Ringkasan Khotbah : 1 September 2013

Orang Benar dan Orang Saleh: Bagaimana Memahaminya

NatsMazmur 1:3-4 

Pengkhotbah : Pdt. Thomy J. Matakupan

 

Kita ingin dilihat orang sebagai orang benar, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, karena kita memang sudah dibenarkan secara status/ posisi oleh Kristus Yesus. Keinginan untuk terlihat sebagai orang benar adalah sangat wajar, tetapi kita harus membedakan antara bersifat religius dengan bersifat saleh sejati/ rohani. Dalam Alkitab terdapat contoh-contoh orang yang bersifat religius tetapi Tuhan Yesus berkata kepada mereka bahwa Dia tidak ada pada diri mereka, padahal mereka selalu mengikut Yesus kemanapun Dia pergi. Mereka mengikut Yesus karena ingin mendapatkan sesuatu dari Diri-Nya Kristus, tetapi segera setelah mereka mendengarkan perkataan Kristus yang keras tentang diri mereka maka mereka berkata: Perkataan ini terlalu keras, siapakah yang sanggup untuk mendengarkannya? Lalu satu per satu pergi meninggalkan Kristus, padahal mereka tampil sebagai orang yang sangat religius dan begitu mengejar Tuhan (Yohanes 6).  

Dalam Mazmur 1:3 terdapat pengamatan secara detail oleh pemazmur untuk mengungkapkan tentang orang yang saleh/ rohani. Orang yang saleh adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan daunnya tidak pernah layu. Hal detail yang pemazmur soroti adalah “yang ditanam” dan “daunnya tidak layu”. Alkitab seringkali menggunakan gambaran metafora tentang hidup Kristen. Dalam nats hari ini, gambaran hidup Kristen adalah seperti pohon, buah dan daun. Detail-detail di dalam alam semesta ini mengungkapkan bijaksana Tuhan dan memberitahukan kepada kita tentang apa yang sedang terjadi dalam kehidupan iman kita.

Kita ingin memiliki relasi dengan Tuhan, tetapi bagaimana kita bisa tahu kalau relasi kita dengan Tuhan sudah beres? Ketika kita mengerti tentang Kebenaran dan aspek yang bersifat umum maka kita seringkali merasa cukup puas, lalu kita merasa sudah tampil sebagai orang benar. Sebenarnya, apakah kita semua sudah lulus dalam ujian mengenai hal-hal yang bersifat umum, seperti: membaca, menyelidiki dan merenungkan Alkitab. Bagaimana halnya dengan hal-hal yang bersifat detail, misalnya: Mazmur 1:2: tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Apakah kita lulus menjalankannya? Kita seringkali mengabaikan hal ini karena kita merasa cukup puas dengan konsep umum bahwa kita dibenarkan maka Surga menjadi milik kita karena kita adalah anak Allah. Konsep ini tidaklah salah tetapi kita sudah kehilangan keindahan dari sebuah detail.

Hidup Kristen menyangkut bagaimana kita menemukan sukacita menyangkut aspek detail dalam hidup ini. Gambaran metafora lainnya yang dipakai oleh pemazmur adalah: seperti rusa yang rindu akan sungai-Mu, demikian jiwaku merindukan Engkau, ya Tuhan. Hal detail ini menjadi penengah untuk membedakan antara orang yang religius dengan orang yang saleh. Kita ingin tampil sebagai orang benar, yang mana kebenarannya di dalam kesalehan. Kita haruslah memperhatikan aspek detail agar kita tidak kehilangan arah ketika mencari Kebenaran.

 Seluruh bangunan yang indah dibangun di atas dasar detail-detail. Pada waktu kita berkata bahwa kita punya iman, hal itu dibangun atas dasar tumpukan detail pengalaman karena menemukan kebenaran tentang iman yang kita punyai. Lalu, bagaimana kita tahu bahwa kita bersifat religius ataukah saleh ataukah religius yang saleh? Pemazmur dalam nats hari ini memberikan pertolongan kepada kita untuk mengerti hal ini.

Orang yang benar/ saleh adalah seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, dan tidak demikian halnya dengan orang fasik. Definisi orang fasik di sini adalah: bukan orang yang tidak kenal Tuhan, tetapi orang yang religius. Orang fasik adalah seperti sekam yang ditiupkan angin.

Orang benar itu seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air dan tidak layu daunnya. Pemazmur hendak menekankan aspek kesengajaan, yaitu ada yang menanam dan ada yang memilihkan tempat; juga ada aspek perhatian dan aspek pemeliharaan serta aspek perlindungan. Orang benar tidak akan pernah luput untuk melihat aspek bagaimana Tuhan pelihara secara detail. Hal inilah yang menjadi alasan untuk orang benar berterima kasih kepada Tuhan karena telah menemukan arti baru dari sebuah anugerah. Pohon yang tumbuh secara liar mungkin juga mengalami hal yang sama tetapi ada hal yang luput yaitu memahami adanya pihak yang menjaga, memelihara dan menopang.

Orang yang religius mungkin sekali mempunyai pengetahuan yang banyak tentang Tuhan, tetapi dia hanya menyinggung aspek-aspek di atas secara umum dan melewatkan hal-hal detail dengan begitu saja karena menganggap Tuhan memang sudah seharusnya seperti itu. Orang yang demikian pasti sudah tertancap di pikirannya bahwa apapun yang dikerjakannya adalah sebuah kebenaran dan memperkenan hati Tuhan, misalnya: kalau berhasil mengerjakan sesuatu dia menyimpulkan bahwa hal tersebut adalah rencana Tuhan, sedangkan kalau gagal maka dia menyimpulkan bahwa Tuhan memiliki rencana lain. Orang seperti ini tidak menyalahkan Tuhan tetapi juga tidak bisa menerima apa yang Tuhan kerjakan, bahkan dia jarang menemukan dirinya penuh dengan kesalahan dan dosa. Konsekuensi berjalan dengan Tuhan adalah manusia akan menemukan kesalahan pada dirinya. Bagian ini haruslah dilewati oleh setiap orang percaya karena dia bukanlah makhluk sempurna. Menemukan kesalahan diri adalah sebuah keindahan, walaupun kita kelihatan sebagai orang yang begitu kuat dan memiliki pengetahuan doktrinal Theologi Reformed yang begitu hebat.   

Providensia Allah akan membawa kita untuk menemukan banyak sekali kesalahan yang telah kita perbuat agar kita bisa berubah menjadi sempurna. Makin kita menemukan banyaknya dosa yang kita perbuat, kita akan semakin mengerti dalamnya anugerah pengampunan yang Tuhan berikan. Daud adalah orang yang diperkenan Tuhan, yang daripadanya janji Mesias akan diturunkan. Suatu hari Daud berbuat dosa dan dia tidak merasa bersalah sampai pada saat nabi Natan diutus Tuhan untuk mengingatkan dia. Daud langsung menemukan keindahan di dalam pengampunan, lalu dia berkata: siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat sampai semua dosaku kuberitahukan kepada-Mu. Berbahagialah orang yang diampuni dosanya, yang dosanya tidak diperhitungkan kepadanya! (Mazmur 51) Inilah keindahan dari sebuah penerimaan.

Kita akan bisa berkata bahwa kita tahu dengan pasti kita sedang berjalan bersama dengan Tuhan, karena ketika berjalan bersama dengan Dia, Dia akan membongkar segala kebobrokan kita dan Dia masih memberi kita kesempatan untuk meminta ampun. Ada keindahan dari sebuah penerimaan karena dia ditanam di tepi aliran air, ada perhatian dari Tuhan untuk mengubah kita menjadi pohon yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Pohon yang ditanam di tepi aliran air itu akan menghasilkan buah pada musimnya. Kristus pernah berkata: Barangsiapa percaya kepada-Ku maka dari dalam dirinya akan mengalir terus aliran air hidup, yang akan terus memancar sampai kepada kesudahannya. Barangsiapa tidak bersama dengan Aku, dia melawan Aku. Barangsiapa tidak tinggal dalam-Ku, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalimat-kalimat itu muncul karena adanya sebuah kesengajaan dalam hal menanam dan ada banyak tindakan lain akibat sengaja menanam.

Demikian juga dalam hal berdoa meminta pertolongan. Kitab Amsal mengajarkan: akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Dia akan meluruskan jalanmu. Berdoa untuk sesuatu yang tidak bisa kita pegang adalah hal yang sangat bisa dimengerti, tetapi perlukah kita berdoa untuk sesuatu yang sangat kita kuasai/ keahlian kita? Saya tidak akan pernah lupa peristiwa tertinggalnya boneka di bandara pada saat dibutuhkan untuk pelayanan KKR Regional. Semuanya sudah disiapkan dan sudah diperiksa berulang kali, tetapi ternyata segala sesuatu dapat berubah dalam seketika walaupun kita sudah ahli dalam hal itu. Dengan berdoa kita akan menemukan keindahan dari sebuah kesempatan untuk mengakui kesalahan.  

Ketika pohon itu berbuah, orang akan menyimpulkan bahwa penanamnya adalah orang yang telaten dan baik. Seberapa baik kita dalam keluarga kita, dalam gereja, dan untuk diri kita sendiri? Dapatkah orang melihat “si Penanam” itu dari kumpulan cerita detail tentang Dia dalam hidup kita, bagaimana Dia pelihara dan Dia jaga kita, juga kumpulan detail tentang penerimaan dan kesempatan yang Dia berikan?

Adalah mustahil jika daun sebuah pohon tidak ada yang layu, tetapi pemazmur bermaksud menunjukkan bahwa daun bisa tidak layu ketika akar pohon itu masuk jauh ke dalam tanah mencari sumber makanan. Iman itu seperti akar, yang tidak kelihatan tetapi mengerjakan sesuatu yang ada di luar yang kelihatan. Daun bisa layu tetapi selalu saja ada yang baru/ penggantinya. Pada musim paceklik pohon tetap bertahan dan pada musimnya pohon menghasilkan buah, itu menandakan pemeliharaan Tuhan. Kita pun punya alasan untuk tetap kokoh berdiri karena ada Dia yang memelihara kita. Dia yang membuat kita ada di sini dan Dia terus mengerjakan sesuatu yang tidak kita lihat tetapi kita akan menuai hasilnya pada waktunya. Pada waktu tidak musim maka kita tetap kokoh, pada musimnya kita menghasilkan buah, pada waktu kesusahan kita juga mengalami kesusahan tetapi tidak goyah, pada waktu sukacita kita berterima kasih karena Tuhan mengerjakan sesuatu di belakang semuanya. Ingatlah selalu akan Tuhan dan kehendak-Nya. Orang yang saleh akan memiliki pandangan yang konstan kepada Tuhan dan kehendak-Nya.

Apa saja yang diperbuatnya berhasil, maksudnya adalah percaya bahwa akar di bawah cukup kuat untuk menopang yang di atas, dan akar itu akan terus mencari makanan untuk memenuhi kebutuhan yang di atas, serta akar itu akan menjadi pondasi dalam menghadapi terpaan angin yang besar. Itulah orang yang saleh. Pemazmur mengkontraskan dengan orang fasik yang seperti sekam ditiup angin. Sekam adalah kulit padi yang besar tetapi kosong, sehingga dengan mudah terbang walau ditiup oleh seorang anak kecil. Orang fasik tidaklah punya kestabilan dan kekuatan sehingga akan terbang dengan hembusan angin yang kecil sekalipun. Seseorang bisa mempunyai kekuatan Firman di dalam pikirannya, bisa memahami relasi antar Firman, tetapi mengabaikan detailnya, maka dia kurang mempunyai kekuatan dan perlengkapan yang cukup untuk melihat bangunan imannya bertumbuh dengan besar ke atas.

Saya berharap kita menjadi orang yang pandai menghitung hal-hal kecil yang Tuhan buat, yang seringkali dianggap remeh dan sepele. Mari kita belajar untuk melihatnya sebagai kesempatan serta penerimaan yang Tuhan berikan.   

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)