Ringkasan Khotbah : 8 September 2013

Spiritual Threshold

NatsRoma 12:3 

Pengkhotbah : Pdt. Warsoma Kanta

 

Setiap kita mempunyai pergumulan dalam kaitannya dengan pertumbuhan rohani kita. Kita merasa bahwa kehidupan Kristen kita hanya berjalan di tempat. Di bagian yang lain, mungkin kita pernah terlibat dalam pelayanan di gereja lain sehingga kita merasa sudah memiliki kerohanian yang baik, tetapi ketika berada di GRII kita melihat bahwa standard yang ditentukan begitu tinggi sehingga akhirnya kita merasa minder dan takut untuk bisa melayani Tuhan. Ketika kehidupan Kristen dikhotbahkan setiap hari Minggu, kita merasa bahwa hal tersebut sangatlah ideal tetapi sulit untuk dikerjakan. Di satu sisi kita mendengar pengajaran Firman Tuhan yang begitu dalam tetapi di sisi lain kita menjalani kehidupan iman yang begitu dangkal. Apakah sebenarnya yang menjadi pokok permasalahannya?

Roma 1-11 merupakan pasal-pasal yang dipakai oleh Paulus untuk menjelaskan tentang berbagai aturan dan sistematika pemahaman doktrin yang begitu dalam. Setelah itu dalam Roma 12:1 dibahas tentang persembahan hidup. Orang bukan hanya mengerti tentang doktrin/ kebenaran tetapi mereka dipanggil untuk beribadah kepada Tuhan secara hidup yaitu dengan cara menjadikan dirinya sebagai persembahan yang  hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah yang sejati.

 Bukan hanya ibadah yang sejati, mereka juga harus mengalami perubahan diri. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan akal budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Jadi slogan ibadah yang sejati perlu diturunkan ke dalam realita hidup kita, di tengah-tengah pergumulan yang nyata. 

Pembaharuan akal budi harus dikaitkan dengan standard/ tolok ukur yang tertulis dalam Roma 12:3: hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, Ayat ini merupakan ayat yang begitu penting agar Roma 12:1-2 bisa beroperasi, yaitu mengenai keharusan adanya ukuran iman. Ayat-ayat selanjutnya mengajar kita agar bisa menjadi anggota tubuh Kristus yang proporsional. Jadi bukan sekedar mempersembahkan diri tanpa diketahui orang lain tetapi juga harus senantiasa dikaitkan dengan keberadaan diri sebagai anggota tubuh Kristus, agar kita bisa bertumbuh.

Nats hari ini melarang kita untuk memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kita pikirkan, berarti ada kemungkinan kita menilai lebih tinggi, sehingga kita merasa sudah melakukan pekerjaan Tuhan padahal kita bukan melakukan pekerjaan Tuhan, padahal kita bukan mengerti kehendak Allah, sehingga terjadilah penipuan diri.

Kita juga berkemungkinan menilai diri lebih rendah. Kita sudah melakukan kehendak Allah tetapi kita tidak tahu apakah kita sudah melakukannya atau belum, lalu kita merasa minder dan frustrasi karena kita tidak bisa mencapai apa yang kita inginkan.

Hal yang penting dari Roma 12:3 yaitu: penguasaan diri dan perubahan diri menurut ukuran iman. Dalam hal ini ada pandangan yang mengatakan bahwa iman itu seperti angin, yang tidak dapat kita lihat tetapi kita tahu bahwa iman itu ada. Martin Luther mengkaitkan imannya dengan kekudusan hidup, oleh sebab itu dia menjalani seluruh hidupnya dengan pergumulan iman yang pasang-surut tiada henti. Bagaimana halnya dengan iman kita?

Ukuran berkaitan dengan penilaian seseorang. Seringkali kita menilai orang lain berdasarkan hal-hal yang menempel pada diri orang tersebut, seperti: hartanya, pendidikannya, budayanya, dll. Siapakah kita sehingga kita boleh menilai orang lain?

Nats hari ini sangat penting karena membicarakan tentang ukuran yang realistis atau tidak. Realistis atau tidak dinilai berdasarkan standard apa? Hal inilah yang menyulitkan iman.

Penilaian bukan berhenti pada sebuah penilaian, ukuran juga bukan berhenti pada sebuah ukuran, tetapi ukuran itu harus berakhir pada sebuah tujuan yang baik. Tidak ada ukuran yang akhirnya membuat kita menjadi sombong ataupun rendah diri sehingga akhirnya dipakai setan untuk menghancurkan pekerjaan Tuhan. Ukuran seharusnya membuat kita semakin mengerti tentang siapa diri kita. Iman itu sedemikian kecil sehingga kita merasa tidak perlu lagi memikirkannya, padahal iman adalah sesuatu yang sangat serius dan begitu rumit, karena dalam pembentukan iman terdapat realita yang bisa kita lihat demikian:  

1)     Berkaitan dengan saya dan Allah saya.

Hal ini merupakan bagian penting manusia seumur hidupnya karena Allah sudah menanamkan sensus devinitas/ benih Illahi dalam diri manusia. Pertanyaan tentang Allah bisa digantikan dengan pertanyaan tentang diri bahkan yang tanpa Allah, tetapi manusia tidak bisa melepaskan diri dari keberadaan Allah itu sendiri. Hal inilah yang menyebabkan iman kita menjadi sebuah misteri yang sulit untuk kita pahami. Siapakah kita sehingga bisa menjangkau pikiran Tuhan kecuali kalau Tuhan sendiri yang menyatakan pikiran-Nya sendiri? Siapakah kita sehingga dapat memberikan penafsiran kalau bukan Allah yang memberikan pemahaman dalam akal budi kita? Ketika kita mengenal Allah, seberapa besar kita sudah mengalami perubahan demi perubahan?

2)     Berkaitan dengan saya dan diri saya.

Ketika kita putus asa/ patah hati/ mengalami tantangan, kita boleh belajar sesuatu dari sana. Semakin lama pengetahuan kita semakin bertambah, ketrampilan kita semakin bertumbuh, pengalaman-pengalaman kita semakin rumit. Semakin lama kita merasakan diri kita ditempa oleh Tuhan. Kita terus memperkaya diri agar dapat menjadi orang yang berguna.

3)     Berkaitan dengan saya dan pribadi spiritual signifikan saya.

Figur tertentu akan menentukan karakter dan profil kita. Ketika kita bertemu dengan siapapun, adakah kerinduan dalam hati kita untuk mencari harta rohani dalam diri orang tersebut, bukan mencari gosip ataupun kelemahan? Calvin mengeluarkan ajarannya dengan dipengaruhi oleh pikiran dari para pendahulunya, hanya saja pendahulunya tersebut tidak bisa menuangkan pikiran mereka sejernih Calvin. Ketika figur-figur spiritual kita mengalami pergumulan, seolah-olah iman kita juga ikut rontok, sehingga kita cenderung mengagung-agungkan dia dan tidak bisa melihat dia sebagai manusia yang apa adanya. Kita sulit menerima dia kalau dia adalah orang yang gagal. Hal ini terjadi karena figure figure itu demikian penting bagi pembentukan kita .

4)     Berkaitan dengan saya dan anggota tubuh Kristus yang lain.

Sebagai anggota tubuh Kristus, kita dan teman-teman kita terikat dalam 1 gereja yang memiliki warna liturgi tertentu, yang akan menentukan bentuk keyakinan serta pemahaman iman kita.

5)     Berkaitan dengan saya dan gereja berhadapan dengan dunia.

Persoalan hidup orang sekitar yang dihadapi gereja Tuhan berbeda untuk setiap tempat.

Janganlah kita tertipu dengan filsafat yang mengumbar kenikmatan. Psikologi sekuler yang berkaitan dengan jiwa manusia tidaklah pernah memikirkan tentang Tuhan. Hidup manusia dianggapnya datar/ horizontal semata dan tidak pernah dipikirkan secara vertikal. Kita seharusnya menempatkan relasi kita dengan Tuhan secara serius. Ketika kita menempatkan relasi kita dengan Tuhan secara sembarangan, maka kita akhirnya tidak akan bisa memahami tentang iman kita sama sekali.

Kita sebetulnya seperti musafir yang sedang berjalan di tengah-tengah padang. Kita terkadang tidak bisa mendeskripsikan iman kita secara detail dan kita tidak tahu ke mana iman kita akan melangkah, tetapi kita tahu siapa yang memimpin iman kita. Ukuran iman kita menentukan seberapa jauh batasan atau ambang atau level spiritual kita.

Ada 3 aspek dalam ukuran iman yaitu:

1)     Kaitannya dengan isi iman kita.

Isi iman menyangkut seberapa benar iman kita, tapi seringkali yang perlu dipikirkan adalah seberapa besar usaha kita untuk mencari kebenaran, seberapa gigih usaha kita untuk menuntut kebenaran dan seberapa dalam usaha kita untuk menggali kebenaran. Kita dituntut untuk memperdalam iman kita kalau kita ingin mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang kudus, yang hidup dan yang berkenan kepada Tuhan. Seberapa besar kita sudah mendedikasikan hidup kita? Seberapa besar kita menanyakan adanya Tuhan dalam hidup ini? Seberapa besar kita menanyakan tentang siapakah Tuhan kita? Hal itu akan memperluas dan meningkatkan spiritual threshold kita sehingga kita bisa lebih siap dalam menghadapi pergumulan hidup.

Charles Haydon Spurgeon mengatakan bahwa Allah tidak pernah absen ketika umat-Nya sedang diuji, Dia akan tetap berdiri di sudut sebagai penasihat mereka untuk kepentingan mereka. Percayalah bahwa Tuhan tidak akan pernah absen dalam pergumulan hidup kita. Ini bukan hanya sebuah pengetahuan semata tetapi sebuah keyakinan dan iman yang lahir dari pengalaman. Seberapa besar pengalaman kita mencerminkan pengetahuan dan pengenalan iman kita?

2)     Seberapa besar iman kita.

Seberapa besar dan luas spiritual threshold kita untuk bisa menangkap semua peristiwa. Ada nasihat yang menarik yaitu: biarlah imanmu lebih besar daripada ketakutanmu. Seberapa besar ilmu yang kita miliki dan pengalaman-pengalaman hidup kita boleh membekali kita dalam menghadapi ketakutan hidup ini? Bagaimana pengalaman-pengalaman itu membawa kita kepada pengenalan akan Allah? Pengalaman itu unik untuk setiap manusia dan kita harus bisa menghadapinya sebagai bagian penting dari hidup kita yang akan membentuk iman kita. Seberapa jauh kita menggali bongkahan-bongkahan iman kita akan menentukan bagaimana kita akan menjalani pasang surut hidup kita.

3)     Pondasi iman kita.

Dalam hal ini kita berbicara mengenai konsistensi iman, seberapa kuat iman kita. Seberapa usaha kita untuk menjaga konsistensi iman kita? Ada orang yang melupakan Tuhan akibat pengalaman-pengalaman hidup yang dijalaninya. Konsistensi diuji oleh waktu yang panjang dan waktu merupakan penguji yang paling kejam. Ada sebuah doa yang seringkali kita dengar yaitu: Tuhan, tambahkanlah imanku. Pernahkah kita berdoa demikian?

Seberapa jauh kita mempunyai iman? Seberapa jauh kita memperjuangkan iman kita? Sebuah kutipan dari Martin Luther berbunyi: iman, yang kuartikan sebagai kehidupan orang Kristen, lebih merupakan karya Tuhan dibandingkan karya kita. Ia menyaksikan bagaimana pemimpin-pemimpin agama dan tokoh-tokoh dalam PL bukan sekedar menjalani dan mengusung iman, melainkan menjalani kehidupan orang Kristen/ orang beriman. Inilah yang merupakan karya Tuhan yang perlu kita doakan agar Tuhan boleh menitipkan suatu karya-Nya yang luar biasa bagi kita, mungkin melalui penyakit dan tantangan yang berat. Seberapa jauh dan dalam usaha kita memperlebar threshold iman kita bahkan di tengah sakit dan pergumulan hidup ini?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)