Ringkasan Khotbah : 17 November 2013

Stabilitas Iman

Nats Galatia 5:7-10

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Galatia ditujukan kepada koloni-koloni orang Galatia yang berimigrasi dari daerah Galatia (wilayah Utara) ke daerah Selatan untuk tujuan bisnis. Wilayah Selatan merupakan bagian dari Jalur Sutera (yang menghubungkan Eropa dan Cina)  sehingga sangat bagus untuk bisnis. Orang-orang Galatia yang berimigrasi ini sebagian menjadi kaya dan mengenal Paulus, penginjilan serta Tuhan Yesus. Wilayah Selatan ini dekat dengan daerah asal Paulus yaitu Tarsus. Wilayah Utara dan Selatan dari Asia Kecil ini dipisahkan oleh pegunungan Kapadokia yang gersang. Orang-orang Galatia yang bertobat tetaplah tinggal di lingkungan orang Galatia yang sebagian besar bersifat materialis.

Dalam Galatia 1 Paulus marah terhadap orang-orang Galatia yang sudah bertobat karena mereka diseret kembali kepada Injil yang palsu. Injil tersebut tidak sama dengan Injil yang diberitakan oleh Paulus. Galatia 1:10 menuliskan: Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Jadi Injil sejati adalah Injil yang memikirkan kesukaan Tuhan. Orang yang mengikut Kristus dengan sunggguh adalah orang yang memikirkan kehendak Tuhan dan menjalankannya, sebaliknya orang Kristen yang palsu adalah orang yang lebih mengutamakan kesukaan manusia.

Dalam Galatia 5:7 Paulus menegur keras jemaat Galatia demikian: dahulu kamu berjalan begitu cepat mengejar kebenaran Tuhan yang absolut tetapi tiba-tiba berhenti, siapa yang menghambat? Dalam ayat 10 dikatakan bahwa siapapun yang mengacaukan akan berjumpa dengan penghakiman Allah. Paulus mengatakan bahwa orang-orang yang mengacaukan itu pasti bukan dari Tuhan dan mereka masuk seperti ragi. Di sini terlihat betapa bahayanya tarikan seseorang di tengah-tengah sebuah pergumulan iman.

Cara pikir yang salah pada kebanyakan orang Kristen adalah: kalau iman kita sudah beres maka kita tidak lagi mengalami masalah. Alkitab justru mengatakan bahwa pada waktu iman kita sedang bertumbuh/ maju maka pada saat itulah setan juga bekerja dengan sangat giat. Pada saat jemaat Galatia sedang giat mengejar kebenaran maka iblis pun menyusupkan orang untuk menggeser dan menghambat perjuangan mereka sehingga mereka berhenti dan bergeser kepada Injil yang lain. Semakin bertumbuh seorang Kristen maka tantangan yang dihadapinya akan semakin banyak. Untuk menghadapi hal ini maka di titik pertama kita perlu memiliki stabilitas iman.

Iman kita bukanlah iman yang lolos dari pencobaan. Iman yang kuat justru membuat kita semakin dikuatkan oleh Tuhan di dalam menghadapi badai yang besar, kita justru tidak goyang pada waktu menghadapi badai yang besar. Ketika kita menghadapi badai kehidupan ini, seberapa jauh kita memandang kepada Kristus dan menyambut Dia? Ketika kita sedang berhadapan dengan tantangan dan situasi yang pelik, kita justru seringkali keluar dari Kristus dan mencari kesenangan diri sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa pada saat kita menghadapi tantangan yang besar, itulah saatnya kita kembal kepada iman yang sejati dan mengejar kebenaran yang sejati.

Pertentangan antara pekerjaan Tuhan dan pekerjaan iblis tidak akan pernah berhenti dan bersifat laten. Di situlah dituntut kewaspadaan di setiap momen kehidupan kita, bagaimana kita dengan peka tidak gampang ditarik oleh ajaran/ tawaran/ iming-iming untuk keuntungan diri kita. Dunia sengit terhadap orang-orang yang mau membawa orang lain kepada kebenaran. Serangan-serangan humanisme semakin hari semakin besar. Orang terus diumbar dengan opini tentang bagaimana mencari kesenangan diri. Pada saat seperti itu, bagaimanakah iman Kristen kita bisa tidak digoyahkan? Pada saat kita mau kembali kepada pendirian yang sejati/ kembali kepada Tuhan, saat itulah iman yang sejati harus difokuskan kepada kebenaran.

Injil yang sejati adalah Injil yang mengangkat keluar manusia dari dosa dan membawa masuk ke dalam kebenaran. Seluruh perjuangan kekristenan adalah ketika kita mau mengenal dan mengejar kebenaran, mau hidup di dalam kebenaran, mau mengerti kebenaran dengan sungguh-sungguh. Paulus menegur keras orang Galatia bukan untuk membuang mereka melainkan untuk membawa mereka kembali kepada Tuhan. Di sinilah perlunya teguran keras dilontarkan untuk membawa manusia kembali kepada kebenaran. Teguran keras memang seringkali menyakitkan tetapi sangat dibutuhkan.

Injil yang dari Tuhan tidak pernah mengumpan manusia untuk berpusat kepada diri sendiri. Injil yang sejati akan mengumpan kita untuk berpusat kepada Tuhan, mengutamakan kehendak Tuhan dan bukan kesenangan diri. Socrates pernah melontarkan sebuah isu bahwa kebenaran sejati haruslah berfokus pada 1 tempat; kalau mereka mempunyai banyak dewa maka dewa manakah yang paling benar; kalau manusia mengaku dirinya sebagai patokan maka manusia mana yang paling layak untuk dijadikan patokan. Ketika Socrates mengemukakan hal ini kepada para pemikir dan pemuda, mereka menjadi goncang dan menuntut Socrates harus mati. Siapa yang berani mengatakan kebenaran pasti akan dimatikan. Dunia sangat benci kepada siapapun yang mengangkat kebenaran. Tuhan Yesus yang mengangkat kebenaran juga akhirnya dimatikan.

Semua yang mengaku dirinya adalah kebenaran atau mengajarkan kebenaran tetapi tidak membawa untuk berpusat kepada Tuhan adalah kebenaran yang palsu. Orang yang mengajak untuk tidak kembali kepada kebenaran pasti bukan datang dari Dia. Iman Kristen sejati akan membawa manusia kembali berpusat kepada Tuhan. Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

Kita harus berhati-hati terhadap banyaknya opini dan ajaran/ doktrin yang ujung-ujungnya menarik kita untuk berpusat pada kesenangan diri kita dan tidak taat kepada Tuhan. Sedikit ragi yang masuk ke dalam adonan, ragi tersebut akan mempengaruhi seluruh adonan tanpa terkecuali. Konsep ini sangat dimengerti oleh dunia. Iman Kristen juga sangat berbahaya terkena kontaminasi. Hal inilah yang perlu diwaspadai. Kerusakan gereja tidak pernah terjadi akibat serangan luar melainkan justru akibat serangan dari dalam. Inilah cara iblis yang ampuh. Iblis tidak mungkin berhadapan muka melawan Tuhan maka cara yang paling ampuh adalah merusak dari dalam.

Gereja dirusak melalui ajaran-ajaran yang dimasukkan oleh orang-orang perusak. Karena itu kita perlu peka mengenai orang-orang yang terlibat dalam pelayanan. Cara mengantisipasi “ragi” dalam gereja adalah:

1)     Kita perlu bersikap rendah hati.

Kita harus belajar tidak menganggap diri penting melainkan sebagai budak belaka. Egoisme adalah musuh terbesar orang Kristen. Lukas 17:10: Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. Seberapa jauh kita punya kerendahan hati sehingga Tuhan bisa pakai kita dalam seluruh pelayanan?

2)     Memurnikan motivasi.

Tidak ada orang yang tahu secara persis motivasi kita karena motivasi merupakan sesuatu yang tersembunyi. Ketika motivasi kita menjadi cemar, maka akan terjadi penunggangan dan setan bisa memakainya. Iman kita perlu memurnikan motivasi kita. Orang Galatia berada di posisi rawan akan tarikan dunia karena mereka berimigrasi untuk mengejar kekayaan dan kesenangan hidup. Kalau motivasi seperti itu masih muncul dalam iman Kristen mereka, maka habislah mereka. Marilah kita selalu memurnikan motivasi kita bahwa kita melakukan semuanya untuk kepentingan Tuhan, untuk menggenapkan apa yang menjadi kehendak Tuhan, dengan tanpa menghiraukan diri kita sendiri.

3)     Terus berkeinginan menggenapkan kehendak Tuhan.

Kita harus mengalami perubahan akal budi supaya bisa mengetahui manakah yang menjadi kehendak Allah, yang baik, yang sempurna, dan yang berkenan kepada Allah. Ketika kita memfokuskan hidup kita kepada Allah maka kita tidak memberi peluang sedikitpun kepada setan untuk merusak hidup kita.

Tuhan akan menjatuhkan penghakiman tanpa pandang bulu kepada siapapun yang menyelewengkan Injil. Pengadilan tertinggi ada di tangan Tuhan. Tuhan tidak akan membiarkan orang yang bermain dalam dosa apalagi orang yang mempermainkan Tuhan. Hukuman Tuhan lebih menakutkan daripada hukuman manusia.

Paulus yakin bahwa jemaat Galatia akan tetap pada pendirian/ bertobat dan berbalik, tetapi celakalah orang yang tidak bertobat karena dia akan menanggung hukuman dari Allah. Anugerah Tuhan dan penghakiman Tuhan berjalan secara paralel. Allah yang adil akan menjatuhkan hukuman secara adil tetapi pada saat yang sama Allah yang kasih akan menarik orang untuk bertobat dan tidak membiarkan umat-Nya terbuang. Anugerah Tuhan memungkinkan orang yang ditegur menjadi berbalik/ bertobat. Keadilan dan kasih Allah tidak boleh dimainkan salah satu saja.

Di abad ke-21 yang rusak ini marilah kita kembali melihat bahwa iman kita bukanlah iman yang otomatis, pergumulan iman kita haruslah secara waspada kita garap, karena semakin beres iman kita maka tantangan iblis akan semakin besar pula. Dalam situasi seperti itu, seberapa kita tetap berpegang pada kebenaran, tetap mencari Tuhan dan tetap berfokus pada Allah?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)