Ringkasan Khotbah : 20 Oktober 2013

The Punishment: Darkness

NatsYohanes 3:18-19

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Konteks nats hari ini adalah Yohanes 3:16-21 yaitu perbincangan antara Tuhan Yesus dengan seorang yang sangat senior, Theolog, anggota Sanhedrin, seorang ahli Mahkamah Agama (pemegang otoritas tertinggi dalam keagamaan Yahudi), bernama Nikodemus. Diperkirakan usia Tuhan Yesus pada waktu itu 30 tahun sedangkan Nikodemus berusia sekitar 60 tahun. Dalam perbincangan tersebut, setiap kali Tuhan Yesus melontarkan kalimat, Nikodemus menjadi bingung tetapi terus berusaha untuk bisa mengerti.   

Yohanes 3:16 merupakan esensi Injil dan mungkin sangat sering kita dengar/ baca/ renungkan. Ayat ini memberitakan bahwa barangsiapa percaya kepada Tuhan Yesus, dia akan mendapatkan hidup yang kekal. Dalam Yohanes 3:21 Tuhan Yesus memperjelas apa yang seringkali menjadi masalah di dalam iman Kristen. Apa yang dimaksud dengan percaya dan kalau tidak percaya lalu bagaimana? Pergumulan ini menjadi berat karena jawabannya terkesan sulit dimengerti yaitu Yohanes 3:18-19. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.

Alkitab menyatakan bahwa manusia yang tidak percaya sudah berada di bawah penghakiman/ hukuman. Hal ini berarti bahwa manusia sudah dalam kondisi tidak percaya; ketika seseorang tidak percaya bukan berarti baru saat itu dia tidak percaya melainkan sudah merupakan kondisinya bahwa dia tidak percaya. Manusia percaya merupakan sebuah reaksi sedangkan manusia tidak percaya merupakan sebuah kondisi. Jadi adalah sebuah anugerah jika manusia bisa menjadi percaya. Manusia yang tidak percaya bukanlah karena kekurangan anugerah melainkan karena memang sudah menjadi kondisinya. Yohanes 3:19 menyatakan hukuman bagi manusia yang tidak percaya.

Menghakimi berbeda dengan memberikan penilaian. Memberikan penilaian tidak berbuntut pemberian sanksi, sedangkan menghakimi berbuntut sanksi/ hukuman. Ketika terjadi penghakiman, orang tidak bisa menghindar; kalau orang lari dari penghakiman maka dia akan mendapatkan sanksi yang lebih berat. Penghakiman adalah hak Tuhan. Ketika Tuhan melakukan penghakiman, sanksi langsung dijatuhkan berdasarkan tuntutan keadilan. Allah sebagai hakim tertinggi bisa mendelegasikan tugas penghakiman kepada negara yang berhukum, yang lalu memberikan wewenang tersebut kepada hakim. Tidak sembarang orang boleh menjadi hakim karena hanya hakim yang boleh menjatuhkan vonis dalam pengadilan.

Yohanes 3:19 berisi tentang hukuman yang dijatuhkan kepada manusia yang tidak percaya, tetapi isi ayat ini terkesan sulit dimengerti sebagai bentuk hukuman, yaitu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Manusia sulit untuk mengerti arti hukuman di atas karena memang manusia tidak mengerti betapa fatalnya mereka di hadapan Tuhan. Salah satu hal yang mengerikan di dunia ini adalah ketika kita dihakimi/ dihukum tanpa kita sadar bahwa kita sedang dihakimi/ dihukum, ibarat seekor katak yang direbus dengan api kecil. Katak memiliki kemampuan mudah menyesuaikan suhu tubuhnya dengan suhu sekitarnya, sehingga ketika direbus dia tetap asyik berenang tanpa menyadari bahwa dia sedang menuju kematian. Fatalnya kebinasaan dunia adalah karena dunia tidak tahu bahwa dia sedang menuju kebinasaan.  Melakukan dosa diibaratkan makan permen yang berisi racun yaitu luarnya manis sedangkan isinya mematikan; kalau kita tahu bahwa permen itu adalah racun maka kita akan membuangnya waktu masih terasa manis/ belum termakan racunnya.

Penghakiman yang menakutkan adalah ketika kebenaran itu diletakkan di depan mata kita dan kita tidak bisa melihatnya. Kegelapan yang terbesar adalah ketika terang itu diletakkan di depan mata kita tetapi kita tidak bisa melihatnya karena kita telah dikuasai oleh kegelapan itu. Inilah hukuman yang paling menakutkan.

Para ahli Taurat tidak mengerti, mereka gelap, padahal mereka adalah hakim, dan nantinya mereka akan membunuh Sang Terang. Terang itu hadir di dalam dunia ini tetapi milik kepunyaan-Nya lebih menyukai kegelapan daripada Terang. 

Ada 3 aspek hukuman Tuhan yang akan kita bahas yaitu:

1)     Kemampuan kita untuk melihat Terang sudah tertutup.

Dosa menjadikan manusia tertutup di dalam kegelapan. Di dalam kegelapan, manusia tetap bisa beraktivitas tetapi kebanyakan aktivitas itu akan merusak diri manusia itu sendiri, misalnya: berjalan tetapi menabrak tembok. Ketika manusia tidak mau melihat problema kegelapan ini dan tidak mau menerobos kepada terang, maka manusia akan mengalami celaka. Hukuman itu turun karena Terang itu sudah hadir tetapi manusia tidak mampu melihat Terang itu. Siapakah yang membuat manusia menjadi gelap? Bukan Tuhan yang membuat manusia menjadi gelap melainkan kondisi manusia itu sendiri yang memang gelap. Dosa yang menggelapkan seluruh hidup kita.    

Janganlah kita menolak terang yang diberikan oleh Tuhan kepada kita walaupun hal itu menyilaukan. Di dalam kegelapan kita merasa lebih aman dan damai karena tidak terlihat sedangkan di dalam terang kita menjadi terlihat dari mana-mana dan menyilaukan, maka ketika Terang itu datang, kita membuang Terang tersebut. 

2)     Manusia “buta”.

Terang yang dimaksud adalah Allah yang hadir ke tengah dunia untuk membongkar semua pola pikir manusia. Terang tersebut adalah paradigma/ pola pikir baru dimana kita kembali kepada Allah. Kehidupan iman bukan kehidupan yang sekedar tampak tetapi merupakan kehidupan pola pikir yang harus diperbaiki. Butanya manusia adalah buta pada pola pikirnya, dan itulah yang menjadi penyebab kecelakaan besar. Ketika kita “buta”, kita tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan oleh dunia ini, dan kita sendiri berpikir dengan cara yang sangat berdosa.

Di Amerika, ketika kita tidak menyetujui homoseksual dan aborsi, bukannya mereka yang dipaksa untuk berubah melainkan kita yang bisa dipenjarakan. Orang yang takut akan Tuhan, yang hidupnya beres justru berada di penjara, sedangkan orang yang atheis dan hidup bejat justru berkeliaran. Inilah dunia yang “buta”. Dunia tidak mau toleran dengan kita yang benar melainkan dunia mau kita yang ikut mereka. Kalau kita tidak mau ikut mereka maka dunia akan menyiksa kita atau bahkan mematikan kita.

Ketika manusia “buta” atau pikirannya buntu, hanya diperlukan anugerah Tuhan. Kristus datang ke tengah dunia ini untuk membongkar kebuntuan tersebut, untuk mematahkan belenggu iblis yang menjadikan mata kita menjadi “buta”. Alangkah bahagianya jika anugerah Tuhan itu tiba atas diri kita sehingga kita bisa melihat Terang itu. Janganlah kita menghina kesempatan untuk dapat melihat Terang itu, dan jangan banggakan hal itu seolah-olah karena kepandaian kitalah kita bisa memperolehnya.      

3)     Hukuman itu menghasilkan kematian.

Kita bukan dihukum mati melainkan kita menghukum diri kita sendiri untuk mati, yaitu dengan mencoba menyangkali kematian. Kecelakaan yang besar adalah tipuan atheisme yang menyatakan bahwa hidup hanyalah di dunia ini, Tuhan tidak ada, setelah hidup kita semua mati dan selesai semuanya. Orang yang terkena pikiran seperti ini akan hidup rusak di tengah dunia karena menganggap Tuhan tidak ada dan setelah mati semuanya akan selesai. Ketika berada di ujung kematian akan muncul ketakutan yang luar biasa karena merasa tidak siap berhadapan dengan kematian. Pada saat itu manusia berhadapan dengan realita yang sejati bahwa setelah kematian segalanya belum selesai, tetapi dia sudah tidak bisa mundur lagi, dan kini dia harus berhadapan dengan penghakiman. Kita semua akan berhadapan dengan penghakiman terakhir di mana Kristus yang menjadi hakim dan kita tidak bisa menghindar dari hal itu.

Bagi dunia, tragedi kematian menjadi sesuatu yang mengerikan tetapi manusia tidak tahu harus berbuat apa. Manusia pikir bahwa dengan tutup mata persoalan menjadi beres, padahal hal tersebut bukanlah penyelesaian. Inilah kengerian hukuman yang bersifat final. Setan bukan hanya berbicara di kondisi kini tetapi bahkan sampai titik final. Setan butakan manusia sampai mati. Inilah hukuman yang paling mengerikan. Pada saat itu manusia baru tahu bahwa dia sendiri yang membawa dirinya kepada hukuman tanpa dia sadari.

Karena urusan yang begitu dahsyat itulah maka Kristus harus mati di atas kayu salib. Dosa itu masalah yang besar dan dahsyat. Betapa bahagianya kalau dalam segala aspek mata kita bisa celik dan kita bisa melihat Terang itu. Tidak ada manusia yang sempurna tetapi ketika Tuhan bukakan Terang itu, kita berani membuka mata untuk melihat Dia, maka hal itu akan menjadi langkah awal yang akan membukakan mata kita dan membawa kita untuk terus belajar melepaskan diri dari ikatan dosa dan kembali kepada Kristus, melihat Kristus sebagai fokus hidup kita, melihat Kristus sebagai seluruh target pelayanan kita. Tuhan memberikan kesempatan itu dengan menyodorkan Terang itu di depan mata kita. Mari kita belajar untuk menghormati apa yang Tuhan kerjakan. Mari kita belajar untuk berani mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang memerlukan Terang itu.

Pertobatan sejati adalah kesadaran bahwa diri kita berdosa serta merupakan kesucian yang masih kita harapkan dan yang akan kita capai. Biarlah Terang yang memimpin hidup kita. Untuk itulah secara periodik kita berbagian dalam Perjamuan Kudus. Setiap kali momen Perjamuan Kudus, Tuhan mengingatkan kita lagi untuk bertumbuh selangkah demi selangkah sehingga semakin dipakai Tuhan dan semakin berada di dalam Terang.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)