Ringkasan Khotbah : 25 Januari 2015

Proper Life Position

NatsRoma 12:3

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Roma 12 merupakan bagian praktis yang mengajarkan kepada kita bagaimana hidup sebagai orang Kristen. Pada pembahasan yang lalu kita telah belajar mengenai ibadah yang sejati. Kebaktian Minggu hanya merupakan bagian dari ibadah kita. Ibadah adalah bagaimana kita menggarap seluruh kehidupan kita yang ditaklukkan di hadapan Tuhan. Pada hari Minggu kita melakukan kebaktian dengan kesadaran bahwa kita memulai hidup kita dari Tuhan. Liturgi dalam kebaktian Minggu telah dipikirkan ratusan tahun lamanya dan merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Liturgi terdiri dari elemen-elemen yang menggambarkan totalitas dari kehidupan kita. Di awal kebaktian Minggu dilakukan votum, yang menggambarkan Allah sebagai pusat kehidupan kita. Votum langsung direspon dengan pujian yang bersifat vertikal untuk mengarahkan hati kepada Tuhan dan memiliki kegentaran di hadapan Tuhan. Firman Tuhan merupakan isi utama dalam kebaktian, yang mengajar kita untuk memiliki hidup yang beribadah. Setelah Firman Tuhan disampaikan, jemaat berdiri untuk menyampaikan pengakuan imannya dengan Pengakuan Iman Rasuli. Pada akhir kebaktian kita menyadari bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan dan kita mau mengembalikannya dalam wujud persembahan. Selesai kebaktian, kita semua keluar ruangan dengan tekad memiliki hidup yang beribadah setelah menerima doa berkat.

Roma 1-11 menjelaskan perubahan kehidupan dari kehidupan yang berdosa (fasik dan lalim), yang menjadikan Tuhan hanya sebagai asesoris, yang meniadakan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Paulus mengatakan bahwa semua manusia sudah berdosa dan upah dosa adalah maut. Hanya Tuhan yang bisa menyelesaikan masalah ini. Roma 9-11 secara tajam membahas tentang doktrin predestinasi, yaitu bagaimana Tuhan memilih umat-Nya (bangsa Yahudi), dan bagaimana Tuhan membuang bangsa Yahudi lalu melibatkan bangsa-bangsa lain supaya berbagian dalam umat pilihan Tuhan. Setelah menjelaskan semuanya itu, Paulus kemudian menjelaskan tentang ibadah. Ibadah dikerjakan karena menyadari bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia; bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Sebagai orang Kristen, seluruh kehidupan kita haruslah dimulai dari Tuhan Allah. Tuhan adalah inisiator/ awal dan sumber dari kehidupan umat-Nya. Kata ‘’ibadah’’ dalam bahasa Yunani maupun Ibrani berarti: menundukkan diri di hadapan Tuhan dengan kepala menyentuh tanah. Hal ini berarti bahwa kita menyembah, takluk sampai diatur sepenuhnya, taat dan menyerah total kepada Tuhan. Inilah hidup orang-orang Kristen yang patut.

Roma 12 menyatakan bahwa ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Tuhan bukan meminta roh kita karena roh kita sudah menjadi milik Tuhan pada waktu kita menjadi umat-Nya. Orang yang rohnya menjadi milik Tuhan, belumlah tentu mau menyerahkan tubuhnya untuk dipakai oleh Tuhan. Orang demikian hidup secara dualisme, yang dikenal dengan istilah neo-platonik. Neo-platonik mengajarkan bahwa manusia mempunyai unsur rohani dan unsur jasmani yang tidak berhubungan satu sama lain. Ajaran ini juga masuk ke dalam kekristenan, yang mengajarkan bahwa kehidupan dalam gereja berbeda dengan kehidupan di luar gereja; gereja hanya mengajar hal-hal rohani dan tidak menyentuh aspek hidup lainnya, seperti: budaya, ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, dll.

Tuhan menginginkan sebuah kehidupan yang terintegrasi, yang berkaitan dengan rohani maupun jasmani, yang berkaitan dengan seluruh karakter maupun intelektualitas kita. Dengan mempersembahkan tubuh kita maka kita akan menjadi orang Kristen yang utuh, dan itulah ibadah yang sejati.

Banyak orang yang mengaku sebagai orang Kristen tetapi memiliki hidup yang berpusat pada diri dan untuk kepentingan diri. Tuhan tidaklah menyukai hidup yang seperti ini. Tuhan suka akan hidup yang bersandar kepada Tuhan, seluruh hidup kembali untuk kemuliaan Tuhan, hidup taat pada pimpinan Tuhan. Soli Deo Gloria bukanlah sekedar slogan melainkan merupakan sebuah prinsip untuk kita menjalankan hidup ini. Semua yang dikerjakan seharusnya menggarap urusan Tuhan, bukan urusan pribadi manusia.

Nats hari ini membicarakan 3 hal penting dalam membangun kehidupan praktis yaitu:

1) predestinasi

Paulus mulai dengan kalimat demikian: Berdasarkan kasih karunia/ anugerah yang dianugerahkan kepadaku, ... Kehidupan praktis bukanlah dimulai dengan apa yang ada pada diri kita. Orang dunia memulai dengan apa yang ada pada dirinya dan mengejar apa yang tidak ada pada dirinya/ apa yang menjadi mimpinya. Orang Kristen haruslah mulai dari Tuhan. Semua hal bermula dari Allah, termasuk hidup kita. Inilah beda antara orang yang beriman kepada Tuhan dengan orang beragama yang tidak beriman kepada Tuhan.

Kekuatan orang Kristen berasal dari pengetahuan bahwa hidupnya tidaklah berjalan sendirian. Di tengah dunia yang rusak dan banyak tekanan ini, kalau kita berjalan sendirian maka kita akan habis. Kalau Tuhan ada di belakang kita, siapakah lawan kita? Kalau kita berjalan menjalankan tugas yang Tuhan berikan, maka Dia ada di belakang kita, lalu siapa yang lawan kita?   

Siapakah kita, dari manakah kita, ke manakah kita, tidaklah bisa dijawab oleh semua filsafat dunia, dan hanya bisa dijawab oleh predestinasi. Kita adalah ciptaan Tuhan, diciptakan di dalam Kristus Yesus, untuk mengerjakan pekerjaan baik yang Dia mau, Dia mau supaya kita ada di dalamnya. Di antara berjuta-juta manusia, berjuta-juta umat beragama, berjuta-juta orang Kristen, Dia memilih orang yang mau Dia pakai. Kalau kita bisa hidup beribadah kepada Tuhan maka hal itu merupakan anugerah dari Tuhan. Orang yang hidupnya tidak berdasarkan predestinasi maka hidupnya akan terkatung-katung dan tidak jelas arahnya. Anugerah Tuhan tiba atas diri kita bukan karena kehebatan kita, dan tidak ada unsur apapun dari diri kita yang melayakkan kita menerima anugerah itu. Kita adalah manusia celaka, yang berdosa dan layak dimatikan.

Tuhan memilih kita supaya kita berubah dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menjadi hidup yang memuliakan Tuhan. Paulus semula begitu bangga dengan kebangsaannya sebagai orang Israel, bangga dengan intelektualitasnya sehingga bisa menjadi orang Farisi, bangga sebagai pekerja keras yang giat berjuang. Semuanya itu adalah kebanggaan humanistiknya. Paulus mengatakan bahwa setelah dia mengenal Kristus, semuanya itu menjadi sampah. Seberapa kita mempunyai kekuatan seperti Paulus, yang membuang semua kebanggaan duniawinya? Di hadapan Tuhan kita ini tidak ada apa-apanya dan begitu bodoh. Untuk menghidupi hidup Kristen, kita harus keluar dari pola hidup lama kita, membongkar pikiran kita dan kembali kepada semangat Kristen. Tuhan menginginkan kita mengalami pembaharuan akal budi (Roma 12:2). Terjemahan LAI atas Roma 12:2 adalah salah; yang harus dibaharui adalah akal budi, bukan budi/ perilaku.

Setiap kali kita memulai hari yang baru, kita harus sadar bahwa hidup kita adalah dari Tuhan, dan oleh Tuhan, dan untuk Tuhan; bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Hari ini adalah harinya Tuhan, maka kita harus berjalan sesuai dengan yang Tuhan mau. Kita harus menjalani hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau kita belum mengerti kehendak Tuhan, maka kita harus meminta ampun kepada-Nya, dan mohon Dia mendidik kita supaya bisa mengerti kehendak-Nya. Sepanjang hidup bukan mengejar kemuliaan diri melainkan bisa menjadi berkat bagi banyak orang supaya orang lain pun bisa memuliakan Tuhan. Itulah ibadah yang sejati. Kita bisa menjalankan semuanya itu bermula dari anugerah Tuhan.

Predestinasi membuat langkah praktis kita jelas arahnya. Predestinasi menjadikan kita kuat dalam melangkah. Di dalam Tuhan yang absolut, semua gerak menjadi jelas karena kita tahu prinsip yang absolut. Ketika kita mulai dengan konsep predestinasi maka kita mulai dengan kebenaran. Seluruh hidup dimulai dengan etika yang dibereskan. Setiap langkah kita merupakan keputusan etis. Kekristenan adalah etika motivasi, artinya: etika bukan dilihat dari perbuatannya melainkan dari motivasinya; motivasinya untuk Tuhan atau bukan. Tuhan sangat suka jika seluruh motivasi diarahkan untuk Tuhan.  

2) mengukur diri secara tepat

Sangatlah sulit bagi manusia untuk mengenali dirinya. Manusia tidak tahu diri karena dia tidak tahu posisinya yang seharusnya. Manusia selalu berpikiran lebih tinggi dari dirinya. Para motivator selalu menggeber manusia supaya ‘’mengapung setinggi-tingginya’’ karena manusia mempunyai jiwa ingin seperti Tuhan. Manusia tidak bisa hidup di alam mimpi melainkan harus bersikap realistis. Supaya dapat hidup realistis, manusia harus mengerti siapa dirinya secara riil. Sekolah yang beres akan membantu kita mengenali diri kita yang sesungguhnya, dengan cara menggarap spiritualitas, mentalitas, intelektualitas dan ketrampilan. Spiritualitas merupakan pusat untuk mengenal semuanya. Calvin mengatakan bahwa mengenal diri dimulai dengan mengenal Allah. Mengenal diri berarti mengenali kekurangan dan kelebihan dirinya sehingga bisa menggarap hidupnya secara pas. Pada waktu kita berada di dalam ukuran diri yang pas maka kita tidak akan berlebihan dalam berjuang dan hidup tidak diboroskan; kita tahu bagaimana menggarap hidup kita sesuai dengan panggilan Tuhan; kita akan dapat mengerjakan bagian kita dengan tanggung jawab penuh/ sebaik mungkin.

Tuhan tidak menuntut semua orang secara sama, misalnya: sama-sama pandai, sama-sama cantik, dll. Tuhan menuntut manusia sesuai dengan apa yang Tuhan berikan. Dengan kembali kepada Tuhan maka kita akan dapat mengukur diri secara tepat.

3)  mempunyai ukuran iman

Iman seseorang akan mempengaruhi tindakannya. Iman New Age mengajarkan bahwa manusia mempunyai kekuatan yang tidak terbatas sehingga bisa melakukan apapun yang dia inginkan. Iman materialis mengajarkan bahwa materi/ uang adalah segalanya. Iman yang tidak beres akan menjadikan ukurannya juga tidak beres. Ukuran iman itu akan mempengaruhi seluruh kehidupan praktis seseorang. Jadi sangatlah penting untuk membereskan seluruh ukuran iman atau pengertian doktrin kita. Dalam seluruh aspek hidup, prinsip Firman Tuhan haruslah menjadi pegangan hidup.

Tuhan ingin kita membereskan hidup kita dan kembali kepada jalurnya Tuhan supaya kita bisa berbuah lebat untuk kemuliaan-Nya. Tuhan bukan ingin kita menjadi gendut melainkan Tuhan ingin kita menghasilkan buah yang lebat. Kalau kita berbuah lebat, maka Tuhan akan memberkati hidup kita dan menyertai kita di sepanjang hidup kita.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)