Ringkasan Khotbah : 14 Juli 2013

Menghadapi Musuh

NatsMazmur 7:1-18

Pengkhotbah : Ev. Baju Widjotomo

 

Ada pepatah bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa fitnah adalah lebih kejam daripada pembunuhan. Nats hari ini mengungkapkan kesedihan Daud akibat difitnah oleh orang yang sama-sama melayani Saul pada zaman itu, yaitu Kusy. Di Alkitab tidak diungkapkan perihal fitnah dari Kusy tersebut. Saul iri terhadap Daud dan beberapa orang ikut memfitnah dia, menyampaikan kata-kata penghakiman yang merugikan Daud di hadapan Saul. Mereka mempunyai motivasi menjilat untuk mendapatkan keuntungan dari Saul. Bagaimana kalau kita menghadapi penghakiman/ fitnahan yang menyudutkan diri kita?     

Segala sesuatu yang menghalangi pertumbuhan rohani kita haruslah disingkirkan. Jangan pernah membiarkan/ memelihara segala sesuatu yang menggerogoti pertumbuhan kerohanian kita. Inilah cara dari Daud. Saya sempat heran ketika membaca Mazmur balas dendam dari Daud. Mengapa Daud bisa begitu kejam, bukankah Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk mendoakan musuh kita? Mazmur mengajarkan tentang doa kepada Tuhan, mengenai keinginan balas dendam dalam diri yang tidak boleh dilakukan oleh diri kita sendiri, tetapi menyerahkannya kepada Tuhan. Dalam bagian ini kita akan melihat 4 hal dalam penghakiman yaitu:

1)   Ada orang jahat yang mungkin akan menghakimi kita dengan cara yang salah. Tidak ada seorangpun dari kita yang bisa terhindar dari hal ini, bahkan Tuhan Yesuspun memiliki 1 orang murid yang adalah seorang pengkhianat. Hal ini adalah fakta tapi orang jahat di sekeliling kita tidaklah boleh menjadi duri di dalam daging kita, yang membuat iman kita tidak bertumbuh. Iman kita haruslah terus bertumbuh walaupun ada orang jahat yang menghakimi kita dengan cara yang salah. Hal ini merupakan kesulitan bagi manusia, tapi iman Kristen memiliki keunggulan ketika Tuhan Yesus mengajarkan untuk kita jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, kalau orang meminta bajumu maka berikan juga jubahmu, kalau orang menampar pipi kirimu maka berikan juga pipi kananmu, bahkan kita harus mendoakan musuh kita.

Hukum Taurat dalam agama Yahudi mengajarkan bahwa mata ganti mata, gigi ganti gigi. Sebenarnya, tidaklah mungkin kita bisa minta ganti mata ketika mata kita disakiti orang lain, artinya: hak balas dendam bukanlah pada diri kita tetapi hanya ada pada Tuhan. Orang jahat bisa salah menghakimi diri kita tapi kita tidak boleh membiarkan diri kita hanyut bahkan hancur karena kita sendiri mengambil bagian di dalam pembalasan dendam.

Kekristenan pernah jatuh ketika Paus mengumumkan adanya perang suci. Dalam filsafat dikatakan bahwa tidak ada perang yang suci. Perang ini tidak selesai selama berabad-abad, sampai Tuhan biarkan Yerusalem dikuasai oleh Islam dan beberapa ratus tahun kemudian diserang oleh Inggris sehingga Yerusalem terbelah menjadi 2 yaitu milik orang Israel dan orang Muslim. Tuhan tidak berkenan terhadap pembalasan dendam yang dilakukan karena pembalasan dendam bukanlah hak manusia melainkan hak Tuhan.

2)     Daud memeriksa dirinya di hadapan TUHAN (Mazmur 7:4-6).

Marilah kita memeriksa diri kita sendiri secara jujur di hadapan Tuhan. Hal ini juga sebuah kesulitan bagi diri kita. Ketika kita menunjuk orang maka seharusnya kita 3 kali memikirkan bagaimana dengan diri kita sendiri. Nama TUHAN atau Yahweh adalah nama perjanjian. Sebagai ilustrasi, ketika saya malam-malam mengetuk pintu rumah saya dan istri saya dari dalam menanyakan: Siapa? Maka saya akan menjawab: Ini aku. Maka istri saya pasti akan segera membukakan pintunya, karena antara saya dan dia ada perjanjian, ada relasi, sehingga dari suaranya dia tahu bahwa saya adalah suaminya. Allah Yahweh adalah Allah yang mengikat perjanjian dan memiliki relasi dengan umat-Nya, Allah yang mengenal kita secara pribadi tanpa ada satupun yang tersembunyi di hadapan-Nya. Daud meminta Allah Yahweh menyelidiki hatinya, apakah ada kecurangan di dalam dirinya, apakah ada orang yang dirugikannya, apakah ada orang yang dia lawan dengan tanpa alasan. 

Daripada kita terlalu tenggelam dalam kesedihan maupun kemarahan akibat difitnah orang jahat, adalah lebih baik kalau kita mengkoreksi diri kita 3 kali. Hal ini adalah kesulitan bagi manusia berdosa keturunan Adam. Ketika Adam jatuh ke dalam dosa, Allah bertanya: Adam, di manakah engkau? Hal ini bukan berarti Allah tidak mengetahui tempat persembunyian Adam, tetapi menanyakan posisi Adam sekarang, ada di pihak Allah ataukah di pihak setan. Jawaban Adam sangat pragmatis, juga dilakukan sampai hari ini, yaitu: Aku takut karena aku telanjang. Tuhan menginterogasi Adam sekali lagi dengan bertanya: Siapa yang memberitahukan bahwa engkau telanjang, apakah engkau telah makan buah pohon yang Aku larang? Adam tidak mengakui bahwa dia telah bersalah melainkan dia menyalahkan Hawa dan Hawa juga menyalahkan si ular. Adam adalah representatif manusia sehingga dialah yang ditanya oleh Allah.  Inilah kesulitan manusia berdosa, tetapi jangan biarkan hal ini membuat kita tidak mengkoreksi diri lebih dalam daripada kita melihat kesalahan orang lain.     

Augustinus menyatakan bahwa Tuhan tidak mengizinkan kita melakukan pembalasan dendam karena kalau ada 1 orang jahat berlaku jahat terhadap kita lalu kita melakukan balas dendam maka akan muncul 2 orang jahat di muka bumi. Marilah kita belajar untuk menyelidiki diri lebih dalam daripada kita melihat kesalahan orang lain.   

3)     Daud menyerahkan penghakiman kepada Tuhan yang adil (Mazmur 7:7-12).

Kata “keadilan” dalam bahasa Yunani maupun Ibrani sangatlah sulit untuk diterjemahkan sehingga terkadang diterjemahkan sebagai kebenaran. Sebetulnya, kata ini lebih tepat diterjemahkan sebagai keadil-benaran atau kebenar-adilan. Setiap keadilan haruslah mengandung kebenaran. Kebenaran yang dipakai untuk menghakimi maka di dalamnya harus ada keadilan. Tidak ada satupun manusia yang bisa melakukan hal ini dan hanya Tuhan saja yang bisa mengukur kebenaran dan keadilan supaya boleh berjalan dengan sempurna. Oleh sebab itu Tuhan melarang manusia melakukan pembalasan dendam.

Kita seringkali mengeluh kepada Tuhan: mengapa Tuhan hal ini terjadi? Kita hanya tahu sebagian dari Tuhan tetapi tidak mengetahui Tuhan secara keseluruhan. Dalam buku “Jaminan Iman” dituliskan bahwa Tuhan itu tersembunyi tetapi Dia nyata. Janganlah kita pernah menghina Tuhan. Seringkali kita memberikan penilaian yang negatif terhadap Tuhan. Penghakiman yang dikerjakan oleh Tuhan tidaklah kurang dan tidaklah lebih, sedangkan penghakiman manusia pasti ada kurang lebihnya.

Mazmur 7:12 menulis bahwa Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka (KJV: terhadap orang jahat) setiap saat.   

4)     Dosa akan selalu mengejar orang yang berbuat dosa (Mazmur 7:13-17).

Daud tahu bahwa dirinya benar sedangkan orang jahat menyerang dia. Daud menyerahkan hal ini kepada Tuhan yang adalah Hakim, dan dia yakin bahwa dosa akan menghakimi orang berdosa itu sendiri. Pdt. Stephen Tong pernah menyatakan bahwa setiap penyimpangan selalu mengandung kekuatan penghancur diri. Karena itu janganlah kita melakukan pembalasan dendam karena pada waktu kita berbuat dosa maka dosa tersebut akan menghakimi diri kita sendiri bahkan akan menghancurkan hidup kita sendiri. Daripada melakukan balas dendam, adalah lebih baik mendoakan di hadapan Tuhan karena dengan doa tersebut kita menumpuk bara api di atas kepalanya.

Implikasi dari pembahasan kita hari ini, ketika kita difitnah adalah pada Mazmur 7:18 yaitu:

1)     Doa merupakan suatu pernyataan iman untuk berani menghadapi realita.    

Realita orang jahat di sekitar kita pastilah ada dan janganlah kita memanipulasinya baik dengan positive thinking maupun dengan penipuan massal, termasuk dengan cara hipnotis maupun hipnoterapi. Setiap realita haruslah dihadapi dengan doa yang benar, yang merupakan pernyataan iman untuk berani menghadapi realita yang buruk sekalipun.

2)     Doa mengkonfirmasi kebaikan Tuhan.

Tuhan itu selalu baik dan tidak ada satupun yang jahat pada Diri-Nya. Pre-suposisi ini haruslah ditanamkan dalam diri kita. Dalam kelas theologi seringkali timbul perdebatan mengenai asal mula kejahatan, apakah Allah yang membuat kejahatan? Hal ini adalah jahat sekali karena Allah selalu menentang kejahatan dari sejak pertama. Kejahatan tidak pernah muncul sedikitpun dari Diri Allah. Ketika Allah mencipta dunia ini, Dia mengatakan bahwa semuanya sungguh amat baik. Tidak ada satupun dalam hidup kita yang Allah buat tidak baik.

3)     Doa sebagai bentuk kerelaan diri dibentuk dan didisiplin oleh Tuhan.

Sebagai ilustrasi, ada seorang yang kurus kering dibawa oleh temannya untuk bekerja sebagai pemecah batu gunung. Setelah 6 bulan bekerja dia merasa hasil kerjanya selalu lebih sedikit daripada kawannya, maka dia mau mengundurkan diri. Pimpinannya mengingatkan dia bahwa walaupun hasilnya tidak sebanyak temannya tetapi tubuh dia sekarang sudah kekar berisi dan semakin kuat. Orang itu mulai sadar bahwa tuannya sedang membentuk tubuhnya semakin kuat, meskipun kehujanan pada waktu hujan dan kepanasan pada waktu musim panas. Seperti inilah cara Tuhan membentuk kita. Mungkin ada orang-orang jahat yang Tuhan izinkan ada dalam hidup kita supaya kita semakin kuat, semakin sehat dan semakin dalam mencintai Tuhan.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)