Ringkasan Khotbah : 08 Februari 2015

Dua Dasar Hidup Kristen

NatsRoma 12:3-5

Pengkhotbah :  Pdt. Sutjipto Subeno

 

Roma 12 berisi tentang implikasi praktis dari kehidupan Kristen, bagaimana membangun sebuah kehidupan yang bermutu dimana mencerminkan kehidupan umat Tuhan. Umat Tuhan dibedakan dengan yang bukan umat Tuhan. Orang Kristen belumlah tentu termasuk umat Tuhan. Umat Tuhan adalah orang-orang yang betul-betul dijadikan umat oleh Tuhan sendiri, orang-orang yang dipilih oleh Tuhan untuk berbagian di dalam Kerajaan Surga dan di dalam Tubuh Kristus, di mana Kristus menjadi kepalanya. Orang yang berada di luar Kerajaan Surga ataupun di luar Tubuh Kristus adalah bukan umat Tuhan, meskipun orang itu menempel pada Tubuh Kristus atau pada dinding Kerajaan Surga.

Kita bisa berbagian dalam Kerajaan Surga bukan karena kemauan kita melainkan karena Tuhan yang berinisiatif memanggil kita supaya kita menjalankan tujuan/ maksud/ keinginan Dia. Umat Tuhan adalah orang-orang yang Tuhan panggil untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Abraham, Daud, Paulus maupun kita dipanggil oleh Tuhan bukan berdasarkan jasa kita melainkan untuk menjalankan tugas dari Tuhan, menjadi saksi bagi Dia. Itulah yang disebut sebagai panggilan. Dalam Efesus 2:10 dikatakan bahwa kamu adalah buatan Allah, diciptakan di dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah disiapkan Allah sebelumnya.

Ketika kita mendapatkan panggilan dari Tuhan, hal itu bukanlah urusan tiap pribadi melainkan merupakan urusan kita semua di dalam Kerajaan Surga. Roma 12 mengajar kita mengaplikasikan Roma 11:36 yaitu: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Hidup kita dimulai dari Allah, maka seluruhnya adalah milik Tuhan dan tidak ada sedikitpun yang merupakan milik kita. Semua yang dari Tuhan juga harus dikerjakan di dalam Tuhan karena Tuhanlah yang memelihara, mempertobatkan, dan yang menebus kita. Sebagai ciptaan Tuhan, manusia wajib bekerja untuk Tuhan. Ciptaan bukanlah ditujukan untuk ciptaan itu sendiri melainkan untuk kepentingan penciptanya.

Kita haruslah merombak pola pikir kita agar dapat melaksanakan hal-hal di atas. Kalau kita gagal merombak pola pikir kita maka kita akan membawa masuk pola pikir dunia ke dalam gereja, kita akan mengalami kesulitan untuk mengerti Alkitab, dan kita cenderung memikirkan perubahan tingkah laku semata. Untuk membongkar pola pikir dunia yang ada di kepala kita menjadi pola pikir Alkitab adalah sangat berat dan memerlukan banyak pengorbanan. Hal ini diibaratkan membongkar pondasi hidup dan kemudian membangun yang baru di atas pondasi tersebut.

Perubahan pola pikir akan mengakibatkan kita dirasa ‘’aneh’’ oleh orang lain, kita akan bisa mengerti orang lain tetapi sebaliknya orang lain akan tidak bisa mengerti kita. Manusia juga cenderung sulit untuk memahami Yesus. Sebagai contoh: Tuhan Yesus mengajar memakai perumpamaan bukan supaya orang mudah mengerti tetapi justru supaya orang tidak mengerti, sebagaimana diungkapkan dalam Matius 13:13. Dalam Roma 12:2 Paulus memerintahkan kita untuk berubah oleh pembaharuan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Dalam hidup kita seharusnya mengejar kehendak/ keinginan Tuhan, bekerja berdasarkan ordo karena kita bukan bekerja seorang diri. Roma 12:3 mengajar kita untuk berpikir yang sesuai dengan kondisi diri (siapakah diri kita) dan sesuai dengan iman yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Pikiran kita distandarkan dengan standar kepercayaan kita. Jadi pikiran kita menguasai diri kita berdasarkan standar iman yang Tuhan berikan kepada kita. Orang dunia, yang tidak beriman kepada Tuhan, cenderung untuk menaikkan diri atau menurunkan diri, karena manusia kesulitan untuk berada di titik seimbang. Tuhan mencipta manusia sebagai makhluk yang begitu mulia, yang mempunyai standar penilaian yang mulia. Sayangnya, manusia hidup dengan begitu hina, yang mengejar hal-hal rusak di tengah dunia ini, misalnya: manusia lebih memilih memikirkan uang daripada memikirkan Tuhan. Ketika berada dalam kegamangan hidup akibat tidak mempunyai standar nilai yang mulia, akhirnya manusia  justru mengabsolutkan dirinya sendiri. Manusia yang demikian cenderung akan menertawakan kebenaran dan tidak bisa menerima kebenaran bahkan kebenaran yang paling sederhana dan mendasar.

Ketika dunia seharusnya mengerti konsep/ kebenaran, dunia berdosa justru mengejar kegunaan. Orang tidak lagi peduli akan benar atau salah, yang dipentingkan adalah berguna atau tidak bagi dirinya. Diri manusialah yang dijadikan sebagai dasar. Kalau memakai dasar kegunaan, apakah manusia berguna di hadapan Allah? Semua manusia tentu saja tidaklah berguna di mata Allah, kita adalah sampah. Dengan azas manfaat ini manusia hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak mempedulikan orang lain sehingga manusia tidak bisa hidup berdampingan. Pendidikan kebanyakan hanya membentuk intelegensia tetapi tidak membentuk mentalitas sehingga dihasilkan manusia yang rusak karakternya.

Allah Tritunggal harus dijadikan landasan dari semua relasi dalam kehidupan manusia. Manusia adalah gambar dan rupa dari Trinitas. Allah Kristen bukanlah Allah monoteis maupun politeis. Allah Kristen mempunyai 3 pribadi yang saling berelasi. Allah yang memiliki 3 pribadi ini adalah Allah yang tunggal/ tidak pecah. Dari sejak awal dunia diciptakan, Allah sudah menyatakan kemajemukan pribadi-Nya, yaitu ketika mencipta manusia, Allah berkata: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita. Hal ini menunjukkan adanya tindakan bersama dalam 1 misi bersama. Allah Bapa mencipta dunia dengan Firman, berarti: Allah Anak yang menggenapkan, dan Roh Allah/ Roh Kudus melayang-layang di atas permukaan air.

Kalau kita mengerti tentang penciptaan yang dilakukan oleh Tuhan, maka kita harus mengerti bahwa kita bukanlah sendirian melainkan harus menjadi 1 korporasi. Umat Tuhan yang digambarkan sebagai Kerajaan Surga haruslah tunduk kepada Sang Raja, yaitu Kristus Yesus. Orang yang melawan Dia berarti melakukan pemberontakan. Seluruh warga Kerajaan Surga takluk mutlak kepada Sang Raja. Gereja bukanlah tempat untuk manusia mengaktualisasi diri melainkan sebagai tempat untuk menjalankan ketaatan kepada Tuhan/ menjalankan tugas dari Tuhan. Apapun yang dilakukan di gereja tidak satupun untuk kepentingan jemaat/ manusia melainkan untuk kepentingan Tuhan.

Figurasi kedua yang Tuhan pakai untuk menggambarkan umat-Nya adalah Tubuh Kristus. Seluruh umat Tuhan merupakan 1 tubuh dengan Tuhan Yesus sebagai kepala. 1 tubuh ini bukan menjalankan kepentingan masing-masing melainkan menjalankan keinginan dari Sang Kepala. Di dalam tubuh manusia terdapat manajemen yang paling unik, kompleks, dahsyat, dan dinamis. Di dalam tubuh manusia terdapat korporasi terbesar di dalam alam semesta, dengan pegawai berjumlah milyaran yang perlu diberi makan, dikelola dan tidak boleh ada yang tidak beres. Ada lebih dari 100 perusahaan besar di dalam tubuh manusia, dan semuanya itu terangkai dalam konglomerasi. Konglomerasi adalah usaha yang terdiri dari banyak perusahaan dari hulu sampai hilir, mulai dari bahan baku sampai hasil akhir. Ada 7 rangkaian konglomerasi di dalam tubuh manusia. Sebagai contoh: ada konglomerasi pencernaan yang terangkai dari mulut sampai anus. Di dalam mulut terdapat perusahaan air liur dan yang lainnya. Apa yang terjadi jika perusahaan air liur ini demo dan cuti? Semua pegawai dalam tubuh bekerja dengan rapi dan tidak ada yang menyeleweng. Semua elemen tubuh ini tidak boleh semaunya sendiri. Ketika kepala memerintahkan untuk jalan, maka seluruh badan akan jalan. Seandainya: mata tidak mau ikut jalan dan hanya menyuruh kaki yang jalan, maka tubuh tsb akan hancur. Manajemen tubuh haruslah terpusat dan bergerak berdasarkan ordo, tidak boleh semaunya sendiri. Gereja bukanlah organisasi yang berjalan semaunya sendiri. Terkadang ada bagian yang menjalankan perintah kepala dengan setengah hati sehingga menyebabkan tubuh terjatuh.

Bagaimana gereja dikelola dengan tepat sehingga konsep 1 tubuh itu bisa berjalan? Pdt. Stephen Tong sudah merumuskan demikian: tidak ada orang yang datang untuk membantu, tidak ada orang yang datang untuk berkontribusi/ berjasa, setiap orang datang untuk belajar dan setiap orang datang untuk melayani. Tuhan Yesus mengajar dengan keras bahwa tidak ada dari kita yang menolong/ berjasa kepada Tuhan; kita hanyalah budak-Nya (Lukas 17:7-10).

Ketika Tuhan memanggil umat-Nya, tidak ada satupun manusia yang berkontribusi, melainkan ada tugas yang harus dikerjakan oleh umat-Nya. Orang datang ke gereja untuk belajar/ memperlengkapi diri sehingga dapat mengerjakan tugas dari Tuhan dengan baik. Semua yang dikerjakan bukanlah kontribusi/ jasa melainkan merupakan pelayanan/ pengorbanan. Setelah mengerjakan tugas yang Tuhan berikan, kita seharusnya menyadari bahwa apa yang kita kerjakan bukanlah jasa kita, bahkan kita hanya bisa mengerjakan sejumlah itu, dan berharap akan perkenanan Allah.

Kristus yang adalah kepala, tidak memanipulasi tubuh-Nya, bahkan Dia mati di atas kayu salib demi hidup tubuh-Nya. Pekerjaan Tuhan dijalankan bukan berdasarkan azas manfaat tetapi berdasarkan totalitas seluruh tubuh. Pemimpin berbeda dengan kepala. Pemimpin mengarah kepada kekuasaan dan kepentingan diri si pemimpin, sedangkan kepala berkorban untuk kepentingan seluruh tubuh. Kalau setiap kita terlibat melayani maka pekerjaan Tuhan akan semakin besar, Tubuh Kristus akan bertumbuh besar.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)