Ringkasan Khotbah : 04 Agustus 2013

Loneliness

Nats1 Raja-raja 19:13-14

Pengkhotbah : Pdt. Warsoma Kanta

 

Kesepian (loneliness) merupakan salah satu kenyataan hidup yang dialami oleh manusia. Mungkin di satu bagian dari hidup kita, kita merasa berjalan di satu bagian tanah yang begitu luas dan kering tanpa perlindungan dan teman yang menemani, dan kita hanya menggunakan sebuah payung. Mungkin juga pada saat kita ingin bercerita kepada orang lain tentang apa yang kita gumulkan, kita masih berpikir 2 atau 3 kali, karena mungkin kita takut akan pandangan orang lain terhadap kita. Atau mungkin orang-orang di sekitar kita tidak mengerti akan apa yang kita pikirkan. Mungkin ada di antara kita yang ketika mengalami pergumulan yang berat tetap bertekad menelan sendiri penderitaan tersebut. Inilah yang disebut sebagai kesepian.

Nats hari ini menceritakan kehidupan seorang hamba Tuhan yang cukup besar, yaitu nabi Elia. Ayat ini mengungkapkan secara jujur sebuah gambaran dimana Elia sudah melihat bahwa dia akan dibunuh, maka ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya. Elia mencoba menggumulkan hal ini, lalu ia pergi ke luar dan berdiri di depan pintu gua tersebut, maka datanglah suara kepadanya yang berbunyi: Apakah kerjamu di sini, hai Elia?

Elia adalah seorang nabi yang luar biasa, yang penuh dengan kekuatan dan kemahakuasaan Allah. Bukankah dia yang pernah mengatakan bahwa tidak akan turun hujan? Bukankah dia yang pernah berperang dengan 400 orang nabi Baal dan kemudian membunuh 400 orang itu? Mengapa Elia yang dipakai Tuhan dengan luar biasa tiba-tiba menjadi orang yang tidak bisa kita pahami?

Elia menjawab: Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam, … Hal ini menunjukkan bahwa dia bukanlah orang yang berleha-leha, dia bukan orang yang tidak pernah bekerja keras. Tetapi Tuhan mengizinkan dia mengalami semuanya ini. Orang Israel meninggalkan perjanjian-Nya, meruntuhkan mezbah-mezbah-Nya dan membunuh nabi-nabi-Nya dengan pedang. Elia menyaksikan teman-temannya dibunuh satu persatu dengan pedang. Dia tidak menceritakan pergumulannya ini kepada orang-orang di sekitarnya, melainkan dia menceritakannya kepada Tuhannya.   

Ketika tantangan muncul dari orang-orang sekitar, mungkin kita masih bisa bertahan. Ketika tantangan tersebut berhubungan dengan pekerjaan Tuhan, mungkin kita masih bisa bertahan. Tetapi setiap orang mempunyai titik lemahnya sendiri-sendiri, titik dimana ketika disentuh akan menjadi masalah besar bagi orang tersebut. Ketika Elia disentuh mengenai hidupnya, dia mulai gemetar, dia mulai merasa bahwa dia seorang diri, padahal dia belum pernah meneliti seluruh Israel atau daerah itu apakah masih ada hamba Tuhan yang hidup. Itulah yang disebut sebagai kesepian. Elia merasa kesepian/ seorang diri walaupun bujangnya masih bersama dengan dia, dan masih ada orang-orang percaya yang tidak menyembah berhala.  

Kita juga seringkali mengalami realita seperti yang dialami oleh Elia. Ketika perusahaan yang kita pimpin semuanya menuding kita, dan kita merasa sudah berlaku jujur. Ketika kita diperhadapkan dengan tantangan orang tua yang tidak kunjung sembuh dari sakitnya, kemana kita akan bergumul, dan kepada siapa kita akan mencari bantuan? Kita sudah capek bercerita kepada orang lain mengenai pergumulan kita, tetapi kita masih tetap berjalan dalam pergumulan itu, sehingga kita merasa kesepian.

Apa itu kesepian? Ada berbagai macam definisi yaitu:

1)   Kesepian adalah kesedihan di tengah keramaian hidup ini tanpa ada orang yang mengerti diri dan memperhatikan kesulitan dan menghadapi semua sendiri.

Ketika semua orang termasuk suami/ istri/ anak menutup telinga terhadap kita, mungkin juga karena sudah terlalu banyak penderitaan yang sudah kita alami, sehingga orang sudah letih untuk mendengarkan/ melihat penderitaan kita, kita harus menjalani semuanya sendiri. Orang lain mungkin bisa berkata: biarlah Tuhan menolong kamu. Tetapi kita merasa bahwa MUNGKIN Tuhan sudah meninggalkan kita.

2)   Kesepian adalah perasaan sendiri di tengah kehidupan sehingga kita merasa hampa, tidak lagi bergairah untuk melanjutkan hidup ini.

Dari beberapa kasus orang mengakhiri hidupnya, ditenggarai bahwa orang-orang tersebut merasa bahwa hidupnya hampa, murung dan bosan hidup. Kesedihan ini akhirnya membawa kepada jurang maut, kepada kesedihan yang tiada habisnya. Semakin menderita, orang akan semakin berpikir tentang penderitaan itu, dan semakin orang berpikir tentang penderitaan itu, semakin menderita lagi orang itu, sehingga tidak lagi mempunyai kekuatan untuk bisa melangkah.

Ada sebuah tulisan yang menyatakan bahwa satu rasa sakit tidaklah muncul di tengah-tengah hari ketika orang yang kita cintai meninggal, tetapi rasa sakit itu muncul ketika kita menghidupi tanpa mereka namun mereka tetap ada dalam pikiran kita. Rasa sakit itu muncul ketika kita merasa seorang diri. Tidak heran jika ada orang yang ketika ditinggal oleh pasangannya, tidak lama kemudian dia sendiri juga ikut meninggal. Ibu Theresa memberikan gambaran bahwa kesepian dan perasaan tidak diinginkan merupakan keadaan paling parah dari seseorang. Inilah hal yang mengerikan dari kesepian.

Kesepian ini dialami oleh Elia. Perasaan sendiri ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu: 1) perceraian, 2) ditinggal mati oleh orang yang dicintai, 3) diabaikan. Dari kondisi 1 (paling jarang dialami orang Kristen) hingga 3 (paling sering dialami orang Kristen)

Efek yang diserang oleh kesepian adalah:

1)   Depresi.

Elia sampai pada titik dimana dia ingin tidur dan tidak bangun lagi. Inilah depresi yang dialami oleh Elia dimana dia merasa murung dan bosan hidup. Saya pernah melakukan penelitian tentang depresi ketika masih berada di fakultas Psikologi. Hasilnya menunjuukan kesimpulan demikian: orang depresi adalah orang yang ditutupi oleh pengetahuan yang gelap, pemikiran yang begitu suram tentang hidupnya. Depresi cenderung membawa orang kepada tindakan bunuh diri, karena sudah tidak lagi melihat adanya harapan dan orang lain yang bisa membantu.

2)     Gangguan tidur, sakit jantung, kanker dan stroke serta antisocial

Orang sulit tidur pada saat ini merupakan kejadian yang biasa sehingga orang harus mengkonsumsi obat, bahkan sampai pada tahap kecanduan obat. Seorang ayah yang tidak lagi punya uang untuk makan tidaklah mungkin menceritakannya kepada anaknya, dia hanya berkata: Mari kita berharap bahwa besok masih ada harapan. Orang seperti ini akhirnya bisa mengurung diri dan menjadi anti-sosial; dia menyalahkan sekitarnya, dan berandai-andai tentang masa lalunya; dia menenggelamkan realita hidupnya. Hal ini perlu kita waspadai di tengah-tengah gereja kita. Mungkin kita bisa melakukan sesuatu bagi orang-orang yang sedang terpuruk. Sebuah penemuan di Wikipedia menyatakan bahwa penyakit stroke, kanker dan jantung salah satu penyebabnya adalah kesepian.

3)     Bunuh diri.

Mungkin Elia berharap dia tidak akan bangun lagi, sampai-sampai Tuhan harus menegur dia 3 kali, dan Tuhan mengatakan: Lihat, ada burung gagak yang akan memelihara engkau. Burung gagak yang menjadi symbol pembawa berita kematian justru memberikan kehidupan kepada Elia berupa roti dan air, sementara Elia yang adalah simbol dari kehidupan Allah sejati justru menginginkan kematian. Suatu humor yang ironis dari Allah bagi seorang nabi Tuhan yang tengah patah semangat. 

Bagaimana bentuk kesendirian itu nampak dalam hidup kita?

1)     Tidak sendiri dan tidak kesepian.

Keadaan ini sangatlah ideal dan sangat jarang kita temui, misalnya: pada saat menikah yang penuh kesukacitaan , pada saat peresmian usaha, dll.

2)     Ketika berada seorang diri tetapi tidak merasa kesepian.

Hal ini karena adanya orang-orang yang mendukung dari tempat yang jauh. Para misionaris seringkali dapat bertahan salah satu penyebabnya adalah hal ini. Kalau kita membaca kisah hidup para misionaris yang mengalami penderitaan, kita seharusnya sadar bahwa apa yang kita alami belumlah apa-apa jika dibandingkan dengan mereka.

3)     Tidak sendiri tetapi merasa kesepian.

Suami-istri yang tengah menghadapi tantangan kehidupan yang sangat berat tetapi tidak bisa menceritakannya kepada siapapun juga maka akan merasa kesepian.

4)     Merasa sendiri dan kesepian.

Elia mengalami hal ini.

Apakah jawaban Tuhan? Tuhan menyatakan Diri kepada Elia bukan di dalam gempa bumi ataupun hal-hal yang menghebohkan tetapi di tengah-tengah keteduhan dan di dalam sebuah pertanyaan. “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Sebuah humor yang Tuhan nyatakan di tengah-tengah tantangan hidup yang dirasakan oleh Elia. Pertanyaan tersebut membawa sebuah kehidupan yang nyata. Elia tahu melalui pertanyaan itu bahwa Tuhan peduli. Ketika kita mengalami tantangan yang sangat berat, kehidupan yang sepertinya tidak berujung kepada kesukacitaan, merasakan derai kehidupan yang begitu berat, ingatlah bahwa Tuhan peduli.

Kepedulian Tuhan terkadang dalam wujud yang tidak kita duga, terkadang dalam rupa pertanyaan, mungkin melalui kepedulian dari saudara-saudara kita bahkan yang belum percaya kepada Tuhan, mungkin melalui orang-orang yang mendukung kita selama ini. Apakah kita memiliki kepekaan akan campur tangan Tuhan ini?

Tuhan bertanya bukan berarti Tuhan tidak tahu melainkan dengan pertanyaan itu Elia mengeluarkan isi hatinya. Dalam 1Raja-raja 19:18 tertulis bahwa Tuhan akan meninggalkan 7000 orang di Israel yang tidak sujud menyembah Baal. Kalimat Allah di atas telah menggugurkan pandangan Elia tentang dirinya. Dengan kalimat itu Allah juga menghendaki Elia, juga kita, untuk menilai hidup kita secara konstruktif dan dengan cara yang lebih baik. Hal ini membawa Elia masuk ke dalam tahap berikutnya yaitu perjuangan hidup.

Ketika Elia melihat jawaban Tuhan, ratu Izebel tetap memberikan ancaman terhadap Elia. Elia tetap harus memperjuangkan hidupnya dan melaksanakan tugasnya sebagai nabi. Elia akhirnya makan dan minum lalu melakukan perjalanan selama beberapa hari, melanjutkan hidupnya.

Ketika menjalani hidup ini, biarlah kita boleh mendengar suara Tuhan yang peduli terhadap kita, biarlah kita boleh berdoa kepada Tuhan, biarlah satu tubuh Kristus boleh bergandeng tangan untuk membangun, menciptakan manusia yang boleh tegar dan kuat dalam menghadapi hidup.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)