Ringkasan Khotbah : 03 November 2013

Misteri Amanat Agung

NatsMatius 28:18, 20b

Pengkhotbah : Pdt. Warsoma Kanta

 

Nats hari ini mungkin sudah sangat dikenal oleh banyak orang, yang merupakan pertemuan akhir antara Tuhan Yesus dengan murid-murid-Nya sebelum Dia naik ke Surga. Bagian ini juga disebut sebagai Amanat Agung. Dalam konteks Konvensi Injil Nasional, saya akan membawa kita kepada sebuah realita tentang Amanat Agung ini. Mengapa hal di atas disebut sebagai Amanat Agung dan respon apa yang seharusnya kita berikan ketika kita nantinya menyaksikan Konvensi Injil Nasional melalui siaran relay? Apakah kita akan mendoakan atau turut dalam pendanaan melalui persembahan? Apakah kaitannya dengan kita?

Adalah sesuatu yang wajar ketika kita merasa bangga dengan diadakannya acara-acara besar ini oleh gereja kita, seperti: KIN, KPIN, konser setiap bulan, KKR Regional, dll. Kita yang ada di Surabaya ini, mungkin tidak pergi ke Jakarta untuk terlibat langsung dalam acara KIN maupun KPIN Jakarta, lalu apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita hanya sekedar berdecak kagum dan akhirnya tidak berdampak apapun bagi kehidupan kerohanian kita?

Amanat Agung Kristus yang tercantum dalam nats hari inilah yang menyebabkan gereja Tuhan bisa berdiri sampai dengan hari ini. Amanat Agung ini memberikan dampak yang begitu besar bagi kekristenan. Semoga KIN juga memberikan dampak yang besar bagi penginjilan di bumi nusantara ini. Beberapa komentator menyatakan bahwa karena nats hari inilah yang membuat kekristenan tidak pernah terkubur, melainkan terus bergaung sampai ke seluruh dunia. Mengapa ayat ini begitu penting dan istimewa? 

Matius 28:18 disebut sebagai Amanat Agung karena kalimat tersebut bukanlah kalimat biasa, dan juga bukan sekedar prolog sebelum kalimat perintah disampaikan. Banyak komentator yang menyebutnya sebagai Self eternal statement (permyataam diri yang bersifat kekal). Sebenarnya orang-orang sudah mengetahui apabila Yesus adalah Tuhan yang memiliki kuasa baik di surga maupun di bumi; namun demikian kalimat ini  bertujuan untuk menunjukkan bahwa yang memberikan perintah bukanlah sembarang orang. Banyak orang tahu bahwa Tuhan Yesus yang memberikan perintah adalah Tuhan yang bangkit dari kematian. Mari kita bandingkan dengan Keluaran 20:1-2. Musa sudah mengetahui isi dari 2 ayat di atas tetapi Tuhan masih tetap mengungkapkannya; inilah yang disebut sebagai Pernyataan Kekal Diri.

John Piper pernah berkata bahwa apabila seorang, yang memiliki kualitas rohani sedemikian tinggi, memberikan sebuah perintah, maka orang yang tidak mendengarkan perintah tersebut akan berurusan panjang dan tidak main-main karena menyangkut nyawa. Para murid Tuhan Yesus pada waktu menerima perintah ini juga tidak bersikap main-main tetapi dianggapnya sebagai suatu Amanat Agung karena diberikan dalam naungan Pernyataan Kekal yentang  Diri tentang keberadaan Allah, hakekat Allah, dan karya Allah. Banyak perintah-perintah lain yang diberikan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil tetapi tidak disebut sebagai Amanat Agung. Pernyataan Kekal Diri tersebut menunjukkan sebuah otoritas dan posisi terpenting.

Kalimat Tuhan Yesus yang menyatakan bahwa segala kuasa di Surga dan di bumi ada di tangan-Nya, membuat murid-murid sepulang dari tempat tersebut tidak lagi disebut sebagai murid melainkan sebagai rasul, karena posisi mereka yang sudah berubah menjadi utusan dan saksi nyata dari kebangkitan Kristus, sehingga mereka mengabarkan Injil. Bagaimana dengan kita ketika mengetahui adanya KIN, apakah kita merasakannya sebagai suatu gerakan bersama ataukah gerakan tersendiri?

Kelebihan Matius 28:18, 20b ini bukan hanya adanya Pernyataan Kekal Diri yang begitu kekal bahwa Dia adalah Allah yang memiliki kuasa di Surga dan di bumi, tetapi Dia juga menunjukkan penyertaan dengan adanya Self eternal promise (Janji yang Kekal) (dalam Matius 28:20b), yang diberikan-Nya kepada rasul-rasul-Nya. Kalimat dalam ayat ini menunjukkan adanya legalitas atas penyertaan Tuhan dan pernyataan Diri sebagai pribadi yang kekal. Banyak komentator mengatakan bahwa hal ini merupakan refleksi dari janji-Nya mengenai Roh Kudus dan dimana Dia adalah Allah Tritunggal. Janji ini penuh dengan kelegaan bagi orang yang mendengarnya. Perintah singkat dalam Matius 28:19-20a diapit oleh 2 kalimat yang menyatakan keagungan Tuhan.

Namun bagaimana realita yang dilakukan murid muridNya? Kisah Rasul 4:12 merupakan realita tentang apa yang dilakukan para rasul dalam mengerjakan perintah Tuhan. Ayat ini muncul bukan dalam suasana yang santai atau penuh humor, tetapi muncul dalam Mahkamah Agama di mana Petrus dan Yohanes disidang. Ayat ini merupakan salah satu ayat terpenting dalam PB yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menjalankan perintah dalam Matius 28:19-20a. Ayat ini merupakan salah satu ayat terpenting dalam penginjilan yang tidak pernah diungkapkan oleh Tuhan Yesus sendiri tetapi justru menyebabkan orang-orang tersebar ke segala penjuru dunia untuk mengabarkan Injil karena di dalam diri mereka terdapat sebuah keyakinan yang kuat. Bahkan ayat ini jika didengar oleh orang yang beragama non-Kristen akan membuat telinga mereka menjadi panas. Kalimat yang dikeluarkan oleh para rasul inilah yang membedakan para rasul dengan orang lainnya. Inilah yang disebut sebagai self eternal faith (Iman Diri yang Kekal). Inilah yang menjadikan para rasul memiliki keyakinan yang kuat di hadapan para pemimpin agama padahal Petrus dan Yohanes adalah orang biasa yang tidak terpelajar, berbeda dengan para ahli Taurat yang setiap hari menangani kasus di pengadilan Mahkamah Agama, tetapi justru para ahli Taurat ini heran melihat keberanian Petrus dan Yohanes. Kedua rasul ini mengemas Amanat Agung dalam iman pribadi mereka yang tidak tergoncangkan. Mereka mengemas Amanat Agung tersebut dalam pergumulan iman yang akhirnya memunculkan kalimat-kalimat yang luar biasa seperti dalam Kisah Rasul 4:12.

Mungkin saja kita juga memiliki keyakinan yang benar tentang Injil namun memiliki alasan untuk tidak mengabarkan Injil seperti apa yang dicatat dalam Perjanjian Lama. Nabi Yunus ketika mendapatkan perintah dari Tuhan untuk mengabarkan Injil, memiliki alasan untuk menolak perintah tersebut sehingga dia melarikan diri. Bukankah nabi adalah juru sambung lidah Tuhan? Bangsa yang menjadi sasaran penginjilan yang diperintah Tuhan kepada nabi Yunus adalah bangsa yang sangat kejam, yang suka memenggal kepala bangsa yang dijarahnya, yang suka melemparkan potongan tubuh manusia kepada binatang di kebun binatang. Tuhan berkata kepada Yunus bahwa mengapa Yunus tidak mengasihi orang yang dikasihi oleh Tuhan? Dalam perut ikan, Yunus menjalani pembentukan Tuhan sehingga ketika keluar dari perut ikan dia mengeluarkan kalimat pendek dan menyebabkan seluruh kota bertobat. Suatu hal yang luar biasa terjadi..

Seorang penginjil pesisir pantai, bernama Moffat, selain melakukan penginjilan juga melakukan tramsaksi perdgangan di pesisir pantai tersebut. Sebenarnya tidak ada keharusan dirinya untuk melakukan penginjilan di tengah singkatnya waktu pertemuan dengan para pendatang di pesisir pantai itu, namun dia melaukan nya. David Livingstoner melakukan penginjilan di suku terpencil di daerah yang berdekatan dengan tempat hidup Moffat. Suatu hari David Livingstone mendapat serangan binatang buas hingga tangannya hancur. Lalu dibawalah dia ke tempat Moffat dan diobati oleh anak Moffat, bernama Mary. Setelah sembuh, semangat mengabarkan Injilnya tidaklah pudar, dia terus menerus pergi mengabarkan Injil. Akhirnya dia menikah dengan Mary. 

Kita mungkin memiliki berbagai alasan yang membuat kita tidak berani bersaksi tentang iman kita seperti Yohanes dan Petrus. Hal ini sepertinya wajar saja di negara ini. Hal ini juga menjadi fenomena yang biasa di dalam gereja, yang justru membuat gereja menjadi tertidur, bukan lagi menjadikan gereja bersifat misioner. Hal ini juga menjadikan iman kita menjadi suam-suam dan tidak lagi menyadari pentingnya bangunan-bangunan penyanggah iman kita. Seberapa jauh kita bisa turut berperan dalam kegiatan gereja kita?

Dalam perkembangannya, menurut sejarah gereja modern, gereja Amerika mengalami era post-Christian pada abad ke 20-21. Gereja di Amerika menjadi mati dan tidak lagi mengabarkan Injil karena gereja juga mengalami hal-hal yang diuraikan di atas. Bukan hanya gereja yang tidak lagi berfokus pada Kristus melainkan juga sekolah-sekolah Theologi telah menggeser Kristus dengan isu-isu yang lain. Graham Mahem, pendiri Sekolah Theologi Princeton, adalah seorang yang mau belajar Theologi, mau mendukung keuangan untuk sekolah Theologi, dan memiliki semangat untuk mengajar Theologi. Suatu hari dalam perkembangan sejarah, masuklah liberalisme ke dalam Sekolah Theologi Princeton. Lambat laun mereka mengalami peperangan rohani di dalamnya. Graham Mahem menulis buku: Christianity and Liberalism. Dia berperang di dalam bukunya. Kaum Liberal masuk dengan pandangan social gospel yang seolah-olah benar, yang dipengaruhi oleh pandangan Immanuel Kant, yang membedakan antara numena dan fenomena, yang menyatakan bahwa berita Injil dalam Matius 28 hanyalah numena (sesuatu yang sangat ideal) dan harus diterjemahkan ke dalam dunia fenomena yang kita jalani hari demi hari. Orang mulai mengatakan bahwa pengkabaran Injil harus diletakkan dalam konteks budaya, maksudnya: bagaimana juga mendukung kebutuhan-kebutuhan dari orang tersebut. Secara tidak sadar mereka telah menggeser Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Graham Mahem akhirnya meninggalkan kampus yang didirikannya itu, lalu mendirikan Sekolah Theologi Westminster yang masih menekankan Theologi Reformed dan semangat penginjilan.  

D. L. Moody pernah berkata dalam sebuah momen penginjilan bahwa terjadi kebakaran di dalam dirinya, ada api yang sedang membakar diriku, sehingga dia harus mengabarkan Injil dan membagikan traktat. Suatu hari ketika uangnya habis dan tidak bisa membeli traktat, dia tidak kehabisan akal. Dia kemudian menyalin traktat dengan tulisan tangan dan membagikannya. Dia melakukan hal itu karena di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya kita bisa diselamatkan.

Pdt. Stephen Tong dilarang oleh dokter untuk berkhotbah dalam KIN karena jantungnya tersumbat sebanyak 54%. Beliau berkata bahwa inilah peperangan saya dengan setan maka saya akan terus berkhotbah dalam KIN, kalaupun saya harus mati di mimbar maka hal tersebut merupakan penghormatan. Semangat ini sangat memberikan dorongan bagi saya dan kita semua dalam melakukan pelayanan.  

Mungkin kita tidak berani berhadapan dengan orang lain untuk mengabarkan Injil maka kita bisa berdoa untuk itu. Hanya Kristus yang bisa menyelamatkan orang-orang yang sedang berjalan menuju kepada kematian. Apa yang dapat kita lakukan? Ada tim-tim PI yang bergerak ke rumah sakit, ada Christmas carol yang kita lakukan, siapa yang akan pergi kepada mereka dan meneruskan api perjuangan Pdt. Stephen Tong? Kita bisa mengatakan: Di sini saya berdiri di hadapan-Mu ya Tuhan!

Biarlah kita bisa memandang Amanat Agung ini sebagai sebuah amanat yang penting, bukan hanya indah untuk disaksikan. KIN bukan hanya untuk dikenang tetapi boleh membakar semangat dan iman kita serta membawa kita kembali kepada pergumulan iman yang nyata. Sudah seberapa jauh kita mengenal akan iman kita?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)