Ringkasan Khotbah : 18 Agustus 2013

Markus 1:21-27

NatsMarkus 1:21-27

Pengkhotbah : Pdt. Rudie Gunawan

 

Selama 26 tahun pelayanan saya, saya bisa memastikan bahwa 95% kerasukan adalah tidak benar. Semua hal yang diasosiasikan sebagai kerasukan setan tidaklah boleh sembarang kita nyatakan sebagai kerasukan setan. Dari 95% tersebut rata-rata bukanlah kerasukan melainkan stress. Efek lonjak balik dari  stress bermacam-macam, biasanya masuk ke dalam histeria. Kira-kira pada tahun 1989, ketika saya belajar psikologi di SAAT, Pdt. Yakub dalam kuliah mengatakan bahwa di Amerika setiap tahunnya diadakan simposium psikologi dan dalam simposium tersebut dinyatakan bahwa setiap tahun kira-kira dihasilkan 1000 penyakit jiwa baru. Setiap tahun penyakit jiwa yang tahun lalunya belum ditemukan obatnya, tetapi sudah muncul penyakit yang baru. Pada saat kuliah tersebut, dibukakan kepada kami salah satunya adalah penyakit ayan. Ayan adalah penyakit semi jiwa dan semi fisik. Ada 14 jenis penyakit ayan. Ada orang yang menganggap orang berpenyakit ayan sebagai kerasukan setan.

Kalau Alkitab menyatakan bahwa seseorang kerasukan setan, hal itu adalah riil, dan merupakan kasus khusus yang berat. Kalau kita secara sembarangan mencocokkan sebuah gejala dengan yang tercatat dalam Alkitab, lalu menyimpulkan bahwa seseorang kerasukan setan, maka secara tidak sengaja kita telah mempromosikan setan. Yang lebih gawat lagi bila yang mempromosikan setan adalah hamba-hamba Tuhan, yang tidak mau belajar dan memakai teori lama yang menyamakan semua kasus sebagai kerasukan setan.

Kita harus belajar tentang Angelologi dan Satanologi agar tidak dibutakan masalah malaikat dan setan. Malaikat dan setan tidaklah sehebat yang kita kira. Yesus cukup mengatakan sepatah kata yaitu: Diam, keluar! Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa mengusir setan perlu waktu berjam-jam, menengking setan perlu menyebutkan nama Yesus sampai beratus-ratus kali. Okultisme adalah pembodohan jemaat dan penipuan oleh setan, bahkan kebodohan para pendeta yang terjerat ke dalam kerumitan yang tidak perlu dalam pikiran mereka. Janganlah kita bermain-main dengan setan dan jangan mau dipermainkan oleh setan.

Menurut Alkitab, setan ada di mana-mana tetapi dia tidak bisa bergerak seenaknya sendiri, dia berada di bawah kuasa Tuhan. Tuhan terkadang memakai setan untuk mengganggu manusia, misalnya dalam kasus Ayub. Kuasa ada di tangan Tuhan, Tuhan yang memanggil setan dan menyuruh setan, Tuhan pula yang memberikan batasan kepada setan untuk tidak menyentuh jiwa Ayub. Kedaulatan Allah penuh atas segala sesuatu, termasuk atas setan.

Kita tidak melayani setan melainkan melayani Tuhan yang membawahi semuanya. Manusia, malaikat dan setan berada di bawah kekuasaan Allah secara mutlak. Pada waktu setan masuk ke dalam taman Tuhan, Tuhan tidak tergopoh-gopoh ataupun bingung mengusir dia, Tuhan sudah siapkan semuanya. Setan merayu Hawa dan Tuhan diam saja. Hawa memetik buah terlarang dan Tuhan diam saja. Hawa memakan buah itu lalu memberikannya kepada Adam dan Tuhan diam saja. Akibat dari makan buah itu adalah mereka sadar dirinya telanjang lalu menjadi takut dan malu, mereka menjadi kacau. Barulah Tuhan berjalan di taman itu, tanpa tergopoh-gopoh, berarti Tuhan tidak dipengaruhi oleh tingkah ciptaan-Nya.    

1Samuel 16:14: Tetapi Roh Tuhan telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada Tuhan. Ayat ini menunjukkan bahwa ketika Roh Tuhan mundur dari Saul, Tuhan menyuruh roh jahat untuk mengganggu Saul. Hal ini senada dengan kasus Ayub. Hal ini seharusnya membuat kita menjadi tenang dan mantap karena ada Tuhan di balik semua kejadian; setan hanya sampai di situ. Tuhan memberikan izin kepada setan untuk mengganggu kita adalah untuk kepentingan kita sebagai milik-Nya, dan Dia sebagai pencipta dan penebus kita. Rasul Paulus berkata bahwa dia berdoa 3 kali kepada Tuhan untuk mengangkat duri yang ada dalam tubuhnya tetapi dia sadar bahwa anugerah Tuhan saja yang membiarkan utusan iblis itu terus berada dalam dirinya untuk menggocoh dia. Bagi Paulus, dia memandang Tuhan lebih dekat dan lebih intim, bukan kepada setan/ durinya.

Tuhan Yesus juga memberikan contoh kepada kita bahwa Dia tidak melayani setan. Setan mengajukan 2 pertanyaan kepada Tuhan Yesus, kalau Dia terjebak menjawab pertanyaan itu maka berarti Dia melayani setan. Yesus menjawab: Diam, keluar! Manusia yang menengking setan sampai 3 jam berarti sudah melayani setan, bahkan sudah kalah melawan setan. Orang itu membuat setannya sendiri, dan bikin rumit dirinya sendiri. Sebenarnya cukup dengan panggil dokter untuk menyuntikkan obat penenang tanpa perlu capek menengking dalam nama Yesus.

Dalam KKR Anak di Tondano tahun 2009, ada 6 orang anak yang dinyatakan kerasukan setan. Ketika saya berteriak menanyakan keberadaan mereka, 3 orang anak berlari menuju tempat kebaktian. Saya perintahkan panitia untuk menangkap mereka. 3 orang anak tersebut berlutut di hadapan saya dan memohon untuk diizinkan ikut kebaktian. Saya izinkan mereka ikut kebaktian tetapi dengan dijaga oleh panitia dan tidak boleh bercampur dengan yang lain karena takut mereka mengganggu jalannya kebaktian. 3 orang lainnya, dalam kondisi kejang-kejang saya perintahkan panitia untuk menaikkan mereka ke dalam mobil, 1 mobil mengangkut 1 anak, dan kami bawa ke suatu tempat. Sesampai di tempat itu, saya datangi salah satu anak dan saya katakan kepada dia mengapa dia menyusahkan kami pada saat KKR, lalu saya nasihatkan dia untuk bangun. Anak itu tetap tidak mau bangun dan tetap berulah seperti kerasukan. Lalu saya katakan kepada panitia bahwa saya tidak lagi bisa menangani dia maka sebaiknya dia dikeluarkan dari mobil dan ditidurkan di rumput saja. Mendengar hal itu, anak itu langsung bangun dan menangis. Saya ajak anak itu berdoa dan mengucapkan nama Yesus. Nama Yesus bukanlah mantera.

Jadilah kokoh dan bijak karena kata-kata Tuhan itu menyehatkan dan mencerdaskan. Sejak kejadian di atas, saya selalu mengajak teman-teman untuk tidak lambat dan selalu belajar, khususnya di daerah-daerah. Mari kita belajar Angelologi dan Satanologi. Malaikat tidak mendapat porsi untuk diagungkan oleh manusia. Kemuliaan hanya bagi Allah Tritunggal semata.

Roh Tuhan tidak bersifat merasuk apalagi kalau sampai dampaknya mirip dengan orang kerasukan setan, Alkitab mencatat bahwa roh setan diizinkan Tuhan untuk merasuk. Yang dicatat dalam Alkitab adalah Roh Tuhan tinggal di antara mereka. Dalam Kitab Korintus dinyatakan bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus. “mu” di sini bersifat jamak sehingga tidak bisa diartikan bahwa Roh Kudus merasuki tubuh kita satu persatu. Akhirnya sampai pada tingkatan bahwa saya punya Roh Kudus dan kamu tidak punya Roh Kudus. Tingkatan ini naik menjadi: saya penuh dengan Roh Kudus sedangkan dia tidak. Kekacauan theologis ini semakin membawa jemaat ke dalam kebingungan.   

Roh Kudus besar sekali dan kita kecil sekali. Dia menaungi kita, Dia memenuhi kita. Kita mendapatkan anugerah untuk masuk ke dalam pelukan sayap naungan-Nya dan pemeliharaan-Nya. Itulah yang dinamakan penuh di dalam Roh Kudus. Kalau kita mendapatkan anugerah ini, maka kita akan merasa aman dan tenang di manapun berada, sekaligus kita tidak bisa bermain-main karena Roh Tuhan mengawasi kita.   

Kalau kita beribadah di GRII-Andhika maka kita bisa mengatakan bahwa kita adalah jemaat/ bagian dari GRII-Andhika tanpa perlu gedung gereja GRII-Andhika dimasukkan ke dalam diri kita. Dengan diberikannya Firman Tuhan oleh Roh Kudus kepada kita, maka kita sudah dipenuhi oleh Roh Kudus. Selain itu Roh Kudus juga memberikan karunia Roh Kudus kepada kita, minimal 1 karunia. Hal itu juga menunjukkan bahwa kita dipenuhi oleh Roh Kudus. Hal ketiga yang menunjukkan bahwa kita dipenuhi oleh Roh Kudus adalah jika kita menghasilkan buah Roh. Tuhan akan terus memupuk diri kita supaya buah-Nya menjadi penuh dan sempurna. Hal ini terus digarap sampai kita berjumpa dengan Tuhan/ sampai kita mati.

Dalam Kitab Efesus diingatkan untuk kita jangan mendukakan Roh Kudus. Mendukakan dalam hal ini adalah seperti seorang anak yang mendukakan ibunya. Seorang ibu tidak akan melepaskan anaknya, dan anaknya tidak mungkin lari dari naungan ibunya, kemanapun jua anak itu tetap anak dari si ibu.

Kiranya Firman hari ini membuat kita berani menghampiri Kitab Suci dan lebih rajin lagi mewartakannya.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)