Ringkasan Khotbah : 07 Juli 2013

The Richness and It's Status

NatsYakobus 1:9-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kitab Yakobus adalah kitab praktika yang membahas tentang aspek-aspek sehari-hari orang-orang Kristen, maka Kitab Yakobus dikatakan berisi theologi praktis iman Kristen. Praktis menurut Alkitab adalah berbasiskan theologi yang konseptual dan praktis yang berbeda dengan konsep dunia. Aspek praktikal dalam kekristenan bersifat terbalik/berlawanan/antitetis dengan dunia.  2 arus ini tidaklah pernah bisa bertemu dalam konsepnya. Dasar theologi dari praktika kekristenan adalah jauh lebih kokoh, lebih valid dan lebih spiritual daripada yang dipaparkan oleh dunia dan semua ilmu yang ada. Kesalahan gereja selama ini adalah memakai konsep-konsep praktis dunia dan memaksa gereja untuk mengikutinya. Inilah yang membawa gereja kepada kehancuran. Gereja memlintir Firman Tuhan demi untuk kepentingan praktis manusia.  

Ketika Thelogi Reformed hendak mengembalikan gereja kepada praktika kekristenan, terjadilah benturan dalam pikiran manusia karena konsep tersebut berlawanan dengan konsep dunia yang sudah ada di pikirannya, maka disimpulkan bahwa hal tersebut tidak praktis. Orang berdosa menuntut Tuhan untuk mengikuti mereka, demikian juga dengan gereja yang berdosa menuntut Tuhan untuk mengikuti keinginan mereka. Gereja sejati adalah gereja yang meminta orang untuk takluk kepada kehendak Tuhan. Inilah yang ingin ditegakkan oleh Yakobus.

Hari ini kita akan masuk kepada isu ketiga. Isu pertama berbicara tentang penderitaan. Orang dunia tidaklah ingin menderita, dan ingin hidup tanpa kesulitan. Yakobus menyatakan bahwa bersukacitalah orang-orang yang jatuh ke dalam berbagai macam pencobaan karena ujian yang Tuhan lewatkan tersebut akan menghasilkan ketekunan. Ketika kita belajar berpikir menurut cara Alkitab maka kita harus membongkar seluruh cara pikir duniawi kita sehingga kita bisa betul-betul mengerti pikiran Surga/Tuhan. Dengan mengubah pola pikir kita maka praktika Kristen kita pun akan bisa berjalan dengan baik.

Isu kedua berbicara tentang dunia yang sibuk mengejar kepandaian sedangkan Alkitab mengajarkan bagaimana menjadi bijaksana. Bijaksana artinya: bisa berpikir seperti yang Tuhan mau. Kepandaian bisa dipakai untuk memikirkan hal-hal yang tidak Tuhan inginkan.

Nats hari ini membahas tentang isu ketiga yaitu: sengitnya melawan orang kaya. Tiga tema ini (kesengsaraan, bijaksana, dan kekayaan) terus menerus diputar di dalam Kitab Yakobus. Kalimat dalam nats hari ini cukup rumit dimengerti karena mungkin penerjemah “sungkan” untuk mengungkapkan secara eksplisit mengenai masalah uang. Nats hari ini bisa diartikan demikian: baiklah saudara yang berada dalam keadaan miskin bermegah karena statusnya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah. Konsep ini terbalik dengan yang diajarkan oleh dunia yaitu: orang kaya memiliki kedudukan yang tinggi sedangkan orang miskin rendah kedudukannya.

Orang dunia mulai dari zaman Yakobus sampai hari ini begitu mengagungkan kekayaan. Uang dan materi berada di posisi tertinggi, sehingga semakin kaya seseorang maka posisinya juga semakin tinggi. Alkitab menyatakan bahwa semakin kaya seseorang, dia justru semakin menjadi korban dan semakin rendah kedudukannya. Semakin kaya seseorang seharusnya dia semakin berhati-hati dan terus memiliki semangat budak. Inilah konsep kebenaran Firman Tuhan. Orang kaya perlu memiliki kekuatan untuk berada di titik terendah. Kekuatan seperti ini tidaklah gampang untuk dimiliki. Orang miskin mempunyai kedudukan yang tinggi karena dia tidak perlu berhadapan dengan jebakan dunia. Cara pikir demikian merupakan cara pikir yang terbalik.

Firman Tuhan mengajarkan kepada kita realita yang sejati dalam kehidupan dunia ini. Orang dunia adalah orang yang sedang tertunggang balik/ kepalanya ada di bawah dan kakinya ada di atas sehingga semua hal yang ada di bawah kelihatan seperti di atasnya dan semua yang ada di atas kelihatan seperti di bawahnya.  Alkitab mengajak kita untuk balik ke posisi yang seharusnya sehingga kita tahu siapa yang ada di bawah dan siapa yang ada di atas. Orang yang ke gereja 50 tahun sekalipun bisa jadi bukan Kristen sejati karena pola pikirnya belum menjadi pola pikir Kristen, dan yang lebih celaka adalah bila pendetanya juga bukan Kristen sejati. Dalam posisi tertunggang balik seperti ini, orang tidak akan bisa mengerti ketika membaca Kitab Yakobus.   

Hal pertama yang ingin didobrak oleh Yakobus adalah masalah status. Cara pandang terhadap status seseorang haruslah dikoreksi. Kunci pertama adalah bagaimana kita membangun dignitas/ status diri. Orang berstatus mulia atau tidak haruslah dipandang dari sudut pandang Allah. Orang dunia membangun realita sosial berdasarkan pengamatan sesama orang berdosa. Di tengah dunia ini semua hal yang berdosa lebih disukai dan tidak ada yang menyukai hal yang suci, maka penilaian orang dunia pasti salah dan tidak boleh dipegang. Konsep nilai dan penilaian (aksiologi) haruslah dimulai dari standard absolut. Tidak seorang manusiapun yang memiliki penilaian yang valid, maka janganlah membiarkan dignitas diri kita dinilai oleh manusia.    

Tuhan akan menguji dan menilai kualitas setiap orang. Tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari penilaian Tuhan. Gereja pun melakukan penilaian yang tidak valid, misalnya: orang yang kaya dipersilahkan duduk di kursi terdepan sedangkan orang yang miskin di kursi paling belakang, pendeta akan tunduk kepada orang kaya dan menendang orang miskin. Dalam kehidupan bermasyarakat juga terjadi hal yang sama, misalnya: seorang koruptor yang mengendarai mobil Mercedes S600 ketika memasuki pelataran hotel akan mendapatkan sambutan hangat dari petugas hotel sedangkan orang yang jujur dan berintegritas datang dengan mengendarai mobil Suzuki Carry akan disuruh parkir di tempat terpojok dan tidak mendapat sambutan hangat. Itulah semua penilaian dunia maupun setan. Apakah artinya mendapatkan pujian dari semua orang tetapi dibuang oleh Tuhan?

Sekularisme dan sikap egois yang ada dalam diri seseorang sangatlah susah untuk dicabut apalagi jika sudah ditanamkan sejak usia anak-anak. Perlulah ditanamkan konsep Tuhan yang berdaulat dan menilai segala sesuatu. Penanaman konsep ini tidaklah mudah dan dapat menjadi sebuah pukulan yang dahsyat di kepala kita tetapi hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tuhanlah yang menjadi penentu nasib kita di titik akhir, bukannya manusia. Seberapa jauh kita menyadari posisi ini dan tidak dikecohkan oleh permainan dunia?

Orang yang miskin akan cenderung menjadi minder karena dia adalah orang berdosa. Seorang anak Tuhan yang miskin tidaklah perlu menjadi minder seperti itu. Tuhan Yesus ketika datang ke dunia dengan sengaja menempatkan Diri di posisi paling miskin, lahir di sebuah kandang, sepanjang hidup tidak pernah menjadi orang kaya, hidup dalam keluarga yang sangat sederhana dan bahkan profesi yang sangat hina. Hal ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa uang bukanlah yang terutama dan Dialah yang menjadi penilai terakhir. Dengan ini Dia meletakkan landasan nilai bagi setiap kita. Allah adalah penilai absolut.

Kekayaan adalah barang objektif yang netral tetapi orang kaya meletakkan seluruh hidupnya untuk mengejar kekayaan dan menghargai keberadaannya dengan kekayaan, serta seluruh statusnya digantungkan pada kekayaannya. Orang demikian adalah sangat hina karena dia memberikan/ menaklukkan hidupnya di bawah materi (hal yang paling hina). Karena itu dikatakan dalam Alkitab bahwa orang kaya memiliki kedudukan yang rendah. Sebaliknya, orang yang miskin karena hidupnya lurus, mau menegakkan kebenaran, dan tidak kompromi, justru memiliki status yang tinggi di mata Tuhan. Orang yang demikian adalah orang yang berintegritas, yang demi integritasnya tidak mau dibeli oleh apapun. Orang yang demikian seringkali tidak terlalu kaya secara finansial dan mengalami jepitan luar biasa di dalam hidupnya. 

Manusia semakin kaya akan semakin licik, semakin tamak, semakin memikirkan uang, semakin tidak bisa lepas dari memberhalakan uang, maka tanpa sadar dia sudah dibeli oleh kekayaan dan dia sudah menjadi budaknya. Seberapa uang sudah menjadi tuan dalam kehidupan kita?    

Manusia yang sejati akan hidup benar dan demi kebenaran itu dia menaklukkan diri kepada Tuhan yang adalah Sumber Kebenaran. Orang yang demikian tidaklah takut kepada semua penilaian dunia. Dia terkadang harus mengalami kesusahan yang amat sangat demi untuk hidup benar. Di mana kita akan hidup, kalau kita memilih menjadi budak uang dan meninggalkan Tuhan maka kita akan menjadi kaya, sedangkan kalau kita tidak mau menjadi budak uang maka kita akan menjadi miskin? Kalau kita adalah budak Tuhan berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita dan menaklukkan diri kepada Tuhan.

Janganlah kita pusing dengan orang yang menghina kita karena Tuhan sendiri yang akan menghukum dia. Dalam  Kitab Mazmur dikatakan bahwa siapa yang menghina umat Tuhan akan berurusan dengan Tuhan sendiri. Marilah kita menempatkan integritas di titik pertama dari seluruh pertimbangan hidup kita.

Ketika kita mempermainkan diri kita sendiri berarti kita sedang menghina status kita sendiri. Pada waktu kita memperbudak diri di bawah uang maka kita sedang menghina diri kita sendiri. Orang yang menjadi budak materi melempar seluruh nilai dirinya keluar dari dirinya. Nilai manusia seharusnya berada dalam diri manusia itu sendiri (nilai intrinsik) dan bukan di luar dirinya (nilai ekstrinsik). Nilai ekstrinsik sangat bergantung pada situasi dan kondisi, misalnya: harga manusia menjadi mahal bukan karena dirinya memang mahal melainkan karena dirinya ditempeli aksesoris yang bernilai mahal. Semakin kita banyak menempelkan aksesoris mahal pada diri kita, semakin kita menghina dignitas kita sendiri, karena kita telah menggeser nilai intrinsik kita sendiri yang menjadikan diri kita tidak ada harganya sedangkan yang ada di luar dirinya lebih berharga. Orang demikian adalah menjijikan di mata Tuhan.

Janganlah kita menggantungkan diri kita pada berbagai hal di luar diri kita, seperti: aksesoris, gelar, kekayaan. Apa itu hidup? Apa yang kita kejar dalam hidup ini? Nilai hidup kita ke mana? Kepada apa kita gantungkan hidup kita? Sehebat dan sekaya apapun kita, suatu hari nanti kita akan lenyap. Kalau kita tidak bisa memberikan nilai yang terbaik, menanamkan konsep yang terbaik, meletakkan dignitas/ hormat di atas kemuliaan yang sejati, maka seluruh hidup kita akan celaka. Apa yang akan kita wariskan dalam hidup kita? Kalau kita mewariskan uang maka uang itu akan habis dalam sekejap karena uang tidaklah berharga. Marilah kita mewariskan dignitas/ nilai hidup dan karakter kepada anak-anak kita, maka anak-anak kita akan bangun.

Marilah kita membereskan status kita dengan pertama-tama menyadari bahwa Tuhanlah penilai. Hal yang kedua adalah janganlah kita diperbudak oleh uang. Kita bekerja bukan untuk mencari uang tetapi karena kita mencintai Tuhan dan mau menjadi berkat bagi orang lain.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)