Ringkasan Khotbah : 22 Desember 2013

Christian Axiology

NatsYakobus 2:5-8

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus membahas tentang kehidupan praktis orang Kristen. Menurut Yakobus, kehidupan praktis orang Kristen mencakup 3 aspek yaitu: 1) penderitaan, 2) intelektualitas/ pengetahuan, 3) keuangan. Agar kita beres dalam ketiga aspek itu maka kita harus balik kepada Tuhan, melihat segala aspek kehidupan dari sudut pandang Tuhan.

Yakobus membahas 3 aspek tersebut di atas dalam 4 kali putaran. Pembahasan hari ini adalah mengenai aspek keuangan putaran kedua. Dalam bahasan tentang aspek keuangan ini Yakobus masuk ke dalam pembahasan tentang nilai.

Di dalam dunia filsafat ada 2 bidang besar yaitu masalah epistemologi dan masalah aksiologi. Masalah aksiologi adalah masalah bagaimana kita menilai nilai. Menilai nilai adalah sangat penting karena semua manusia tidak bisa lepas dari menilai dan dinilai. Semua penilaian yang kita kerjakan bersifat begitu otomatis dan kita anggap benar. Dunia filsafat mempertanyakan apakah penilaian kita sudah benar? Bagaimana kalau ternyata penilaian kita salah atau kacau? Ketika kita menganggap sesuatu yang bernilai sebagai sesuatu yang tidak bernilai berarti kita telah meloloskan nilai yang tertinggi. Ketika kita menilai sesuatu terlalu tinggi dari nilainya yang sesungguhnya berarti kita mengalami kerugian. Ketika kita mempermainkan nilai kita maka yang hancur adalah diri kita sendiri.

Kerugian adalah sebuah kegagalan nilai. Rugi sebagai subjek nilai berarti kita menghargai objek terlalu tinggi, karena subjek nilai menilai objek tanpa mengerti tentang objek tersebut. Rugi sebagai objek nilai berarti orang lain menghargai objek terlalu rendah. Nilai dibagi menjadi 2 yaitu: 1) nilai ekstrinsik yaitu nilai yang diberikan subjek nilai kepada objek nilai, 2) nilai intrinsik yaitu nilai yang asli ada pada diri objek nilai. Nilai mencapai titik tertinggi jika nilai intrinsik mencapai titik tertinggi dan nilai ekstrinsik mengejar ke tempat tertinggi. Seekor anjing menilai semangkuk rawon lebih bernilai daripada sekilogram emas. Kita akan menganggap anjing tersebut sangat bodoh, padahal tanpa disadari kitapun melakukan hal yang sama. Manusia seringkali gagal menilai karena gagal dalam menilai intrinsik.

Paulus berkata bahwa celakalah manusia yang gagal menangkap nilai tertinggi. Dalam kehidupan kita, kehancuran kita disebabkan karena kita gagal menangkap nilai tertinggi. Nilai tertinggi adalah nilai yang dibangun dari nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik tidak berhak menentukan apapun di luar nilai intriksik. Orang yang bijaksana harus dapat memberikan nilai ekstrinsik yang sama dengan nilai intrinsik sebuah benda.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa apa yang bisa diberikan ganti sebuah nyawa? Apa artinya engkau mendapatkan seluruh dunia ini tetapi kehilangan nyawamu? Tuhan mengajarkan tentang konsep nilai. Kegagalan manusia adalah ketika menghargai materi begitu tinggi dan menempatkannya di tempat tertinggi, akibatnya semua yang berada di tempat tertinggi dibuang ke tempat yang rendah. Ketika manusia sudah menghargai uang begitu rupa maka dia tidak lagi menghargai nyawanya. Nilai yang paling tinggi adalah hidup. Orang yang mengerti tentang nilai yang sejati akan sadar bahwa nilai tidaklah berkaitan dengan angka materi. Orang yang bijaksana akan tembus dari semua kapasitas nilai angka dan tidak lagi dijebak oleh materi maupun angka.

Sebagai ilustrasi, seseorang membeli arloji seharga 50 juta rupiah untuk arloji yang sebenarnya berharga 5 juta rupiah. Dia mengalami “kerugian” sebesar 45 juta rupiah. Kejadian seperti ini berarti dia mengeluarkan uang sebesar 5 juta rupiah untuk membayar arloji tersebut dan 45 juta rupiah untuk pembelajaran yang amat sangat mahal dan tidak dapat diperoleh di sekolah manapun. Akibat peristiwa ini maka seumur hidup orang tersebut akan mengamati dan menilai barang dengan sangat teliti. Perubahan karakter ini sebenarnya dibayar dengan 45 juta rupiahpun tidaklah impas. Jikalau orang tersebut sejak awal kerugian terus menerus menyesali kerugiannya dan tidak mengalami perubahan karakter maka dia kemungkinan akan mengalami kerugian lagi bahkan kerugian yang lebih besar. Ketika kita bisa melihat nilai jauh di atas angka akan membuat kita jauh lebih agung dan lebih tajam menghargai apapun baik secara pemikiran maupun rohani.

Kesimpulan dari Yakobus 2:5-8 terdapat dalam ayat 8, maka pembahasan ini akan saya awali dari ayat 8. Dalam ayat ini Yakobus hendak mengajak kita untuk memiliki sikap yang benar-benar berbuat baik. Di tengah-tengah dunia ini kebajikan sangatlah penting dan muncul ketika kita mengasihi sesama kita. Ketika kita hanya ribut dengan urusan materi maka kita akan menjadi orang yang sangat egois; kita hanya sibuk mencari keuntungan materi dan keuntungan diri. Yakobus hendak membawa kita untuk mengerti nilai yang tertinggi yaitu kebajikan yang tertinggi.  

Seluruh filsafat Yunani post-Socrates sibuk memikirkan tentang kebajikan yang tertinggi. Sebelum zaman Socrates, manusia sibuk memikirkan tentang alam ini. Pada zaman Socrates mulailah dipertanyakan tentang arti dan tujuan hidup manusia. Filsafat berubah arah ketika Socrates dihukum mati, bukan karena berbuat salah melainkan karena pertanyaan-pertanyaan Socrates membuat orang menjadi goncang. Murid Socrates mulai jengkel dengan sifat masyarakat, lalu mengembangkan pikiran yang dikenal dengan sommum bonum/ kebajikan tertinggi.

Kita seringkali menilai orang lain baik maupun tidak baik. Apakah penilaian kita itu sudah benar? Apakah “baik” itu? Penilaian kita seringkali dibangun berdasarkan egois kita masing-masing. Kita menilai orang lain adalah baik jika dia menguntungkan kita, sebaliknya jika orang lain membuat kita menjadi susah maka kita menilai dia jahat. Dikatakan baik jika memenuhi egois. Egois adalah jahat.

Tuhan mengajarkan untuk manusia mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa dan segenap akal budi serta mengasihi sesama seperti dirimu sendiri. Manusia tidak suka akan prinsip itu tetapi lebih suka mengasihi diri/ egois. Inilah pertentangan kebajikan. Dari contoh-contoh di atas kelihatan bahwa kebajikan adalah untuk pemenuhan egois yang adalah jahat.

Ada juga orang yang berbuat baik supaya disebut sebagai orang baik, tetapi ketika ada orang yang tidak menghargai kebaikannya maka marahlah dia. Orang demikian berbuat baik dengan motivasi yang tidak baik maka kebaikan yang dilakukannya adalah kejahatan. Aristoteles mengatakan bahwa kebajikan sejati haruslah dilakukan dengan motivasi kebajikan itu dan untuk kebajikan itu sendiri. 

Kalau kita berbuat baik untuk mendapatkan sesuatu maka perbuatan itu adalah sebuah kejahatan. Kalau kita berbuat baik untuk mendapatkan surga maka hal itupun merupakan kejahatan. Manusia tidaklah bisa mengerjakan kebajikan sejati karena manusia berdosa. Ada 1 orang yang bisa mengerjakan kebajikan sejati yaitu Tuhan Yesus Kristus. Dia mau turun ke dalam dunia berdosa, tidur di palungan dalam sebuah kandang, menjadi anak seorang tukang kayu yang miskin. Semuanya itu dilakukan-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa. Dia sendiri tidaklah mendapatkan keuntungan apapun bagi Diri-Nya. Dia tidak mendapatkan kedudukan tinggi tetapi mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia. Kita menghina dan mempermainkan Dia tetapi Dia tetap mengasihi kita. Inkarnasi terjadi karena Kristus melakukan kebajikan sejati.

Kekristenan terjadi ketika kita diselamatkan tanpa harus melakukan apapun terlebih dahulu. Kalau kita melakukan sesuatu untuk mendapatkan keselamatan berarti kita sedang berbuat jahat, maka semakin kita berbuat baik untuk mendapatkan keselamatan berarti kita semakin jahat, dan akhirnya kita dibuang ke neraka. Alkitab berkata bahwa kita diselamatkan karena kasih karunia melalui iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, tidak ada seorangpun yang boleh memegahkan diri. Kita ini buatan Allah, yang dicipta di dalam Kristus Yesus, untuk melakukan pekerjaan baik yang telah disiapkan Allah sebelumnya. Dia mau supaya kita hidup di dalamnya.

Kita bisa berbuat baik karena kita sudah diselamatkan melalui iman. Setelah kita memperoleh anugerah barulah kita bisa berbuat baik. Perbuatan baik kita tidaklah mencari surga maupun jasa. Perbuatan baik itu bisa kita lakukan dengan murni karena kita sudah mendapatkan anugerah. Kebajikan sejati hanya bisa dilakukan oleh orang Kristen yang sudah mendapatkan anugerah keselamatan. Satu-satunya sistem keselamatan yang begitu tajam hanya ada dalam iman Kristen dan yang tidak bisa diselesaikan oleh agama manapun juga.

Orang dunia yang selalu melihat kekayaan akan bersifat manipulatif. Tuhan tidak pernah melihat nilai kekayaan seseorang. Orang yang sibuk dengan kekayaan tidak akan pernah menikmati kebajikan kecuali kebajikan untuk dirinya sendiri. Orang yang demikian berpikir bahwa dirinya adalah orang yang paling beruntung tetapi sebenarnya dia adalah orang yang paling miskin di dunia. Yakobus mengajak kita melihat bahwa Tuhan memakai orang yang dipandang miskin oleh dunia untuk mendapatkan kekayaan iman. Mendapatkan kekayaan iman itulah kekayaan yang sejati.

Orang kebanyakan tahu bahwa nilai sejati bukanlah yang kelihatan secara material melainkan jauh di atas material. Tetapi orang yang mengerti akan hal ini hanyalah sedikit. Manusia berdosa telah kehilangan nilai yang paling fatal yaitu kehilangan imannya. Manusia berdosa tidak lagi memiliki kekayaan iman atau hidup. Sebagai akibatnya, manusia menempelkan segala sesuatu untuk menggantikan nilai dirinya. Alangkah konyolnya kalau orang Kristen ikut-ikutan seperti itu. Yesus datang ke dunia ini untuk memberikan iman kepada kita dan kekayaan iman itu akan membuat seluruh pemikiran kita berubah. Orang dunia yang terus mengejar harta, dia tidak akan bisa mendapatkan nyawanya. Tanpa iman maka seluruh nilai yang kita kejar tidaklah ada artinya. Dengan kembali kepada Tuhan maka seluruh hidup kita akan menjadi bernilai.

Nilai tertinggi adalah ketika kita mendapatkan hidup kekal dan menjadi berkat bagi orang lain. Orang Kristen harus memiliki mata yang bukan melihat dunia tetapi melihat spiritualitas seseorang. Gereja harus melatih jemaat untuk melihat kerohanian seseorang. Hal ini akan menjadi budaya gereja. Sebaliknya, gereja juga akan memiliki budaya melihat orang kaya jika gereja terus mengajarkan jemaatnya melihat kepada orang kaya. Orang yang berani memberi untuk pekerjaan Tuhan berarti hatinya tertuju kepada Tuhan. Orang yang demikian adalah orang yang mau belajar untuk tidak terjebak oleh uang. Sangatlah susah untuk menaklukkan dewa Mamon. Kalau kita bisa menaklukkannya maka kita akan terbebas dari semua ikatan materi.

Seberapa mata kita tidak terkecoh dengan penilaian dari dunia ini dan terus berjuang untuk pekerjaan Tuhan? Biarlah kita belajar menghargai iman, kerohanian yang tulus sehingga akan membangun iman gereja/ jemaat untuk dapat mengatasi materialisme.

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)