Ringkasan Khotbah : 15 Desember 2013

Bagaimana Memahami Pemeliharaan Tuhan?

Nats Lukas 2:1-7

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Saat kita membaca/ mendengar cerita Natal, maka akan muncul di benak kita sebuah pikiran bahwa Tuhan sudah mengatur semuanya itu sedemikian rupa sehingga semuanya terfokus kepada sebuah kandang di Betlehem. Dengan kata lain kita juga mengatakan bahwa Tuhan sudah memelihara sedemikian rupa. Tuhan sudah mengatur, menata dan menjadikan segala sesuatu mungkin adanya. Tetapi sebelum kita sampai pada kesimpulan di atas, kita pasti menghadapi problema-problema yang susah untuk dijelaskan dan dipahami. Kalau Tuhan memelihara, lalu bagaimana saya bisa memahami pemeliharaan Tuhan pada saat ini dan di tempat ini. Kalau Tuhan memelihara, lalu mengapa saya masih menyimpan banyak pertanyaan “mengapa” dalam pikiran saya. Kalau Tuhan menata semuanya, lalu mengapa saya masih merasa gelisah ketika saya mencoba untuk memberikan kepercayaan kepada-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang muncul dalam benak orang Kristen di sepanjang abad. Doktrin tentang pemeliharaan Tuhan bertolak belakang dengan doktrin tentang bagaimana kita harus bersyukur kepada Tuhan. Doktrin tentang pemeliharaan Tuhan adalah sepertinya berkaitan dengan aspek masa mendatang, sedangkan kita bisa bersyukur kepada Tuhan selalu pada saat 1 langkah lebih lambat di belakang. Pada saat kita mengerti, maka barulah kita bisa bersyukur kepada Tuhan. Hal ini disebabkan karena pemahaman kita terhadap segala sesuatu tidaklah utuh seperti Tuhan.

Seorang teman saya, yang adalah seorang grand-master catur, mengatakan bahwa dia mempunyai paling tidak 6 rencana permainan dalam benaknya ketika dia bermain catur, dan dalam 6 rencana tersebut ada 5 varian dari setiap rencana. Kita yang tidak menguasai catur, hanyalah mempunyai 1 langkah sederhana yang mudah sekali ditebak sehingga mudah sekali dikalahkan. Demikian juga halnya ketika kita berhadapan dengan Allah lalu mencoba memahami pemeliharaan-Nya, maka Dia pasti punya banyak rencana, yang bukan sekedar 6 rencana dengan 5 varian dari masing-masing rencana. Dengan keterbatasan pikiran kita maka kita akan tertatih-tatih ketika mencoba untuk memahami kehendak Allah, walaupun kita tahu bahwa Tuhan mengatur, menata dan menjadikan semuanya mungkin adanya.

Memahami pemeliharaan Tuhan bukan sekedar bersifat masa mendatang, tetapi pada kenyataannya kita selalu 1 langkah di belakang karena kita tidaklah menguasai segalanya, sehingga kita harus berusaha memahami apakah kita sedang berjalan menuju kepada kebenaran dan pada akhirnya kita bisa mengakui bahwa Allah memelihara hidup kita. Pembahasan hari ini akan dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu:

1)     Prinsip kerendahan hati

Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, keponakan Julius Caesar, yang mengeluarkan perintah bagi semua orang di wilayah Kerajaan Romawi haruslah mengikuti sensus di kotanya sendiri-sendiri. Ide ini dimaksudkan untuk menarik upeti dari semua negara jajahan Romawi. Sensus ini merupakan yang pertama kalinya di seluruh wilayah Romawi. Cerita dalam Lukas 2:1-7 berkesan tidak rohani sama sekali karena hanya berisi data-data sejarah.

Sebenarnya, cerita dalam nats hari ini memiliki 2 wilayah yaitu wilayah yang kita lihat dan wilayah yang tidak kelihatan tetapi ada sesuatu yang Tuhan kerjakan di sana. Kita cenderung menggunakan banyak waktu untuk menggumuli peristiwa yang kita lihat, dan seringkali kita tidak menyadari adanya sesuatu yang terjadi di belakang sebuah peristiwa. Menurut pandangan kita, Tuhan tidaklah fair dalam cerita nats hari ini. Maria sedang hamil tua dan harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan mengendarai seekor keledai. Mengapa Tuhan tidak menunda pelaksanaan sensus atau memajukannya pada saat kehamilan Maria belum tua? Mengapa Tuhan tidak mengatur segalanya sehingga Yusuf, Maria maupun janin Yesus merasa nyaman dan semua orang di sekitarnya menjadi senang? Di sinilah perbedaan dari mata sekular dan mata iman.

Mata sekular yang saya maksudkan adalah: langkah pertama dimana seseorang mencoba memahami kehendak Tuhan. Tanda dari mata sekular adalah: semuanya dilihat dengan pertimbangan logis atau tidak logis, layak atau tidak layak, bisa atau tidak bisa. Mata sekular selalu akan menemukan berbagai alasan dan jawabannya sendiri yang berdasarkan pertimbangan akan kenyamanan yang mungkin kita dapatkan. Kita harus mencoba untuk menembus mata iman. Yang dimaksud dengan mata iman adalah: mata yang melihat sesuatu di balik. Mata sekular ketika melihat sebuah peristiwa akan berkata bahwa hal ini seharusnya tidak boleh demikian; Tuhan sepertinya “bodoh” dalam pandangan mata sekular. Dengan mata iman kita akan menemukan bahwa justru kitalah yang banyak sekali melakukan kebodohan. Kita tidaklah tahu segala sesuatu tetapi Tuhan tahu segala sesuatu seperti seorang pemain catur yang mempunyai berbagai varian strategi dalam permainan.

Kejadian dalam nats hari ini seperti terjadi karena adanya perintah Kaisar, tetapi di balik semuanya itu Tuhanlah yang memegang kendali/ kontrol, bahkan lebih dari itu yaitu Allah sedang bekerja. Apa yang Allah kerjakan akan mengungkap banyak sekali keterbatasan dan kebodohan yang kita buat. Pada saat kita tidak setuju dengan peristiwa yang terjadi maka itulah kebodohan yang sedang kita buat. Seharusnya kita bersikap rendah hati dan mengakui bahwa diri kita bodoh dan sombong. Alkitab berkata bahwa Tuhan menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendah hati berarti menyadari akan ketidakmengertian diri dan memohon Tuhan untuk menjaga agar kita tidak keluar dari batas-batas kesopanan terhadap Tuhan.

Kehadiran Kristus di dunia ini merupakan ungkapan kerendahan hati Kristus. Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan-Nya, melainkan Ia mengosongkan Diri-Nya sedemikian rupa. Anak Allah lahir di kandang dan dibaringkan di atas palungan. Anak Allah lahir dalam kondisi penolakan demi penolakan. Belajar untuk rendah hati adalah sulit dan memerlukan kerendahan hati. Kalau kita tidak memiliki keberanian untuk menjadi rendah hati maka kita akan menjadi orang Kristen yang sombong dengan mengatasnamakan kebenaran, selalu menuntut banyak hal, yang menuntut perhatian dari semua orang bahkan Allah dengan cara berkata: Tuhan, mengapa semuanya ini harus terjadi pada diriku? Ketika dalam hati kita terdapat ketidakrelaan maka sebenarnya kita sedang sombong.

Sebenarnya Tuhan Yesus berhak mendapatkan pelayanan yang terbaik dan segala fasilitas yang terbaik tetapi Dia melepaskan hak-Nya dan Tuhan sendiri yang akan memberikan kembali hak itu kalau Dia berkenan. Kalau kita tidak bisa rendah hati maka kita tidak akan bisa melihat bagaimana pemeliharaan Tuhan. Rendah hati juga berarti tahu bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi kita dan hidup kita bukanlah punya kita.

Anak Allah harus pergi ke Betlehem. Allah Bapa akan memelihara. Semuanya itu ada dalam kontrol Dia. Tuhan pasti tidak akan membiarkan bayi Yesus terbengkalai di jalan. Diperlukan kerendahan hati untuk bisa memahami hal di atas. Kalau hal ini belum beres maka semua hal di belakang juga akan tidak beres.

2)     Prinsip penderitaan

Penderitaan selalu ada ketika kita memikirkan tentang iman kita. Penderitaan yang saya maksudkan adalah penderitaan yang timbul karena adanya otoritas lain yang memerintah. Yesus Kristus mempunyai kehendak sendiri yang bersifat mutlak, berarti Dia tidak harus tunduk kepada otoritas siapapun. Kedudukan-Nya adalah setara dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Tetapi dalam peristiwa inkarnasi, Yesus tunduk kepada kemauan Allah Bapa. Itulah penderitaan. Penderitaan Kristus dimulai sejak di dalam rahim Maria.

Kitapun harus tunduk kepada otoritas Allah/ Alkitab maka kita akan menderita karena kita lebih cenderung suka dituntun oleh segala hal yang ada di depan mata yaitu yang mengejar kenyamanan.  Ketika kita tahu bahwa sebuah peristiwa harus terjadi untuk menggenapi kehendak Allah, lalu apa kaitannya dengan hidup kita?

Yesus memang sudah dinubuatkan dalam Mikha 5:1 bahwa Dia akan lahir di Betlehem. Tapi, apa kaitannya hal itu dengan kita? Hal itu untuk menunjukkan bahwa Allah tetap sama, Dia tetap mengingat janji-Nya, dan Dia setia. Terkadang Tuhan harus pukul kita dan membuat kita menderita agar kita bisa menemukan hal itu. Di dalam penderitaan terkadang kita menemukan kebenaran Allah. Seluruh hidup Kristus penuh dengan penderitaan tetapi penderitaan yang sesuai dengan kehendak Allah Bapa dan akan diterima oleh Allah. Kehadiran Kristus juga membawa penderitaan bagi Yusuf dan Maria. Dalam prinsip penderitaan, yang perlu diingat adalah bahwa Allah begitu mengasihi Anak-Nya yang tunggal. Kita akan melihat pemeliharaan Tuhan ketika kita sampai pada tahap rela taat kepada kehendak Allah.

Maria dan Yusuf bukanlah satu-satunya keluarga yang pergi ke Betlehem dengan penuh beban. Sangat mungkin ada orang lain yang lebih menderita daripada mereka. Kita seringkali merasa diri paling dan ter… dalam hidup ini, kita perlu mendapatkan perhatian dari Tuhan. Kalau konsep itu selalu ada pada diri kita maka kita akan menemukan penderitaan demi penderitaan dan berujung pada penderitaan. Ketika itu kita tidak melihat bahwa Allah sedang bekerja.

3)     Prinsip pembagian/ keseimbangan

Prinsip perbandingan akan membawa kita menemukan kesusahan sekaligus kesenangan dalam kesusahan yang akan selalu berjalan bersama. Kita tidaklah punya pilihan. Ketika kita mau taat kepada Tuhan maka kita juga harus ikut mengalami kesusahan tapi kita akan menemukan kesenangan di dalam kesusahan itu.

Dalam 3 Kitab Injil banyak ditulis mengenai kematian dan kebangkitan Kristus, berarti kedatangan Kristus di dunia adalah berfokus kepada kematian dan kebangkitan-Nya. Pada saat ini perayaan Natal dipenuhi dengan gemerlapan dan kemewahan di sana sini, tetapi perayaan Jumat Agung dan Paskah tidak pernah menyamainya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua orang suka bayi karena lucu, tidak ada ancaman pada dirinya, dan tidak bisa menjadi batu sandungan, serta dapat diatur. Orang suka dengan Natal karena orang suka dengan Tuhan yang bisa diatur, menyenangkan untuk dipikirkan dan menyenangkan untuk disembah; sebab Dia bayi. Saat ini Kristus adalah Tuhan yang duduk di sebelah kanan tahta Allah Bapa di Surga. Dia adalah Raja. Semakin kita menemukan bahwa Allah memelihara maka keseimbangan ini akan ada, kita akan tahu bagaimana harus bersikap di hadapan Tuhan, yaitu: kita tahu bagaimana harus taat, bagaimana harus tunduk, dan bagaimana harus takut.

Ketika kita menemukan bahwa Allah tetap mengontrol dan memelihara kita maka kita akan merasa nyaman, tenang dan teduh ketika kita percaya kepada Allah. Setelah itu kita akan menemukan kebenaran demi kebenaran dan kita akan tahu bahwa kita sedang berjalan bersama dengan Allah.     

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)