Ringkasan Khotbah : 11 Agustus 2013

The Problem of "Problem of Evil"

NatsYakobus 1:16-18

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus adalah kitab praktis yang membicarakan bagaimana kita hidup sehari-hari sebagai orang Kristen. Dalam Kitab Yakobus terdapat 3 topik utama yang disebut sebagai praktis yaitu: 1) masalah hidup/ penderitaan/ kesengsaraan, 2) masalah intelektualitas dibedakan dengan bijaksana, 3) masalah kekayaan/ uang/ harta.  Seringkali kita menginginkan hal praktis yang sesuai dengan cara kita sendiri padahal hal praktis yang demikian tidaklah praktis dan membuat rusak hidup kita.  

Kita sudah menyelesaikan 1 putaran pembahasan 3 topik di atas dan kini masuk ke dalam putaran ke-2 topik pertama yaitu masalah penderitaan. Manusia seringkali ingin menghindari penderitaan, tetapi justru manusialah yang menjadi penyebab dari penderitaan. Pembahasan yang lalu dalam Yakobus 1:12-15 diingatkan untuk tidak menganggap Tuhan sebagai sumber pencobaan. Tuhan tidaklah pernah mencobai manusia. Penyebab pencobaan adalah dari keinginan manusia itu sendiri. Orang yang sudah mempunyai keinginan/nafsu/ambisi yang begitu keras justru di situlah titik pertama matinya orang tersebut, karena ketika ambisi tersebut akhirnya berbuah, buah yang dihasilkan adalah dosa. Apabila dosa itu sudah matang, ia akan menghasilkan maut. Kunci pertama yang Alkitab ajarkan bagi setiap orang yang mau menjadi Kristen adalah menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Orang yang tidak bisa menyangkal diri/ berkata tidak terhadap keinginan diri, maka dia tidak akan bisa sukses dalam mengikut Yesus. Orang Budhist sangat mengerti prinsip pertama ini tetapi sayangnya mereka jatuh ke ekstrim yang lain yaitu menjadi mempasifkan diri/ meniadakan keinginan. Orang Kristen diajar untuk secara aktif menyangkal kemauan diri sehingga hal ini merupakan sebuah perjuangan yang aktif untuk menundukkan diri kepada kemauan Tuhan.  

Setelah Yakobus menjelaskan mengenai keinginan manusia yang menjadi penyebab penderitaan, kini dia mengeluarkan sebuah pernyataan yang sangat keras, yang berkaitan dengan sebuah isu yang sampai abad ini tidak pernah selesai. Yakobus mengatakan: Janganlah sesat! Ketidakpedulian/ ketidakmau-tahuan terhadap kesesatan (sikap pragmatis/ acuh tak acuh) justru menjadi pencelaka yang paling celaka di dalam kekristenan. Peringatan ini menuntut manusia untuk senantiasa waspada agar tidak sesat. Manusia cenderung untuk ceroboh. Ketika manusia membuang Tuhan, manusia menjadi kehilangan patokan sehingga menjadi kehilangan arah.

Sesat adalah hilangnya arah. Ketika kita berjalan, selama kita berada di jalan yang benar/ arah yang tepat maka kita tidak akan tersesat; pada saat kita mulai menyeleweng dari jalur yang benar maka kita menjadi tersesat. Sesat adalah ketika kita tidak berada di jalur yang seharusnya, ketika kita mengarah ke arah yang tidak seharusnya. Pada saat kita hidup, kita terus berjalan di tengah dunia yang terus berputar ini, yang menjadi masalah adalah: ke mana kita sedang berjalan, apa yang sedang kita jalani, dan bagaimana kita menjalaninya. Kalau arah kita menyeleweng maka kita sedang tersesat.

Orang tersesat mempunyai 2 kemungkinan yaitu: segera sadar akan ketersesatannya sebelum terlalu jauh sehingga dia masih bisa balik ke jalur yang seharusnya, tetapi ada yang sudah terlalu jauh baru sadar kalau tersesat sehingga sulit/ tidak bisa balik kembali. Ketersesatan religius jauh lebih berbahaya daripada ketersesatan di jalan raya. Ketika cara pikir/ konsep pikir kita sudah menyeleweng dan berjalan terlalu jauh, maka otak yang sudah terputar ke arah yang berbeda tidaklah mudah untuk mengembalikannya ke tempat semula. Karena itu dalam hal praktis hidup kita, titik pertama yang harus kita perhatikan adalah waspada agar jangan sesat.    

Dunia kita cenderung mengajak kita untuk tidak terlalu banyak memikirkan akan berbagai hal tetapi cenderung memakai metode coba-coba sehingga mengakibatkan banyak kesalahan. Tuhan sudah memberikan arah dan kapasitas kepada kita untuk dapat menjalankan kehidupan kita. Kalau kita tidak memakai perlengkapan dari Tuhan tersebut, ibarat punya GPS tetapi tidak bisa/ tidak mau memakainya, dan kita lebih memilih untuk tersesat, maka hal ini sangatlah disayangkan dan merupakan sebuah kekonyolan.

Kita harus senantiasa waspada khususnya di setiap persimpangan atau setiap ada pilihan agar kita tidak tersesat. Yakobus 1:17 mengajar kita untuk selalu mengarah ke atas agar tidak sesat karena semua pemberian yang baik dan sempurna tidak pernah datang dari bawah, dan selalu datang dari atas. Waktu kita mengarah ke atas berarti kita sedang berada di bawah dan Allah ada di atas. Kalau kita mempermainkan posisi kita di hadapan Tuhan maka kita sendiri yang akan jatuh. Seperti inilah keterkiliran theologis/ agama.  

Agama apapun, termasuk Kristen, yang tidak benar selalu mengalami keterkiliran religiositas. Agama di titik pertama selalu mengatakan kalau manusia menyembah Allah, berarti manusia ada di bawah dan Allah ada di atas. Anehnya, ketika manusia menyembah Allah yang Maha Kuasa, manusia menginginkan Allah mengikuti keinginan dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia menempatkan dirinya di atas Tuhan. Alkitab berkata bahwa semua pemberian yang baik dan sempurna tidak pernah datang dari bawah melainkan dari atas. Karena itu letakkan diri kita di bawah Allah yang kita sembah. Kalau kita tidak bisa melakukan hal ini berarti seluruh keagamaan kita adalah kebohongan belaka dan menjadi bahan ejekan orang atheis.

Ciri pemberian dari atas ada 2 yaitu: semua yang bajik/ kebajikan asli dan semua yang sempurna. Kebajikan yang bersumber dari bawah memiliki unsur bisnis yaitu mengharapkan imbalan balik/ keuntungan di belakang sebuah tindakan baik. Ada seorang imam Katholik yang berubah menjadi atheis karena berdasarkan pembelajaran yang dia lakukan dia menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada. Menurut dia, kalau Allah ada mengapa tetap ada kejahatan. Teriakan si imam ini merupakan teriakan hampir semua orang di muka bumi ini, yaitu menyalahkan Tuhan atas adanya kejahatan/ penderitaan di muka bumi ini. Manusia tidak pernah bertanya: Setan, kalau ada engkau, mengapa saya bisa hidup enak? Manusia juga tidak pernah menyalahkan iblis atas penderitaan yang dia alami. Manusia tidak pernah sadar bahwa semua yang jahat tidaklah bersumber dari Tuhan melainkan dari setan dan bahkan dari diri manusia sendiri. Setan dan manusia bekerja sama menyalahkan Tuhan. Allah tidak pernah menjadi sumber kejahatan/ kesengsaraan karena hal tersebut melanggar natur-Nya. Allah adalah sumber kebajikan dan kesempurnaan, maka kalau kita ingin hidup dalam kebajikan dan kesempurnaan kita harus melihat ke atas. Kalau kita bisa memposisikan diri dengan tepat di hadapan Tuhan maka kita tidak akan bikin masalah bagi hidup kita sendiri.

Menurut logika manusia, Tuhan yang Maha Baik dan Maha Kuasa pasti tidak mengizinkan adanya kejahatan. Logika manusia tidaklah boleh dijadikan penentu kebenaran karena permainan logika manusia bisa membalik hal yang benar menjadi seperti salah dan hal yang salah menjadi seperti benar. Ajaran yang sesat juga mempunyai argumentasi logika. Pada waktu kita memainkan logika, kita bisa membawa orang lain kepada kesesatan. Jangan kita ikut bermain dengan dunia ini, marilah kita memposisikan diri dengan tepat di hadapan Tuhan.   

Yakobus 1:17: , diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran. Semua perubahan akan meninggalkan bayangan dari pertukaran (shadow of changing). Di dalam Tuhan tidak ada sesuatu yang tertutup/ gelap yang dipermainkan. Ada orang yang berkata bahwa Tuhan dulu baik tetapi sekarang jahat. Hal ini disebabkan karena adanya konsep perubahan pada Diri Allah. Konsep seperti ini muncul karena problema sumber terang; orang itu tidak mengerti di mana posisi Sumber Terang. Absolut berada di titik terang, bukan di titik bayangan. Titik absolut/ titik terang tidaklah berubah posisi, sedangkan manusia dan bayangannya itulah yang selalu berubah. Dunia menilai perubahan disebabkan oleh perubahan dari Tuhan. Jadi kalau kita mau hidup praktis maka kita harus menempatkan diri di posisi yang tepat di hadapan Tuhan.  

Bagaimana kita membangun semua konsep ini? Kehendak Allah menjadi kunci utama (Yakobus 1:18). Allah adalah pencipta segala sesuatu, termasuk diri kita, maka Dia yang paling berdaulat atas hidup kita. Allah mencipta manusia menjadi buah sulung yang dipersembahkan ke tengah dunia untuk kemuliaan-Nya (terjemahan LAI: anak sulung kurang tepat). Orang dunia tidak tahu hidupnya untuk apa sehingga dia bikin susah semua orang. Orang Kristen sejati mengerti bahwa dirinya diciptakan Tuhan melalui Firman kebenaran maka: 1) manusia merupakan satu-satunya makhluk yang bisa berelasi dengan Tuhan/ kebenaran, 2) manusia butuh kebenaran, butuh hidup dalam kebenaran. Ketika manusia keluar dari kebenaran Tuhan maka dia akan tersesat. Setelah Tuhan memberi kapasitas kepada manusia untuk tidak menjadi sesat, Tuhan lalu menguji manusia.

Dalam ujian pertama, Tuhan memberikan binatang-binatang kepada manusia untuk dipilih manakah yang bisa menjadi teman sepadannya. Adam memberi nama satu persatu binatang-binatang itu tetapi tidak menemukan yang sepadan dengannya. Keputusan Adam ini tepat sesuai dengan kapasitas yang Tuhan berikan kepadanya. Manusia terus berhadapan dengan persimpangan dalam hidupnya. Masalahnya bukan terletak pada persimpangan itu sendiri melainkan bagaimana manusia bisa mengambil pilihan yang tepat seperti kehendak Tuhan. Itulah kapasitas yang disebut sebagai bijaksana. Banyak orang pandai yang tidak bisa memilih dengan benar, tidak bisa memilih tepat seperti yang Tuhan mau.

Dalam ujian kedua, Tuhan sudah memberikan Firman-Nya kepada manusia untuk tidak makan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tetapi Hawa tidak mau taat, dia memilih apa yang dianggapnya baik dan benar, maka habislah dia. Seberapa kita berpaut pada Firman kebenaran akan menentukan pilihan kita.

Ketika Adam memilih, dia memikirkan semua aspek untuk kepentingan secara keseluruhan. Kunci pemilihan adalah mengikuti kehendak Tuhan untuk menjadi berkat bagi yang lain. Hawa memilih berdasarkan egoisnya manusia/ kepentingan dia sendiri. Tuhan mencipta manusia untuk menjadi korban pertama demi kepentingan semuanya. Kalau manusia mau selesai dengan masalahnya, manusia harus mencintai Tuhan dan memikirkan kehendak Tuhan lalu menjadi berkat bagi orang lain.

Sebagai ilustrasi, kawasan Tanah Abang sebenarnya merupakan kawasan dengan jalan yang sangat lebar, bisa untuk 4 lajur mobil, tetapi menjadi sempit karena adanya PKL, gerobak, becak dan mikrolet yang berderet di sana. Ketika Ahok (wakil Gubernur DKI) akan menertibkan kawasan tersebut, dia mendapatkan serangan balik. Banyak orang yang mendukung program penertiban itu tetapi tidak ada yang berani maju. Siapa yang berani nongol, yang berani menjadi buah sulung? Kita cenderung tidak mau nongol karena takut. Mari kita menjadi berkat di tempat kita masing-masing. Seberapa kita mau dipakai Tuhan menjadi buah sulung, menjadi berkat bagi banyak orang? Ketika kita bisa hidup mencintai Tuhan dan sesama maka seluruh hidup kita menjadi indah. 

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)