Ringkasan Khotbah : 21 Juli 2013

The Problem of Desire

NatsYakobus 1:12-15

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Surat Yakobus merupakan pengajaran praktis, yang berisikan tentang bagaimana menjalankan kehidupan praktis di dalam iman Kristen. Kehidupan praktis iman Kristen sangatlah berbeda/ terbalik dengan kehidupan praktis di dalam dunia. Yakobus membangun 4 putaran dalam mengajarkan tentang kehidupan praktis iman Kristen. Beberapa waktu yang lalu kita telah menyelesaikan putaran ke-1 dari prinsip kehidupan Kristen yang terdapat dalam Yakobus 1:1-11. Setiap putaran mencakup 3 aspek utama dalam kehidupan manusia.

Aspek pertama membahas tentang penderitaan/ kesulitan/ pencobaan. Asumsi Kristen menyatakan bahwa dunia ini adalah dunia berdosa yang jahat. Fakta kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadi dasar pijak dari mengenali semua realita dunia ini. Di dunia yang berdosa ini manusia pasti hidup susah dan selalu menghadapi pencobaan dari setan. Adalah sesuatu yang lumrah jika manusia mempunyai tendensi untuk jatuh ke dalam pencobaan dari setan, yang akhirnya mendatangkan kesengsaraan dan berujung pada kematian. Dunia memandang semua hal adalah baik, jika kita tertimpa kejahatan adalah dikarenakan adanya orang yang jahat. Baik adalah sesuatu yang wajar menurut dunia, sedangkan kalau kita tertimpa kejahatan adalah sesuatu yang tidak wajar, maka kita marah-marah.

Aspek kedua membahas tentang kepandaian. Dunia selalu mengejar kepandaian, sedangkan Alkitab menyatakan bahwa kepandaian bukanlah hal yang penting, manusia perlu menjadi bijaksana. Bijaksana maksudnya adalah kemampuan mensinkronkan diri dengan pikiran Tuhan. Kegagalan untuk mensinkronkan diri dengan pikiran Tuhan akan mengakibatkan kehancuran pada diri yang merasa pandai. Adalah sebuah kebodohan ketika orang semakin pandai justru semakin menjauh dari Tuhan.

Aspek ketiga membahas tentang kekayaan/ materi. Dunia menganggap materi sebagai puncak kesuksesan. Hal inilah yang menyebabkan manusia semakin hari bukan semakin menuju ke atas melainkan semakin ke bawah, hidupnya semakin hari semakin hina dan berujung di tangan iblis karena materi di bawah penguasaan dewa uang/ mamon/ iblis. Kristen melihat secara terbalik yaitu: hidup bukanlah karena uang, hidup dikarenakan Tuhan. Hidup bukanlah dari roti saja melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.

Kita akan masuk kepada aspek pertama dari putaran kedua. Pembahasan yang lalu mengajarkan untuk kita menganggap sebagai sukacita jika kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan. Ketika kita hidup, hidup kita adalah hasil dari pikiran kita, sedangkan pikiran kita adalah hasil dari iman kita. Ketika iman kita tidak dibereskan maka seluruh praktika kita juga akan rusak. Yakobus ingin mengembalikan hal ini di titik pertama. Jadi masalah aspek praktis merupakan masalah aspek theologis. Dunia seringkali menyatakan bahwa problema praktis kita adalah merupakan problema psikologis/ kejiwaan semata. Aspek theologis menyangkut pemahaman tentang Allah dan diri. Pengenalan akan Allah akan membawa manusia mengenali diri dan semua realita yang ada. Pengenalan akan Allah yang salah akan menjadikan seluruh hidup menjadi kacau dan rusak. Mengenal Allah dengan benar akan membuat kita tidak akan bergeser dari pusat hidup kita.  

Hidup manusia adalah hidup yang penuh dengan kesulitan. Tidak ada seorangpun manusia yang tidak mengalami masalah dalam hidupnya. Hal yang penting adalah bagaimana meresponi masalah. Ketika kita sibuk dengan permasalahan itu sendiri maka pada saat itu kita sedang jatuh ke dalam pencobaan. Semua kesulitan hidup kita sebetulnya merupakan akibat dari dosa kita, dan hanya sedikit sekali yang disebabkan karena kita hidup di dalam kebenaran. Jika kita hidup dalam kebenaran lalu muncul kesulitan maka kesulitan itupun adalah akibat dari dosa. Jadi ketika manusia jatuh ke dalam pencobaan, ada 2 penyebabnya yaitu:

1)     Penyebab internal/ dari dalam diri.

Karena kita berbuat banyak kesalahan maka kita sendiri menjadi hancur. Orang yang hidup egois akan dibuang oleh Tuhan karena Tuhan ingin kita hidup memuliakan nama Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Jadi kehancuran dunia ini adalah karena buah dosa.     

2)     Penyebab eksternal/ dari dunia berdosa.

Dunia ataupun iblis tidak suka kepada orang yang mencintai Tuhan, yang hidup di jalur Tuhan. Jadi orang yang hidup baik-baik di dalam Tuhan pun mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Dalam pembahasan hari ini Yakobus membahas dari sudut penyebab internal. Yakobus 1:14 menyatakan bahwa tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri. Inilah problema kemauan/ nafsu. Problema ini muncul ketika manusia berhasil dipancing oleh setan untuk membangkitkan nafsunya. Orang yang bernafsu merupakan titik pertama kehancuran dirinya. Orang yang bisa mengekang nafsunya adalah orang yang menang.

Nafsu adalah sebuah dorongan yang tidak bisa ditahan. Nafsu yang berkembang akan membuat manusia menjadi seperti orang gila yang menerobos dengan luar biasa. Setan akan dengan mudah menjebak orang yang bernafsu. Alkitab mengajarkan untuk kita menyangkal diri kalau kita mau mengikut Kristus. Orang yang tidak menyangkal diri akan mudah dijatuhkan oleh iblis. Seberapa kekuatan kita untuk berkata “tidak” kepada segala cobaan yang ditawarkan kepada kita? Ketika kita tidak memiliki kekuatan untuk berkata “tidak” maka habislah kita.

Yakobus 1:15 memakai ilustrasi nafsu yang dibuahi. Kemauan merupakan bagian yang diam dalam diri manusia. Ketika kemauan itu mulai dipancing-pancing/ dibuahi, maka dia mulai berkembang seperti sebuah janin. Ibarat sel telur yang selama tidak dibuahi akan mengalami siklus pembuangan/ haid; ketika sel telur itu dibuahi dia akan berubah menjadi janin yang semakin berkembang. Setiap manusia mempunyai kemauan/ nafsu dan hal ini tidaklah bisa dihilangkan. Kekristenan mengajarkan untuk tidak membiarkan nafsu tersebut dibuahi, dengan cara berkata “tidak” kepada nafsu tersebut. Ketika kemauan tersebut dibuahi, dia akan menunggu sampai menghasilkan buah, yang keluar sebagai tindakan kita. Buah dosa ini dihasilkan dalam waktu yang sangat singkat begitu nafsu kita dibuahi. Ketika menghasilkan buah, dia menjadi matang dan menghasilkan maut.

Yakobus mau mengajarkan bahwa aspek praktika bukan sekedar kita berbuat sesuatu, melainkan problema di balik tindakan kita yaitu kemauan/ nafsu yang dibuahi. Ketika kita menghadapi persoalan kehidupan, kita harus senantiasa waspada agar kemauan/ nafsu tidak terbuahi. Kita harus memiliki ketahanan untuk berkata “tidak” kepada keinginan kita. Ketika kita bisa menutup nafsu kita berarti kita menutup kerusakan hidup kita dan menyebabkan aspek theologis kita bisa berkembang.  

Kejahatan manusia yang paling besar adalah menyalahkan Tuhan atas semua penderitaan yang dia alami. Esensi dosa adalah melawan dan memberontak terhadap Tuhan dan atribusi-Nya. Ketika terjadi sesuatu dalam hidup kita, pertama-tama yang seharusnya kita lontarkan adalah: apakah dosa saya dan dosa dunia ini? Dosa kita yang paling dasar adalah nafsu/ keinginan/ ambisi kita. Jangan pernah kita menyalahkan Tuhan/ marah kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah jahat. Tuhan tidak pernah mencobai manusia dan tidak pernah menjatuhkan manusia. Diri kita sendirilah yang menjadi penyebab dari segala permasalahan hidup kita.

Allah adalah Allah yang berdaulat, yang mempunyai karakter dan integritas, maka Allah tidak pernah mencobai siapapun dan tidak bisa dicobai oleh siapapun. Sesuatu yang kekal tidaklah bisa berubah dan tidak bisa dicobai. Karakter Allah tidak memperkenankan Dia melakukan hal yang negatif. Ketika kita tidak setia, Allah tidak bisa tidak setia, karena Allah tidak bisa melawan sifat-Nya. Pengenalan kita akan Allah seharusnya membawa kita semakin mensinkronkan diri di hadapan Allah. Kekristenan akan membawa kita agar memiliki hubungan yang tetap sinkron dengan Allah. Karena Allah baik maka saya haruslah sinkron dengan Dia, saya harus baik juga. Kalau kita tidak mau jatuh/ tidak mau binasa maka kita harus kembali kepada jalur Allah. Itulah yang disebut sebagai pertobatan. Pertobatan Kristen adalah berhenti dari seluruh jalur dosa dan kembali kepada jalur Allah.

Kehidupan praktis Kristen adalah kehidupan yang sinkron dengan atribut Tuhan dan pimpinan Tuhan. Konsep pemikiran theologis inilah yang menyebabkan hidup kita menjadi stabil. Kita tidak perlu memusingkan penilaian orang lain, tetapi kita perlu memperhatikan penilaian Tuhan.

Ketika kita jatuh ke dalam pencobaan, kita harus dapat bertahan untuk tidak jatuh. Kesulitan itu tidak boleh membiarkan nafsu kita dibuahi/ berkembang. Kalau kita bisa bertahan, berarti pencobaan itu telah menghasilkan tahan uji. Tahan uji merupakan hal penting dalam kekristenan untuk kita dapat mencapai titik akhir/ garis akhir pertandingan. Seorang pelari yang jatuh pada jarak 100 meter dari garis akhir tetap dikatakan belum mencapai garis akhir walau kurang sedikit saja. Ujian yang diberikan oleh Tuhan untuk membuktikan ketahanan iman kita. Kalau kita bisa bertahan maka tersedia mahkota kehidupan bagi kita. Sangatlah sayang kalau kita gagal menuntaskan hidup kita. Musa sudah dididik di dalam istana Firaun selama 40 tahun, dididik Tuhan sebagai gembala domba selama 40 tahun, barulah dia dipakai Tuhan memimpin umat-Nya menuju Tanah Perjanjian. Tapi sayang sekali, setelah 38 tahun dia memimpin umat Allah, dia sendiri tidak diizinkan Allah masuk ke Tanah Perjanjian karena dia telah berbuat dosa di hadapan Tuhan. Tuhan tidak main-main dan tidak bisa ditawar.

Tuhan izinkan kita berproses dalam dunia untuk membuktikan waktu dan kualitas kita. Waktu adalah tempat kita membuktikan kualitas kita. Tuhan menata semua ujian, semua batasan dari ujian tersebut, sehingga ujian tersebut tidak melewati kapasitas kita, karena Tuhan ingin kita bisa melewati ujian tersebut dengan nilai yang baik. Kita harus meraih kualitas kita, bukan hanya secara fisik, bukan secara intelektual, tetapi secara spiritual. Kita selalu ingin lulus ujian secara intelektual, tetapi seberapa kita juga ingin lulus secara spiritual? Iman adalah titik tertinggi dari hidup kita. Kalau iman kita bisa lulus berarti seluruh aspek hidup kita juga dapat lulus. Ujian iman kita akan menentukan semua langkah hidup kita. Kalau ujian iman kita gagal, sepintar maupun sekaya apapun kita maka akan berujung pada kematian/ maut.

Mari kita terus belajar menjalankan aspek praktis hidup kita berdasarkan prinsip Firman Tuhan, dengan menyangkal diri kita, dengan tidak membiarkan nafsu kita berkembang liar. Seberapa kita bisa menutup nafsu kita dan kembali kepada jalur Tuhan? Tidak ada orang lain yang bisa menolong kita karena problema ini merupakan problema setiap pribadi.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)