Ringkasan Khotbah : 01 Maret 2015

Dua Dasar Hidup Kristen

Nats1Samuel 15:18-26, 16:1,13  

Pengkhotbah :  Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Dalam 1Samuel 16:1 tertulis: Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘’Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.’’ Mengapa Samuel berdukacita? Karena Allah telah meninggalkan Saul, yang tidak mendengarkan perkataan Tuhan. Tuhan biarkan Samuel mengalami semuanya itu untuk beberapa saat lamanya. Mengapa Samuel sedemikian berduka dan Tuhan memberikan waktu sekian lama untuk itu? Karena Samuel berelasi langsung dengan Saul sejak Tuhan menjawab permintaan bangsa Israel akan seorang raja bagi mereka. Samuel mengikuti pimpinan Tuhan satu demi satu mulai dari proses menemukan Saul. Samuel mengalami bahwa semuanya itu terjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Ketika menemukan Saul, Tuhan menyuruh Samuel mengurapinya dengan minyak. Samuel merasa bahwa Saul adalah seorang yang betul-betul sempurna sebagai raja. Semakin jelas lagi bagi Samuel bahwa Saul adalah pilihan yang tepat karena Saul melepaskan Israel dari segala penjajahan pada waktu itu. Samuel semakin yakin bahwa pimpinan Tuhan tidak pernah salah.

Samuel menyampaikan perintah Tuhan kepada Saul untuk menumpas orang Amalek dan semua milik mereka. Saul mengerjakan perintah itu dan mendapatkan kemenangan atas orang Amalek. Sayangnya Saul mendengarkan perkataan rakyatnya untuk tidak membunuh binatang ternak yang bagus/ tambun dengan alasan bisa dipakai untuk persembahan bagi Tuhan. Selain itu Saul juga tidak membunuh Agag, raja Amalek, dengan maksud untuk menunjukkannya kepada Samuel. Samuel menjadi berang karena Saul tidak mendengarkan perkataan Allah dan tidak taat kepada-Nya. Dalam 1Samuel 15:20 ditulis bahwa Saul merasa sudah mendengarkan perkataan Allah dan sudah taat kepada-Nya. Dalam ayat 22 Samuel menyatakan bahwa persoalannya bukan pada menyenangkan hati Allah melainkan pada mendengarkan perkataan Allah, dan Saul sudah mengabaikan hal itu. Saul menyesal atas dosanya dan mau bertobat. Dia meminta Samuel untuk berjalan bersama dengan dia karena dia tahu bahwa kunci kemenangan berada di tangan Samuel.

Saul sudah melakukan dosa besar. Semula dia tidak mengakuinya tetapi setelah ditohok oleh Samuel barulah dia mengakuinya. Hal inilah yang menimbulkan kesedihan yang mendalam dalam diri Samuel. Karena ketidak taatan Saul kepada Allah, semua keindahan yang semula dia miliki menjadi tidaklah berarti di mata Samuel. Sementara itu Saul tidak berduka melainkan bermaksud mengembalikan posisinya.

Saul sendiri harus menjalani proses mulai dari Tuhan menunjuk dia sebagai raja Israel. Saul merasa dirinya adalah orang penting yang diurapi Allah, apalagi dia bisa memimpin Israel meraih kemenangan demi kemenangan dalam peperangan melawan musuh. Dia merasa memiliki posisi khusus/ spesial di hadapan Tuhan. Dia dengan berani mengatakan bahwa dia sudah mendengar perkataan Tuhan dan mengerjakannya.

Seorang yang memiliki kerohanian sejati akan merasa amat berduka ketika melihat orang yang tidak taat kepada Allah. Problema ketidaktaatan muncul karena tidak mendengarkan secara mendetail. Dari 2 tokoh di atas kita melihat adanya 2 wajah dari kehidupan orang percaya yaitu: ketaatan dan ketidaktaatan.

Dari kedua wajah itu tampaklah mimpi-mimpi/ keinginan dari kekristenan. Semua orang Kristen ingin menyenangkan hati Allah dengan mendengarkan perkataan Allah dan taat kepada-Nya. Pertanyaan Tuhan kepada Samuel: Berapa lama lagi engkau berdukacita?, menunjukkan bahwa di dalam diri Samuel ada wajah ketaatan sekaligus wajah ketidaktaatan. Samuel tentunya sudah mendengarkan pernyataan Allah bahwa Allah sudah menolak Saul, tetapi dia berduka karena Saul; inilah bagian ketidaktaatan dia di dalam ketaatannya. Seolah-olah Samuel hendak berkata kepada Tuhan bahwa kalau Tuhan tahu ujungnya seperti ini, sebaiknya Tuhan tidak memilih Saul sejak awal. Semula Samuel bisa melihat betapa sempurnanya pilihan Tuhan dan hal ini begitu menguatkan dia, tetapi sekarang semuanya itu seolah pecah berkeping-keping ketika Tuhan menolak Saul.  

Seorang Samuel dibiarkan berduka oleh Tuhan sebab Tuhan mau mengajarkan sesuatu mengenai mendengarkan kepada Samuel. Samuel juga menemui kegagalan; dia menemukan parsial ketaatan, maksudnya adalah: ada bagian ketidaktaatan yang belum dimengerti olehnya. Ketidaktaatan yang sudah dimengerti olehnya adalah: tidak mendengarkan Tuhan baik-baik dan tidak taat menjalankan perintah Tuhan. Tapi di bagian ini Samuel belajar satu hal bahwa ada bagian ketidaktaatan yang belum pernah dia alami sebelumnya.

Tuhan menyuruh Samuel mengisi tabung tanduknya untuk mengurapi raja baru yang dipilih oleh Tuhan. Dia taat mengisi tabung tanduknya dan berjalan ke rumah Isai. Samuel memanggil anak Isai satu persatu. Eliab memiliki penampilan yang bagus dan sempurna, Abinadab dan Syama ketiganya memiliki pengalaman dalam bertempur. Ketujuh anak Isai yang ada di ruangan itu bukanlah pilihan Tuhan. Tuhan tidak melihat penampilan seseorang, melainkan melihat hati. Masih ada 1 orang anak Isai yang sedang berada di padang menggembalakan domba, yaitu Daud. Daud tidak memiliki tampang keras, wajahnya kemerahan, sehingga tidak cocok untuk menjadi raja menurut pandangan Samuel. Tuhan justru memilih Daud dan meminta Samuel mengurapi dia menjadi raja Israel. Setelah itu Samuel berangkat menuju Rama. Samuel seolah mau berkata kepada Tuhan bahwa dia sudah mendengarkan perkataan Tuhan, sudah taat menjalankannya, sudah mengikuti pimpinan Tuhan sampai di sini, dan sekarang dia mau meninggalkan itu semua. Sebuah wajah ketaatan yang di dalamnya terdapat sebuah kesusahan untuk menerima pimpinan Tuhan karena adanya dimensi salah penilaian.

Kita semua mempunyai potensi yang sama dengan Samuel yaitu di dalam ketaatan ada ketidaktaatan demi ketidaktaatan, yang sebelumnya belum pernah kita alami. Sebaliknya, di dalam ketidaktaatan pernah terdapat adanya ketaatan. Saul semula berjalan di dalam ketaatan dan dia menikmati semua berkat Tuhan, sampai suatu saat dia tidak sadar kalau dirinya tidak taat, dia membela diri dengan berkata bahwa dia takut dan mendengarkan suara rakyat. Secara logika, adalah sesuatu yang baik jika menyerahkan ternak yang bagus untuk Tuhan. Di sini kita melihat bahwa di dalam ketidaktaatan terdapat argumentasi rohani yaitu: demi untuk Tuhan.

Kita harus berhati-hati dengan kehidupan kerohanian kita karena kita cenderung sangat mudah untuk memanipulasi sedemikian rupa seperti Saul. Ketidaktaatan dicoba untuk ditutupi dengan dalih: demi untuk Tuhan. Bagaimana kita bisa melihat wajah ketidaktaatan? Ada orang-orang yang taat karena sudah dilatih memiliki kesenangan untuk taat. Orang demikian justru merasa sangat susah ketika tidak ada aturan. Dia senang ketika hidupnya diatur. Ada orang Kristen yang senang mendapatkan aturan-aturan dalam Alkitab karena dia merasa menemukan hidupnya dengan mendengarkan Firman Tuhan. Ada juga orang yang taat karena adanya keuntungan tertentu yang bisa diperolehnya. Saul melaporkan kemenangan beserta jarahannya kepada Samuel dengan harapan mendapatkan pujian dari Samuel.  

Di dalam ketaatan Samuel terdapat juga dimensi ketidaktaatan yang belum pernah dia alami, dan Samuel sangat berduka untuk itu. Di dalam ketaatan Saul juga terdapat dimensi ketidaktaatan tetapi Saul tidak berduka sama sekali. Perbedaan ini menunjukkan adanya perbedaan warna rohani.    

Kedua wajah kekristenan itu, yaitu: ketaatan dan ketidaktaatan, ditentukan oleh problema mendengar suara Tuhan. Suara Tuhan yang seperti apa? Suara Tuhan adalah peringatan dari Tuhan akan segala sesuatu yang pernah Dia katakan kepada semua orang yang dikasihi-Nya. Tuhan letakkan Firman Tuhan dalam hati kita, walau terkadang kita merasa tidak memerlukannya, dengan maksud suatu kali Tuhan pakai untuk menyentuh orang dalam. Orang dalam maksudnya adalah orang di dalam diri kita. Secara penampilan luar, kita bisa menunjukkan siapa diri kita, taat atau tidak taat, tetapi sebenarnya yang menentukan adalah orang di dalam. Tuhan berkata kepada Samuel bahwa Dia tidak melihat apa yang ada di luar manusia melainkan Dia melihat apa yang ada di dalam diri manusia.

Sebagai orang Kristen, kita bisa memilih untuk memakai wajah ketaatan ataukah wajah ketidaktaatan, dan pilihan itu bisa dilakukan tanpa seorangpun yang tahu. Laporan Saul kepada Samuel sepertinya menunjukkan sebuah ketaatan tetapi sebenarnya manusia di dalamnya tidaklah taat. Tuhan memakai Roh Kudus untuk membuat manusia di dalam membuka telinga lebar-lebar agar semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Samuel menanggapinya dengan berduka sedangkan Saul menanggapinya dengan kecewa karena ketahuan salahnya.  

Memang tidak ada yang tahu manusia di dalam tetapi Firman Tuhan yang kita ketahui akan membongkarnya dan menimbulkan rasa takut yang belum pernah kita alami sebelumnya, yaitu ketika menjumpai ketidaktaatan di dalam ketaatan, dan sebetulnya kita lebih suka tidak taat daripada taat. Meminjam judul buku karangan John Piper: Brothers, We Are Not Proffesionals. Mimpi-mimpi Kristen bukanlah profesional melainkan lahir karena manusia di dalam yang diubahkan oleh Tuhan, manusia di dalam yang memiliki telinga lebih besar untuk mendengar suara Tuhan. Tuhan menyentuh hati orang dan berkata: Kamu salah! Orang yang memiliki telinga besar untuk mendengar suara Tuhan akan tersentuh hatinya, akan merasa bersalah. Tetapi ada yang ketika diberitahu oleh Tuhan bahwa dia salah, orang itu malah menyalahkan orang lain, atau memanipulasi dengan mendatangkan hal-hal rohani.  

Kita bukanlah profesional yang berpenampilan baik di luar tetapi banyak ketidaktaatan yang dilakukan oleh manusia dalam kita. Di dalam keinginan untuk taat kepada Tuhan, di dalam diri terdapat godaan besar untuk tidak taat kepada Tuhan. Kita hidup bukan memakai 2 topeng yaitu wajah ketaatan dan wajah ketidaktaatan tetapi kita harus mengalami perubahan dalam diri dengan pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus ingin kita menjadi orang yang lebih baik, yang semakin menyerupai Kristus, dan kita harus peka akan hal itu.

Janganlah kita merasa dekat dengan Tuhan sehingga tidak perlu memikirkan tentang ketidaktaatan karena inilah celah masuknya setan. Ketika dekat dengan Tuhan kita harus tetap memikirkan kemungkinan ketidaktaatan kita ada di mana. Kita bisa tahu bahwa kita sedang tidak taat yaitu ada semacam rasa tidak nyaman yang mengganggu di dalam hati, manusia di dalam kita akan berkata bahwa kamu tidak boleh melakukan hal itu. Firman Tuhan yang kita simpan dalam hati akan mengerjakan kehendak-Nya atas diri kita. Kita harus terus belajar menemukan iman Kristen dalam hidup kita dan Tuhan tidak akan pernah bosan mengejar kita dan menyuruh kita untuk mendengar dengan lebih baik lagi akan suara Tuhan. Kita harus memiliki telinga lebih besar untuk mendengar suara Tuhan.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)