Ringkasan Khotbah : 04 Januari 2015

Life & Living Sacrifice

NatsRoma 12:1

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Ketika Tuhan memberi kita kesempatan untuk memasuki suatu tahun yang baru, berarti kita harus berpikir secara meluas mengenai apa yang harus kita kerjakan di tahun yang baru ini. Dalam sebuah buku, yang ditulis pada tahun 1946, dengan latar belakang kamp konsentrasi militer Jerman, yang diberi judul ‘’Man Search For Meaning’’, dikatakan bahwa hidup manusia haruslah dimulai dengan makna. Manusia yang hidup dalam kenyamanan tidak akan pernah berpikir tentang makna hidupnya. Ketika dia tidak memikirkan makna hidupnya di dalam kenyamanan hidupnya itu, justru dia sedang menghancurkan hidupnya. Hidup yang dijalaninya terasa hanya berputar tanpa memiliki makna, dan pada saat itu manusia kehilangan unsur kemanusiaannya.

Manusia mulai mencari makna hidupnya ketika dia sedang berada di dalam krisis. Muncullah berbagai pertanyaan seperti: mengapa harus hidup, kalau mati bagaimana, dll. Pada saat itulah manusia baru sadar bahwa dia tidaklah sekedar hidup tetapi hidupnya perlu makna. Di mana dan bagaimana caranya mengerti makna hidup? Di satu pihak manusia ingin sukses dalam menjalani hidupnya tetapi di pihak lain manusia tidaklah tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Dua hal ini menimbulkan kegalauan dalam diri manusia. Sebagai akibatnya adalah manusia menjadi skeptis/ tidak peduli sehingga dia kembali jatuh ke dalam hidup yang bersifat rutin semata.

Di dalam kamp konsentrasi militer, yang diceritakan dalam buku di atas, terdapat 3 golongan manusia, yaitu: 1) golongan manusia yang optimis, yang terus berjuang mencari makna hidup walaupun dalam keadaan yang sepertinya tanpa pengharapan; 2) golongan manusia yang pesimis, yang kehilangan pengharapan walau dalam kondisi ada makna hidup; 3) golongan manusia yang skeptis, yang tidak peduli lagi dan menjalani hidup begitu saja. Golongan ke-3 inilah yang terbanyak jumlahnya. Apakah bedanya manusia dengan binatang kalau manusia menjalani hidupnya begitu saja? Manusia mempunyai cara dan arah untuk menapaki waktu ke depan. 

Paulus, dalam Roma 12:1, mengajarkan kepada kita bagaimana caranya hidup di tengah-tengah situasi yang sepertinya paling tidak mungkin. Inilah yang memberikan kekuatan kepada kekristenan sekaligus pembeda antara iman Kristen sejati dan iman yang lain.

Teriakan Tuhan Yesus pertama kali adalah: Bertobatlah, Kerajaan Surga sudah datang! Misi kedatangan Tuhan Yesus adalah untuk menegakkan Kerajaan-Nya. Kerajaan-Nya adalah umat pilihan-Nya. Kerajaan itu adalah kerajaan yang sangat dinamis, mulai dari yang kecil sekali seperti biji sesawi sampai yang besar sekali, yang digambarkan sebesar pohon di mana burung-burung bisa membangun sarang di dalamnya. Pembesaran ini berjuta-juta kali lipat. Kristus menjadi Sang Raja dalam Kerajaan Surga, yang memerintah dan mengontrol segala sesuatunya. Kerajaan ini menjadi kerajaan dimana Kristus menjalankan misi-Nya di tengah dunia ini. Menjelang akhir pelayanan-Nya, Kristus berkata bahwa ke dalam tangan-Nya diberikan segala kuasa di atas segala langit, di bawah bumi dan di atas bumi. Lalu, apa yang menjadi misi/ panggilan kita sebagai orang Kristen?

Orang dunia berbeda dengan orang Kristen. Orang dunia adalah orang berdosa yang memberontak terhadap Allah, yang tidak mau tunduk kepada Allah, yang bersifat fasik dan lalim. Mereka menggantikan Tuhan yang sejati dengan tuhan buatan mereka, dan akibatnya adalah: mereka keluar dari jalur Tuhan dan menuju kebinasaan. Tidak ada jalan keluar kecuali Kristus yang menjadi jalan pendamaian. Bagi sekelompok orang pilihan, Kristus menjadi jalan pendamaian bagi mereka, Kristus menjadi jalur di mana Kerajaan Surga dibentuk. Pimpinan Roh Kudus akan membawa kita melihat Kristus sebagai pusat/ yang utama dan yang pertama dari semua manusia. Orang yang menolak Tuhan akan dibuang. Umat Tuhan dibentuk bukan karena manusia yang mau ataupun suka melainkan karena Tuhan sendiri yang memilih. Orang tidak mungkin mencari Tuhan, kecuali orang yang mendapatkan Injil. Agar ada orang yang mendengar Injil, maka harus ada orang yang memberitakan Injil. Harus ada orang yang pergi memberitakan Injil, karena itu harus ada yang mengutus mereka. Paulus berkata bahwa berbahagialah orang yang diutus pergi untuk memberitakan Injil. Pekerjaan Tuhan begitu sistematik dan menggarap orang yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang sudah di dalam Tuhan, Tuhan mau kita menjadi alat Injil. Setelah orang mendengar Injil, ada yang beroleh anugerah Tuhan sehingga bertobat. Bertobat adalah keluar dari jalur yang lama, tidak memberontak terhadap Tuhan lagi, dan mau hidup setia menjalankan pimpinan Tuhan, menggarap misi Kerajaan Surga. Mengapa harus tunduk dan takluk kepada Tuhan? Roma 11 menjelaskan bahwa siapakah yang lebih bijaksana daripada Tuhan, siapa yang bisa menjadi penasehat Tuhan. Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Dalam Roma 12:1 Paulus menuliskan: aku menasihatkan kamu ... Menasihatkan di sini mengandung unsur memohon untuk dijalankan, bukan sekedar nasihat yang boleh dijalankan maupun boleh tidak dijalankan. Nasihat ini memiliki tingkat urgensi yang begitu serius untuk dikerjakan.

Orang Kristen di Roma pada waktu itu tidak bisa beribadah kepada Tuhan dengan nyaman, mereka harus bersembunyi di bawah tanah. Mereka hidup dalam kondisi sosial politik yang begitu susah. Hampir tidak mungkin orang Kristen bisa hidup berintegritas di tengah negara yang seperti itu. Hidup orang Romawi juga terkenal begitu hedonis. Banyak orang Kristen yang merasa tidak mungkin bisa hidup secara bermakna karena hidup mereka begitu terjepit. Akibatnya: mereka juga tidak mau tahu dengan perkataan yang penting sekalipun. Paulus merasa hal ini tidak bisa dibiarkan karena bisa membawa kepada kehancuran seperti yang pernah dia sendiri alami.

Paulus sebelum menjadi orang Kristen merupakan orang yang sangat ambisius. Dalam Filipi 2 dia menceritakan bahwa ketika dia berjuang demikian giatnya membela agama, pada dasarnya dia sedang membela namanya sendiri. Dia begitu pandai, mengerti filsafat Yunani dan tradisi Yahudi. Dia juga begitu kerja keras bahkan jika perlu mengorbankan dirinya. Semuanya itu dikerjakan untuk aktualisasi dirinya. Jadi Paulus bukan sekedar berteori melainkan dia mau merelasikan iman dengan kehidupan. Dia mengatakan bahwa semua yang dikerjakannya adalah sampah sampai dia bertemu dengan Tuhan Yesus. Ketika dia mengenal Kristus, maka seluruh arah hidupnya menjadi berbalik arah. Inilah pertobatan dalam Kerajaan Surga. Jadi Kerajaan Surga adalah kesadaran pertama bahwa kita adalah milik Tuhan dan seluruh pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan Dia, yang adalah Raja.

Manusia tidak punya daya melawan/ mengatasi alam apalagi melawan Tuhan. Keluar dari jalur Tuhan adalah hal yang bodoh. Seberapa pertobatan kita sampai pada titik ini? Seberapa kita menapaki tahun 2015 dengan kesadaran dan kepastian bahwa kita adalah milik Tuhan? Dunia akan terus bergelombang dan kita memerlukan pijakan yang tetap dan kokoh yaitu Tuhan. Tidak ada cara lain selain kembali kepada Tuhan. Inilah jalan yang terbaik. Masih relevankah di abad ke-21 ini kita berbicara tentang Tuhan? Jawabannya adalah: kita WAJIB kembali kepada Tuhan dan terus berjalan di jalur-Nya, menjalankan misi-Nya.

Tuhan ingin kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Ketika berbicara tentang aspek rohani, seringkali aspek tubuh dilewatkan; tetapi dalam nats hari ini Paulus justru menuntut kita mempersembahan tubuh kita karena Tuhan tidak menerima dualisme. Dualisme terjadi ketika manusia menyerahkan rohnya kepada Tuhan dan tubuhnya kepada setan/ dunia. Kekristenan bersifat menyeluruh. Manusia merupakan totalitas dari tubuh dan roh. Sifat kekekalan dan kesementaraan yang berlawanan ini menyatu dalam diri manusia. Seluruh totalitas kita haruslah menjadi milik Tuhan dan seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan kembali.

Mengapa harus mempersembahkan tubuh? Karena:

1)   Persembahan tubuh menjadikan seluruh hidup kita menjadi sah milik Tuhan. Manusia tidak bisa melarikan diri dari Tuhan.

2)   Ketika kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan menandakan bahwa kita bisa dipakai oleh Tuhan. Untuk bisa dipakai oleh Tuhan, kita harus membuang seluruh arogansi diri.

3)   Kita tidak bisa hidup dengan sistem split/ terpisah. Tuhan tidak suka jika kita hidup dengan ‘’banyak muka’’. Hidup akan menjadi beres jika menyatu/ terintegritas. Agar integritas hidup dapat beres, manusia harus dapat mengintegrasikan seluruh aspek hidupnya.

Marilah kita belajar untuk menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Allah yang berdaulat mempunyai cara yang jauh dari pemikiran manusia dan Dia tidak bisa dipermainkan. Mempersembahkan tubuh kita merupakan hidup Kristen yang asli.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)