|
|
|||
![]() |
Ringkasan Khotbah : 19 September 2003 | ||
|
Human Interaction & Its Influences: Institutional Influences |
|||
|
Nats: 1 Tes 4: 9 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
|||
|
Begitu banyak institusi/lembaga dimana menjadi tempat bagi kita untuk membangun sebuah hubungan dan berinteraksi dengan manusia lain. Salah satu institusi yang menyita waktu kita paling banyak adalah lembaga pendidikan atau sekolah. Bahkan didalam hubungan keluarga, anak-anak paling banyak memakai waktu mereka untuk disekolah daripada dengan orang tua dirumah. Apalagi belakangan ini kita mendengar mulai adanya sekolah-sekolah plus sehingga anak kita dapat berada disekolah mulai pagi hingga petang, dan ketika malam, mereka hanya memiliki waktu yang sangat sedikit karena anak tersebut juga harus kembali mempersiapkan diri mereka untuk aktivitas sekolah esok harinya. Apalagi orang tua juga mempunyai kesibukan sendiri, yaitu bekerja mulai pagi hingga sore sehingga hal-hal seperti ini menambah kesulitan orang tua untuk dapat bertemu dengan anak-anaknya. Maka, relasi anak-anak sangat dibentuk dan dipengaruhi oleh sekolah daripada dirumah. Hal ini mengingatkan kembali kepada orang tua untuk tidak melepaskan anak-anak mereka ketika masih belum sekolah, kalau tidak maka orang tua telah kehilangan banyak waktu yang sangat berharga untuk mendidik anak-anaknya. Sekolah merupakan tempat pertama kali dimana anak-anak berkumpul dan berhubungan dengan dunia luar, dan interaksi semacam ini tidak pernah dia alami sebelumnya sehingga tidak heran ketika anak-anak pertama kali masuk play group, mereka akan menangis karena pada saat itulah mereka pertama kali keluar dari keluarga dan memasuki dunia luar. Tetapi mungkin saat ini tidak lagi begitu banyak anak-anak yang menangis seperti zaman dulu ketika kita pertama kali sekolah karena mereka sejak lahir telah kurang diperhatikan oleh orang tuanya. Mereka sudah cukup sering mengalami pergantian pembantu setiap bulannya sehingga mereka telah terbiasa untuk tidak dipedulikan oleh orang tuanya. Sejak awal anak-anak tersebut tidak mempunyai persekutuan yang indah dengan orang tua mereka. Pada saat ini begitu banyak sekolah bahkan sekolah kristenpun kurang/tidak menghargai lagi prestasi-prestasi yang bersifat rohani, yang menyenangkan hati Tuhan, tetapi mereka lebih menghargai prestasi-prestasi yang disukai oleh dunia. Maka ketika manusia ketika berada didalam sekolah, bagaimana dia bisa berteman, bisa dihargai, dan mempunyai lingkungan yang sehat untuk dapat dibentuk menjadi manusia yang sejati. Maka dari sini kita perlu menggumulkan tema ini sehingga kita mengerti sekolah itu tempat apa dan bagaimana mereka mengerjakan kewajiban mereka. Pengertian akan masalah ini akan menentukan langkah kita untuk memberikan sekolah yang terbaik kepada anak-anak kita kelak. 1. Sekolah merupakan tempat/wadah sosial yang utama bagi seorang anak. Meskipun anak kita mengikuti sekolah minggu ataupun kegiatan rohani yang lain, tetapi kegiatan tersebut hanya berjalan beberapa jam saja dalam satu minggu. Wadah sosial interaksi yang paling banyak membentuk perkembangan akan pemikiran, cara hidup, cara bergaul, dan segala tingkah laku seorang anak adalah sekolah. Anak-anak akan melihat berbagai macam karakter, sifat, dan latar belakang pada teman-temannya yang sangat berbeda dengan dirinya sendiri dan orang tuanya. Maka ketika terjadi hal seperti ini, siapakah yang seharusnya menjadi mediator dan pengarah didalam relasi mereka ?. Ketika terdapat seorang anak yang baru saja pulang dari sekolah kemudian dia mengeluarkan kata-kata kotor kepada orang tuanya, siapakah yang bertanggung jawab atas hal ini ?. banyak anak-anak sekarang ketika mereka berteman bukan semakin mengenal dan mencintai Tuhan serta selalu berusaha untuk takut dan taat kepada Tuhan tetapi mereka malah mengenal diskotik, narkoba, tawuran, dan segala macam pergaulan buruk lainnya. Maka kita perlu bertanya, apakah yang sebenarnya terjadi didalam sekolah tersebut ?. Setiap sekolah dan guru harus bertanggung jawab atas setiap anak didiknya dan pergaulan apa yang terjadi diantara mereka. Sekolah sebagai wadah sosial seharusnya menjadi tempat dimana setiap anak dirubah menjadi semakin mengasihi Tuhan, bertekad untuk mempunyai hidup yang benar, belajar bagaimana ber-relasi dengan tepat sesuai apa yang diinginkan oleh Tuhan. Kesuksesan didalam hidup tidak pernah dapat dicapai dengan kecerdasan otak seseorang, tetapi membutuhkan karakter yang tepat sehingga hidup kita akan selalu berintegritas dengan baik. Dan tingkat integritas yang maksimum dibentuk melalui kebenaran-kebenaran yang kita terima didalam sekolah. Belasan bahkan puluhan tahun kita pakai didalam sekolah untuk belajar dan membentuk karakter kita. Sekolah bukanlah tempat bagi kita untuk berinteraksi dengan sains, pengetahuan, dan rasionalitas belaka tetapi juga berinteraksi secara antar pribadi. Tetapi celakanya, banyak sekolah sekarang yang kriteria kelulusannya hanya bergantung kepada seberapa besar hubungan kita dengan alam dan pengetahuan, tanpa melihat seberapa besar hubungan kita dengan sesama. 2. Sekolah merupakan tempat pertama kalinya bagi anak untuk ber-relasi secara horizontal dan vertikal sekaligus. Setiap anak pasti akan berhubungan dengan teman-temannya dan dengan gurunya. Selain itu, setiap anak juga mempunyai 1 otoritas baru atas dirinya disamping orang tua, yaitu guru, sehingga anak tersebut harus belajar bagaimana 2 otoritas tersebut dapat mencapai keselarasan didalam pikirannya. Jika tidak maka anak tersebut akan mempunyai double personality sehingga antara di sekolah dan di rumah, dia mempunyai kepribadian yang berbeda bahkan berlawanan. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka anak tersebut akan buta terhadap kebenaran. Setiap anak seharusnya menjadi mengerti bagaimana keadilan dan kebenaran harus tetap dipegang didalam 2 otoritas vertikal dan juga didalam hubungan horizontal, yaitu dengan teman-temannya. Hubungan pendidikan seharusnya melibatkan orang tua, guru, gereja, dan anak itu sendiri. Format pendidikan seperti ini seharusnya dijalankan dengan tegas khususnya didalam sekolah-sekolah Kristen. Ironisnya, sistem pendidikan amerika yang selama ini kita banggakan dan kita ambil sebagai teladan, ternyata sistem tersebut menyatakan bahwa pendidikan yang baik harus berusaha melepaskan diri dari aspek agama/rohani. Hal ini lambat laun mengakibatkan pendidikan diambil alih oleh negara. Tanggung jawab pendidikan yang seharusnya berada ditangan orang tua dan gereja telah dikurangi dan dikuasai oleh negara sehingga sekolah-sekolah menjadi milik pemerintah dan pemerintah mempunyai hak untuk mengatur sekolah-sekolah tersebut. Inilah konsep pendidikan yang berasal dari filsafat komunisme oleh Karl Marx, dan konsep seperti ini juga menjadi nafas dai UU Sisdiknas yang baru. 3. Sekolah juga merupakan tempat bagi anak untuk belajar bertumbuh didalam relasi. Didalam sekolah, anak-anak akan mulai belajar bagaimana berteman, belajar melihat teman yang baik dan yang jahat, belajar mengambil kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh temannya, dan berbagi kelebihan yang dimiliki kepada temannya sehingga akhirnya mereka akan saling bertumbuh bersama. Dan sekolah yang baik seharusnya mendukung dan mempersiapkan lingkungan yang membuat seluruh anak didiknya bertumbuh dengan baik. Sayangnya, begitu banyak sekolah pada saat ini hanya memperjuangkan kecerdasan otak tetapi akhirnya mempunyai karakter yang rusak. Mereka dididik dengan amat sangat keras sehingga menjadi stres berat dan kehilangan hubungan antar pribadi dengan teman-temannya. Setelah mencapai kondisi seperti ini orang tua baru bertanya mau dijadikan apa anaknya. Kemudian stres yang tak tertahankan membuat mereka frustasi karena hasil yang mereka peroleh tidak sesuai dengan harapan orang tua mereka, dan akhirnya mereka memilih jalan bunuh diri karena mereka ditekan oleh suasana kompetisi yang membuat mereka sangat menderita. Sekolah dan pelajaran-pelajaran yang diberikan seharusnya membuat anak-anak untuk semakin mengenal dan mencintai Tuhan, diri sendiri, sesama, dan alam sehingga anak-anak tersebut menjadi mahkluk sosial, bukan individualis. 4. Melalui sekolah, anak dapat belajar mengenai nilai-nilai positif dan negatif. Sistem ranking didalam tiap kelas seharusnya adalah suatu hal yang baik selama konsep pemikiran dan pelaksanaannya benar. Dengan sistem itu, anak seharusnya dipacu untuk mengetahui apa yang baik dan yang buruk, semakin mengenal Tuhan, menghargai alam, bukan sekedar menambah ilmu pengetahuan saja. Pengetahuan yang banyak akan menjadi percuma jika mereka tidak dapat menghubungkan semua pengetahuan itu dengan kehidupan sehari-harinya. Dan sampai saat inipun, Indonesia belum memberikan nilai-nilai yang dapat mempengaruhi cara hidup anak, tetapi mengajarkan banyak hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita, sehingga otak kita penuh dengan sampah. Sekolah yang seperti ini hanya menghasilkan manusia yang tidak tahu aturan, sopan santun, dan tingkah lakunya menjadi semakin rusak. Anak tersebut tidak diajari etika untuk makan dimeja makan, memberikan dan menerima salam dari orang lain, respon ketika ada teman yang mengajak makan, sopan santun dirumah. Ketika orang tua-pun sudah tidak peduli tehadap hal semacam itu, sekolah ikut menjadi tidak peduli didalam penanaman konsep nilai-nilai yang baik dan buruk di dalam kehidupan sosial anak-anak. Sehingga mereka tidak mengerti penilaian orang lain, termasuk apa yang dinilai oleh Tuhan. Apa yang dihargai oleh dunia sangat jauh berbeda dengan apa yang dihargai oleh Tuhan atau bahkan berlawanan. Sekolah memegang peranan yang sangat besar untuk membangun konsep nilai dengan baik agar menghasilkan etika yang tinggi, bukan mejadi lebih kurang ajar. 5. Sekolah yang baik akan membentuk anak menjadi mengerti hubungan sebab-akibat. Untuk menjadi guru yang baik seharusnya tetap memegang keadilan dan mengerti hubungan sebab-akibat. Dia harus melihat hal-hal yang baik dan buruk di setiap muridnya sehingga dia dapat memberikan penghargaan dan hukuman dengan ukuran yang tepat. Guru seperti ini pasti akan dicintai oleh para muridnya dan sekaligus dihormati. Anak akan menjadi mengerti konsekwensi apa yang harus dia terima dari setiap tindakannya. Ketika anak menyadari akan hal ini, dia akan tahu bagaimana untuk ber-relasi dengan benar dan tidak ada yang lolos dari pemikirannya karena semua terjadi oleh sebab-akibat. Aspek-aspek seperti ini seharusnya digarap secara serius baik didalam sekolah, kantor, dan semua institusi dimana kita berada. Nasehat terakhir yang diberikan oleh Paulus adalah agar kita semua belajar bagaimana untuk saling mengasihi dan mengambil Tuhan Yesus sebagai teladan kita untuk mengerti kasih itu seperti apa dan bagaimana. Dan sekolah seharusnya ikut memiliki tanggung jawab seperti itu, yaitu menyediakan dan mempersiapkan suatu lingkungan bagi anak-anak agar mengerti tentang kasih daripada Tuhan Yesus sehingga mereka dapat mengasihi Tuhan, diri sendiri, sesama, dan alam sama seperti Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu. Sekolah harus mengajarkan kasih yang bersifat positif, benar, suci, dan membangun sehingga menjadikan persekutuan didalam sekolah itu menjadi semakin sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan untuk melakukan seperti ini, sekolah harus kembali kepada kebenaran Firman Tuhan sehingga iman Kristen akan terpancar disetiap waktu didalam sekolah dan didalam diri para muridnya. Sekolah Kristen seharusnya menjadi sekolah terbaik yang pernah ada didalam sejarah karena Tuhan senantiasa menyertai sekolah tersebut. Dan jika terdapat sekolah seperti ini, maka generasi-generasi mendatang akan mempunyai kesempatan emas untuk dibentuk menjadi anak-anak Tuhan yang baik dan taat. Amin.?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT) |
|||