Ringkasan Khotbah : 29 Agustus 2003

Home

Human Interaction & Its Influences: Parental Influences 1

Nats: 1Sam 2:12,29

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

Berinteraksi  merupakan suatu keunikan luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepada manusia tetapi justru manusia sendiri sama sekali tidak menghargai dan mereka memilih untuk hidup didalam suatu komunitas yang palsu dan melanggar esensi daripada komunitas yang sesungguhnya, hal ini mengakibatkan tatanan masyarakat menjadi semakin rusak. Kelakuan seperti ini telah dipraktekkan sejak awal kehidupan manusia yang diwakili oleh Adam dan Hawa (Kej 3).

Sebuah interaksi yang indah seharusnya didalamnya terdapat ikatan pada pusat dan esensi dasar daripada interaksi tersebut, yaitu kebenaran Tuhan. Unsur-unsur yang mengikat dari interaksi yang benar adalah kasih, keadilan, dan kebenaran. Tetapi pada kenyataannya Kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa sungguh merupakan kesengsaraan bagi seluruh manusia didunia karena sejak itu seluruh tatanan dunia serta keindahannya menjadi rusak bahkan hancur. Maka sejak itu didalam dunia selalu diisi dengan kecurigaan, ketidak cocokkan, prasangka, serta menganggap segala sesuatu yang benar menjadi negatif sehingga tidak ada lagi suatu hubungan yang indah.

Sejak pertama kali, Tuhan selalu memberikan kebenaran firmannya dengan begitu murni serta informasi yang benar tanpa diputar-putar. Tuhan memerintahkan kepada manusia untuk hidup bersosialisasi, menguasai, mengelola, dan mengembangkan bumi, termasuk juga perintah larangan untuk tidak memakan buah pengetahuan baik dan jahat. Jika kita menerima informasi dengan benar maka seharusnya membawa seluruh pemikiran kita kepada hal yang benar.

Iblis mempunyai sifat yang berlawanan dengan Tuhan. Iblis sengaja memutar informasi yang benar dan memberikan pertanyaan kepada Adam dan Hawa sehingga mereka menjadi berprasangka buruk dan curiga kepada Tuhan. Lalu selanjutnya dapat kita ketahui, cara iblis yang begitu licik berhasil membuat Adam dan Hawa untuk memakan buah pengetahuan baik dan jahat karena mereka telah dibuat percaya oleh iblis bahwa Tuhan takut dkalahkan oleh manusia.

Cara yang sama dengan iblis terkadang dipakai oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya dengan memutar-mutar informasi sehingga mengakibatkan anak-anak menjadi down, kabur, dan bingung terhadap kebenaran. Akibatnya anak-anak tersebut selalu mempunyai sikap curiga dan berprasangka buruk terhadap setiap informasi yang dia terima, termasuk juga kebenaran. Dan, Ironisnya, para orang tua tidak pernah menyadari hal tersebut.

Ketika kita menyadari hal seperti ini, maka kita perlu mengerti seberapa pentingnya komunikasi, seberapa besarnya akibat daripada informasi yang rusak bagi kita. Sebagai orang tua kita seharusnya senantiasa memberikan informasi yang benar serta tanpa diputar-putar sehingga anak-anak dapat mengetahui dengan yakin tentang apa yang benar dan dapat menggunakannya apabila mereka menemukan informasi yang salah agar mereka dapat memisahkan antara yang palsu dan yang asli.

Dari sini kita baru mengerti kenapa ditengah dunia yang berdosa, kita tidak mungkin dapat berkomunitas dan berinteraksi dengan benar karena semua orang telah jatuh kedalam dosa. Interaksi yang dunia berikan hanya bersifat dipermukaan saja karena hanya bermodalkan rasa kebersamaan dan interaksi seperti ini tidak dapat bertahan lama dan mempunyai hubungan yang murni antar pribadi. Dari sini kita juga akan dapat mengerti tentang filsafat Konfusius mengenai relationship.

1. Kalau kita ingin mempunyai hubungan yang langgeng berjangka panjang, janganlah terlalu dekat ataupun terlalu jauh dengan teman kita karena kedekatan itu akan mengakibatkan banyak masalah dan terlalu jauh akan menghilangkan persahabatan. Dengan kalimat lain, Konfusius memberikan saran kepada kita untuk saling jaga jarak.

2. Interaksi yang baik janganlah terlalu menggunakan  emosi karena relasi yang baik tidak seperti anggur yang manis dan rasa manis itu membuat kta cepat bosan, tetapi hendaknya seperti air tawar yang tidak ada rasanya tetapi tidak membosankan.

Hal yang fatal, prinsip ini juga terjadi pada hubungan suami-isteri. Suami dan isteri harus selalu memelihara hubungan mereka dengan cara saling menjaga jarak komunikasi mereka. Makanya kalau kita lihat banyak orang ketika mereka berpacaran sangat mesra dan penuh dengan ekspresi cinta kasih, tetapi ketika mereka menikah, hubungan mereka tidak lagi berdasarkan cinta kasih seperti waktu pacaran tetapi hanya berdasarkan tanggung jawab belaka. Alangkah celakanya pernikahan seperti ini.

Dari beberapa fakta diatas, kita seharusnya lebih belajar untuk mengerti bagaimana seharusnya membangun sebuah interaksi didalam sebuah hubungan secara tepat.

1. Esensi yang sangat merusak sebuah relasi itu harus dipecahkan dengan cara bertobat dan kembali kepada Tuhan, sehingga kita dapat lepas daripada belenggu dosa yang membuahkan pikiran dan keinginan dosa. Hanya Tuhan yang dapat memberikan kepada kita sebuah kasih dan cinta sejati yang berlawanan dengan kasih dunia yang sangat egois dan humanis. Ketika orang dunia mencintai sesamanya, cinta mereka selalu akhirnya hanya kembali kepada kepentingan dan keuntungan pribadi. Dan untuk melepaskan cinta seperti ini hanya dengan bertobat dan Tuhan akan mengajarkan kepada kita bagaimana kita mencintai seperti Kristus mencintai umat pilihanNya. Sehingga pertobatan diri kita bukan hanya semata demi kepentingan egois kita tetapi juga kepentingan orang-orang yang mempunyai relasi dengan kita.

Ketika kita kembali kepada Tuhan, kasihnya melimpah keatas kita sehingga dimanapun kita hidup, keberadaan kita akan menjadi berkat bagi banyak orang. Jadi pada saat ini kita harus menyadari ketika kita berada disuatu lingkungan bolehkah kita membagi berkat dan cinta kasih Tuhan kepada orang lain disekitar kita sehingga mereka dapat memandang Tuhan. Apabila selama ini setiap pagi doa kita begitu egois hanya memberikan agenda kita kepada Tuhan, bolehkah mulai saat ini  doa kita penuh dengan syukur dan permohonan agar dimanapun kita berada, Tuhan memberikan kesempatan agar kita boleh menjadi berkat bagi banyak orang serta permohonan agar Tuhan berikan kekuatan kepada kita untuk menghadapi cobaan dan penderitaan sehingga setiap langkah kita tidak mempermalukan nama Tuhan. Inilah suatu kehidupan yang tidak hanya memikirkan egois kita, tetapi memikirkan kepentingan Tuhan dan kepentingan sesama.

2. Ketika manusia belum jatuh kedalam dosa, hubungan antara manusia dan sesamanya, alam, hewan begitu baik karena esensi daripada inti hubungan manusia belum rusak. Awal daripada hubungan yang baik seperti ini dimulai dengan hubungan kehidupan kita dengan Allah. Ketika kita mempunyai hubungan yang beres dengan Allah, maka hubungan kita dengan sesama, alam, diri dan dengan kita sendiri juga akan beres.

Kalau kita lihat era modernisme, semakin banyak orang yang atheis dan tidak peduli akan Tuhan. dan mereka pikir dengan begitu mereka bisa mempunyai hubungan yang lebih baik dengan sesama. Tetapi kalau kita lihat, semua gerakan humanis dan gerakan-gerakan yang memperjuangkan kepentingan menusia pada saat itu, malah semakin merusak dan menghancurkan sesama bukannya membangun sesama. Dan akhirnya kehancuran daripada era modernisme membawa kita kepada era postmodernisme.

Postmodernisme juga berdampak pada hubungan antar manusia. Kini, hubungan manusia adalah hubungan didalam kekosongan karena sumber daripada kepercayaan kita telah hilang. Mungkin banyak sekali acara TV dan tempat-tempat hiburan yang bisa membuat kita tersenyum bahkan hingga tertawa lebar, tetapi setelah kita selesai dengan itu, kehidupan dan hati kita kembali kosong dan sepi, karena apa yang seharusnya diisi oleh Tuhan saja, kita tidak ijinkan Dia untuk memenuhi kita. Maka jika ruang tersebut telah diisi oleh Tuhan, baru kita memperoleh sebuah kepenuhan, sehingga kita baru bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

Pada hari ini terlalu banyak anak-anak yang lahir tanpa orang tua. Didalam hati, mereka mengatakan bahwa mereka adalah bukan milik siapa-siapa. Secara aktual mereka mempunyai orang tua, tetapi sesungguhnya mereka tidak tahu apa artinya seorang ayah dan seorang ibu. Lalu bagaimanakah anak-anak tersebut dapat berinteraksi dan mempunyai relasi yang benar apabila dari pertama lahir, ayah dan ibu yang Tuhan berikan kepada mereka untuk bertanggung jawab mendidik mereka agar mengerti apa artinya human relation sudah hilang. Maka pada saat ini ataupan di masa depan apabila Tuhan berikan kita anak-anak, bagaimanakah mereka akan memandang kita sebagai orang tuanya ?. kita juga sepatutnya bersyukur apabila pada hari ini kita masih mempunyai orang tua yang senantiasa memelihara kita, begitu perhatian, mendidik kita untuk mengerti bagaimana hubungan dan cinta kasih yang sesungguhnya, bagaimana cara berhubungan yang baik dengan manusia.

Maka inilah panggilan kita yang nantinya menjadi orang tua untuk membesarkan anak-anak kita didalam Tuhan.

1. Tuhan memberikan hak kepada setiap orang tua untuk membesarkan anak-anaknya karena Tuhan telah memberikan suatu ikatan genetika antara orang tua dan anaknya. Tuhan telah menetapkan hukum prokreasi, yang artinya Tuhan tidak menciptakan sendiri setiap manusia, tetapi melalui ayah dan ibu untuk melahirkan seorang anak. Sehingga setiap anak yang lahir, tidak akan jauh daripada karakter orang tuanya. Faktor genetika juga membuat setiap anak yang sejak lahir telah mempunyai suatu kedekatan dengan orang tuanya. Manusia membesarkan seorang manusia berbeda dengan membesarkan seekor hewan. Tanpa adanya faktor genetika ini, akan sangat sulit sekali untuk dapat membesarkan anak yang bukan berasal dari keluarga kita sendiri. Betapa sayangnya apabila hak istimewa seperti ini tidak lagi dihargai oleh manusia. Manusia menginginkan kloning yang akan membuat sistem genetika dan tatanan prokreasi menjadi semakin rusak.

2. Tuhan juga memberikan kepada setiap orang tua untuk bertanggung jawab mendidik anak-anaknya karena mereka bernilai kekekalan yang dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Inilah hukum sebab akibat. Maka didalam kekristenan, setiap pasangan yang akan menikah selalu dituntut untuk mulai dari pertama, mereka harus bersepakat dan berjanji untuk apabila mereka dikaruniai untuk membesarkan anak oleh Tuhan, maka mereka harus membesarkan anak tersebut untuk takut kepada TUhan.

Jika kita tidak menjalankan panggilan kita sebagai orang tua dengan benar dan serius, akibatnya generasi yang akan datang akan rusak. Anak-anak tersebut akan sangat mudah sekali untuk dirusak moralnya.  Hal seperti ini juga terjadi pada keluarga imam Eli yang mengakibatkan keturunannya mejadi ikut rusak. Jadi ketika dunia semakin lama semakin maju, moralitas dari manusia akan semakin rendah. Dunia telah merusak dirinya sendiri hingga menuju pada kehancuran. Marilah kita sekali lagi berkomitmen dengan sungguh-sungguh dihadapan Tuhan untuk mau menjalankan panggilan ini dengan benar-benar serius dan bertanggung jawab, juga memiliki pengertian akan bagaimana membangun sebuah relasi yang benar dengan Tuhan, diri kita sendiri, sesama, dan alam sesuai dengan Firman.  Amin.?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah-WT)