Ringkasan Khotbah : 22 September 2013

Kembalinya Anak yang Hilang

NatsLukas 15:11-24

Pengkhotbah : Pdt. Solomon Yo

 

Nats hari ini merupakan perumpamaan ketiga dari satu rangkaian perumpamaan, yang dimulai dari perumpamaan tentang domba yang hilang, kemudian tentang uang logam yang hilang, dan tentang anak yang hilang. Perumpamaan tentang anak yang hilang dan orang Samaria yang baik hati merupakan dua perumpamaan yang paling berpengaruh dan paling dikenal orang. Bagi sebagian orang, perumpamaan tentang anak yang hilang merupakan Injil di dalam Injil (Injil mini).

Kisah ini disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam konteks orang Yahudi dan para ahli Taurat memprotes Tuhan Yesus karena Tuhan Yesus mau bergaul dengan pelacur dan orang berdosa (ay. 1-2). Perumpamaan ini menunjukkan betapa sukacitanya Allah menyambut orang berdosa yang mau bertobat, sedangkan ada orang yang tidak punya hati untuk menerima orang-orang seperti itu dan justru mau menyingkirkan mereka.

Perumpamaan ini mulai dengan memperkenalkan tiga tokoh utamanya: seorang bapak dengan dua orang putranya. Seorang putranya hidup dalam nafsu yang liar, dalam segala kenikmatan dunia (si bungsu), dan yang seorang lagi hidup dalam ketaatan beragama/ kesalehan (si sulung). Melalui perumpamaan ini Tuhan Yesus hendak menyampaikan dua  macam kehidupan berdosa yang sama-sama terhilang di mata Allah. Seringkali kita melihat bahwa yang terhilang adalah si bungsu, tetapi sebenarnya pukulan yang jauh lebih tajam adalah terhadap si sulung, yang mewakili orang Yahudi dan para ahli Taurat yang memprotes Tuhan Yesus. Jadi ada dua orang anak yang hilang dalam cerita ini, yang satu kembali sedangkan yang satunya lagi tidak disebutkan responnya. Uraian hari ini akan berfokus pada si bungsu.

Kisah ini dimulai dengan si bungsu yang meminta pembagian harta warisan dari orang tuanya, sebelum orang tuanya meninggal dunia. Secara umum, orang tua Yahudi tidak memberikan warisan sebelum dia meninggal dunia. Sikap si bungsu ini merupakan sikap kurang ajar, sikap yang sangat jahat, yang seakan-akan menganggap bahwa orang tuanya sudah meninggal dunia. Sikap demikian memang sejalan dengan gaya hidupnya yang merupakan anak berandalan. Anak ini menuntut harta yang menjadi haknya (menurut dia), padahal sebenarnya dia tidak mempunyai hak itu. Orang tua memberi harta kepada anak karena kasih sayang, bukan karena anaknya berhak. Orangtua berhak untuk tidak memberikan hartanya kepada anaknya. Jadi sebenarnya seorang anak tidak berhak untuk meminta harta orang tuanya.  

Dengan sikap si bungsu seperti di atas justru menunjukkan siapa dirinya. Dia adalah orang yang tidak menginginkan bapanya, tidak sayang kepada bapanya, dia mengabaikan kasih sayang orang tuanya, dia mau menjalankan hidupnya tanpa campur tangan orang tua, dia mau hidup secara berlawanan dengan harapan orang tuanya, karena itu dia mau pergi meninggalkan orang tuanya dengan membawa uang yang banyak.

Anak merupakan bagian/ekstensi dari orang tua sehingga orang tua akan merasakan sakit ketika melihat anaknya hancur. Sikap si bungsu yang demikian adalah seperti merobek hati orang tuanya. Menurut Alkitab, anak durhaka haruslah dihukum mati. Bagi orang Kristen, kita tidaklah boleh bertindak seperti si bungsu, apalagi kita mempunyai Bapa di Sorga sehingga adalah dosa yang besar jika kita bertindak seperti si bungsu terhadap Dia. 

Si bungsu telah memberontak terhadap bapanya, dan pada waktu yang sama dia telah merusak dirinya, dia menodai kemanusiaannya, dia membuat statusnya yang mulia sebagai anak dengan segala fasilitasnya menjadi lebih rendah bahkan lebih rendah daripada babi. Ketika seseorang memiliki ketidakberesan di dalam hatinya, pada waktu dia secara penampilan mulia sebenarnya dia sedang menuju kepada kebinasaan. Janganlah kita melihat penampilan luar seseorang. Seorang penjahatpun ketika hatinya disentuh oleh Tuhan maka dia akan bertobat dan menjadi orang yang saleh, sedangkan orang yang tidak jujur tetapi rajin ke gereja akan menjadi orang yang munafik dan tidak pernah mengalami pembaharuan dalam hatinya. Tuhan melihat jauh ke dalam hati manusia, siapakah manusia yang saleh dan yang tidak.

Respons si bapa sungguh mengejutkan, dia membagikan harta kekayaannya kepada anak-anaknya. Sebenarnya, tindakan si bapa secara faktual dilakukan oleh Allah Bapa. Dia memberikan kepada orang jahat dan orang baik matahari, hujan, musim, kepandaian yang luar biasa, dll. Inilah cara-cara Tuhan yang sangat menakjubkan, yang seharusnya membuat kita tidak boleh sembarangan, karena pada akhirnya siapa yang tidak benar akan mengalami kerugian dan menumpuk dosa sedangkan orang yang benar akan diberkati. 

Harta yang diberikan oleh bapanya tidaklah berupa uang tunai melainkan semacam hidup/ bagian dari si bapa. Setelah mendapatkan harta tersebut, si bungsu menjualnya sehingga mendapatkan uang tunai yang bisa dipakainya untuk berfoya-foya. Lalu pergilah dia ke tempat yang jauh, jauh dari keluarga, jauh dari Allah, jauh dari warisan iman keluarganya, jauh dari kebenaran, jauh dari hidup yang diperkenan Allah, supaya dia bisa bebas berbuat dosa. Memboroskan harta adalah sama dengan memboroskan hidupnya, tenaganya, dirinya sendiri. Dia hidup di dalam kegelapan dan melampiaskan nafsunya.  

Terlihat dari karakternya, dari awal sudah dapat diasumsikan bahwa harta dari si bungsu itu akan habis pada akhirnya. Dalam waktu singkat orang yang kaya bisa berubah menjadi miskin. Orang yang hidupnya berfoya-foya/ berjudi pasti hartanya akan habis. Semua orang ingin meraih kebahagiaan hidup, tetapi kebahagiaan sejati hanya bisa diberikan/ dipuaskan oleh Tuhan. Orang yang meninggalkan Tuhan akan hidup secara bodoh/ rusak dan akan menghancurkan dirinya sendiri. Janganlah kita takut anak kita tidak memiliki uang tetapi takutlah kalau mereka tidak memiliki iman/ sikap hidup yang benar.  

Masa sulit akan tiba dalam hidup kita. Kitab Amsal mengajar kita untuk rajin dan bijaksana seperti semut yang mempersiapkan diri menghadapi musim dingin dengan cara rajin mengumpulkan makanan pada musim panas. Ketika mengalami masa sulit ini, si bungsu pun pergi bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Si bungsu terpaksa harus bekerja karena harus mengisi perutnya. Karena tuntutan perutnya itu maka dia mau bekerja apa saja, bahkan pekerjaan yang najis sekalipun yaitu menjadi penjaga babi. Bagi orang Yahudi, babi adalah binatang najis. Tetapi, pekerjaan tersebut tidaklah cukup memberi dia makan sehingga dia juga menginginkan makanan babi tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

Si bungsu yang semula kaya sekarang mendapati dirinya bergantung pada tuan yang tidak memiliki belas kasihan, yang lebih menghargai babinya daripada pekerjanya. Hal ini tentu saja sangat menyakitkan hati si bungsu. Dia secara tragis mendapati dirinya dianggap lebih rendah daripada babi-babi. Hal ini merupakan gambaran degradasi yang begitu mendalam. Orang yang meninggalkan Tuhan akan menghadapi dirinya hancur, bahkan orang yang berpotensi sekalipun, karena musuh yang sebenarnya adalah diri kita sendiri. Orang yang merasa bersalah akan mengacaukan semuanya yang baik. Ketika orang beriman sungguh-sungguh dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan maka dia tidak akan dibuang oleh Tuhan tetapi justru diberkati oleh Tuhan.

Apa yang dialami oleh si bungsu merupakan anatomi dosa. Dosa bukan sekadar melawan Tuhan tetapi juga memusuhi diri, mengkhianati diri dan menghancurkan harkat/ nilai diri. Kalau kita hidup baik-baik di hadapan Tuhan maka Tuhan akan senantiasa membela kita, tetapi kalau kita hidup berdosa maka habislah kita.  

Dalam keterpurukannya yang paling mendalam itu si bungsu mulai sadar bahwa keadaannya yang mengenaskan itu adalah akibat kesalahannya sendiri. Kondisi paling buruk yang boleh kita alami terkadang dipakai oleh Tuhan untuk menyadarkan kita. Seringkali ketika semuanya berjalan lancar justru orang menjadi lupa diri. Si bungsu berada dalam kondisi begitu buruk, begitu terhina, begitu hancur, yang kalau diteruskan akan membawa dia kepada kematian. Tuhan tahu menghajar orang-orang yang Dia cintai. Di kandang babi itulah si bungsu mendapatkan pelajaran dari Tuhan. Dia baru sadar bahwa di tempat bapanya berlimpah makanan sedangkan dia mati kelaparan di tempat majikannya. Ketika kita hidup dalam dosa, kita mengalami kondisi ironis seperti ini. Orang upahan bapanya bisa hidup lebih baik daripada dia. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk kembali kepada bapanya.

Ada orang yang ketika sadar akan dosanya justru pergi bunuh diri, dan ada juga yang mau membawa orang lain untuk mati bersama dengan dia. Kita harus bersikap seperti si bungsu yang mau bangkit dan kembali kepada Allah. Allah Bapa akan berkata: Bangunlah, bangkitlah dan kembalilah! Si bungsu sadar bahwa dirinya sudah berdosa terhadap bapa dan sorga. Sebelumnya si bungsu tidak pernah berurusan dengan hal rohani, tetapi kini dia sadar bahwa dia hidup di dalam dunia Tuhan dan semua yang dilakukannya terpapar di hadapan Tuhan. Kalau kita memiliki kesadaran ini maka kita tidak akan hidup berdosa dan dapat terus menjaga kesalehan hidup kita. Di hadapan Tuhan tidak ada hal yang bisa kita tutupi. Banyak orang beragama dan berpenampilan suci tetapi bagian dalam dirinya penuh dengan kebusukan.

Ketika kesadaran rohaninya muncul, si bungsu sadar bahwa dirinya tidak layak disebut sebagai anak bapanya. Hal ini kontras dengan sikapnya di awal cerita dimana dia merasa memiliki hak atas harta bapanya. Kini dia menyadari bahwa dirinya tidaklah mempunyai hak dan dia rela dijadikan orang upahan bapanya. Orang upahan adalah orang yang digaji harian dan pekerjaannya tidak selalu ada; orang ini tidaklah memiliki jaminan kesejahteraan hidup.

Akhirnya si bungsu pulang kepada bapanya dan bapanya yang penuh belas kasihan merangkul dan mencium dia. Ada orang yang ketika sadar takut untuk kembali karena takut ditolak. Allah yang penuh belas kasihan mau menerima manusia yang bertobat sungguh-sungguh, tetapi Dia juga menyediakan neraka bagi mereka yang tidak mau bertobat dan yang mendukakan Roh Kudus. Allah yang penuh kasih adalah juga bersikap keras, bahkan lebih menakutkan daripada iblis. Bapa si bungsu berespons dengan penuh anugerah dan berkat. Kita adalah orang berdosa, ibarat puntung neraka, yang dipungut oleh Tuhan, yang diberikan pemulihan oleh Tuhan, dan diberikan kemuliaan oleh Tuhan. Apa yang Tuhan lakukan adalah melewati akal kita. Tuhan ber­sikap “sangat boros” dalam menyelamatkan kita. Seharusnya Tuhan cukup mengirim­kan malaikat untuk menggantikan hukuman kita. Allah telah memberikan kepada kita yang tidak layak ini jauh lebih dari yang bisa kita pikirkan. Hanya puji, sembah sujud yang tiada henti, dan persembahan diri yang bisa kita berikan kepada Dia.

Dalam hidup yang suci dan benar di hadapan Tuhan manusia akan mendapatkan berkat Tuhan. Hati yang tidak kembali kepada Tuhan maka segala sesuatu, termasuk kekayaan dan keluarga, menjadi kutuk bagi dirinya. Ketika si bungsu kembali, bapanya mengadakan pesta bagi dia. Allah begitu bersukacita ketika manusia mau kembali kepada-Nya, dan Allah akan mencurahkan berkat-Nya bagi orang tersebut.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)