Ringkasan Khotbah : 11 Januari 2015

Dinamika Iman Kristen

NatsMazmur 17:1-2, 13-15; 1Samuel 23:14-24:3

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Nats hari ini merupakan doa Daud, yang di dalamnya terangkai permohonan demi permohonan dan diakhiri dengan sebuah kalimat: aku puas dengan rupa-Mu. Apa yang menjadi dasar bagi Daud mengeluarkan kalimat seperti itu? Konteksnya tertulis dalam 1Samuel 23:14-24:3, yang menyinggung nama tempat: padang gurun Zif, padang gurun Maon, padang gurun En-Gedi. Pada hari itu Daud sudah menjadi seorang raja karena Allah sudah mengurapi dia dengan minyak. Allah memberikan kesempatan kepada Daud untuk menunjukkan kegemilangan demi kegemilangan dalam peperangan melawan Filistin. Suatu kali ketika raja Saul pulang dari peperangan, dia dielu-elukan oleh seluruh bangsa Israel demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh tetapi Daud berlaksa-laksa. Perbandingan ini membuat Daud berada di posisi yang sangat sulit sebab Saul mulai memendam rasa benci dan marah terhadap Daud akibat kalimat perbandingan di atas. Saul mulai berikhtiar membunuh Daud. Daud pun melarikan diri dari Saul, dan mulai saat itu Daud terus dikejar-kejar oleh Saul dan pasukannya. Daud terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Kemenangan demi kemenangan yang Tuhan berikan kepada Daud justru ‘’menjerumuskan’’ Daud ke dalam situasi menjadi seorang pelarian. Tuhan memberkati Daud menunjukkan akan perkenanan Tuhan terhadap Daud, tetapi di sisi lain justru mendatangkan kebencian orang terhadap Daud. Mazmur 17 merupakan pergumulan dari Daud yang sedang menghadapi konteks seperti di atas. Kalau Daud tidak menuliskan hal ini maka kita tidak akan mengetahui sampai seberapa kesusahan dan ketakutan yang dialami oleh Daud, juga relasi antara realita yang dia hadapi dengan Tuhan yang memanggil dia. Inilah pergumulan di dalam diri Daud.

Pergumulan yang tampak di luar diri Daud adalah dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain tetapi Tuhan tidak menyerahkan dia ke dalam tangan Saul. Kalimat ini tampak begitu indah. Adalah lebih penting memahami pergumulan di dalam diri, yaitu pergumulan dalam memahami diri Allah dan semua yang diizinkan-Nya terjadi. Pergumulan di dalam diri ini akan memberi warna terhadap pergumulan yang kelihatan di luar diri. Pergumulan di dalam diri bersifat pribadi dan tidak bisa meniru pergumulan orang lain. Untuk dapat mengeluarkan kalimat-kalimat pergumulan yang berkualitas maka seseorang haruslah melewati penderitaan terlebih dahulu. Pergumulan di dalam diri ini akan menjadi dasar/ poros bagi seseorang untuk mengamini bahwa Allah itu menolong dan memelihara dia.

Khotbah hari ini akan saya bagi menjadi 2 yaitu:

1)     Seruan permohonan akan kebenaran kepada Allah.

Dalam situasi sulit yang dihadapi Daud, dia melakukan doa kepada Allah. Apakah tidak ada cara lain yang lebih hebat selain dari doa? Daud hanya berdoa dan berdoa. Cara ini merupakan cara kuno. Kita berdoa karena kita tahu bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar selain Tuhan. Secara pengajaran kekristenan konvensional, doa dikatakan memiliki kuasa yang begitu besar. Ketika diri merasa sudah semakin bertumbuh dewasa secara rohani, manusia cenderung merasa bahwa doa adalah sebuah cara kuno.

Tuhan memang hanya memerintahkan umat-Nya untuk berdoa. Apa saja yang muncul di dalam doa-doa Daud? Ternyata kalimat-kalimatnya begitu tajam. Daud mulai mengkonfrontasikan antara Tuhan, yang adalah dirinya kebenaran, dengan dirinya, yang tidak ada kejahatan di dalamnya. Daud dengan berani meminta Allah untuk memverifikasi hidupnya. Hal ini merupakan ujian bagi kemurnian dan integritasnya. Daud berani berkata kepada Tuhan bahwa tidak ada ketidakbenaran di dalam dirinya. Orang yang seperti inilah yang berhak meminta perlindungan/ pertolongan dari Allah. Kalau tidak demikian, kita akan menjadi orang saleh yang hipokrit/ munafik yaitu orang yang tidak mengkaitkan antara relasi dengan Tuhan dengan keberadaan dirinya.

Orang Kristen yang hipokrit memang melakukan doa tetapi tidak peduli terhadap kesucian hidup dan di dalam dirinya banyak melakukan kesalahan tetapi sudah dimaklumi/ ditutupi dengan alasan bahwa dirinya dekat dengan Allah. Allah tidak saja mendengar doa tetapi Dia juga melihat orang yang berdoa. Jikalau ada kejahatan di dalam hati seseorang maka Tuhan tidak akan memberkati orang itu walaupun Dia mendengar doanya. Sesuatu yang rohani memang mudah dipakai untuk menipu banyak orang tetapi Tuhan tidak mungkin tertipu dengan hal-hal rohani yang ditampilkan.

Bukanlah kerohanian yang tampak di luar dari seseorang yang penting melainkan apakah orang itu selalu mengejar kebenaran Allah di dalam dirinya. Kita banyak dijejali dengan berbagai pengajaran untuk membedakan tentang kekristenan dengan yang bukan Kristen tetapi hampir tidak pernah dilatih untuk hidup di dalam kebenaran. Kita banyak dilatih mengenai doktrin-doktrin Kristen tetapi hampir tidak pernah dilatih untuk berjalan di dalam kehidupan Kristen. Kita dilatih untuk berdoa tetapi hampir tidak pernah dilatih untuk menguji diri di dalam berdoa. Kita banyak dilatih hal-hal yang berkaitan dengan otak tetapi tidak banyak dilatih menyangkut kepuasan hati. Hal ini akan membawa kita kepada kesulitan besar untuk memahami Tuhan yang memberkati tetapi justru membawa kita kepada kesulitan. Muncullah sakit hati demi sakit hati karena tidak bisa mengkaitkan realita hidup dengan hati kita. Hal ini disebabkan karena Tuhan tidak berkenan akan doa orang yang hatinya tidak beres. Anugerah Tuhan dimengerti di awal hidup Kristennya tetapi tidak ditemukan lagi dalam perjalanan hidup Kristennya. Mulailah orang berpindah dari anugerah menjadi kerja, bahkan mulai bertarung dengan Allah, dengan mengatakan: aku sudah melakukan semua hal yang aku mengerti untuk mendekati Engkau, ya Tuhan, tetapi mengapa semuanya tidak mengalami perubahan? Orang demikian tidak pernah berpikir bahwa dia tidak layak untuk menghampiri Allah.   

Daud merasa dirinya tidak layak di hadapan Allah. Hal ini tampak pada ayat 3 yaitu: ... pada waktu malam, ... ‘’Malam’’ dimaksudkan oleh Daud bahwa dia sedang berada dalam kematian. Hal ini menunjukkan bahwa Daud bersifat pasif dan sedang berteriak meminta pertolongan dari Tuhan. Semakin Daud mendekati Allah, dia semakin merasa bahwa dirinya mendekati dunia orang mati. Daud begitu ketakutan karena dikejar-kejar Saul dan juga semakin mendekati Allah dia semakin merasa dirinya tidak layak. Orang yang seperti inilah yang berkenan kepada Tuhan. Inilah kekayaan rohani yang sejati karena merasa diri begitu miskin di hadapan Allah.  

2)     Seruan permohonan akan pertolongan Allah.

Saul oleh Daud digambarkan sebagai orang fasik yang menggagahinya, musuh yang mengepungnya, yang tidak menunjukkan belas kasihan, yang mengerumuni dia, yang rupanya seperti singa yang bernafsu untuk menerkam dan mengendap di tempat yang tersembunyi. Musuh yang utama di dalam dirinya, yang berusaha menghancurkan dia adalah ketidakberesan di dalam hatinya.

Dalam pelariannya, Daud tidaklah melakukan konfrontasi terhadap Saul karena dia menghindari terjadinya pertumpahan darah. Daud menemukan kasih Allah dengan cara yang berbeda. Dia juga menemukan bahwa Allah yang dia mintai pertolongan adalah Allah yang berhati-hati dalam memperlakukan anak-anak-Nya. Allah yang penuh kasih memberikan kejutan dengan menyuruh Saul menghadapi orang Filistin terlebih dahulu pada waktu Saul sedang mengejar Daud. Daud bisa menarik nafas sejenak tetapi persoalan masih belum selesai, dan masih ada peristiwa pengejaran lagi di tempat lain. Kasih Allah yang menyambung nafas untuk dapat hidup sedikit lebih panjang.

Dalam ayat 15 Daud mengatakan: ... pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu. Hal ini menggambarkan kebangkitan. Dalam kebangkitan itu Daud menjadi puas melihat rupa Tuhan yang sudah menolong dia lepas dari padang gurun Maon. Ketika di Maon sepertinya adalah akhir hidup Daud karena dia sudah dikepung habis oleh Saul dan pasukannya, tetapi Tuhan masih menambah sedikit panjang hidupnya. Walau padang gurun En-Gedi sudah menunggu, Daud sudah cukup puas dengan peristiwa di Maon. Hal ini bukan sekedar menunjukkan kasih Allah tetapi juga Allah begitu berhati-hati dalam melakukan setiap detail hidup anak-anak-Nya.

Tuhan pasti berhati-hati dalam memperlakukan anak-anak-Nya tetapi bukan berarti kita diperlakukan secara istimewa. Saya dulu pernah berpikir bahwa hamba Tuhan tidak boleh mengalami kecelakaan/ kesusahan. Pemikiran itu adalah salah. Tuhan tahu bagian yang mana yang rapuh/ yang sensitif dan Dia tahu bagaimana harus memperlakukannya. Dosa orang Kristen adalah selalu saja merasa curiga terhadap Allah. Kita seharusnya berdoa minta tolong Tuhan agar kita bisa bangun dan merasa puas melihat rupa-Nya.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, tetapi percayalah bahwa Tuhan pasti berhati-hati dalam memperlakukan anak-anak-Nya. Hal ini tentu saja membutuhkan waktu. Ada padang gurun Zif, padang gurun Maon dan padang gurun En-Gedi, yang mana semuanya merupakan bayang-bayang di bawah kubur, tetapi Tuhan janji akan membangunkan kita dalam kebenaran dan melihat wajah-Nya. Kita akan menemukan kepuasan karenanya. Itulah kekayaan kelimpahan kehidupan rohani kita.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)