Ringkasan Khotbah : 27 Oktober 2013

Ibadah dan Kehidupan

NatsYakobus 1:26-27

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Surat Yakobus adalah surat praktis, yang membicarakan tentang kehidupan sehari-hari orang Kristen, yang menekankan aplikasi iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Yakobus dalam pembahasannya memutar 4 kali dari 3 tema kehidupan praktis yaitu: 1) kesukaran/ penderitaan, 2) intelektual/ bijaksana, 3) uang/ status. Nats hari ini merupakan putaran ke-2 dari masalah tentang bijaksana.

Pada putaran pertama diajarkan bahwa manusia tidaklah membutuhkan kepandaian melainkan bijaksana. Kepandaian yang semula dipikirkan sebagai puncak kehebatan manusia, ternyata tidak menolong apapun, karena kepandaian hanyalah 1 aspek yang tidak berguna jika tidak ditunjang oleh kebijaksanaan. Orang yang hanya pandai, biasanya sombong sehingga dibuang oleh orang banyak. Orang bijaksana belum tentu pandai tetapi juga tidak bodoh. Orang bijaksana selalu menjadi kontras dari orang bodoh. Orang dikategorikan bodoh dalam Alkitab bukan berarti tidak pandai melainkan tidak bijaksana. Orang bijaksana akan mampu mempertimbangkan semua aspek dan mampu mengambil keputusan/ pilihan tepat seperti yang Tuhan inginkan.

Bagi Yakobus, iman bukan berdiri di tataran Theologi/ berhenti di teori melainkan harus diaplikasikan/ dilaksanakan. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Kitab Roma menyatakan bahwa iman harus berdiri pada aspek pembenaran, maksudnya iman harus dibereskan konsepnya agar tidak salah; iman tidak didasarkan pada diri/ pikiran manusia melainkan didasarkan pada pembenaran Allah. Yakobus melengkapi hal di atas yaitu: setelah memiliki pengertian iman yang benar, janganlah kita hanya hebat dalam debat Theologi, melainkan iman tersebut harus dilaksanakan dalam hidup sehari-hari. Iman dan kebenaran adalah 2 hal yang sangat menentukan di dalam alam semesta ini, karena keduanya memiliki sifat yang sangat aneh dan dahsyat yaitu ketika keduanya dilaksanakan maka keduanya akan langsung berbalik posisi.

Setiap manusia, tanpa kecuali, memiliki kepercayaan. Orang atheis pun memiliki kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada lalu dia percaya pada dirinya sendiri. Kata iman akan menjadikan objek menjadi subjek, misalnya: saya percaya kepada ayah saya, maka berarti ayah saya menjadi subjek/ memiliki otoritas atas diri saya. Kalau saya percaya kepada ayah saya maka semua omongan ayah saya akan saya jalankan. Ketika kita mempercayai Tuhan, berarti Tuhan mengatur 100% hidup kita. Demikian juga halnya dengan kebenaran, begitu kita mengakuinya maka dia akan balik menjadi subjek yang mengatur hidup kita. Karena itulah kita harus berhati-hati meletakkan objek iman kita karena begitu kita salah maka kita akan celaka tetapi kalau kita benar maka kita akan mendapatkan bijaksana.

Bijaksana sejati adalah bagaimana kita kembali kepada objek iman yang sejati di dalam kebenaran yang sejati. Iman yang sejati haruslah dilaksanakan dalam hidup kita karena dengan dilaksanakan maka kita akan mencapai lingkaran terluar dari seluruh pengetahuan kita. Ada 3 lingkaran pengetahuan yaitu: 1) yang paling kecil adalah tahu yang ada di kepala, merupakan yang paling sempit dan sia-sia, 2) pengetahuan yang berpengalaman, lebih baik daripada yang pertama tetapi masih prematur, 3) pengetahuan yang masuk ke dalam pengalaman yang bersifat ekstensif/ meluas secara komprehensif; inilah pengetahuan sejati.  

Yakobus mengajarkan bagaimana bijaksana sejati haruslah muncul dalam ibadah yang sejati. Ibadah bukan sekedar kebaktian Minggu. Kekristenan sekarang justru terbalik yaitu menempatkan ibadah sebagai bagian kecil dari kebaktian Minggu. Ibadah sejati merupakan totalitas kehidupan manusia, dimana kebaktian Minggu hanyalah 1 bagian kecil dari ibadah. Ada 2 macam kata yang dipakai dalam Alkitab, yang berarti ibadah yaitu: 1) proskuneo, yang lebih mengarah kepada sikap yaitu maju untuk menundukkan diri dengan 1 tekad, kerelaan hati dan keberanian datang untuk tunduk/ takluk, 2) latreia, yang berarti menempatkan diri di bawah/ menundukkan diri di bawah. Ibadah sebenarnya merupakan esensi dari iman, yang berarti: ketika kita beribadah berarti kita menundukkan diri di bawah objek iman.

Secara umum, orang dikatakan beragama berarti dia menyembah seseorang/ sesuatu. Semua yang disembah berarti memiliki kedudukan lebih tinggi daripada yang menyembah. Dalam prakteknya adalah kebalikannya yaitu manusia menyembah seseorang/ sesuatu dengan tujuan yang disembah memenuhi kebutuhannya, misalnya: yang disembah memberikan kekayaan kepada yang menyembah. Inilah kecelakaan yang dilakukan oleh manusia berdosa. Tuhan yang disembah berbuntut Tuhan yang harus menyembah dia. Keterbalikan posisi ini haruslah dikembalikan kepada posisi yang seharusnya.

Ibadah adalah menempatkan posisi kita di bawah Tuhan, kita harus tunduk kepada Tuhan. Iman dan Kebenaran haruslah berada di atas kita. Nats hari ini mengajarkan tentang ibadah yang seharusnya yaitu:

1)     Mengekang lidah.

Orang yang banyak bicara menunjukkan bahwa orang itu memiliki sistem tertutup dalam dirinya. Orang yang tidak mau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk bicara, menunjukkan bahwa dia menganggap dirinya sebagai kebenaran. Orang demikian tidak pernah belajar apapun karena dia sudah menempatkan posisinya di atas. Hal ini juga merupakan sifat dari bidat.

Semua filsuf/ orang agung setuju bahwa orang haruslah berpikir dahulu sebelum berbicara dan mau mendengarkan serta memikirkan omongan orang lain. Orang yang bisa belajar dari siapa saja adalah orang yang bijaksana. Ketika kita tidak bisa mengekang lidah kita maka kita akan gagal dalam membentuk ibadah karena kita tidak pernah belajar untuk mengikuti orang lain maupun menempatkan diri di bawah orang lain.

Sebelum kita menjadi guru, jadilah murid terlebih dahulu, artinya: sebelum kita berbicara sebagai guru, jadilah murid yang mendengarkan orang lain/ belajar dari orang lain. Yakobus menyatakan bahwa iman bukanlah pikiran manusia yang dibakukan/ dimutlakkan, tetapi iman adalah bagaimana kita menundukkan diri lalu membuka pikiran kita agar bisa mencerna/ mencari/ mengkritisi setiap kebenaran, apakah cocok dengan Firman Tuhan/ isi hati Tuhan/ karakter Tuhan, lalu kita berubah mengikuti Tuhan; bukan Tuhan yang diatur oleh kita melainkan Tuhan yang mengatur kita.

2)     Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka.

Konsep ini janganlah dimengerti menurut cara pikir abad ke-21. Pada hari ini mengunjungi yatim piatu dan janda dapat dikerjakan dengan senang hati bahkan sekaligus dipamerkan di media massa. Pada zaman itu hal ini dapat menjadi masalah besar karena dapat menjatuhkan status sosial kita. Pada zaman itu yatim piatu dan janda diposisikan sebagai kaum marginal, bahkan dikategorikan sama dengan pelacur. Seseorang yang mempunyai dignitas, ketika ketahuan mengunjungi kaum marginal tersebut di atas maka dia akan dikucilkan.  

Iman Kristen harus berhadapan dengan realita. Seberapa kita memiliki cinta kasih dan kemampuan melihat bahwa yatim piatu dan janda adalah juga manusia? Gereja bertugas untuk mengangkat dan membangun mereka. Cara pikir dunia berbeda dengan cara pikir Kristen. Nilai Kristen memiliki Theologi tersendiri, yang melihat manusia sebagai makhluk agung yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Hal-hal yang harus kita lawan adalah:

1)     Kesombongan.

Adalah dosa besar ketika kita tidak mau menurunkan status kita. Inilah dosa kesombongan yang mematikan. Kesombongan adalah sifat yang ditanamkan oleh iblis dalam diri manusia berdosa. Hal ini harus dibongkar dengan melihat kepada Kristus, yang adalah Allah semesta alam tetapi mau turun ke dalam dunia. Inkarnasi Kristus menunjukkan bahwa Allah bukan sekedar merendahkan Diri-Nya tetapi mengosongkan Diri-Nya.

Ketika saya mencoba membayangkan tentang inkarnasi Kristus, seandainya saya turun status menjadi pengemis maka hal itu masih belum seberapa dibandingkan dengan Allah yang turun menjadi manusia, karena saya dan pengemis adalah sama-sama ciptaan, sama-sama manusia, hanya saja berbeda status sosial. Seandainya saya turun menjadi seekor anjing/ diperlakukan seperti anjing maka hal ini sudah merupakan penurunan kualitas dari seorang manusia menjadi seekor anjing, tetapi masih sama-sama ciptaan. Tidak ada seorang manusiapun yang mau menjadi anjing, tetapi kalau seandainya dipaksa maka manusia itu harus mengosongkan diri, menganggap status kemanusiaan sebagai hak yang tidak perlu dipertahankan. Ilustrasi ini lebih mendekati arti kenosis. Tuhan Yesus turun ke dunia, meninggalkan hak ke-Allah-an-Nya lalu mengambil rupa seorang manusia. Penurunan kualitas Allah menjadi manusia adalah jauh lebih besar daripada penurunan kualitas manusia menjadi anjing. Siapakah kita kalau kita mau menyombongkan diri? Allah rela mengosongkan Diri menjadi manusia, menunjukkan bahwa kita ini tidak ada apa-apanya. Kita harus belajar merendahkan diri.

2)     Mengerjakan segala hal demi untuk mendapatkan uang/ keuntungan.

Dunia tidak mengerti tentang berkorban. Matius 20:28: sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Dia mengharapkan setiap umat-Nya juga melakukan hal yang sama, yaitu memiliki semangat berkorban. Doktrin Kristen sejati bukan berbicara mengenai keuntungan yang didapatkan melainkan mengenai kehendak Allah yang harus digenapi. Theologi Reformed tidak berhenti di otak melainkan berhenti pada pengorbanan.

3)     Semangat hidup dualisme.

Hidup dualisme menjadikan hidup kita berubah-ubah sesuai dengan tempat kita berada, misalnya: di gereja kita hidup bernuansa surgawi, sedangkan di luar gereja kita hidup duniawi. Lama kelamaan bisa mengakibatkan manusia pecah kepribadiannya (kelainan kejiwaan). Akhirnya disiasati dengan cara: gereja yang mengikuti kemauan manusia, sehingga konsep humanis masuk ke dalam gereja. Gereja yang demikian akan membalik konsep ibadah yang sejati. Ibadah sejati adalah seluruh hidup manusia takluk di bawah Firman. Gereja membaliknya menjadi demikian: sepanjang hari adalah kehidupan kita sedangkan gereja hanyalah bagian kecil dari hidup kita, maka ibadah hanyalah sebagian kecil dari hidup kita. Theologi harus diaplikasikan dalam hidup kita sehingga hidup Kristen adalah hidup yang terintegrasi di dalam Firman. Ketika hidup kita terintegrasi di dalam Firman maka kita akan masuk ke dalam jalur Tuhan.

Dunia ini tengah menuju kehancuran akibat ulah manusia sendiri karena ketidakmampuan manusia untuk berbijaksana. Orang Kristenpun akan mengalami penderitaan tanpa terkecuali, tetapi Tuhan yang akan pimpin hidup kita. Bijaksana sejati hanya jika kita kembali kepada Firman. Iman kita tidak mengunci seluruh kehidupan kita maupun otak kita melainkan juga tidak terkontaminasi oleh dunia kita. Jangan sampai engkau dicemarkan oleh dunia. Kita harus waspada terhadap segala isme yang ada di dunia ini dan menutup/ mengunci mereka dengan iman yang kembali kepada Tuhan.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)