakukan atau memutuskan sesuatu, maka kita perlu kembali dulu kepada status kita sebagai anak Tuhan. Bagaimana kita dapat dipakai oleh Tuhan sehingga kehidupan kita terus dibangun secara baik dan rohani. Tetapi Rehabeam justru melakukan kesalahan yang fatal karena pada waktu itu dia menyerahkan nasibnya kepada teman-temannya yang justru pemikiran dan tindakannya tidak membangun sebuah kehidupan yang rohani. Maka pada waktu ini kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah teman-teman kita selama ini membangun kerohanian kita atau justru malah menghancurkan kerohanian kita ? dan  pengaruh apa yang selama ini kita dapatkan dari mereka ?.

2.    Peers yang negatif akan membangun sikap egois (premanisme) didalam diri kita. Jika suatu hubungan dengan peers tidak dibangun didalam Tuhan, maka akan terbangun berdasarkan premanisme. Kekuatan daripada kelompok menjadi paling dominan sehingga orang lain menjadi musuh dan kita akan menjadi sangat egois, merasa paling hebat. Tetapi pada akhirnya hal seperti ini menuju kepada kehancuran dan penyesalan yang sangat dalam karena mungkin suatu saat kita akan dijadikan sebagai kambing hitam bagi teman-teman kita agar mereka bisa selamat dan kita yang menanggung deritanya. Kenapa bisa begini ?, karena didalam persekutuan tersebut tidak pernah ada sifat untuk melayani dan berusaha untuk memberikan yang terbaik tetapi justru terdapat sifat yang egois untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri. Hal ini tampak nyata didalam nasehat daripada para tua-tua. Untuk menjadi seorang raja yang baik, Rehabeam dituntut untuk mempunyai jiwa pelayanan bagi rakyatnya. Nasehat seperti ini bukan berarti Rehabeam harus menjadi budaknya rakyat tetapi bagaimana membangun hubungan antara raja dengan rakyat secara baik. Tetapi Rehabeam justru begitu egois mencari keuntungan diri sendiri hingga akhirnya dia malah mendapatkan kehancuran. Inilah pengaruh daripada peers. Semua remaja/pemuda yang menjadi korban daripada free sex, narkoba, dan pergaulan rusak yang lainnya disebabkan karena pengaruh daripada peers.

3.    Peers yang negatif akan membentuk sebuah jiwa pemberontak. Peers yang negatif tidak pernah memandang Tuhan sebagai sumber kebenaran sehingga mereka menganggap diri mereka sebagai suatu bagian yang harus menang dan berkuasa. Didalam hati mereka hanya terdapat sifat persaingan dan pemberontakan terhadap otoritas lain. Mereka juga mempunyai sifat, tingkah laku, dan keinginan yang berbeda dengan lingkungan luar.

4.    Peers yang negatif selalu berpikir pendek dan pragmatis. Nasehat yang diberikan oleh para tua-tua kepada Rehabeam merupakan nasehat yang telah diteliti dari banyak aspek dan dari segala sudut pandang serta semua kemungkinan yang dapat terjadi sehingga menghasilkan sebuah nasehat yang sangat baik. Pemikiran seperti inilah yang kita perlukan didalam mengambil sebuah keputusan sehingga kita tidak boleh terburu-buru. Nilai postif daripada Rehabeam adalah dia sadar bahwa dirinya belum mempunyai kebijaksanaan yang cukup untuk memberikan keputusan bagi kesuiltan rakyatnya sehingga dia meminta nasehat dari orang lain. Rehabeam sadar bahwa dia perlu nasehat tetapi Rehabeam tidak tahu kepada siapa dia seharusnya meminta nasehat. Peers yang baik seharusnya mendidik kita untuk berpikir teliti, cermat, dilihat dari segala aspek dan akibatnya sehingga kita senantiasa mempunyai pikiran yang jernih. Peers daripada Rehabeam begitu ceroboh dan tidak berpikir panjang, hanya mementingkan kekuasaan dan tidak peduli pada hal-hal lain. Peers seperti ini tidak pernah bisa bertanggung jawab atas akibat dari apa yang telah diperbuatnya.

Apa yang menjadi pengalaman daripada Rehabeam yang seharusnya membuat kita lebih waspada untuk memilih teman sehingga mereka dapat memberikan pengaruh yang baik bagi kita. Selain itu kita juga harus berusaha untuk menjadi peers yang baik bagi orang lain sehingga terdapat sebuah persekutuan yang indah dihadapan Tuhan. Didalam pikiran kita seharusnya tergambar dengan jelas seperti apakah peers yang positif dan itulah yang akan kita capai didalam berhubungan antar pribadi dengan sesama kita. Maka ditengah-tengah dunia yang sudah sangat miskin akan adanya peers yang positif, marilah kita sebagai anak-anak Tuhan tetap bertekun didalam iman dan kerohanian. Peers yang baik akan membangun suatu hidup yang berintegrasi dan memiliki kesucian, kejujuran, kebaikan, dan pelayanan yang baik. Dan semua ini akan menjadi berkat bagi banyak orang yang bertemu, berkumpul, dan bersekutu dengan kita. Biarlah anugerah daripada Tuhan melalui kita dapat menyentuh jiwa mereka yang begitu haus dan mencari akan anugerah Tuhan tetapi tidak pernah mereka dapatkan.  Amin.?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)