Ringkasan Khotbah : 23 Juni 2013

Inkarnasi vs Egoisme

NatsMatius 26:20-29

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Momen-momen menjelang kematian Kristus adalah momen yang paling sulit dan menegangkan, mulai dari momen perjamuan malam sampai momen penyaliban Kristus. Perjamuan malam merupakan momen dimana Kristus mulai masuk ke dalam momen penggenapan dari inti panggilan Dia. Mengapa Kristus hadir di tengah dunia ini? Momen utama apa yang Dia kejar dari seluruh misi-Nya? Penebusan di kayu salib. Kehadiran Dia di tengah dunia ini bukan untuk mengejar kepentingan diri-Nya. Dia datang ke dunia untuk mengerjakan apa yang ditugaskan oleh Bapa-Nya.

Itulah kontras mutlak antara Allah dengan manusia. Kekontrasan ini semakin hari semakin kelihatan dan menajamkan tentang apa itu dosa. Kehadiran Kristus di dunia menguakkan satu per satu dari kebobrokan manusia. Puncak dari penguakkan akan kebobrokan manusia ini terjadi ketika Tuhan Yesus mengungkapkan bahwa Dia harus melaksanakan kehendak Bapa-Nya.

Nats hari ini menunjukkan kekontrasan tersebut dan hal ini juga muncul ketika 4 kali pemberitahuan Tuhan Yesus di saat perjalanan menuju ke Yerusalem. Nats hari ini merupakan bagian terakhir di mana Tuhan Yesus menyatakan bahwa diri-Nya sudah siap untuk naik ke atas kayu salib. Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib untuk pengampunan dosa. Itulah misi Kristus.  

Ketika bagian yang berat itu muncul, muncul pulalah kekontrasan dari dunia ini. Tuhan Yesus datang ke tengah dunia untuk kepentingan manusia, sedangkan pada saat yang sama Yudas menjual Yesus. Yudas ditegur dengan keras mulai dari cara yang paling halus sampai yang paling kasar, tetapi dia tetap menjalankan keinginan dirinya. Kita harus senantiasa berhati-hati dalam hal uang. Tuhan Yesus tahu kalau bendaharanya (Yudas Iskariot) adalah seorang pencuri, tetapi Dia tidak pernah membesarkan hal itu sehingga murid-murid-Nya yang lain tidak ada yang tahu akan hal itu. Sebaliknya, Tuhan Yesus tidak mendiamkan Yudas. Yudas berulang kali diperingatkan oleh Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus mengingatkan agar manusia berhati-hati untuk tidak menyembah uang karena menyembah uang berarti membuang Tuhan. Manusia tidak bisa memilih keduanya sekaligus. Seharusnya Yudas sadar akan siapa yang dia sembah dan menguasai hidupnya. Tuhan Yesus juga mengingatkan bahwa harta dunia akan habis dimakan ngengat, karena itu kejarlah harta di Surga yang bersifat kekal dan tidak bisa dimakan ngengat. Apa artinya kamu mendapatkan seluruh isi dunia tetapi kamu kehilangan nyawamu?

Yudas bukanlah orang luar melainkan orang dalam/ orang terdekat dari Tuhan Yesus. Teguran yang diberikan oleh Tuhan Yesus bukanlah untuk orang dunia melainkan justru untuk orang terdekat-Nya, yang kelihatan begitu aktif melayani Tuhan, dan murah hati. Ternyata ada 1 orang terdekat-Nya yang tidak pernah bertobat, dan menjadi seorang pengkhianat. Tuhan Yesus juga mengingatkan orang yang mau mengikut Dia untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Dia. Peringatan-peringatan yang Tuhan berikan tidak ada yang mempan terhadap Yudas, bahkan pada saat terakhir ketika Tuhan memberitahukan tentang penderitaan-Nya untuk kali keempat. Pada saat itu ada seorang wanita yang memakai minyak narwastu murni untuk mengurapi Yesus, Yudas menganggapnya sebagai pemborosan dan menganjurkan uangnya dibagikan kepada orang miskin. Tuhan Yesus justru mengingatkan Yudas bahwa orang miskin akan selalu ada sedangkan Dia akan mati dan apa  yang dilakukan perempuan itu merupakan pengurapan atas kematian-Nya yang akan segera datang. Yudas menjadi sakit hati akan peringatan itu, lalu dia langsung mendatangi para ahli Taurat untuk menjual Yesus. Inilah sebuah kekontrasan yang dahsyat yaitu: ketika Kristus datang ke tengah dunia untuk menebus dosa manusia, pada saat Dia menyatakan penderitaan-Nya yang bukan untuk kepentingan-Nya, pada saat yang sama manusia sedang mengekspos keberdosaannya. Hal-hal yang dibukakan ketika Tuhan Yesus menyatakan penderitaan-Nya adalah:

1)   Pada saat Allah berinkarnasi, merendahkan diri, taat bahkan taat sampai mati dan mati di kayu salib, pada saat yang sama manusia sedang meninggikan keinginan dirinya/ egois.

Ketika Tuhan Yesus menanyakan tentang siapakah diri-Nya di hadapan para murid-Nya, Petrus mengeluarkan sebuah pengakuan iman yang dahsyat yaitu: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Tuhan Yesus menyetujui hal itu tetapi Dia mengingatkan Petrus bahwa hal itu bukanlah karena kepandaian Petrus melainkan karena anugerah Tuhan dia bisa berkata demikian. Sebagai Mesias, Tuhan Yesus bertugas untuk menderita dan mati di atas kayu salib demi untuk menebus manusia berdosa. Inilah misi utama Tuhan Yesus. Selain itu Tuhan Yesus juga mempunyai 4 tugas sekunder yaitu: mengajar, menyembuhkan penyakit, mengadakan mujizat, dan mengusir setan. Keempat tugas sekunder ini juga bisa dilakukan oleh orang lain, termasuk kita. Tetapi misi utama Tuhan Yesus tidak bisa dikerjakan oleh orang lain. Misi utama ini hanya dibukakan kepada murid-murid-Nya, orang terdekat-Nya.   

Ketika misi utama itu pertama kali dibukakan, Petrus langsung memberikan reaksi. Petrus berkata bahwa hal seperti itu tidaklah mungkin terjadi, dan kiranya Allah menjauhkan hal itu dari diri Tuhan Yesus. Padahal belum 5 menit dia mengeluarkan pengakuan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias. Petrus bereaksi seperti itu bukan karena dia memikirkan Tuhan Yesus melainkan karena kesimpulan logika semata. Secara logika, Yesus yang begitu baik kalau mengalami penderitaan dan kematian seperti yang dikatakan-Nya maka habislah Petrus, selain itu hancurlah konsep aksiologi manusia berdosa yang menganggap orang baik tidak mungkin mengalami penderitaan. Problema Petrus yang lain adalah: dia sudah menjual perahunya lalu mengikut Tuhan, kalau Tuhan mati bagaimana dengan nasib dia. Inilah egoisme yang besar.

2)   Pada saat Allah berinkarnasi, merendahkan diri, taat bahkan taat sampai mati dan mati di kayu salib, pada saat yang sama manusia sedang berebut untuk menjadi yang terbesar/ terpenting.

Yang berebut kedudukan terbesar/ terpenting adalah murid Tuhan, orang terdekat Tuhan, walaupun mereka sudah selama 3,5 tahun hidup bersama dengan Tuhan Yesus. Setelah mengikut Yesus sekian tahun ada orang yang mempertanyakan tentang  karirnya dalam pelayanan, siapa yang lebih besar. Seharusnya dengan hidup bersama Tuhan, kita semakin hari semakin rendah hati dan semakin giat dalam pelayanan. Kristus melayani dengan begitu dahsyat tetapi tambah hari semakin merendah.

Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa siapa mau menjadi yang terbesar, dia harus mau menjadi yang terkecil. Sudahkah pengikutan kita terhadap Tuhan Yesus menjadikan kita semakin hari semakin rendah hati dan tidak sibuk dengan status/ posisi diri?  

Ketika kita mencari kebanggaan manusia, kita akan memiliki semangat kompetitif. Orang yang memiliki jiwa bersaing akan memiliki mata yang tidak netral; dia tidak bisa melihat orang lain lebih hebat/ lebih baik dari dirinya. Begitu melihat orang lain lebih baik dari dirinya maka dia menjadi iri hati. Orang yang iri hati selalu melihat komparasi, siapa lebih kecil dan lebih besar. Ketika merasa diri lebih hebat, dia akan menjadi sombong, sebaliknya ketika merasa diri kalah, dia akan menjadi minder dan kemudian membenci saingannya. Paulus yang bertobat merasa dirinya paling kecil dan paling hina dari semua rasul yang lain. Itulah jiwa pelayanan yang benar.

3)   Pada saat Allah berinkarnasi, merendahkan diri, taat bahkan taat sampai mati dan mati di kayu salib, pada saat yang sama manusia sedang meminta posisi melalui jalur koneksi.

Tuhan Yesus, yang banyak melakukan mujizat, mulai diminati dan diikuti banyak orang untuk dijadikan raja. Hal ini membuat hati para ahli Taurat dan Imam Kepala menjadi marah dan membenci Dia. Tetapi dalam posisi ketenaran Tuhan Yesus, para murid-Nya tidak bisa melihat bahwa Gurunya sedang dalam bahaya karena manusia bukan sekedar memuji Dia melainkan juga sedang memanipulasi Dia. Murid-murid-Nya juga melakukan hal yang sama yaitu memperebutkan posisi kanan dan kiri Tuhan Yesus, bahkan dengan memakai jalur koneksi. Ibu dari Yohanes dan Yakobus adalah teman baik dari Ibu Tuhan Yesus, maka mereka meminta ibu mereka untuk bicara dengan Maria. Mereka beranggapan bahwa Tuhan Yesus nantinya akan taat kepada ibu-Nya. Strategi yang dijalankan sangatlah duniawi. Apa yang kita/ gereja kejar sebagai orang Kristen?  Apakah kita menjadi Kristen dengan semangat manipulatif seperti itu, dengan agenda-agenda diri? Kita haruslah meneladani Kristus yang datang ke tengah dunia untuk memenuhi agenda Bapa-Nya, bukan untuk agenda Diri-Nya. Kita harus taat pada agenda Bapa di Surga.   

4)   Pada saat Allah berinkarnasi, merendahkan diri, taat bahkan taat sampai mati dan mati di kayu salib, pada saat yang sama manusia sedang sibuk memperkaya diri.

Yudas mengkhianati Yesus bukan dengan maksud mencelakakan Yesus melainkan supaya dia bisa menjadi kaya. Dia yakin bahwa orang hebat seperti Yesus pasti akan dapat terhindar dari celaka, sedangkan dia sudah memperoleh keuntungan besar dengan menjual Yesus. Ternyata yang terjadi adalah di luar perhitungan Yudas. Tuhan Yesus tidak melawan sama sekali dan akhirnya mati di atas kayu salib.

Orang materialis selalu menghitung untung rugi, tetapi hitungan mereka seringkali meleset karena adanya faktor X. Orang yang materialis tidak akan pernah dapat menghitung dengan beres. Yudas berakhir dengan gantung diri dan uang 30 keping yang diperolehnya menjadi tanah kuburannya. Pertanyaan bagi setiap kita: berapa kekayaan yang mau kita kejar sampai kita rela menjual Yesus? Seberapa kita mengalahkan keutamaan Kristus dengan semua kepentingan uang yang kita cari? Berapa banyak nama Yesus dijual ketika kita ujian/ korupsi/ bermain dengan bisnis kita?

Dalam banyak aspek kita seringkali terbawa kepada semangat Yudas. Kita tidak ingin mencelakakan Tuhan Yesus tetapi akhirnya Tuhan Yesus celaka dan diri kita juga celaka. Mari kita terus mengkoreksi diri dan mau terus mengutamakan Kristus.

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)