Ringkasan Khotbah : 1 Desember 2013

Menyembah Allah atau Mamon

Nats Yakobus 2:1-4

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus berbicara tentang hal praktis. Oleh Yakobus hal praktis dikelompokkan menjadi 3 kategori besar yaitu: penderitaan, intelektualitas, uang. Ketiga kategori kehidupan praktis ini mempengaruhi iman seseorang, dan sebaliknya iman seseorang akan mempengaruhi kehidupan praktisnya. Walaupun demikian, Yakobus tetap memulai dari pembenahan konsep iman/ doktrinnya.

Dalam pembahasan putaran pertama Yakobus membangun konsep dasar dari 3 kategori kehidupan praktis. Kita telah menyelesaikan pembahasan tentang penderitaan dan intelektualitas putaran kedua. Pembahasan hari ini mengenai uang/ finansial. Pada putaran kedua ini konsep dasar mulai dibawa kepada aplikasi yang lebih luas. 

Dalam Yakobus 2:1 Yakobus mengingatkan kita untuk tidak memandang muka. Memandang muka maksudnya adalah menghormati/ menghargai orang lain. Kalau kita tidak menghargai orang lain secara beres berarti kita sedang menggunakan pikiran yang jahat. Isu yang dilontarkan oleh Yakobus adalah mengenai jemaat yang suka membedakan antara orang kaya dan orang miskin. Isu ini merupakan isu yang sangat pelik di dalam seluruh perjalanan sejarah gereja. Gereja akan menuju kepada kehancuran ketika mulai memandang muka. Hal ini tidak hanya berlaku untuk zaman awal kekristenan tetapi juga berlaku sampai zaman ini. Matthew Henry mengatakan bahwa problema ini yang paling meracuni gereja, paling merusak gereja dan paling memalsukan gereja. Banyak gereja yang tidak dengan serius mengatasi hal ini karena menganggapnya sebagai sesuatu yang manusiawi. Hal ini memang sangat manusiawi tetapi tidak tepat sesuai dengan pemikiran surga; inilah problema yang serius.  

Pada hari ini kita akan belajar bagaimana membangun orang yang layak dihormati. Di sini kita mempelajari tentang problematika nilai. Manusia hidup dengan dimotivasi oleh 2 hal yaitu: pertimbangan epistemologis dan pertimbangan aksiologis. Pertimbangan epistemologis adalah bagaimana seseorang mendapatkan validitas dari semua pengetahuannya, bagaimana kita tahu bahwa yang kita ketahui itu adalah tahu, bagaimana kita tahu bahwa kita tidak salah tahu. Kalau kita menganggap semua hal yang kita ketahui adalah benar maka kita akan rela melakukan apapun untuk mempertahankan yang kita tahu itu. Adalah sebuah kecelakaan jika yang benar menurut kita ternyata adalah salah. Untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar benar tidaklah mudah karena tidak semata memerlukan otak melainkan juga berkaitan dengan iman. Manusia selalu konflik berkaitan dengan imannya.

Paulus sebelum menjadi Kristen memiliki semangat tinggi, belajar banyak, dan berusaha mengaplikasikan kerohaniannya. Semua yang dijalankannya adalah salah tetapi dia merasa semuanya itu benar. Jadi merasa benar belumlah tentu benar-benar benar. Kepandaian Paulus tidaklah menyelesaikan problema epistemologisnya. Setelah “dipukul” Tuhan dalam perjalanan dia ke Damsyik barulah seluruh otaknya “diputar” ke arah yang benar. Sampailah Paulus pada kesimpulan: semua yang semula aku anggap sebagai sesuatu yang bernilai ternyata hanyalah sampah setelah aku mengenal Kristus. Epistemologi membawa manusia masuk ke dalam aksiologi, yaitu bagaimana menilai nilai.

Segala sesuatu yang kita anggap bernilai maka kita akan rela mati/ mengorbankan seluruh hidup untuk hal itu. Adalah sebuah kecelakaan jika yang dianggap bernilai oleh manusia ternyata tidak memiliki nilai. Paulus sebelum bertobat juga memperjuangkan mati-matian hidupnya dan hampir masuk neraka karenanya. Setelah bertobat Paulus menyadari bahwa pengenalan dia akan Kristus adalah jauh lebih mulia daripada segala sesuatu yang lain.

Dalam kehidupan ini kita mau tidak mau harus membangun hidup yang mulia. Untuk membangun hidup yang mulia tidaklah mudah karena hal ini tidak bisa dikerjakan oleh manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Hal ini menyangkut problema diri. Eropa era Medieval kebanyakan dihuni oleh orang Kristen yang memiliki konsep Kristen sehingga problema identitas diri hanya muncul pada anak usia remaja (12 sampai 20 tahun). Usia remaja merupakan peralihan dari anak-anak menuju dewasa sehingga memerlukan penanganan yang serius agar anak tersebut bisa membangun identitas diri. Dalam dekade terakhir ini dikatakan bahwa problema diri berlangsung mulai dari lahir sampai mati. Hal ini berarti manusia semakin modern semakin celaka karena sampai matipun tidak mengerti identitas dirinya. Pada waktu manusia tidak mengerti identitas dirinya, dia akan bertingkah laku aneh tetapi dia tidak sadar kalau dirinya aneh karena dia tidak tahu bagaimana harus belajar untuk bereksistensi/ berada.  

Manusia jatuh dalam konsep nilainya sehingga bertingkah laku begitu rusak adalah hal yang sangat manusiawi karena manusia sulit bahkan tidak mungkin untuk menyelesaikan problema dirinya. Kalaupun manusia mengenali dirinya, manusia sulit sekali untuk mengakui bahwa dirinya adalah orang berdosa, yaitu orang yang hidupnya mempermainkan Tuhan untuk kepentingan dirinya, orang yang egois, orang yang jahat. Selain itu, sebagai orang berdosa, manusia tidaklah punya harapan. Manusia hidup dalam tekanan cengkeraman iblis dan dia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Sebagai manusia yang tidak berpengharapan maka seluruh yang dikerjakannya sejak dari lahir hanyalah sia-sia belaka. Akibat tidak bisa mengakui dirinya yang seperti disebutkan di atas maka terpaksa manusia bertindak tidak jujur dengan jalan menutupi kebobrokan dirinya, dengan jalan menempelkan barang-barang mulia (seperti: emas, barang bermerk terkenal, dll) pada dirinya. Manusia yang tidak lagi bisa membanggakan dirinya mencoba mengalihkan orang untuk menghargai tempelan pada dirinya. Manusia yang demikian tengah mengalihkan harga dirinya dengan harga tempelannya (emas, rumah mewah, mobil, dll).

Betapa kasihannya orang yang bertindak seperti di atas. Orang dunia adalah orang binasa. Bagaimana halnya dengan orang percaya/ orang Kristen sejati? Iman seseorang akan mempengaruhi cara pikirnya, dan cara pikir tersebut akan mempengaruhi perilakunya. Kalau iman seseorang kacau maka tidaklah heran jika dia mengeluarkan pikiran yang jahat. Orang yang tidak beriman akan memiliki pikiran yang jahat sehingga akan sangat manusiawi jika dia membedakan antara orang kaya dan orang miskin.

Yakobus tidak menyebut mereka sebagai orang kaya melainkan orang yang mau tampil seperti orang kaya. Orang yang mau tampil seperti orang kaya bukanlah orang kaya tetapi berusaha dengan berbagai cara supaya kelihatan seperti orang kaya. Bagaimana mengatasi hal ini? Yakobus mengatakan bahwa ketika kita menjadi umat Tuhan maka kita mendapatkan nilai terbesar. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus adalah orang yang ditarik keluar dari lumpur dosa untuk menjadi umat pilihan. Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan yang Maha Mulia. Kalau kita mengerti bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang mulia maka seluruh fokus hidup kita akan berbeda. Kita tidak lagi memerlukan tempelan untuk menjadi mulia dan kita juga tidak akan menghargai orang lain dengan melihat tempelannya.

Kita membangun dignitas hidup kita, seluruh keberadaan hidup kita dengan suatu konfidensi yang kuat karena kita adalah orang percaya. Mengapa orang percaya begitu hebat? Karena orang percaya adalah objek dari tindakan cinta kasih Allah. Tidak semua orang bisa menjadi orang percaya sekalipun dia mau. Orang bisa diperbaharui akal budinya merupakan efek dari anugerah Allah. Orang yang bisa melihat Allah sebagai objek imannya lalu memfokuskan seluruh hidupnya pada pekerjaan Tuhan adalah orang yang mendapatkan anugerah besar dari Allah. Tuhan memanggil kita untuk mengerjakan pekerjaan yang agung sehingga semua yang kita kerjakan tidaklah sia-sia belaka. Tuhan tidak hanya memanggil kita dan memberikan pekerjaan kepada kita tetapi Tuhan juga menyediakan bagi kita hidup kekal untuk nantinya kita bersama-sama dengan Dia di Surga. Hidup yang demikian tidaklah memerlukan tempelan. Sebagai orang pilihan Tuhan maka kita memiliki dignitas diri. Inilah beda antara orang Kristen sejati dan non-Kristen, antara gereja sejati dan bukan gereja.

Gereja sejati akan mengajar jemaat untuk beriman kepada Tuhan. Dengan beriman kepada Tuhan maka seluruh cara pikirnya akan menjadi beres. Ketika cara pikirnya beres, jemaat dan hamba Tuhan akan saling mempengaruhi untuk bersama-sama fokus kepada Tuhan. Ketika semua berfokus kepada Tuhan maka akan membangun kehidupan bergereja yang beres. Iman akan bertumbuh sehingga persekutuan pun menjadi sehat.

Gereja pada hari ini justru membangun jemaat untuk beriman menjadi orang kaya. Musuh terbesar dari iman Kristen adalah mammon. Ketika uang tidak bisa dikuasai oleh manusia maka dia akan berubah menjadi dewa/ penguasa kehidupan. Alkitab berkata bahwa manusia hidup tidak bisa menyembah 2 tuan; dia tidak bisa menyembah Allah sekaligus menyembah mammon.

Iman sejati akan membawa kita kembali kepada Tuhan dan berfokus kepada Tuhan. Kalau manusia hanya memikirkan mencari kesenangan diri, menempelkan apa saja pada diri, maka hidupnya akan menjadi hina. Ketika manusia tidak lagi mengejar Tuhan maka hidupnya akan kehilangan kemuliaan. Bagaimana kalau gereja lebih menghargai orang kaya walaupun dia korupsi dan menghina orang miskin walaupun dia hidup jujur/ berintegritas?  

Di GRII jangan pernah berharap orang kaya memiliki kedudukan khusus. Orang yang kaya sudah seharusnya memberikan persembahan dalam jumlah besar. Tuhan Yesus menyatakan bahwa persembahan seorang janda miskin yang hanya 2 peser adalah persembahan terbesar karena dia memberi dari kekurangannya. Gereja harus melihat sebagaimana Tuhan melihat. Kita harus sadar bahwa semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan, jadi sudah seharusnya dikembalikan kepada Tuhan.

Gereja jangan menyeleweng menyembah mammon tetapi gereja harus kembali kepada iman yang sejati. Gereja jangan membangun jemaat untuk berfokus pada hal-hal yang hina, seperti: uang, sehingga mereka mengejar hal-hal yang remeh dan hina. Yakobus mengingatkan bahwa hal ini adalah pikiran yang jahat.

Yakobus 2:4 menyatakan bahwa ketika kita melakukannya, kita melakukannya dengan penghakiman/ penilaian yang salah. Kalau gereja tidak lagi bisa memberikan penilaian secara tepat maka tidak ada lagi pengharapan bagi dunia ini. Dunia selalu salah dalam segala hal yang dipikirkan karena posisi penilaian mereka memang sudah salah. Hal ini diibaratkan posisi timbangan yang sudah tidak lagi pada posisi semestinya, cukup digeser 1 mili, maka timbangan itu sudah pincang dan tidak tepat lagi.

Dosa adalah ketidaktepatan posisi, tidak mencapai sasaran yang tepat, meleset. Karena meleset maka seluruh cara melihat kita menjadi terplintir. Iman Kristen menuntut hidup yang tepat pada posisinya. Supaya kita mempunyai hidup yang tepat pada posisinya maka mulai dari pertama cara pikir kita harus diletakkan pada posisi yang tepat. Kepincangan dari cara penilaian gereja menjadikan gereja tidak bisa lagi secara beres membicarakan Firman Tuhan dan tidak lagi bisa secara tegas membicarakan kebenaran.  

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)