Ringkasan Khotbah : 01 Februari 2015

Eksposisi Kejadian 27:1-13

NatsKejadian 27:1-13

Pengkhotbah :  Pdt. Solomon Yo

 

Dalam keluarga yang rukun anggota keluarganya akan saling memperhatikan, saling mendukung, sehingga keluarga menjadi indah dan terberkati. Jika anggota keluarga saling menggigit maka keluarga tsb akan terpecah dan tersakiti. Pada hari ini kita akan belajar dari kegagalan sebuah keluarga yaitu keluarga Ishak.

Pasal 27 dari Kitab Kejadian merupakan putaran ke-3 dari serangkaian manipulasi antara Yakub dan Esau, dimulai sejak dari dalam kandungan, kemudian kelahirannya yang mana Yakub memegang tumit Esau, dan kejadian sepulang Esau dari berburu, yang lebih mementingkan makanan daripada hak kesulungannya, serta perebutan berkat yang akan diberikan oleh Ishak. Pembahasan pada hari akan menyoroti Ishak, Ribka dan Yakub.

Kejadian 27:1-4 menyatakan bahwa Ishak sudah tua, matanya telah kabur. Ishak bermaksud hendak memberkati anak sulungnya sebelum dia mati. Berkat tsb bukanlah berkat biasa karena merupakan berkat dari keluarga Abraham, yaitu: janji Tuhan bahwa keturunan Abraham akan berjumlah sebanyak bintang di langit dan sebanyak pasir di lautan. Berkat ini sangatlah penting, tetapi benarkah berkat tsb diperuntukkan bagi Esau? Ada pihak yang hendak mencegah Ishak untuk memberikan berkatnya kepada Esau. Ishak ditipu oleh anak dan istrinya. Esau merasa ditikam dan dibuang oleh ibunya. Permusuhan antara Yakub dan Esau terjadi dalam waktu yang begitu panjang. Semua ini terjadi kemungkinan karena: 1) Ishak tidak menyadari atau tidak memahami signifikansi dari nubuat Tuhan, dengan kata lain: kurangnya kepekaan rohani. 2) Ishak memiliki rasa sungkan terhadap budaya yaitu anak sulung yang berhak mendapatkan berkat. Kalaupun Ishak memiliki kepekaan rohani, berarti kemungkinannya adalah Ishak tidak tegas. 3) Ishak tidak memiliki ketajaman untuk membuat penilaian yang baik. Seorang bapak yang baik seharusnya mengenali potensi dari anak-anaknya sehingga bisa menentukan dengan tepat anak yang mana yang dapat meneruskan kepemimpinannya. 4) Ishak bersikap sangat duniawi yaitu favoritisme. Dalam keluarga yang bersifat demikian, akan terjadi pertempuran antara anak-anaknya, dan anak dapat mengadu domba orang tuanya.

Kegagalan Ishak yang utama adalah mengabaikan aspek rohani yaitu nubuat Tuhan. Nubuat Tuhan sangatlah penting dalam hidup manusia. Kehendak Tuhan/ Firman Tuhan tidaklah boleh dilawan. Dalam kasus ini nubuat Tuhan telah disampaikan dengan jelas kepada Ribka dan keluarga tetapi diabaikan oleh Ishak. Ketika kehendak Tuhan dibenturkan berarti orang tsb sedang membenturkan dirinya dan mempertaruhkan keluarganya. Kiranya kita lebih memperhatikan Firman Tuhan/ kehendak Tuhan ini supaya kita diberkati-Nya, jikalau tidak maka kita akan berbentur dengan Allah. Seluruh anggota keluarga seharusnya bertumbuh ke arah Tuhan, dan Tuhan menjadi pusat serta penentu arah dari semuanya.

Kegagalan Ishak yang lainnya adalah tidak memimpin keluarganya untuk mencari Tuhan, tidak mendidik anaknya di dalam Tuhan. Hal ini berbeda dengan Yakub di usia tuanya. Ketika berada di Betel, Yakub memerintahkan dengan tegas agar semua orang melepaskan berhalanya.  Hal ini merupakan sebuah ketegasan untuk membawa seluruh keluarga datang kepada Tuhan, beribadah kepada Tuhan, dan menerima janji Tuhan. Imam Eli juga gagal dalam mendidik anak-anaknya. Anak-anaknya berbuat kejahatan di rumah Tuhan dengan mengambil bagian persembahan untuk Tuhan bagi dirinya sendiri. Akhirnya Tuhan membuang mereka dari jabatan keimaman. Kehormatan untuk mereka melayani Tuhan ditiadakan. Mendidik anak di dalam Tuhan bukan berarti dengan paksaan melainkan dengan keteladanan dari orang tua dan juga mengajak anak memikirkan dan mempertimbangkan baik-baik lalu mengambil keputusan dengan benar, seperti yang dilakukan oleh Yosua.

Kegagalan Ishak yang lain lagi adalah dia tidak sehati dengan istrinya. Keluarga yang demikian akan berjalan dengan sulit terutama ketika harus mengambil keputusan.

Kegagalan berikutnya adalah gagal dalam mendidik anak tentang nilai-nilai rohani, moral, dan keluarga, seperti: saling memperhatikan, membentuk keintiman. Yakub tua adalah sebuah contoh yang baik. Dia tidak memilih Ruben (anak sulungnya) sebagai penerus kepemimpinan, juga bukan Yusuf (berkedudukan sebagai Perdana Menteri), melainkan memilih Yehuda. Hal ini menunjukkan ketajaman melihat dari Yakub. Walaupun demikian, posisi Yusuf tidaklah lebih kalah daripada Yehuda. Yusuf tidaklah diremehkan oleh Yakub, bahkan 2 anak Yusuf dijadikan kepunyaan Yakub sehingga posisinya setara dengan anak-anak Yakub.

Ishak juga membiarkan begitu saja Esau menikahi gadis Kanaan. Selain itu Alkitab juga mencatat bahwa mata Ishak rabun. Jasmani dan rohani seseorang adalah berhubungan. Ketika Imam Eli tua matanya juga rabun dan ketika itu kerohaniannya juga tidak jelas. Abraham dan Musa tua tidak dikatakan matanya rabun. Yakub tua matanya juga rabun akibat banyak menangis. Tangisannya adalah tangisan pertobatan. Dia memberkati anak-anaknya dengan mata rohani yang sangat jelas. Jadi fisik kita juga perlu diperhatikan supaya kita bisa melayani Tuhan dengan baik dan memiliki pertimbangan rohani yang semakin tajam.

Ribka ingin berkat Ishak diberikan kepada Yakub. Hal ini disebabkan oleh faktor favoritisme ataukah Ribka mendengar nubuat Tuhan mengenai Esau dan Yakub. Ribka mendorong Yakub untuk melakukan siasatnya. Salahkah Ribka berbuat demikian? Apakah kalau Ribka tidak bersiasat maka Yakub tidak diberkati? Tujuan Ribka adalah benar tetapi cara yang ditempuhnya salah. Cara yang salah akan merusak tujuan yang benar. Tuhan tidaklah perlu dibantu oleh manusia, apalagi dengan cara menipu. Jikalau Ribka memiliki kerohanian yang benar, tujuan yang benar dan cara yang benar, maka seharusnya dia berdoa meminta Tuhan melembutkan hati suaminya sampai suaminya bisa seia sekata dengannya dalam mengerti kehendak Tuhan. Suami/ istri hendaklah mendoakan pasangannya supaya diubahkan oleh Tuhan tetapi disertai dengan hati yang mau terlebih dahulu diubahkan oleh Tuhan. Doa orang benar adalah besar kuasanya.  

Waktu-waktu rutin kita sepertinya tidaklah begitu penting, padahal justru hal-hal kecil adalah yang penting. Hal-hal kecil itulah yang menentukan peristiwa besar. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil.

Yakub semula takut dituduh memperolok-olok ayahnya lalu dikutuk oleh ayahnya jika ketahuan berbohong, tetapi Ribka berkata bahwa dia akan menanggung hal itu. Tuhan Yesus berkata di atas kayu salib bahwa manusia tidak tahu apa yang mereka ucapkan dan lakukan. Omongan orang bisa salah. Hati nurani kita perlu diikat oleh kebenaran Firman Tuhan. Kalau kita menjadikan Firman Tuhan sebagai pegangan hidup kita maka kita tidak akan kecewa karena Tuhan tidak pernah mengecewakan kita.  

Seringkali kitapun memiliki mental hukum seperti Yakub, yaitu berani melakukan dosa jika tidak ada yang tahu. Hal ini berbeda dengan Yusuf muda, yang menolak ajakan istri tuannya untuk bersetubuh walaupun tidak ada yang tahu/ melihat. Yusuf lebih takut kepada Tuhan daripada akibat dari penolakan itu yaitu seluruh perjuangan karirnya menjadi habis, dia masuk penjara. Bagi Yusuf, lebih baik kehilangan semuanya daripada kehilangan perkenanan Allah.

Yakub muda berhasil mendapatkan berkat dari ayahnya. Berwujud apakah berkat itu? Setelah diberkati, Yakub justru melarikan diri dari Esau. Setelah sekian lama, dia kembali ke rumah ayahnya dengan membawa ternak yang sangat banyak. Itu semua pasti bukanlah yang semula dia inginkan melainkan merupakan pemberian dari Tuhan. Yakub telah melakukan kesalahan, maka akibatnya dia juga ditipu Laban 10 kali. Yakub bertobat di usia tuanya. Setelah dia bertobat, lahirlah Yusuf. Anak yang lahir dari orang tua yang sudah bertobat tentulah berbeda dengan anak yang lahir dari orang tua yang belum bertobat.

Kepemimpinan rohani yang gagal akan mengakibatkan keluarga menjadi terpecah belah dan tidak bahagia. Setelah bertobat, hidup Yakub menjadi diselamatkan dan diberkati oleh Tuhan, dan dia memiliki anak yang begitu mulia yaitu Yusuf.  

 

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)